PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
91. Datang menjenguk


__ADS_3

Abrine berlarian di sepanjang koridor Rumah Sakit menuju bangsal perawatan suaminya. Dia tidak mempedulikan Yemima dan Raya yang terus saja memperingatkannya untuk berjalan pelan.


"Abrine!" Yemima berusaha mengejar langkah Abrine. "Brine kau sedang hamil, jangan berlarian begini, Brine!" katanya sembari mencekal lengan sang sahabat.


Abrine terdiam dengan wajah yang sudah pias. "Mima... aku ingin segera bertemu suamiku," ujarnya dengan suara bergetar.


Yemima menghela nafas kasar seperti tengah menahan rasa kesal.


"Sudah, jangan mengkhawatirkannya! Kau juga harus ingat kondisi kandunganmu. Sekarang kita bisa ke ruangannya pelan-pelan," ujar Yemima menenangkan Abrine.


Beberapa waktu sebelumnya, Abrine mendapat kabar dari Xander bahwa El kembali kritis. Hal itu membuat Abrine kalut dan memutuskan menyusul ke rumah sakit di luar kota dimana suaminya tengah dirawat.


Abrine merasa keadaannya sudah lebih baik dari seminggu yang lalu, jadi tak masalah jika dia bepergian.


Dan juga, tak ada yang boleh menghalanginya lagi saat ingin menyusul keberadaan El hari ini. Ditemani oleh Aarav dan sang Mama akhirnya Abrine tiba disana menjelang sore harinya.


"Masuklah, Brine." kata Yemima yang diangguki Abrine. Mereka sudah tiba didepan bangsal tempat El dirawat.


Raya, Aarav dan Yemima pun memutuskan untuk menunggu Abrine di kursi yang ada di luar ruang perawatan tersebut.


Dengan perlahan Abrine menghampiri ranjang pesakitan dimana suaminya terbaring disana.


Ah .... melihat wajah pria yang terpejam ini rasanya membuat jantung Abrine berdetak dua kali lipat lebih kencang.


"Hai, El .... ini aku, maaf aku sedikit terlambat datang untuk menjengukmu. Aku--aku sangat merindukanmu. Apa ka--kau juga rindu pada...ku?" Abrine tergugu. Suaranya tersendat. Melihat semua alat-alat yang kembali terpasang di bagian tubuh sang suami membuatnya tak kuasa menahan tangis.


Ini sama saja seperti keadaan El di pertemuan terakhir mereka seminggu yang lalu, bedanya saat itu El ada di ruang ICU sedangkan sekarang El hanya dirawat di ruang perawatan biasa.


"El, aku menyesal tidak berada disampingmu saat kemarin kau sempat sadar. Maafkan aku, El. Huhuhu.... aku sangat menyesalinya."


Abrine menjatuhkan kepalanya di dada bidang Elrich yang terbaring. Dia dapat merasakan detak jantung pria itu yang seirama kencang dengan detak jantung miliknya.


"Kau merasakan kehadiranku, hmm?" Abrine mendongak dari posisinya. Dia mengelus rahang El yang mulai ditumbuhi rambut-rambut kasar.


Abrine menangis disana. Tersengguk-sengguk, dia menyurukkan wajah didalam dekapannya sendiri pada tubuh sang suami.


"Apa kau tidak mau bangun, El? Aku sudah disini...."


Abrine terus mengajak suaminya bicara walau dia tau saat ini El hanya terpejam, diam.


"Bagaimana ini, El? Aku harus apa? Aku tidak mau sendirian tanpamu. Apa kau tak mau melihat anak-anak kita lahir nantinya?"


Sepersekian detik berikutnya Abrine mengangkat wajah. Dia masih melihat El yang terpejam tak merespon semua ucapannya.


Apa El akan tetap hidup dengan semua alat-alat kedokteran yang masih terpasang? Lalu, jika semua alat penunjang kehidupannya itu dilepaskan, apakah El akan....


"Tidak, tidak. El jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa tanpamu El." Kali ini suara Abrine lebih tegas seolah benar-benar takut kehilangan sang suami.


Bayangan dan pikiran buruk tiba tiba melintas begitu saja di kepala Abrine. Dia pun kembali menangis tersedu-sedu.


"Jangan begini, ku mohon sadarlah."


Abrine kembali merunduk dan memeluk tubuh El. Airmatanya bahkan membasahi baju pasien yang El kenakan.

__ADS_1


"Aku sangat mencintai kamu, El. Huhuhu...."


"Benarkah?"


Deg ....


Saat itu juga, Abrine terlonjak. Matanya membulat menatap pada pria yang kini tengah mengulumm senyum dihadapannya.


"E--el? Kau?" Wajah Abrine masih tampak syok.


"Apa harus menunggu aku kritis dulu, baru kau mau mengucapkan kata cinta padaku?"


"El?" Abrine refleks memundurkan tubuhnya, tapi El segera menangkap lengan wanita itu agar tidak menjauh.


"Aku sangat merindukanmu. I miss you so much." El mengecup punggung tangan istrinya yang masih tercekat dan membeku.


"Berapa lama kita tidak bertemu, Sayang? Apa dua tahun?" canda El masih dengan senyum yang dikulumm.


Abrine menggeleng pelan. Sadar sesuatu telah terjadi.


