PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
33. Perasaan khawatir


__ADS_3

Elrich tak mengindahkan ucapan Abrine, dia merasa harga dirinya dipertaruhkan disini. Apalagi setelah tantangan Raymond didengar oleh beberapa remaja yang ada di kawasan itu, mereka semua seperti menunggu keputusan Elrich. Berani menerima atau menolak mundur pertaruhan ini.


"El, tidak!" Abrine menggeleng, seolah memberi isyarat bahwa Elrich tidak bisa menerima tawaran Raymond begitu saja.


Raymond menyahut kunci sepeda motor disana, dia melemparkan itu pada Elrich dan dengan sigap ditangkap oleh pria itu. Elrich bahkan tak tahu motor siapa yang akan dia gunakan untuk balapan malam ini, dia sama sekali tak pernah mempersiapkan diri.


"El, apa kau yakin? Kita pulang saja, El...." Abrine mengguncang lengan Elrich sesaat setelah El menaiki motor besar berwarna hitam yang sebelumnya sudah ditunjuk Raymond untuk dia kendarai.


Elrich menggeleng. "Aku tidak bisa," ujarnya.


"Aku tidak mau dijadikan pertaruhan, El..." mohon Abrine.


"Bukan soal itu, ini lebih kepada harga diriku!" pungkas Elrich dan berhasil membungkam mulut Abrine, seketika itu juga Abrine terdiam tapi dia sempat mendengkus sesaat.


"El aku takut sesuatu yang buruk terjadi."


"Kau khawatir padaku?"


Abrine mengangguk. Entahlah bagaimana perasaannya saat ini. Apalagi dia tahu ini bukan bidang Elrich. Balapan itu belum dimulai tapi Abrine sudah yakin jika Raymond yang akan memenangkannya.


"Ini bukan keahlianmu.... ayo pulang saja!"


"Kau meremehkanku?"


"Bukan, tapi aku benar-benar khawatir padamu."


"Daripada kau seperti itu lebih baik kau bantu aku supaya temanmu itu kalah dariku."


"Bagaimana caranya aku membantumu?" tanya Abrine mengernyit bingung.


Elrich menarik lengan Abrine mendekat. Sebelum memulai aksinya, dia lebih dulu melirik pada Raymond yang tengah memperhatikannya dan Abrine dengan lekat.


"Dia akan gusar karena hal ini," kata Elrich menyeringai tipis. Tanpa kata, dia langsung menarik tengkuk Abrine dan mencium bibirnya saat itu juga. Jangankan Raymond, Abrine sendiri terkejut dengan aksi yang El lakukan terhadapnya. Tapi, dia tidak melawan sama sekali, bahkan larut dan merasakan hal itu untuk pertama kalinya.


"Terima kasih semangatnya, Sayang!" kata El sambil mengerlingkan mata pada Abrine yang membeku ditempat.


Mata Raymond sampai membola, tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Benar perkiraan El, pria itu menjadi serba salah sekarang. Raymond menggeram marah, kesal dan ingin mengumpat El saat itu juga.


Raymond mendatangi El dengan wajah merah padam.

__ADS_1


"Apa?" tanya El tanpa rasa bersalah sama sekali. Toh, Abrine calon istrinya. Siapa yang mau melarangnya disini? Raymond? Tidak bisa!


Tadinya Raymond ingin sekali memukul El, tapi Abrine segera mengambil alih situasi.


"Apa kau tetap mau balapan?" tanya Abrine tanpa berani mengadahkan wajah sebab dia terlalu malu menunjukkan tampang meronanya didepan semua orang.


"Ya, tunggu apa lagi!"


Pada akhirnya, Raymond dan Elrich benar-benar bertaruh dalam jalur balapan liar itu. Mereka berlomba-lomba untuk mengungguli posisi yang paling depan.


Disisi lain, Abrine menyaksikan tontonan itu dengan harap-harap cemas. Sejujurnya dia tak tahu harus berpihak pada siapa. Bagaimanapun, Raymond bukanlah musuhnya. Sementara El, hanya calon suami sementaranya. Tapi, ciuman yang El berikan padanya tadi terasa sangat nyata dan menggetarkan hatinya. El salah, hal itu bukan menggusarkan Raymond saja, tetapi juga hatinya.


Sejujurnya El sangat tidak nyaman dengan hal ini, terutama dia masih terngiang ciuman kilatnya bersama Abrine beberapa saat lalu. Kenapa dia nekat melakukan itu? Memang dia ingin membuat Raymond gusar akibat adegannya bersama Abrine, tapi setelah dia sadari, justru hal itu membuat Raymond semakin bersemangat untuk mengalahkannya.


Raymond melirik El sekilas dari posisinya yang mengendarai motor dengan laju yang sama-sama kencang. Sebuah seringaian tipis tersungging di bibirnya.


Sampai akhirnya, garis finish itu sudah terlihat diambang mata mereka, rupanya motor yang dikendarai Raymond mengalami sebuah problem. Dia pun segera menyadari itu.


