
Sudah seminggu lamanya Abrine tidak datang ke kantor untuk bekerja. Itu semua karena El yang sangat protect terhadap dirinya. Padahal, dimasa awal kehamilan ini dia tidak mengalami masalah seperti muntah dan mual yang berlebihan.
Semua pekerjaannya diurus oleh Anne. Hampir setiap hari Anne akan datang berkunjung ke Apartmennya apabila ada dokumen yang membutuhkan persetujuannya.
Seperti siang ini, Anne datang dengan beberapa pekerjaan yang harus dia tanda-tangani.
"Miss, perusahaan Heaven Company kembali menanyakan kapan anda bisa bertemu dengan pihak mereka?"
Dia menutup file yang sudah dia periksa. Kemudian menatap Anne. Ya, dia sempat lupa mengenai perusahaan besar yang ingin menanamkan saham dan bekerja sama dengan perusahaannya itu.
"Selama ini kau memberi alasan apa pada mereka?" tanyanya.
"Saya belum menjawabnya. Belum menerima. Semuanya masih tertunda sampai anda resmi menyetujuinya. Mereka akan tetap menunggu dan mengatakan agar anda tidak terburu-buru menolak tawaran itu."
Abrine berpikir sejenak. Kemudian dia mengatakan sebuah waktu yang kiranya tepat pada Anne.
"Baiklah, Miss. Saya akan mengatur pertemuan itu. Seminggu dari sekarang."
****
Abrine berhasil menyakinkan El bahwa keadaannya akan baik-baik saja jika dia tetap bekerja. Meski terjadi perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Elrich menyetujui keinginannya juga.
Wajah pria itu terlihat tidak ikhlas saat mengatakannya.
"Baiklah, kau boleh bekerja tapi aku akan mempekerjakan seorang sopir untuk mengantar kemanapun kau pergi."
Abrine menyetujuinya tanpa protes. Seperti saat El yang juga telah mengenalkannya pada seorang maid yang sekarang sudah resmi bekerja di Apartmen mereka.
Abrine paham, El sangat tidak mau jika dia kelelahan. Sebenarnya sikap El memang sangat perhatian, tapi dia selalu menganggap El berlebihan karena dia sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri.
Pagi itu, akhirnya Abrine kembali bekerja. Memeriksa apa yang sudah Anne sajikan dihadapannya sebagai pekerjaannya hari ini.
"Kenapa kau memandangku dengan senyuman seperti itu, Anne?" tanyanya saat mendapati Anne yang tersenyum penuh arti kearahnya.
"Tidak ada apa-apa, Miss."
"Yang benar? Serius, tidak apa-apa. Katakan saja apa yang kau pikirkan!"
Dia cukup penasaran dengan penilaian Anne terhadapnya hari ini. Apa ada yang salah dengan penampilannya sekarang?
"Ehm... Anda terlihat makin cantik dan bahagia sejak menikah, Miss. Tubuh anda juga tempak berisi," ujar Anne sambil menggigit bibir.
Mendengar itu, dia justru tersenyum, dia menghargai kejujuran Anne tentang penampilannya sekarang.
Anne memang belum mengetahui jika dia tengah hamil muda. Dia juga tak menjadikan itu sebagai alasannya karena tak datang ke kantor beberapa hari ini.
"Ya, aku memang bahagia, Anne," ujarnya jujur.
__ADS_1
"Itu sangat terlihat. Pasti suami anda sangat menyayangimu, Miss."
"Hm... begitulah," jawabnya dan seulas senyum tipis dia sunggingkan.
"Ah ya, aku juga sedang mengandung sekarang. Ini antara kita berdua saja, ya. Aku belum mau orang lain tahu mengenai hal ini."
"Wah selamat, Miss. Aku ikut bahagia. Seandainya aku juga bisa cepat menikah." Anne bergumam diujung kalimatnya.
"Kau pasti akan menemukan seseorang yang tepat, nanti."
"Mudah-mudahan, Miss... tapi aku tidak yakin."
"Why?"
"Entahlah, aku tidak merasa yakin saja."
Mereka berdua bicara akrab tak seperti atasan dan bawahan. Kadang Abrine memang lebih senang bersikap santai tanpa aturan formal.
"Atau kau pernah patah hati pada seseorang?"
Anne hanya terkekeh pelan menanggap ulasan yang Abrine berikan. Dari sana Abrine bisa menyimpulkan sesuatu.
"Maaf jika ini diluar pekerjaan kita. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa sesakit apapun yang pernah kau rasakan. Yakinlah bahwa akan ada seseorang yang mampu mengobatinya."
Abrine tertawa kencang setelah mengatakan itu. Dia tak menyangka, setelah dia sadari rupanya ucapannya terdengar sangat bijak. Mungkin pengalaman yang membuatnya bisa berkata demikian. Dia dulu juga patah hati tapi sekarang hatinya yang patah telah terobati dan nyaris sembuh kembali.
