
Wildan berlarian disepanjang koridor menuju ruang ICU. Matanya memindai ke seluruh penjuru. Tak lama, dia mendapati ruangan yang dicarinya. Namun, dia terdiam kala melihat Abrine dibopong oleh seorang wanita yang dia kenali sebagai kekasih Xander.p
"Brine?" Wildan mendekat, mencoba menyapa Abrine dengan hati-hati.
Abrine melirik sekilas pada pria itu, dia hanya menyunggingkan senyum tipis kemudian berlalu tanpa berniat menjelaskan apapun pada Wildan mengenai keadaan Elrich didalam ruangan sana.
Wildan menghela nafas kecewa, tapi dia tetap bersyukur karena Abrine dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apapun. Kendati demikian, Wildan dapat melihat raut wajah Abrine yang sangat terpukul dan begitu sedih atas kejadian ini.
Kenapa Abrine tampak sangat tertekan karena El? Bukankah mereka menikah tanpa perasaan apapun?
Seketika itu juga Wildan mengingat sekilas tentang ujaran kakak tirinya beberapa waktu lalu.
"Kau tidak bisa hanya menyimpulkan dari pemikiranmu saja, Erland! Mungkin benar, awalnya pernikahan kami karena sebuah kesepakatan, tapi kau tidak pernah tahu apa yang sudah kami jalani setelah benar-benar menjadi suami istri."
"Apa kau telah jatuh cinta pada Kak Elrich, Brine?" gumam Wildan seolah bicara pada angin.
Wildan terduduk didepan ruang ICU. Ingin menjenguk namun waktu berkunjung ke dalam ruangan itu telah habis dan dibatasi. Rupanya dia datang tidak pada jam besuk.
Wildan mengusap wajahnya kasar. Mungkin kejadian yang menimpa El ini merupakan kabar gembira untuk sang Mama. Namun, sebisa mungkin Wildan menahan diri untuk tidak menghubungi Erika. Dia tidak mau wanita yang telah melahirkannya itu-- tahu mengenai hal ini.
Wildan berjalan ke arah yang berlawan-- saat sadar bahwa kehadirannya di rumah sakit hanyalah sia-sia.
Jangan tanyakan soal perasaannya saat ini. Wildan juga terpukul. Ya, dia sangat terpukul. Terlepas dari perselisihan diantara mereka selama ini, El tetaplah seorang kakak baginya.
Sepanjang jalan menuju keluar dari area Rumah Sakit, Wildan merenung. Bayangan-bayangan masa kecilnya bersama Elrich mulai merasuki pikirannya.
Dulu, mereka sangat bahagia. Akur dan saling berbagi. Mereka kompak dan selalu dibelikan pakaian yang sama oleh Edgar dan Erika. Kedua orangtua itu bahkan tidak segan mengeluarkan kocek cukup banyak hanya untuk membelikan mainan yang sama--agar mereka tidak berebut nantinya.
Saat itu, Wildan yang dalam posisi Adik dan berstatus anak bungsu, selalu disayangi. Dia punya kakak perempuan dan lelaki. Elena dan Elrich. Hidupnya terasa lengkap. Sempurna. Kedua kakaknya bahkan selalu mengalah padanya yang kadang cengeng dan tidak sabaran.
Lalu, semuanya berubah. Sirna dalam seketika. Di usianya yang masih belia, dia harus dihadapkan oleh sebuah kenyataan besar.
Ternyata Edgar bukanlah ayah kandungnya. Erika berselingkuh dengan sopir sekaligus orang kepercayaan Edgar.
Edgar tidak menerima, tentu saja. Erika bukan selingkuh sehari dua hari, tapi seumur pernikahan keduanya. Bahkan, sebelum keduanya menikah.
Edgar mengusir Erika. Tapi, Edgar juga bingung harus bagaimana terhadap dia-- sang anak yang bukanlah darah daging pria itu. Edgar terlanjur menyayanginya.
Erika tak terima. Sang ibu membawanya ikut karena merasa dia adalah hak mutlak sebagai ibu biologisnya. Edgar tak bisa menolak keputusan Erika, karena merasa tak berhak terhadap dirinya.
Sejak saat itu, Erika selalu mendoktrin hal tak baik agar dia membenci keluarga Edgar termasuk Elena dan Elrich.
Dulunya dia terpedaya. Sebelum benar-benar pindah ke Indonesia, dia bahkan sering bertengkar dengan Elrich di area sekolah, karena mereka bersekolah di tempat yang sama tapi berbeda jenjang. Hal itu pula yang mungkin membuat El jadi membencinya. Dia yang selalu mencari masalah dengan sang kakak.
__ADS_1
Dia menganggap Elrich juga telah ikut mengusirnya dan ibunya. Dia tidak tahu apapun. Jiwanya masih labil saat itu.
Tapi sekarang, semakin dewasa, dia semakin bisa membedakan mana yang benar dan salah. Dia sudah tahu posisi. Dia tahu ibunya yang bersalah sejak dulu.
Entah kenapa, sudut mata Wildan terasa berkedut membayangkan masa lalunya. Tak lama, matanya memanas dan mengeluarkan airmata.
Bayangan tubuh Elrich yang terbujur kaku di ruangan ICU, menghantuinya. Dia belum menjadi adik yang baik untuk El. Dia tidak pernah melakukan hal yang membuat kakaknya bangga.
Dia menyesal. Meski dia dan El mencintai wanita yang sama, tapi tetap saja El adalah kakaknya. Kendati darah yang mengalir dalam tubuh mereka berbeda, sekali lagi .... El tetaplah kakaknya.
