PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
58. Maksud yang lain


__ADS_3

Claire menyadari jika hal yang dilakukannya pada malam itu, tidak berdampak apa-apa untuk hubungan rumah tangga Elrich dan Abrine. Hal itu membuatnya sangat kesal. Dia pikir setelah dia mencium El, perasaan Abrine akan tertekan. Paling tidak, wanita itu akan mendatanginya dan bertanya padanya mengenai hubungannya dengan Elrich. Sayangnya, Claire salah. Abrine sama sekali tidak menggubris perbuatannya. Bahkan Elrich pun tampak baik-baik saja.


Claire juga sadar, Elrich tampak semakin menjaga jarak darinya. Claire tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk menyelinap kedalam kehidupan Elrich untuk merusak semuanya. Dia mulai memikirkan sebuah rencana lain karena dia merasa jika El tengah mewaspadainya.


Disaat yang sama, Claire melihat pertemuan El dengan seorang pria yang mendatanginya ke rumah sakit. Claire tahu, itu bukanlah pasien El. Tapi Claire juga tidak mengetahui siapa pria itu. Dia pun mendengarkan percakapan mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Dilain sisi, El sangat terkejut dengan kedatangan Wildan ke Rumah Sakit tempatnya bekerja. Dia ingin mengabaikan tapi Wildan bersikeras ingin bertemu dengannya.


"Kak, ku mohon hentikan kesepakatan yang kau lakukan bersama Abrine. Lepaskan dia, biar aku yang menjaganya."


"Atas dasar apa kau menyuruhku melepaskan wanita yang sudah menjadi istriku?"


"Karena aku lebih dulu mengenalnya dari pada kau. Dan karena kau tidak mencintainya seperti aku yang sudah sejak lama merasakan hal itu."


Elrich tersenyum miring. "Kau tidak bisa hanya menyimpulkan dari pemikiranmu saja, Erland! Mungkin benar, awalnya pernikahan kami karena sebuah kesepakatan tapi kau tidak tahu apa yang sudah kami jalani setelah benar-benar menjadi suami istri."


"Maksudmu?"


"Aku sudah mencintai Abrine dan aku tidak akan pernah melepaskannya."


Wildan terdiam, dia mengepalkan tangan dengan kesal. Ternyata benar, Elrich tidak berniat melepaskan Abrine. Apalagi sekarang dia mengakui jika Abrine adalah wanita yang dia cintai.


"Sudah bisa ku tebak, kedatanganmu kesini ada maksud yang lain, buktinya sudah dua minggu berlalu tapi kau tidak kunjung kembali ke Indonesia. Itu semua karena kau belum mendapat apa yang kau inginkan, bukan?"


Wildan menatap Elrich dengan sorot mata yang sulit didefinisikan. Dia memang datang khusus untuk mengambil Abrine, tapi jika El tidak mau melepaskan wanita itu, dia bisa apa? Memaksa Abrine untuk lari bersamanya? Belum tentu Abrine mau.


"Baiklah, jika kau memang mencintainya, tapi apa Abrine juga mencintaimu, kak? Jangan paksa dia untuk tetap bersamamu jika dia tidak bahagia." Akhirnya kalimat itu yang bisa Wildan ucapkan didepan pria yang dia panggil kakak tersebut.


Cukup lama El terdiam, dia juga sadar Abrine belum mencintainya. Tapi melepaskan wanita itu, mana mungkin dia lakukan?


"Apa jika kau mengambilnya dariku, dia juga akan bahagia bersamamu?"


Lagi, Wildan terdiam. Sedikit banyak dia mengakui dalam dirinya jika Abrine pun tidak mencintainya.


"Aku tidak akan memaksanya, kak. Setidaknya, lepaskan dia."


"Dengar baik-baik, aku tidak akan melepaskan apapun yang sudah menjadi kepunyaanku!"


Wildan hanya bisa menelan pil pahit kenyataan bahwa Abrine tak akan pernah dilepaskan oleh sang kakak. Kendati demikian, harapannya adalah suatu saat nanti El bisa berubah pikiran ataupun Abrine yang melepas kesepakatan diantara mereka.

__ADS_1


Pada saat Wildan hendak berlalu setelah El meninggalkannya. Seseorang memanggilnya.


Dia adalah Claire yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan keduanya dengan sengaja.


"Kalau menggunakan cara baik-baik tidak bisa, kenapa tidak mencoba cara lainnya."


Wildan mengernyit melihat Claire, dia tidak mengenali sosok ini tapi wajahnya mengingatkan dia pada sosok lain yang sempat dia kenal sesaat.


"Claire. Aku adalah rekan kerja Elrich, sekaligus kakak dari mantan kekasihnya yang bernama Pevita." Claire mengulurkan tangan memperkenalkan diri.


Disaat yang sama, Wildan tahu jika wajah wanita ini memang mirip dengan Pevita. Dia memang tidak begitu mengenal Pevita, tapi dia tahu gadis yang pernah menjalin hubungan dengan El dulu-- hingga berita tentang kematian Pevita yang sempat mengguncang mental Elrich. Pada saat itu dia memang sudah tidak tinggal diatap yang sama dengan Elrich.


"Kenapa?" tanya Wildan cuek.


"Apa kau berniat memisahkan El dengan istrinya? Sepertinya kita satu jalan."


