
Sementara itu, Claire yang baru saja keluar dari cafetaria rumah sakit, secara tak sengaja justru menyaksikan kemesraan El dan Abrine di taman. Tentu hal itu membuat hatinya langsung memanas.
"Dulu aku terpaksa mengalah saat melihatmu bersama Pevita, tapi sekarang aku tidak akan membiarkanmu bahagia dengan wanita itu, El."
Dia berbalik pergi dengan rasa kesal yang memuncak. Setelah ini, dia akan memastikan jika El akan jijik pada istrinya sendiri.
Mengandalkan Wildan bukanlah pilihan, pria itu memang menginginkan Abrine dan El berpisah, sama seperti dia. Tapi, mereka tidak sejalan. Dia tak sabar dengan rencana Wildan. Dia akan membereskan ini dengan rencananya sendiri.
***
Hujan gerimis kembali mengguyur diluar sana. Abrine baru saja melangkahkan kaki untuk keluar dari kantornya. Cuaca sangat gelap, sepertinya hujan akan semakin deras saja.
"Miss, apa anda mau saya pesankan taksi?" tawar Anne.
"Boleh."
Hari ini Abrine memang tidak membawa mobil karena pagi tadi dia diantar oleh sang suami ke kantornya.
"Anne, jika kau sudah selesai memesannya, kau duluan saja."
Anne tidak enak meninggalkan atasannya itu sendiri, dia menatap Abrine dengan sungkan.
"Sudah pulanglah, aku tidak apa-apa. Pasti sebentar lagi taksinya akan tiba."
"Baiklah, Miss. Saya pulang duluan, permisi."
Setelah kepergian Anne, Abrine menunggu taksinya didepan kantor. Suasana disekitar mulai senyap karena para pekerja sudah berlalu untuk tiba di rumah masing-masing. Hanya ada beberapa security yang bertugas menjaga tempat itu.
Sebuah taksi menghampiri Abrine. Dengan berlari kecil dia langsung naik ke jok belakang.
Abrine mengeluarkan ponselnya, dia ingin mengirimkan El pesan bahwa dia sudah dijalan untuk pulang.
Ditengah perjalanan rupanya ada beberapa motor besar yang memepet sisi kiri-kanan taksi yang dia tumpangi.
Abrine sadar bahwa ada yang tidak beres. Sopir taksi juga kewalahan demi menghindari para pengendara motor itu. Beberapa keluhan dan umpatan terdengar dari sang sopir karena kalut dengan mereka.
"Apa yang mereka inginkan?" gumam sopir taksi terdengar ketakutan.
"Turun!"
"Turunkan penumpangmu!"
"Hei, Nona! Ayo turun!" desak pengendara motor besar itu bergantian.
"Sudah, pak. Aku akan turun," putus Abrine berusaha tenang. Sebenarnya dia cukup was-was, bagaimanapun cuaca diluar sedang buruk ditambah lokasi mereka sekarang adalah ditempat yang cukup sepi dan jauh dari kawasan padat penduduk.
"Tapi, Nona!" Sopir itu tampak ragu membiarkan Abrine yang ingin turun begitu saja.
"Cepat! Atau kami pecahkan kaca mobil ini!" ancam salah satu dari mereka.
Dengan sangat terpaksa, sopir itu pun membiarkan Abrine untuk turun.
"Tolong pergi, Pak. Segera laporkan ke kantor polisi terdekat," perintah Abrine sebelum benar-benar turun.
Sopir itu mengangguk dengan raut ketakutan karena sekarang para pengendara itu mulai memukuli beberapa bagian mobilnya dengan tongkat yang mereka bawa.
__ADS_1
Abrine turun dengan ragu, dia mengira ini hanyalah perampokan biasa.
"A-apa mau kalian?" tanya Abrine. Dia mungkin bisa berkelahi dan menghadapi dua dari mereka, sayangnya mereka bukan hanya dua orang melainkan ada lima orang disana. Dia tidak mungkin bisa melawan mereka seorang diri.
