PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
52. Yang tertunda


__ADS_3

Harap bijak dalam membaca dan menyikapi part ini. Dikhususkan untuk dua puluh satu tahun ke atas. 🙏


____


Elrich dan Abrine memulai perjalanan mereka. Senyum tersungging dari sudut bibir keduanya. Sepanjang perjalanan, Abrine bersiul riang yang ditanggapi El dengan kulumann senyum yang tertahan. Dalam lubuk hatinya, dia berharap kebahagiaan ini jangan sampai ada yang merusaknya.


"El, apa kau tidak lupa membawa kamera?"


"Iya, aku membawanya, Sayang." El mengacak rambut istrinya dengan gemas.


Rencananya, malam ini mereka akan menginap di desa terdekat, barulah besok pagi akan menyaksikan matahari terbit didekat bukit.


Mereka sudah berkendara kurang lebih empat puluh menit. Sampai akhirnya Abrine menguap dan merasa mengantuk disaat hari sudah mulai gelap.


El membiarkan istrinya tertidur, dia menyalakan musik dari audio yang ada di mobil agar tidak ikut mengantuk.


"El, bisakah berhenti di rest area? Aku ingin ke toilet."


"Baiklah...."


Begitu melihat sebuah rest area, El segera memutar kemudi mobilnya untuk memasuki kawasan itu.


"Apa perlu ku temani?"


Abrine terkekeh pelan. "Aku sendiri saja, El. Kau tunggulah disini."


Abrine berjalan beberapa meter menuju letak toilet yang ada disana. Entah kenapa dia merasa ada sebuah langkah kaki yang mengikutinya. Abrine menoleh kebelakang namun tidak menemukan siapapun. Mungkin hanya perasaannya saja. Dia pun berlalu memasuki toilet wanita.


Beberapa saat kemudian, Abrine keluar dari area toilet, dia dapat melihat mobil El yang sudah tak jauh darinya. El membunyikan klakson sekali dan Abrine tahu El tengah menggodanya.


Abrine kembali menaiki mobil dan mereka melanjutkan perjalanan itu.


Abrine merapatkan jaketnya, udara dingin mulai terasa melingkupinya.


"Kau baik-baik saja? Apa terlalu dingin?"


Abrine mengangguk, dia melipat kedua tangannya dan kembali memejamkan mata. El menyelimuti tubuh Abrine dengan Coat yang ia kenakan, menyisakan hanya sebuah sweater ditubuhnya. El sudah biasa dengan udara dingin jika menginap di villa ayahnya.


Sampai tibalah mereka disebuah desa terdekat. El memesan sebuah penginapan untuk mereka tempati saat ini.


"Lanjutkan tidurmu di kamar penginapan, Brine!" bisik El ditelinga istrinya.


Abrine menggeliat tapi saat dia sadar rupanya dia sudah berada dalam gendongan suaminya.


El membaringkan Abrine dengan perlahan tapi Abrine menahan pergelangan tangannya.


"Mau kemana? Jangan kemana-mana."


"Aku mau ke toilet sebentar, sayang." El tertawa pelan karena tak biasanya Abrine berlaku manja seperti ini. Dia mengacak rambut Abrine sekilas kemudian berlalu.


Abrine sebenarnya ingin mengatakan soal perasaannya yang kurang nyaman sejak keluar dari rest area tadi. Tapi dia takut membuat El kepikiran dan merusak momen bulan madu mereka, dia memilih diam dan tidak membahasnya.


El kembali ke kamar mereka setelah membersihkan diri. Dia menatap Abrine dengan senyuman tipis dan dibalas istrinya dengan tatapan sayu.


"Kau masih mengantuk?" tanya El. Abrine menggeleng pelan. El memperhatikan wajah istrinya, kendati dia cukup lelah dengan perjalanan panjang mereka, tapi dia tidak bisa menepis pesona istrinya.


Abrine mengalungkan tangannya pada leher El, wajah mereka berdekatan dengan ujung hidung yang nyaris bersentuhan.


El dapat melihat cekungan dada Abrine karena kancing baju yang dikenakannya tak terpasang dengan benar. Abrine tidak menyadarinya, mungkin karena tadi dia sempat tertidur. El yang menyadarinya dan dia semakin memandang istrinya dengan lekat.


