PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
102. Masa lalu yang tak dapat terulang


__ADS_3

Tampaknya permasalahan Edgar dan Theresia benar-benar sudah tuntas. Hari ini mereka bahkan menghabiskan waktu bersama-sama seperti keluarga pada umumnya.


Sebuah kain persegi bermotif kotak-kotak-- dibentangkan El di kebun jeruk yang terletak dibelakang villa milik sang Ayah. Kemudian, dia mulai menata kudapan yang tadinya dibawa Theresia dari villa menggunakan sebuah keranjang makanan.


Elrich, Edgar dan Theresia duduk di kain tersebut sambil menceritakan tentang keseharian mereka masing-masing.


Mereka seperti keluarga hangat yang tengah berpiknik. El mengolesi selai kesukaan ayah dan neneknya diatas roti mereka masing-masing. Kemudian menyerahkannya pada kedua orangtua berbeda generasi tersebut.


Andai kehangatan ini dapat El rasakan lengkap dengan kakak dan kedua ibunya--Emily dan Naina-- pastilah semuanya akan terasa semakin lengkap.


Hemm, El juga merindukan adiknya. Meski darah yang mengalir tidak sama, tapi Wildan tetaplah tumbuh di lingkungan yang sama dengan dirinya.


"Kau kenapa, El?" tanya Edgar membuat lamunan El terhenti.


"Tidak ada, Ayah. Kegiatan ini membuatku jadi mengingat masa lalu. Mungkin, aku hanya merindukan masa kecilku, bersama kakak dan adikku."


Theresia tersenyum tipis mendengar ujaran sang cucu. Sementara Edgar yang bertanya, justru seakan menerawang jauh ke masa-masa yang dimaksudkan oleh sang putera.


"Ya, dulu kau, Elena dan Erland sering bermain di kebun ini... memetik jeruk bersama-sama saat liburan sekolah. Apalagi musim panen seperti sekarang ini." Edgar menatap ke arah pohon-pohon jeruk yang tampak berbuah lebat dan menguning.


"Kita mungkin tidak bisa mengulang waktu yang sudah terlewat, tapi kita bisa membuat hari-hari berikutnya menjadi lebih baik. Masa lalu tidak bisa dirubah, tapi itu bisa menjadi sebuah pelajaran. Semoga di masa depan, kejadian buruk tidak terulang dan kita tidak terjebak dalam situasi yang salah untuk kedua kalinya."


Nasehat Theresia terdengar sangat bijak dan sepertinya ucapan itu disetujui oleh Elrich dan Edgar.


Elrich melemparkan senyuman sendu. Begitupula dengan Edgar. Itulah mengapa dia tidak pernah mempermasalahkan jodoh atau pasangan dari anak-anaknya. Dia tidak mau kesalahan yang sama akan terulang-- seperti yang terjadi padanya, menimpa putra dan putrinya seperti yang dia alami dimasa yang lalu.


Theresia juga sependapat dengan itu. Dia sudah menyesal dan tidak ingin ada 'Emily' lain-- yang menjadi korban karena keegoisan orangtua.


Mungkin kita bisa menentukan dan merancang siapa kiranya yang pantas untuk kita. Tapi, kita tidak pernah tau pada siapa hati kita akan berlabuh.


Karena pada akhirnya, kita tidak bisa memilih, pada siapa kita akan jatuh cinta. Siapa dia dan darimana asal-usulnya?


Kita hanya bisa berharap diselingi doa, semoga jodoh kita adalah orang yang kita cinta dan juga mencintai kita. -Semoga-


"Apa kabar Erland sekarang, ya?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibir sang Ayah.


Elrich menarik sudut bibirnya. Dia tak mau menutupi pada ayahnya bahwa sekarang sang adik sudah berada di Jerman juga.


"Er baik, Ayah."


"Benarkah?" Mata pria itu tampak berkaca-kaca dibalik kacamata yang dia kenakan.


"Hemm..." Elrich mengangguk.


Theresia memilih diam karena tidak mau mencampuri mengenai hal ini, sedikit banyak dia juga mengetahui soal Wildan karena saat El terbaring akibat penusukan tempo hari, pria yang dikatakan sebagai 'adik' oleh Elrich itu-- sempat melintas didepannya beberapa kali dan dia jadi mengetahui sosok 'Erland' yang sedang mereka bahas saat ini.

__ADS_1


"Er ada di Jerman. Dia bahkan sempat ingin mengunjungi Ayah ketika ayah dirawat kemarin." Elrich melanjutkan kalimatnya.


Edgar terdiam dengan ekspresi yang sulit dijabarkan. Dia menyeruput kopi yang baru saja dituangkan Theresia dari sebuah ketel.


"Bisakah ayah bertemu dengannya, El?" Suara Edgar terdengar bergetar dan sangat lirih.


