PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
101. Pingsan


__ADS_3

Abrine baru saja turun dari Apartmennya ketika dia harus bertemu dengan Erika secara tak sengaja.


Erika menyapa wanita itu dengan cukup ramah dan Abrine hanya membalasnya dengan senyuman kecil. Kendati Abrine sudah memaafkan kesalahan Erika dan sempat menerima kedatangan Erika ke Apartmennya tempo hari, tapi alarm yang ada dalam dirinya tetap saja selalu mewaspadai sikap wanita paruh baya tersebut.


"Abrine, kamu mau ngantor, ya?"


"Iya, Ma." Padahal Abrine sudah ingin menghindar, tetapi tak mungkin dia mengabaikan pertanyaan Erika begitu saja.


"Mama boleh nebeng, enggak? Ada yang mau mama beli di supermal."


Abrine menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Memang perjalanannya menuju kantor harus melewati bangunan besar tersebut, tapi dia tetap takut salah dalam mengambil keputusan, apalagi saat ini El tidak disampingnya sebab masih berada di villa sang ayah.


"Maaf, ma. Abrine buru-buru."


"Kok gitu sih? Mama minta tolong banget nih, Erland lagi keluar juga. Ada kebutuhan rumah yang harus mama beli disana. Tolong ya, please."


"Memangnya di supermarket bawah gak ada yang jual apa yang mau mama beli?"


"Gak ada. Mama tadi baru dari sana."


Merasa sudah membuang-buang waktu cukup lama karena meladeni Erika, akhirnya Abrine menyanggupi permintaannya.


Erika pikir, Abrine berangkat sendirian menggunakan mobilnya, rupanya sekarang wanita itu tampak di sopiri oleh seorang pria.


Erika berdecak kesal. Bagaimana dia mau melancarkan aksinya jika Abrine tidak sendirian seperti ini?


Abrine dan Erika memasuki mobil dari pintu yang berbeda. Keduanya sudah duduk di jok belakang dengan sopir yang berada dibalik kemudi.


"Pak, nanti sebelum ke kantor berhenti di Supermal, dulu ya. Ibu Erika mau mampir disana."


"Baik, Nyonya."


Mobil mulai berjalan dengan kecepatan sedang. Erika yang duduk bersisian dengan Abrine mulai bertanya-tanya sebagai bentuk keingintahuannya. Siapa tahu dengan bertanya dia akan mendapat info yang menguntungkannya.


"Kamu berangkatnya gak bareng sama El? Udah pake sopir sekarang?"


"Iya, Ma." Abrine menjawab sekenanya.


"Tapi, mama jarang lihat Elrich belakangan hari...." Erika mau memancing Abrine soal insiden yang menimpa Elrich tempo hari. Dia tak mau terang-terangan membahasnya. Biar saja Abrine mengira dia tidak tahu mengenai kejadian itu.


"Ah, iya. Beberapa Minggu kemarin El memang berada di luar kota."


"Ngapain? Kerja?"


Abrine hanya tersenyum tipis tanpa mau menjelaskan lebih lanjut.


"Hari ini El kerja juga? Kenapa gak dia yang anterin kamu?"


"El, dia...." Abrine ragu mengatakan pada Erika jika El sekarang sedang di villa Edgar bersama Theresia.

__ADS_1


"Apa dia udah berangkat duluan?"


"Ya, begitulah, ma." dusta abrine. Entah kenapa dia tidak menyukai sikap Erika yang terkesan sangat ingin tahu keberadaan suaminya.


"Oh...."


Mobil mereka berjalan terus sampai tiba di depan superMal yang ingin Erika kunjungi.


"Brine, kamu gak mau ikut temenin mama belanja? Siapa tahu kamu mau beli sesuatu gitu?"


"Enggak ma. Maaf, Abrine lagi sibuk banget di kantor."


"Ah iya.... yaudah deh." Erika hendak turun dari mobil Abrine tapi tiba-tiba wanita itu mengaduh kesakitan.


"Aduh aduh...." ringis Erika.


"Kenapa, Ma?" Abrine terkejut melihat sikap Erika yang seperti hendak menangis menahan sakit sambil memegangi perutnya.


Belum sepenuhnya pintu mobil itu tertutup, Erika tampak sudah tergeletak pingsan. Abrine terkejut dengan mata yang membola.


"Mama!!" pekik Abrine. Wanita itu segera keluar dari mobil, begitu pula sang sopir.


"Pak, tolong bantu bawa ibu Erika masuk ke mobil. Kita bawa ke rumah sakit sekarang, ya."


Saat itu juga, dengan bantuan sopirnya, Abrine melarikan Erika ke rumah sakit terdekat. Dia panik dan bingung saat Erika dinaikkan ke atas brankar dan didorong masuk ke ruang UGD.


Abrine mencari-cari keberadaaan ponselnya dan segera menelepon Wildan.


"Ada apa, Brine?"


"Mama Erika di rumah sakit. Aku gak tahu kenapa dia tiba-tiba pingsan."


"Astaga. Shareloc rumah sakitnya, sekarang juga aku on the way."


Abrine mengembuskan nafas lega setelah berhasil mengabari Wildan. Dia juga menelepon Anne untuk menitipkan pekerjaan agar dihandle oleh sang sekretaris.


Saat Abrine ingin menghubungi Elrich terkait masalah ini, seorang dokter keluar dari ruang UGD hingga membuat Abrine menunda dulu untuk mengabari suaminya.


"Apa yang terjadi dokter?" tanya Abrine dengan raut khawatir.