Rambut Abrine yang terurai panjang, serta bibir merahnya yang tampak basah dan memikat. El tidak bisa menahan, hasratnya naik, dia langsung memeluk istrinya dengan erat.

__ADS_1


"El?"


"Aku ingin kau malam ini."


Abrine tidak bisa menjawab karena saat dia ingin berucap El langsung ******* bibirnya dengan dalam.


Jika sudah begini, Abrine selalu tidak paham dengan dirinya sendiri. Tubuhnya serasa menghangat dan dialiri gelenyar yang terasa aneh. Saat dia menyebut nama El, suaranya berubah menjadi des*h*n.


El merengkuh tubuh Abrine. Menyusuri wajah itu dengan bibirnya kemudian semakin turun ke ceruk leher istrinya.


Tangannya membuka kancing baju Abrine satu persatu, diikuti dengan jemarinya yang mengelus kelembutan tubuh itu. Tak lama, dia menangkup dada Abrine yang terasa penuh ditangannya.


Ditatapnya kedua mata Abrine yang berubah penuh hasr*t sama seperti dirinya.


"Kau berhasil membuatku gila, Sayang," ujarnya parau.


Abrine pasrah dan tidak berusaha menepis segala perlakuan El padanya. Dia menikmati dan mendamba sentuhan lembut El yang menyentuh kulitnya. Dia menunggu apa yang akan dilakukan El selanjutnya.


Saat El berhasil menemukan bagian paling sen*it*f dari tubuh istrinya. Abrine terkesiap. El membelainya dengan sentuhan seringan kapas.


El membuka sabuk dicelana yang dia kenakan, tampak bukti ga*rahnya yang telah berdiri.


"Kau sudah siap." Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang El utarakan karena dia dapat merasakan jika istrinya sudah sangat siap sekarang.


El menyentak kan tubuhnya dan mereka menyatu. Abrine mencengkram pundak El hingga kukunya terasa seperti tertancap disana. Namun, itu tidak menghentikan kegiatan yang sudah dimulai.


El mencium Abrine demi menghalau rasa sakitnya. Dia tahu Abrine belum terbiasa dengan hal ini kendati ini bukan pertama kali mereka melakukannya.


Abrine merasa El memenuhi dirinya. Secara perlahan rasa sakitnya menghilang, berganti dengan rasa yang melambungkannya.


Entah kenapa tubuh mereka terasa begitu pas. Abrine membuat El merasa terpuaskan. El sadar istrinya berbeda dari wanita lain, bukan hanya dari segi sikap dan kebiasaan tapi istrinya memang sangat istimewa.


El selalu suka jika Abrine sudah menyebut namanya dengan suara seperti itu. Dia mempercepat ritmenya.


******


Keesokan harinya, saat hari masih gelap mereka berdua sudah menyusuri jalan setapak untuk melihat matahari terbit didekat bukit.


Menyaksikan langit gelap yang perlahan berubah menjadi terang disertai munculnya matahari di ufuk timur merupakan pemandangan romantis yang tidak bisa ditepis. Saling mengeratkan genggaman dan melengkungkan senyuman. Bahu El menjadi sandaran ternyaman saat Abrine menyaksikan panorama tersebut.


Abrine ingin beranjak, tapi El menarik istrinya hingga Abrine ingin terjatuh tapi El menangkap tubuh istrinya. Abrine terduduk dipangkuan El, dengan posisi yang membelakangi tubuh suaminya itu. Abrine terkekeh dan membiarkannya. Dia masih fokus menatap ke langit yang mulai berubah warna.


Sementara itu, Elrich mulai melingkarkan tangannya di perut istrinya. Lambat laun tangannya masuk kedalam coat yang Abrine kenakan, lalu merayap kemana-mana.


Abrine terkesiap. "El, apa yang kau lakukan?" protesnya pelan.


"Diamlah, ini momen bulan madu kita."


"Tapi ini diluar ruangan, El!" Keadaan disekitar mereka memanglah sunyi senyap dan hanya ada mereka berdua, tapi tindakan El tetap saja membuat Abrine terkejut.