Abrine terkejut kala salah satu dari mereka justru sudah memukul sang sopir taksi yang harusnya bisa pergi dari sana.
Sopir itu pun tampak pingsan dibalik kemudi.
"Sial," umpat Abrine. Pupus harapannya untuk mengharapkan sang sopir dapat melapor ke kantor polisi.
Perkiraan Abrine yang berpikir jika mereka mau merampok sepertinya salah. Justru mereka menggiring Abrine ke sebuah rumah kosong yang terletak tak jauh dari sana.
Abrine memberontak. Dia melawan dengan sekuat tenaganya.
Perkelahian tak dapat terelakkan. Namun, seperti yang sudah dia duga, dia akan kalah tenaga melawan lima pria sekaligus.
"Kau tangguh juga, Nona!" celetuk salah satu dari mereka dengan wajah bengis dan senyum nakal.
Abrine meneguk salivanya dengan berat. Tenggorokannya terasa tercekat. Dia sudah lelah berteriak demi meminta tolong pada orang yang barangkali lewat namun usahanya nihil. Tak ada yang mungkin lewat di daerah sepi, hujan dan mulai gelap seperti saat ini. Semuanya terasa mustahil. Dia hanya berharap ada sebuah keajaiban.
"Target kita hari ini sangat cantik, tidak salah mengikutinya sampai disini," sahut satunya lagi dengan kekehan nyaring.
"Tolong!!!" pekik Abrine untuk yang entah ke berapa kalinya. Nyalinya menciut melihat kelima orang yang berbadan tegap bahkan dua kali lipat lebih besar dari tubuh mungilnya.
"Teriak saja sepuasnya, tidak akan ada yang mendengar dan menolongmu disini, Nona."
Abrine mundur kebelakang. Dia tahu sekarang bahwa yang mereka inginkan bukanlah merampok barang-barangnya, tetapi mereka menginginkan tubuhnya.
Hal itu semakin jelas kala pria bertubuh tambun dengan mata hitam legam juga mulai membuka suara.
Seketika itu juga Abrine merasa nafasnya sesak. Namun dia sangat geram mendengar ujaran pria itu. Sangat terdengar menjijikkan ditelinganya.
Dengan sangat keras, Abrine meninju wajah pria itu. "Dasar menjijikkan!" ujarnya disertai decihan.
Hal itu membuat keempat pria yang lain ingin segera menyergap tubuh Abrine.
"Aku sangat suka wanita yang bisa melawan seperti ini."
"Ya, ya, dia terlihat sangat menggoda."
Abrine meludahi wajah pria itu. Tapi dibalas tawa sumbang dari sang pria.
Mereka semua semakin tertantang menaklukkan tubuh Abrine yang bergetar karena melawan mereka juga efek ketakutan yang dirasakannya.
Abrine kewalahan, dia ngos-ngosan dengan nafas tak beraturan.
Srekkk!!!
Kain lengan blus yang Abrine kenakan dirobek, menampakkan kulit seputih salju miliknya. Membuat kelima pria itu menatapnya nanar dan penuh naf-su.
"Breng sek!" Masih sempat Abrine memaki mereka.
Dalam kepala wanita itu sekarang adalah bagaimana nasib pernikahannya jika dia benar-benar diperk-osa oleh lima orang ini sekaligus. El tidak mungkin mau menerimanya lagi. Suaminya itu akan jijik pada tubuhnya.
"Ayo, lucuti bajunya!"
__ADS_1
Abrine meringis, dia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba melindungi diri. Matanya terasa berkunang-kunang. Airmata meleleh membasahi pipinya. Dia takut tapi dia lebih merasa jijik.