Elrich mengangguk. "Jika kesehatan ayah memang sudah benar-benar baik. Besok, saat kami kembali ke kota ayah boleh ikut juga, atau nanti aku akan mengajak Erland kesini untuk mengunjungi Ayah."


Mendengar jawaban sang putra membuat Edgar mengembuskan nafas lega.


"Terima kasih, Nak."


*****


Sementara itu, Wildan yang masih menjaga Erika di Rumah Sakit, lagi-lagi harus menghadapi sikap Erika yang menyebalkan.


"Kenapa Mama harus pingsan, sih! Padahal mama mau ngajak Abrine belanja tadi."


"Pasti mama mau buat ulah, kan?" terka Wildan.


"Terus aja kamu berprasangka buruk sama mama."


"Memang iya, kan, ma?"


"Aku gak bilang kalau mama mau nyelakain Abrine, loh. Kenapa mama yang malah ngaku sendiri!"


Erika terdiam. Dia tidak bisa mengerem ucapannya sendiri hingga akhirnya Wildan bisa menebak rencananya.


"Kan, kamu yang nuduh mama mau buat ulah!" kilahnya masih berusaha mengelak.


"Udahlah, Ma. Mama gak lihat sekarang Mama ada dimana? Di rumah sakit, Ma! Dan yang nolong mama, terus bawa Mama kesini itu Abrine. Apa Mama gak malu mau nyelakain orang yang bahkan udah nolong mama?"


Ucapan Wildan malah membuat Erika jengah. Dia menggeram dalam hati. Dia pikir mencelakai Abrine akan lebih mudah ketimbang melakukannya pada Elrich. Lagipula, jika Abrine terluka otomatis El pun akan hancur. Itu tujuannya, kan?


"Ma, kalau mama masih terus jahat kayak gini. Aku gak mau jaga mama lagi. Aku gak mau rawat orangtua yang jahat!" tukas Wildan tanpa tedeng aling-aling.


"Erland! Bisa-bisanya kamu bilang mama jahat!"


"Terus aku harus bilang apa, Ma? Mama adalah ibu peri? Gitu?" Wildan mendengkus keras.


Erika mengerucutkan bibirnya. Dia memilih mendiamkan putranya sebagai bentuk protes.


"Kalau mama terus begini aku gak akan main-main dengan ucapan aku, ma. Aku bakal pulang ke Indonesia secepatnya dan ninggalin mama disini."


"Tega kamu!" ucap Erika dengan intonasi rendah namun menekankan.

__ADS_1


"Mama yang tega!" Wildan tak mau kalah.


"Mama kamu ini sedang sakit, harusnya kamu gak nambahin pikiran mama!"


"Justru karena mama sakit jadi stop tindakan mama yang bakal nambahin beban pikiran. Mama sendiri yang cari beban itu, ma!" omel Wildan. Entahlah, lelah rasanya dia memberitahu sang Mama. Tapi, tidak mungkin juga dia membiarkan tindakan mamanya yang salah. Sementara sang Mama tetap saja ngeyel kalau diberitahu.


Ponsel Wildan bergetar, rupanya itu panggilan dari nomor yang tidak dikenal.


"Hallo?"


"Er?"


Mendengar suara dan panggilan tersebut, Wildan langsung mengenali jika itu adalah suara Elrich. Sebelumnya dia memang tak pernah menyimpan nomor pribadi sang kakak. Biasanya mereka berbicara langsung atau dari ponsel Abrine.


"Aku dengar, Mamamu masuk rumah sakit?" Suara Elrich dari seberang sana terdengar kembali, membuat Wildan kembali fokus pada panggilannya.


"Iya, Kak. Abrine yang memberitahu, ya?"


"Hemm..."


"Ada apa, Kak?"


"Besok aku sudah balik ke kota. Sekalian ada yang ingin mengunjungimu dan Mamamu. Itupun jika diizinkan."


"Siapa, kak?"


"Ayah," jawab El lugas dari seberang sana.


Mendengar itu, bahu Wildan langsung meluruh, seolah beban yang kemarin dia pikul disana telah berguguran. Benarkah ayahnya akan menemui dia dan sang Mama?


"Apa boleh, Er?" tanya Elrich lagi.


"I-iya, Kak. Boleh... jika tidak merepotkan." Jauh didalam hati Wildan, dia berharap pertemuan antara Erika dan Edgar nanti dapat meluluhkan hati sang Mama yang sudah mengeras karena dendam.


"Baiklah, besok ayah sekalian akan menjenguk Mama kamu."


"Terima kasih, Kak. Tapi...."


"Tapi apa?" tanya Elrich terdengar heran.


"Dampingi Ayah, kak. Aku takut jika Mama melihat ayah, dia akan kehilangan kontrol diri dan emosi, jadi..."


"Ya, aku paham."


******

__ADS_1


__ADS_2