Hari yang ditentukan akhirnya tiba, Abrine dan Anne akan datang ke sebuah restoran mewah yang terletak cukup jauh dari letak kantor mereka. Dengan diantarkan oleh sang sopir, akhirnya mereka berdua tiba disana.
Meja pertemuan mereka dengan pihak Heaven Company sudah disediakan. Tampaknya pihak perusahaan itu memang sudah menyiapkan pertemuan ini dengan cukup matang.
"Anne, siapa perwakilan mereka yang akan menemui kita hari ini? Apa sekretaris dari perusahaan itu?"
Anne menggeleng samar. "Seperti kesepakatan pertama yang mereka ajukan, Miss. Pemiliknya yang akan datang secara langsung."
Abrine tak menyangka bahwa hari ini dia benar-benar akan ditemui oleh Direktur Heaven Company.
"Baiklah, kita tunggu saja. Masih ada waktu lima menit lagi sebelum pertemuan itu."
Mereka memang datang lebih awal karena takut terlambat.
Tepat pukul 2 siang waktu setempat. Tiga orang berpakaian formal datang ke hadapan mereka. Dua diantaranya dapat Abrine pastikan adalah bodyguard. Satu wanita ditengah pasti adalah Direktur Heaven Company.
"Selamat siang, Nyonya." Abrine mengulurkan tangan dan disambut oleh wanita yang tampak berumur itu.
Sang wanita menjabat tangan Abrine dengan senyum terkembang. Wajahnya tampak teduh, rambutnya memutih. Seharusnya wanita ini sudah layak untuk pensiun, tapi dia masih sangat berkharisma dan berjiwa muda.
"Nyonya Abrine Gustav?" tanyanya.
__ADS_1
Abrine menatap wanita itu terheran-heran. Ya, dia memang telah menjadi istri Elrich tapi dia tak pernah mengganti nama belakangnya dihadapan publik. Dengan kata lain, hanya orang terdekat atau yang benar-benar mengenalnya saja-- yang saat ini mengetahui nama belakang sang suami.
Kenapa wanita paruh baya ini mengenalnya dengan nama itu?
"Y-ya... dengan Nyonya Theresia?" Jujur saja, Abrine gugup, dia tidak tahu dengan siapa dia berhadapan kali ini. Dia pikir pihak Heaven Company akan mengutus salah satu perwakilan demi menemui pihaknya. Nyatanya, direktur perusahaan itu sendiri yang langsung menemui Abrine.
"Mari, silahkan duduk."
Abrine dan Anne sama-sama duduk. Diikuti oleh Theresia pula. Hanya dia orang bodyguard yang berdiri tegap dibelakang kursi Theresia.
Aura disekitar meja mereka terasa berbeda. Apalagi setelah Abrine menyadari jika diruangan itu hanya ada mereka saja. Padahal ini bukanlah ruangan VIP.
Apa tempat ini telah disewa seluruhnya hanya untuk pertemuan mereka?
"Baiklah, bisa kita mulai meetingnya?" Anne membuka suara. Tapi Theresia mengangkat tangan sebagai isyarat agar Anne tidak melanjutkan kalimat.
"Maaf, Nona Anne. Bisakah aku berbicara dengan Nyonya Gustav secara empat mata?" tanya Theresia pada sekretaris Abrine itu.
Anne melirik Abrine yang saat itu juga tengah menatapnya.
Tatapan Anne seolah meminta persetujuan Abrine dan Abrine pun mengangguk sebagai tanda persetujuannya.
"Saya permisi dulu, Miss."
Anne berlalu. Tak berapa lama kedua bodyguard itu pun memberikan Abrine dan Theresia ruang, mereka beranjak ke posisi yang tak terlalu jauh. Cukup sebagai tempat agar tidak mendengar pembicaraan kedua orang itu.
"Kau pasti bingung dan bertanya-tanya tentang keadaan ini." Kini Theresia berbicara santai dan tidak seformal tadi.
"Ya, apa kita pernah mengenal sebelumnya, Nyonya?"
Theresia menggeleng dan menipiskan bibir.
"Kita belum pernah berkenalan, maka dari itu aku ingin berkenalan denganmu secara langsung hari ini."
"Ya?" Abrine terkejut dengan pernyataan wanita tua ini.
"Aku sudah cukup lama ingin berkenalan denganmu, Abrine. Tapi sayangnya kita belum menemukan waktu yang tepat dan itu baru terjadi sekarang."
"Sebenarnya anda siapa, Nyonya?" tanya Abrine tak ingin berbasa-basi lagi.
"Aku Theresia Langford. Ibu dari Emily Langford. Apa kau pernah mendengar nama itu?"
Seketika itu juga Abrine terbelalak. Tentu dia ingat jelas nama ibu kandung suaminya."Jadi... kau adalah---"
"Ya, secara harfiah dan aliran darah, aku adalah nenek kandung Elrich. Suamimu."
*****
__ADS_1