"Kau yang mengajakku bulan madu ditempat seperti ini! Ini adalah bulan madu kita yang tertunda." El tertawa pelan. Tangannya sudah bergerilya dibalik Coat yang Abrine kenakan.


El menciumi tengkuk Abrine, sapuan bibir El terasa menggelitik kulit Abrine.


"Oh, El.... ja-jangan!" Abrine mencegah jari jemari El yang sudah menyentuh bagian sen**tif nya.


"Aku akan memuas-kanmu disini."


Abrine dapat mendengar suara El yang parau serta bukti has*at nya yang telah meng*ras.


"Ah, El...." Abrine tidak bisa berkata-kata lagi ketika tangan suaminya benar-benar bermain diantara kedua pahanya.

__ADS_1


Sampai diambang batasnya, Abrine merasa melambung. Tanpa disadari, dia malah membuka kakinya lebar, memberi akses pada jari El. Pandangannya terasa berputar, disertai lengu*an pelan dia menggigit bibirnya sendiri. Dia meneg*ng sesaat, hingga akhirnya lemas setelah pelep*sannya.


"El....."


El bisa mendengar suara Abrine yang terengah-engah. Dia pun menyandarkan kepala Abrine ke dada bidangnya dan membiarkan Abrine beristirahat sejenak sebelum mereka melanjutkan perjalanan.


******


Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke tempat lainnya saat matahari mulai naik.


Yang paling populer dari tempat ini adalah Bastei, terdapat monolit alami setinggi 194 meter. Mereka mulai mendaki dan memotret pemandangan yang tersaji ditempat itu.




Adapula dibawahnya mengalir sebuah sungai bernama sungai Elbe. Angin sepoi-sepoi berhembus pelan. Suasana sangat tenang dan memanjakan mata mereka.


"Semoga nanti kita bisa kembali kesini lagi," ujar Abrine penuh harap.


"Kau mau kembali kesini?"


"Hmm, bersama anak-anak kita."


Elrich tersenyum tipis. "Semoga saja, jika Tuhan mengizinkannya."




Mereka juga melewati Bastei Bride atau jembatan yang sangat indah. Tak lupa mereka berdua melakukan swafoto disana. Beberapa kali El mengambil gambar istrinya secara diam-diam.



Adapula reruntuhan kuno yang membuat pemandangan semakin estetik. Abrine dan El sangat menikmati momen kebersamaan mereka kali ini. Seolah-olah ingin melupakan segala problem yang sempat menghinggapi rumah tangga mereka yang baru seumur jagung.


Menjelang sore, mereka memasuki museum yang ternyata juga ada ditempat itu. Disana terdapat benda-benda kuno yang sangat antik. Mereka berdua makan dan mengobrol biasa.


Hampir seharian mereka menghabiskan waktu di Bestei. Menjelang sore mereka kembali ke jembatan dan menghadap ke arah sungai Elbe.



"Brine..."


"Hmm?"


"Berjanjilah kita akan menghadapi segalanya bersama-sama. Setelah hari ini akan ada banyak hal yang menanti kita."


Abrine tahu, keputusan menikah adalah sebuah pilihan yang tidak main-main. Rencana bulan madu mereka yang indah hari ini pun sebenarnya tidak pernah terbersit dan terpikirkan oleh Abrine, karena dia mengira El tidak mungkin mudah membuka hati untuk dia. Tapi, ucapan El menyadarkannya bahwa pria itu sudah benar-benar membutuhkannya.


"Aku berjanji akan selalu mendampingimu, El."


"Bisakah kau beri aku satu alasan kenapa kau mau melakukannya?"


"Karena kau adalah suamiku."


"Hanya karena itu?"


Elrich berharap Abrine menyatakan bahwa dia mencintainya. Salahkah? Sejauh ini dia memang belum pernah mendengar Abrine mengutarakan perasaannya lagi pada El. Terkait kebersamaan mereka sampai saat ini adalah karena El sudah mengakui mencintai istrinya, tapi Abrine belum pernah mengatakan hal yang sama kepadanya.


******

__ADS_1


__ADS_2