Sekali lagi, Abrine berharap ada keajaiban yang bisa menolongnya. Jika tak ada, maka biarkan dia mati setelah kejadian menjijikkan ini. Dia tidak mau bertemu El lagi jika sampai dia menjadi korban akibat pemerkosaan.
Abrine meronta-ronta bahkan sebelum mereka semua berhasil menyentuhnya lebih jauh. Dia menangis tanpa suara.
Brak!!!
Seseorang dari mereka terjatuh mencium lantai. Hal itu menyita perhatian keempat pria lain dan mengalihkan atensi mereka dari Abrine yang tengah meringkuk melindungi diri.
Abrine tidak tahu kenapa, kepalanya sudah sangat berat. Bahkan beberapa bagian tubuhnya ikut terluka saat tadi dia mencoba melawan dan berkelahi.
"Jangan berani menyentuhnya!"
Tapi, pendengaran Abrine masih bisa mendengar dengan jelas, serta mengenali suara siapa yang hadir ditengah-tengah kejadian ini. Tidak salah lagi, itu adalah suara suaminya.
*****
El sudah dijalan pulang saat menerima pesan dari Abrine yang mengatakan bahwa istrinya itu sudah menaiki taksi untuk pulang ke Apartmen mereka.
Awalnya El ingin menjemput Abrine ke kantor wanita itu, tapi karena mendapat pesan bahwa Abrine sudah menuju pulang diapun memutuskan untuk berbalik arah.
Namun, tanpa sengaja El justru melihat Claire di persimpangan jalan. Setelah dia perhatikan, benar kata istrinya jika wanita ini sangat mencurigakan.
Disana El melihat Claire berbicara dengan seorang pria asing yang berpenampilan seperti preman. Entah kenapa hati El tergelitik ingin tahu apa yang Claire lakukan dengan pria itu.
Sedikit banyak, El cukup penasaran dengan tindak-tanduk Claire, apalagi setelah dia mengingat ucapan Galvin tempo hari. Galvin bukan cuma mengatakan bahwa kelumpuhannya berkaitan dengan Claire, tapi Galvin juga mengingatkan El untuk berhati-hati pada wanita itu.
Dan sekarang, El justru melihat Claire berurusan dengan pria yang tampak sangar. Bukankah ini semakin mencurigakan saja?
El memutuskan mengikuti Claire yang menaiki sebuah taksi. Rupanya taksi itu justru membawa ke arah kantor istrinya.
El masih berpikir jernih, dia kira mungkin Claire ada urusan disekitar sini. Tapi, dia melihat Claire turun dari taksi dan memasuki rumah kosong yang ada disana.
"Mau apa dia?" Perasaan El mulai tidak enak. Apalagi dia sempat melihat sebuah taksi lain yang berhenti tak jauh dari rumah kosong itu. Taksi itu terlihat tanpa penumpang, tapi El tak memperhatikan lebih lanjut karena dia bergegas mengikuti langkah Claire.
Beberapa sepeda motor besar juga tampak bergelimpangan disana.
Claire bersembunyi dibalik tembok, dia mengeluarkan ponselnya dan tampak siap merekam sesuatu.
El sadar bahwa didepan sana ada beberapa pria dengan setelan serupa seperti yang sempat Claire temui tak jauh dari Rumah Sakit tadi. Pria yang sebelumnya El kira sebagai preman.
Claire masih tidak menyadari kehadiran El, tapi mata El langsung terbelalak kala melihat ada seorang wanita yang meringkuk ditengah-tengah kerumunan para pria itu.
"Abrine!"
Dengan emosi yang menggelegak, El menghampiri pria yang terdekat dan memukulnya saat itu juga.
Brak!!!
Pria itu jatuh mencium lantai akibat pukulan yang dia beri. Hal itu juga memancing keempat pria lain untuk melihat keberadaannya.
Mungkin Claire yang berniat merekam kejadian ini juga sudah menyadari jika El berada disana sekarang.
"Jangan berani menyentuhnya!"
__ADS_1
******