"Untuk sementara, dugaan kami pasien mengalami kebocoran lambung. Untuk lebih jelas kita akan melakukan scan dan melihat seberapa parah kondisinya."


"Baik, terima kasih, Dokter."


Abrine pun memutuskan menunggu kedatangan Wildan disana. Setelah sebelumnya dia menyetujui saran dari dokter untuk melakukan yang terbaik bagi Erika.


Dua puluh menit kemudian Wildan tiba, bersamaan dengan keluarnya hasil pemeriksaan Erika yang lebih detail.


Ya, wanita itu mengalami kebocoran lambung yang cukup parah. Pemicunya adalah seringnya dia mengonsumsi minuman beralkohol sementara lambungnya tidak kuat lagi untuk mencerna minuman tersebut.

__ADS_1


"Gimana ceritanya kamu bisa ketemu mama?"


Abrine pun menceritakan perihal awal mula pertemuannya dengan Erika hari ini. Seketika itu juga Wildan dapat menebak bahwa ada rencana yang ingin Erika lakukan terhadap Abrine tetapi karena pingsan akibat penyakitnya, rencana itu pun gagal dilakukan.


Akan tetapi, Wildan tak mau mengatakan tentang kelicikan sang Mama kepada wanita itu. Bagaimanapun, Erika tetaplah ibunya. Wildan pun menatap Abrine dengan tatapan tak enak.


"Aku boleh minta tolong, gak?"


"Apa?" tanya Abrine.


"Lain kali, kalau mama minta tolong kamu untuk dianterin kemanapun... gak usah di gubris ya. Kalau bisa kamu hindarin aja Mama."


"Kenapa?" Walau Abrine tahu arah pembicaraan Wildan ini mengarah kemana, tapi dia tetap ingin bertanya.


"Aku tahu mungkin kamu berniat menolong mama. Tapi kita sama-sama gak tau apa niat mama ke kamu."


Mendengar itu, Abrine hanya bisa mengangguk. Dari sanalah dia mengerti bahwa Wildan tengah menghawatirkannya, tetapi pria itu tentu tak mau membuka aib sang Mama secara terang-terangan meski ucapannya terdengar mencurigai.


"Maaf ya, udah ngerepotin kamu. Sekali lagi makasih udah bantuin mama aku."


"Iya, gak apa-apa, kok." Abrine melihat arloji di pergelangan tangannya. "Ah iya, aku udah bisa pergi, kan? Kerjaan aku di kantor udah nungguin soalnya," ujarnya kemudian.


Wildan tersenyum tipis. Wajah tampan pria itu tampak sangat tulus. Abrine sebenarnya sempat sungkan telah menyakiti hati Wildan yang sudah menunggunya selama bertahun-tahun. Tapi, mau bagaimana lagi, memang mereka ditakdirkan tidak berjodoh.


Yang paling membuat Abrine lega adalah sekarang Wildan sudah lebih dewasa menyikapi apa yang sudah ditakdirkan untuk hubungan mereka.


Setidaknya, mereka masih bisa menjaga hubungan baik sebagai kakak dan adik ipar walau itu terdengar klise tapi begitulah kenyataannya.


"Ya, Brine. Gak masalah. Aku udah disini jagain mama. Kamu lanjutin aja pekerjaan kamu yang tertunda. Sekali lagi, maaf udah ngerepotin kamu ya."


"Aku juga sering ngerepotin kamu." Abrine ingat, Wildan juga banyak berjasa padanya apalagi sejak insiden penusukan El. Pria itu bahkan kesana kemari sampai repot menjemput keluarga Abrine yang datang dari Indonesia.


"Gak masalah." Wildan menyahut.


Abrine pun berlalu dari sana. Wildan memandangi tubuh mungil Abrine yang perlahan menjauh dari pandangannya.


"Maafin mama aku ya, Brine. Meskipun aku gak tau dia ngerencanain apa buat kamu. Tapi aku yakin mama mau ngelakuin sesuatu." Wildan menghela nafas dalam sebelum akhirnya dia memasuki bangsal dimana Erika sudah dipindahkan dari UGD tadi.


Wildan melihat keadaan sang Mama yang terbujur pucat disana. Dia sebenarnya kasihan tapi mengingat mamanya yang belum mau pensiun menjadi orang jahat, seketika itu juga emosi Wildan meningkat naik.


"Kenapa sih ma? Kenapa mama gak udahin semuanya sampai disini?" Wildan mengajak sang Mama bicara walau dia tahu wanita itu masih terpejam dihadapannya.


"Udah ya, ma? Sampai kapan mama mau begini? Lihat, Tuhan udah kasih Mama ujian penyakit yang cukup berat kayak gini. Kalau mama terus aja mau jahatin Abrine dan Kak Elrich... apa Mama siap dengan hukuman Tuhan yang selanjutnya?"


Wildan merunduk, dia menggenggam jemari tangan wanita yang melahirkannya itu.


"Aku gak mau mama menerima hukuman yang lebih parah, ma. Abrine dan Kak Elrich itu gak punya salah sama mama. Mama gak bisa balasin dendam sama mereka yang gak tahu apa-apa. Sekarang kita fokus sama kesehatan mama aja, tanpa perlu mengusik kebahagiaan orang lain."


******

__ADS_1


Vote Senin nya mendarat dong! Duh maksa ya aku... 🀭🀭🀭 Nanti aku up lagi dehhh kalo vote nya nambahπŸ€­πŸ€­πŸ€—πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜


__ADS_2