****
Wildan terkesiap saat melihat Yemima dan Abrine duduk tak jauh dari tempatnya. Ya, hari ini dia kembali datang ke rumah sakit lagi demi dapat menjenguk Elrich. Dia bahkan datang pagi-pagi sekali agar bisa menyesuaikan dengan jam besuk.
Tadinya, dia ingin mencari angin segar di taman belakang Rumah Sakit. Karena jam untuk menjenguk Elrich masih satu jam lagi. Ternyata dia malah melihat Abrine yang menangis sesenggukan sambil menyandarkan kepala di bahu Yemima.
"Aku harus bagaimana, Mima? Keadaan El masih seperti ini dan belum ada tanda-tanda dia akan sadar," ujar Abrine terdengar frustrasi.
Wildan mendengarkan dari tempatnya. Terlihat tak sopan, tapi apa pedulinya? Dia juga ingin tahu kondisi wanita yang masih bertahta dihatinya itu.
"Sabar, Brine.... El pasti akan sadar. Dia itu kuat. Jangan lupa mendoakannya, dan andalkan Tuhan dalam hal apapun." Terdengar Yemima mengucapkan kata penghiburan demi menenangkan Abrine. Wanita itu mengelus-elus punggung Abrine yang tampak berguncang.
Abrine terdiam. Matanya tampak menerawang jauh.
Bayi?
Degh...
Degh...
Degh...
Wildan tak salah dengar kan? Bayi? Apa Abrine tengah hamil?
"Salah satunya itu, tapi.... tapi.... ada hal lain," jawab Abrine terdengar kepayahan.
"Hal lain? Hal lain apa?
"Mungkin dulu aku sangat takut menyandang status janda. Mungkin aku juga bisa menjaga dan membiayai anakku sendiri nanti. Tapi sekarang yang paling ku takutkan adalah aku akan kehilangan pria yang aku cintai."
"Ya, kau telah mencintainya, Brine..." Yemima mengangguk membenarkan ucapan Abrine.
Wildan menggeleng lemah. Abrine telah mencintai sang kakak. Dia telah mendapat satu kesimpulan berarti mengenai perasaan wanita itu.
__ADS_1
Wildan pun memutuskan kembali ke ruang ICU-- mumpung Abrine dan Yemima masih disini untuk saling mendengarkan keluh kesah.
"Kak...." Wildan menatap wajah Elrich yang terpejam di pembaringan. Wajah tampan itu terlihat pucat seperti tak berdarah.
"Maafkan aku, kak...." ujarnya lirih. Entahlah, dia tak tahu harus berkata apa lagi sekarang.
Cukup lama hening. Akhirnya Wildan menarik nafas dalam dan kembali berujar.
"Aku menyayangimu, kak. Sekalipun kau membenciku aku tidak peduli. Maaf aku sempat berniat merebut milikmu kak, bukan cuma Abrine tapi segala yang pernah kau miliki aku sempat iri. Sekali lagi maafkanlah aku, kak."
".... bangun dan sadarlah! Lihat istrimu sangat tersiksa karena keadaan ini. Apa kau mau dia terus sedih seperti itu?"
Wildan mendengkus keras. Dia berbicara sendiri, entah El mendengar atau tidak. Dia tak peduli.
"Abrine hamil kan? Kau yang membuatnya hamil, maka bertanggung jawablah, kak! Jangan biarkan orang lain yang mengambil alih tanggung jawab itu, termasuk aku!"
".... maka dari itu, ku mohon kau segera pulih. Aku hanya akan menjengukmu disini satu kali ini. Karena dihari-hari berikutnya, aku akan melihatmu lagi tapi tidak di ruangan yang sama. Pulih dan jaga mereka, kak."
Wildan menyudahi ucapannya. Mengeluarkan semua kalimat itu cukup membuatnya emosional. Dia pun baru menyadari ternyata dia benar-benar terpukul melihat tubuh sang kakak yang terbujur kaku serta disambungkan dengan alat-alat penunjang kesehatan. Hal itu justru membuatnya semakin trenyuh pilu.
Saat keluar dari ruang ICU, Wildan berpapasan dengan Abrine. Dia menatap wanita cantik itu dengan tatapan sendu.
Mulai sekarang, dia akan menerima keadaan. Dia akan menganggap Abrine sebagai kakak iparnya. Menekan perasaannya dalam-dalam. Keadaan El didalam sana cukup membuatnya tertampar, dia tak ingin menduduki dan mengambil alih posisi Elrich dihati Abrine.
"Apa kamu sudah melihatnya?" tanya Abrine dengan suara pelan nyaris berbisik.
Wildan mengangguk. "Kamu mau masuk?"
"Ya."
"Masuklah, aku yakin kak El sangat butuh kekuatan dari kamu."
Abrine tidak menjawab. Dia justru membuang pandangan ke arah langit-langit seakan menahan airmata agar tak tumpah.
"Brine, ku harap kamu bisa lebih tegar, kuat dan bisa menerima semuanya. Aku mendoakan yang terbaik sekalipun kamu tidak mempercayai itu."
Wildan pun pergi menjauh. Dia berlalu sembari menyeka air yang jatuh disudut matanya, namun tekad didalam dirinya adalah akan menjaga Abrine jika sesuatu yang buruk terjadi pada Elrich, kakaknya.
Meski begitu, dia sangat berharap El kembali pulih.
"Dulu aku sempat berharap kau menghilang, kak. Agar aku bisa menggantikan mu disisi Abrine. Tapi setelah melihatmu seperti ini, aku lebih memilihmu untuk pulih. Selain aku tak mau Abrine sedih, aku juga tidak sanggup menjadi bayang-bayangmu. Abrine mencintaimu, jangan siksa dia dengan keadaanmu yang seperti ini," batin Wildan.
*****
__ADS_1