"Kau mengerjai ku?" tanya Abrine pelan, namun El tak menjawabnya. Pria itu hanya mengendikkan bahu acuh tak acuh.


Abrine menepis tangan El. Kesal rasanya dipermainkan oleh pria itu. Apa El tidak tahu dia sudah berpikiran yang tidak-tidak hingga menyebabkannya sangat takut?


"Sayang...."


"Kau keterlaluan. Aku membencimu! Huhuhu!" Abrine kembali menangis, dia bahkan memukul lengan El tanpa ampun.


"Sayang, sakit...." El meringis.


"Walau bagaimanapun aku ini pasien, jika kau terus begini, lebih baik aku panggil dokter saja untuk menolongku!"


"Si alan! Ayo coba saja! Apa perlu aku yang memanggil dokternya sekarang?" ancam Abrine galak, tapi El malah tergelak.


"Jadi mau sampai kapan kau memukuli suamimu ini, hmm?" El menangkap tangan Abrine yang terus saja memukul lengannya.


"Kau pantas mendapatkan itu! Kau mempermainkan perasaanku, huh!"


"Aku hanya ingin mendengar pernyataan cintamu. Apa itu salah? Selama ini aku tidak pernah mendengarnya, sayang." Kali ini El berkata sungguh-sungguh sambil menatap ke dalam netra kecokelatan milik istrinya.


"Asal kau tahu, aku sudah mengatakan itu bekali-kali!"


"Kapan? Aku tidak tahu," jawab El terus terang.


"Saat kau tak sadarkan diri di ICU, aku---"


"Ya waktu itu aku tidak mendengarnya, kan?"


"Ah sudahlah...." Abrine memegang pelipisnya yang berdenyut karena ulah Elrich. Tapi, ini lebih baik ketimbang hal-hal buruk yang tadi melintasi kepalanya malah menjadi kenyataan.


Abrine membantu El untuk duduk bersandar. Mereka masih saling menatap penuh kerinduan. El memeluk Abrine tanpa kata. Dia menyandarkan kepala di perut sang istri sambil sesekali mengecupnya.


"Apa ini rencanamu?" tanya Abrine setelah beberapa waktu hening tercipta diantara mereka.

__ADS_1


"Hmmm..." El menyahut dengan deheman.


"Kau yang meminta Xander mengatakan padaku bahwa kau kritis?"


"Hmm...."


"Aku tidak mau hal ini terulang lagi, El."


"Maafkan aku. Setelah aku sadar, aku hanya terlalu bersemangat dan merasa sangat merindukanmu."


Abrine menghela nafas sepenuh dada.


"Yemima juga tahu hal ini, kenapa dia tidak mengatakannya padaku. Dasar!" cetus Abrine sambil mengerucutkan bibir.


"Jangan salahkan dia, dia hanya berusaha mengikuti keinginanku. Awalnya dia menentang keras rencana ini, dia tidak setuju. Makanya begitu tahu kau akan datang kesini, aku memintanya untuk menjemputmu didepan rumah sakit."


"Pantas saja tadi dia kelihatan kesal saat melihatku begitu mengkhawatirkanmu."


El tersenyum tipis dalam posisinya yang masih memeluk perut sang istri.


"Kau akan tetap disini dan merawatku?" tanya El kemudian.


"Hmm, aku sangat ingin merawatmu."


"Apa kau sudah sehat? Ku dengar kau harus sempat bedrest kemarin. Apa tidak masalah jika kau tetap disini? Pulanglah atau kau bisa menginap di hotel yang ada di kota ini."


"Kau tidak mau ku rawat?" Abrine memasang wajah sewot.


El mendongak menatap wajah istrinya yang masih menampilkan raut sendu.


"Bukan begitu, aku tidak mau kau lelah. Lagipula rumah sakit tak baik untuk kesehatanmu. Disini banyak orang sakit, aku tidak mau kau ikut sakit."


Abrine berdecak. "Bilang saja kau lebih nyaman di rawat oleh perawat wanita yang ada di rumah sakit ini, kan?"


El terkekeh mendengar ujaran istrinya itu.


"Ya, perawatnya memang cantik-cant----"


"Apa?" Abrine menarik telinga Elrich. "Coba ulangi lagi?" ujarnya dengan wajah memerah.


"Arkh.... sayang! Tolong lepaskan tanganmu." El mencoba melepas tangan Abrine di telinganya, tapi Abrine justru semakin kencang menariknya.


"Berani sekali kau memuji wanita lain didepan istrimu sendiri, hah?"


"Tapi aku kan belum selesai bicara, arkhh .... lepas!"


Akhirnya Abrine melepas tangannya ditelinga Elrich, membuat pria itu mengaduh sambil mengelus telinganya yang memerah akibat ulah sang istri.


"Tadi aku mau bilang kalau perawat disini memang cantik..."


"Apa? Kau berani mengulanginya?"


"Ya, tapi tetap lebih cantik istriku lagi," kata Elrich buru-buru menyambung kalimatnya yang terus saja diserobot oleh Abrine.

__ADS_1


"Kau bohong, kan? Kau tertarik pada salah satu dari mereka? Iya? Jujur saja, El!" Abrine melengos pergi meninggalkan Elrich disana. Dia tetap melanjutkan langkah walau El terus memanggil-manggil namanya berulang kali.


****


__ADS_2