PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
66. Kemurkaan


__ADS_3

Elrich merasa murka dengan kejadian didepan matanya. Tanpa perlu bertanya siapa dalang dibalik semua ini dia sudah mengetahui jawabannya.


Kemarahan serta emosi yang terus membakar jiwanya sehingga kemurkaan itu terasa meluap-luap bagai kobaran api yang sulit untuk dihentikan.


Berlandaskan kemampuan bela diri yang juga El miliki, hingga terjadilah perkelahian yang tidak seimbang antara dia dengan kelima orang preman tersebut.


El menendang bagian vi-tal dari kedua orang diantara mereka, membuat mereka lumpuh seketika. Meringis, memegangi 'benda pusaka' yang harusnya terlindungi.


Lalu, entah bagaimana, kelimanya bisa jatuh dibawah kakinya.


Salah satu dari mereka meminta El untuk tidak melanjutkan pukulan lagi karena El memukuli mereka secara membabi buta dan tak terkendali.


Rasanya El ingin menghabisi semuanya saat ini juga. Dia sudah gelap mata. Tapi pikiran rasionalnya masih bisa bekerja. Dia menyadari ada yang lebih penting dari mereka ialah istrinya sendiri.


Elrich menatap sang istri yang masih meringkuk dengan perasaan pilu. Tapi, El juga langsung menyadari sesuatu. Sehingga sebelum dia mencapai tubuh Abrine, dia lebih dulu berbalik mengejar Claire yang hampir saja pergi meninggalkan tempat terkutuk itu.


"Mau kemana kau? Kau dibalik semua ini, kan?"


"Ti-tidak, El!" jawab Clair tergagap.


"Seharusnya aku tidak bertanya padamu!" sesal Elrich, karena bagaimanapun dia menanyakannya, Claire tetap tak akan mau mengakuinya.


Sungguh sangat disayangkan, rencana Claire sangat menjijikkan dan berhasil memancing kemarahan Elrich yang selama ini dia pendam untuk wanita itu.


Seorang pria tampak tergopoh-gopoh untuk bisa berdiri kembali.


Disaat bersamaan, Elrich juga tengah memegang lengan Claire dengan sangat kuat sehingga rontaan dari wanita itu sama sekali tidak berarti dan tak mengubah apapun.


El tetap bergeming di posisinya.


"Daripada kalian pulang tanpa hasil. Aku memberikan kalian hadiah!" kata El dengan senyum licik. Dia sudah muak mengahadapi Claire selama ini. Cukup sudah kesabarannya.


"E--el? Apa maksudmu, El?" Wajah Claire berubah pias. Sedikit banyak dia menangkap maksud dari ucapan El kepada salah satu pria bayarannya.


"Aku memberikan dia untuk kalian, sebagai ganti untuk pekerjaan kalian yang sia-sia hari ini."


Pria itu menyeringai mendengar ujaran Elrich.


"Tidak, El! Jangan seperti itu! K-kau bercanda, kan?" tanya Claire dengan tatapan takut-takut.


El tidak menggubris Claire, wajahnya masih tampak dingin dengan rahang mengeras.


"Terserah kalian mau apakan dia. Aku tidak peduli," ujar El sambil berlalu menuju Abrine diujung sana.


Pria yang sudah berdiri itu segera menangkap Claire yang hendak kabur ketika El melepaskan cengkraman tangannya.


Pria itu menyeret Claire dengan seringaian nakal.

__ADS_1


"Tidak! Apa yang kau lakukan! Aku yang membayar kalian. Jadi, jangan coba-coba!" kata Claire setengah mengancam.


Elrich tersenyum miring mendengarnya, Claire tak sengaja mengakui jika memang dia yang membayar kelima preman ini. Tapi El tak peduli, dia menghampiri tubuh sang istri yang tampak lemah. Kemudian, dia menggendong Abrine dikedua tangannya.


"Pastikan kalian menikmati hadiah dariku! Jika tidak, maka aku akan membedah tubuh kalian dan mencabut jantung kalian ?satu persatu!" ancam El pada kelima pria yang ada disana.


Kelima orang itu mulai bisa menguasai keadaan dan mengerti apa yang El katakan. Tatapan mata El saat mengucapkan itu terlihat tak main-main.


"El, jangan tinggalkan aku disini, El!" pekik Claire.


El terus berjalan menjauh sambil membawa Abrine dalam gendongannya Kepergiannya diiringi oleh isakan dan jeritan nyaring dari mulut Claire.


Selepas kepergian El, Claire harus rela menjadi tawanan pengganti. Dia benar-benar digilir oleh kelima orang itu. Dia merasa sangat jijik dan mengumpat mereka yang berlaku kasar padanya.


Suara desa-sahan dan tangisan bercampur menjadi satu di rumah kosong itu. Tapi tak satupun dari mereka yang iba dengan Claire yang kini menjadi mangsa mereka.


Claire meringkuk. Tubuhnya telah terjam-ah tanpa satupun yang tersisa. Bahkan kelimanya sengaja meninggalkan cairan lengket yang membuat Claire semakin menggeram kesal.