Raymond tak mau kalah dari El, dia tahu jika El akan mengalahkannya malam ini karena problem itu bukan darinya tapi dari motor yang dia kendarai. Dengan segera Raymond melintas dijalur yang harusnya dilewati El. Dalam kata lain, Raymond sengaja membuat kecelakaan terjadi dan tak terelakkan.


Suara benturan dua motor besar yang beradu terdengar sangat keras menghantam aspal jalanan.


"Mereka kecelakaan! Motor Raymond menabrak motor lawannya!" teriak salah seorang yang rupanya berteman dengan Raymond.


______


"El.....?" Abrine terkesiap saat merasakan tubuh El bergerak perlahan-lahan.


"Brine?" El tampak menatap sekeliling. Ya, dia sadar kini mereka sudah berada di rumah sakit sekarang.


"Kita jadi menikah, kan?" tanya El kemudian membuat Abrine keheranan.


"Kenapa kau menanyakan hal itu?" kesal Abrine.


Elrich malah tersenyum tipis. Dia mengulurkan tangan dan mengusap pipi Abrine pelan. Sejujurnya saat kecelakaan itu terjadi, dipikirannya tadi justru terngiang beberapa cuplikan kejadian sejak pertemuannya bersama Abrine. Momen-momen kebersamaan mereka berputar-putar dikepalanya seperti sebuah film dokumenter yang diputar dalam memori ingatannya.


"El, syukurlah kau tidak apa-apa. Jangan lagi melakukan hal seperti ini. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu padamu," oceh Abrine. Gadis itu tampak mengeluarkan airmata. Entah El yang merasa dia terlalu dramatisir, atau Abrine memang sangat takut sesuatu yang buruk terjadi pada El.


"Aku belum memberi tahu keluarga kita, El. Jika kau begini, apa yang akan aku katakan pada mereka?" lirih Abrine.

__ADS_1


El mengusap pipi Abrine yang basah oleh airmata, baru sekali ini dia melihat gadis tangguh itu menangis dan itu karena dirinya.


"Kau menangis karena aku?" tanya El lembut.


"Tentu saja tidak! Sudah ku bilang aku takut terjadi sesuatu padamu."


"Ya sudah, itu berarti karena aku." El menyahut dengan suara lemah.


"Bukan! Aku takut tidak bisa menjawab pertanyaan dari keluarga kita. Aku takut disalahkan!"


Elrich tahu itu hanya alasan Abrine saja, gadis ini tak pernah takut apapun. Elrich yakin Abrine menangisi dirinya dan entah kenapa dia justru senang dengan kecelakaan ini. "Apa kata dokter?" tanyanya.


"Kau tidak apa-apa. Tapi lihat, kau mengalami banyak luka lecet ditubuhmu!"


"Tidak apa-apa, itu bisa sembuh nanti."


"Tapi pernikahan kita beberapa hari lagi. Apa kau yakin bisa menikah dengan keadaan seperti ini?"


"Sudahlah, jangan dipikirkan, ini hanya luka biasa. Pria sejati sudah biasa terluka!" pungkas Elrich membuat Abrine menunduk.


"Bagaimana keadaan temanmu?" Teman yang El maksudkan tentu saja adalah Raymond.


"Aku belum melihatnya."


"Jenguklah...." ujar El tanpa menatap Abrine. "Bagaimanapun dia adalah pria yang kau cintai, bukan?" lanjutnya.


Abrine menghela nafas panjang. "Aku akan menjenguknya, tapi aku tidak mau membahas soal itu."


"Baiklah, terserah kau saja." El memejamkan matanya. "Ah, jangan beritahukan hal ini pada keluargaku. Nanti aku yang akan menjelaskan pada mereka dan memberikan alasan yang masuk akal."


Abrine baru saja hendak menjawab saat ternyata Wildan memasuki bangsal yang merawat Elrich.


"Kak, apa kau baik-baik saja?" tanya Wildan pada El.


Saat Abrine kalut akibat kecelakaan yang menimpa El dan Raymond, dia bingung harus menghubungi siapa. Meminta bantuan pada keluarganya akan membuat masalah baru. Sementara Abrine tak punya banyak teman di Indonesia karena dia sudah lama meninggalkan kota ini. Mau tak mau dan tak ada pilihan lain akhirnya Abrine menghubungi Wildan untuk membantunya mengurus masalah ini. Apalagi pemilik motor yang digunakan El tadi meminta ganti rugi untuk memperbaiki motornya, sementara Abrine tak mungkin mengurusi itu, sebab dia harus langsung membawa El dan Raymond ke rumah sakit terdekat.


"Hmm, aku baik-baik saja. Terima kasih mau membantu." El tidak tahu jika Wildan melakukan itu bukan untuk dirinya melainkan karena Abrine. Jadi, dipikiran El adalah Wildan benar-benar beritikad baik padanya setelah permintaan maafnya waktu itu.


******

__ADS_1


__ADS_2