***


Sejak Elrich dan Abrine mengunjungi Panti Sosial waktu itu, keduanya kerap kali datang lagi. El juga sudah berjanji pada bocah kecil bernama Lisa untuk membawakannya Boneka Barbie. Lisa sangat senang karena El menepati janjinya.


"Terima kasih, Dokter. Bonekanya bagus sekali. Aku suka...." Lisa tertawa begitu riang, El ikut senang melihat gadis kecil itu bahagia.


"Jika aku merindukan keluargaku, aku selalu berkunjung ke panti ini, mereka semua juga keluarga bagiku," celoteh Abrine pada suaminya.


El tahu istrinya berjiwa sosial tinggi sementara El juga sangat menyukai anak-anak jadi mereka sangat sejalan dan memiliki kecocokan mengenai hal ini.


Abrine senang, suaminya bisa berbaur dengan cepat di panti sosial. Sikap El di panti tidak sedingin saat pertama kali mereka bertemu. El bersikap ramah dan dia juga pandai berdongeng dihadapan anak-anak panti.


".... Rapunzel diculik oleh seorang wanita tua. Wanita itu ingin memanfaatkan rambutnya yang bisa memberikan efek awet muda. Dia diasuh dan diberikan tempat tinggal disebuah menara tua di dalam hutan ...."


Cerita tentang Rapunzel menjadi topik hangat anak-anak panti. El yang memimpin dongeng itu dan menjadi pusat perhatian disana. Apalagi gaya El sangat pandai menirukan berbagai suara para pemeran dalam cerita itu. Sepertinya El bisa menjadi dubbing selain menjadi dokter.


"Suamimu multitalenta, ya, Brine!" Sandra mencolek Abrine dan tersenyum senang.


"Biasanya mereka gak antusias begini, mungkin karena yang dongengin good looking dan pandai bercerita kali, ya." Wanita asal Indonesia itu bicara pada Abrine dengan bahasa yang sama.


"Bibi Sandra bisa aja! El itu begitu karena dia sangat suka sama anak-anak, Bi," sahut Abrine apa adanya.


"Kalian gak nunda punya anak, kan?"

__ADS_1


"Enggak, Bi. Kapan dikasihnya aja."


"Syukurlah, Bibi senang melihat kamu udah menikah. Kamu jadi makin dewasa sekarang. Sekarang bibi berharap Kristy juga cepat menikah."


"Kenapa Kristy menunda pernikahannya, Bi?"


"Entahlah, pacarnya itu insecure karena keadaan kakinya yang lumpuh."


"Aku udah bilang sama Kristy, kakakku Aarav juga pernah lumpuh dan sembuh, pasti pacarnya Kristy bakal bisa sembuh juga."


"Ya, mudah-mudahan, Brine. Kadang kasihan juga lihat Kristy.... dia bekerja keras untuk masa depan mereka."


"Sekarang Kristy dimana, Bi? Kenapa gak ikut makan malam sama kita?"


"Kristy tadi lagi temenin pacarnya kontrol ke Rumah Sakit. Mungkin sebentar lagi juga pulang."


Tak berapa lama setelah mereka membicarakan Kristy, rupanya sosok gadis itu muncul di ambang pintu bersama dengan kekasihnya yang duduk di kursi roda. Abrine menyambut mereka.


"Kristy, kau baru tiba. Apa kalian sudah makan malam?" Abrine ingin menawarkan makanan sebab tadi dia memang membawa banyak makanan ke panti bersama El.


Kristy tersenyum pada Abrine.


"Apa kau lapar? Kita makan sekarang?" Kristy sedikit berjongkok agar kekasihnya bisa melihat wajahnya, namun kekasihnya yang duduk di kursi roda itu justru memperhatikan ke arah kerumunan anak-anak yang sedang mendengarkan El berdongeng.


"Elrich...."


"Kau mengenal suamiku?" tanya Abrine pada kekasih Kristy.


Pria itu tidak menjawab, dia mendorong kursi rodanya sendirian sampai menuju pada posisi El yang belum menyadari kedatangannya.


Tak lama, sepertinya intuisi dalam diri El merasakan jika seseorang tengah memperhatikannya. Dia menatap pria yang duduk di kursi roda, pria itu tengah menuju kepadanya. Mereka saling menatap beberapa saat. Sampai akhirnya El menyapa pria itu.


"Galvin?"


******


Maaf kemarin gak up ya, ReadersπŸ™ Ada kendala internal.


Anak bocilku, setiap aku pegang handphone dia ikut sibuk mau hp juga. Jadi, aku umpetin hp supaya dia gak main hp. πŸ˜… Alhasil, aku gak bisa up bab baru. Kayaknya aku bakal pindah jam up jadi tengah malam nunggu anak-anak pada tidur duluπŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


Kemarin juga ada kendala pikiran. Jadi aku gak bisa hubungin suamiku seharian, pikiranku udah kemana2. Mau hubungin teman kerjanya juga rada gak enak. Pas dia pulang kerja, aku tanya kenapa gak bisa dihubungin. Eh, gak taunya hp dia itu ketinggalan dirumah dengan mode silent. Aku gak nyadar hp nya dirumah. Gimana mau bisa ngehubungin, ya kan? Wkwkwk aneh memang kami pasangan absurd. Kan, kan, jadi curhat aku....🀣✌️ Jangan lupa vote dan dukung lah pokoknya yahπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2