Dengan terseok-seok, Claire kembali ke tempat tinggalnya. Dia terlihat sangat mengenaskan. Bahkan jebakannya untuk Abrine justru menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.


"Seharusnya wanita itu yang merasakan ini. Kenapa jadi aku!" cercanya. Dia mengumpat sepanjang perjalanan. Bagian intinya terasa sangat sakit dan membuatnya sulit berjalan.


****


"El?"


"Hmm?" El menyahut suara Abrine dengan pelan. Dia sedang mengompres tubuh istrinya yang terasa hangat. Kejadian tadi pasti membuat kondisi tubuh Abrine terkejut.


Abrine menatap heran pada El. Jika dia tidak salah lihat, suaminya justru menitikkan air mata. Namun, El buru buru menghapus jejak yang mengaliri pipinya itu.


"Kenapa kau menangis, El?" Tangan Abrine terulur menyentuh sisi wajah suaminya.


"Tidak, aku---mana mungkin aku menangis. Hehe."


"Apa yang terjadi tadi? Apa tadi aku tertidur lama dan bermimpi? Ah, mimpiku sangat buruk, El."


Elrich hanya tersenyum tipis. Biarlah Abrine mengira jika dia bermimpi saja. El tidak sanggup menceritakan apa yang sebenarnya terjadi karena ini ada kaitannya dengan Claire dan Claire adalah bagian dari masa lalunya.


"El, maaf..."


El menatap sang istri dengan heran. "Maaf kenapa?" tanyanya.


"Aku selalu merepotkan."


"Tidak, kau tanggung jawabku." El tidak bisa menahan kesedihannya. Dia tahu jika Abrine sangat syok sekarang tapi bisa-bisanya istrinya ini khawatir telah merepotkan dia. Bagaimana bisa dia mengatakan pada Abrine jika Claire adalah dalang dari tragedi ini.


Cukup lama hening, Abrine dan El saling larut dalam pemikiran masing-masing.

__ADS_1


Sebenarnya Abrine juga mengingat jika dia tadi hampir digilir oleh lima orang pria. Tapi dia memilih mengatakan bahwa dia tengah bermimpi pada El, sebab dia memang berharap semuanya hanya mimpi saja.


"El, apa mereka berhasil menodaiku?" tanya Abrine akhirnya. Dia harus tahu apa yang terjadi. Jikapun El ingin menceraikannya setelah ini dia akan menerimanya.


"Brine...." lirih El. "Kenapa kau berpikiran sampai kesana?"


"Jika iya, maka katakan saja, El. Aku berhak tahu dan kau berhak melepaskanku."


"Abrine! Apa yang kau katakan? Aku tidak akan melepasmu, kau istriku!"


"Tapi aku---"


"Tidak terjadi apapun, aku berhasil menghentikan mereka."


"Benarkah? Jangan membohongiku, El."


Abrine tidak yakin El bisa melawan kelima orang itu dan menyelamatkannya. Tapi, dilihat dari kondisinya, El memang terlibat baik-baik saja, tidak seperti orang yang habis dikeroyok demi menyelamatkannya.


El mengusap sudut bibir Abrine yang memar dengan ujung ibu jarinya, membuat wanita itu meringis sekilas.


"Kau tidak akan berada disini jika tadi aku tidak menghabisi mereka. Kenapa? Kau ragu pada kemampuanku, hmm?"


"Bukan begitu, tapi.... aku tidak mau kau menutupi apa yang telah terjadi padaku. Aku tidak mau, El. Kau harus mengatakan yang sebenarnya. Jikapun aku sudah diper---"


Tangan El langsung menutup bibir Abrine dengan lembut. "Sudah, jangan dilanjutkan. Bahkan untuk mendengarnya saja aku tidak sanggup, bagaimana bisa kau mengatakan hal itu, sayang?"


".... aku sudah berkata yang sejujurnya, kau tidak apa-apa. Aku sudah membawa mu pulang. Semua baik-baik saja."


El membawa Abrine dalam dekapannya. Disaat itulah Abrine menangis tersedu-sedu.


"El.... aku tidak tahu apa jadinya jika tadi kau tidak datang diwaktu yang tepat." Abrine berkata dengan suara bergetar. Dia terbayang akan kejadian yang menimpanya beberapa jam lalu.


"Bisakah kau berjanji padaku untuk melupakan hal ini? Aku tidak akan memaksamu untuk melupakannya dengan cepat tapi aku hanya tidak mau kejadian hari ini terus membekas di pikiranmu hingga membuatmu sakit."


Sedikit banyak El takut istrinya jad tertekan dan itu bisa merusak kesehatan psikis istrinya.


"Entahlah, tapi ku rasa akan sulit melupakannya."


El mengecupi puncak kepala sang istri berkali-kali, seolah tengah menyalurkan ketenangan diri disana.


"Setelah ini, aku harap kita sama-sama saling berhati-hati."


Abrine mengangguk atas ujaran suaminya.


"Tapi, kenapa kau bisa berada disana, El? Kenapa kau tahu aku dalam bahaya?"


******

__ADS_1


__ADS_2