PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
48. Sekilas masa lalu


__ADS_3

"Kak, aku hamil."


Suara lirih itu sangat membuat El kaget, dia ingin marah tapi dia juga tersentuh dan tidak tega. Dia tidak tahu kenapa hal seperti ini harus dia hadapi disaat sebentar lagi akan menyandang status Dokter.


"Maafkan aku, Kak. Aku sudah membuat semuanya runyam."


El menghela nafas perlahan, menelan saliva dengan berat. Kenyataan jika Pevita tengah hamil semacam cambukan berat untuk hidupnya.


"Kak, jawab aku, kak. Jangan diam saja! Atau beri aku saran, bagaimana aku harus menghadapi kehidupanku kedepannya!"


Pevita menangis terengguk-sengguk. Hal yang membuat El muak, kesal tapi tetap merasa terenyuh.


"Aku akan menerimamu, tapi gugurkan bayi itu!" ucap El dingin. Dia beranjak dari sana, meninggalkan Pevita dengan masalah yang bisa dikatakan cukup berat.


Perasaan El berkecamuk, dia kuliah dengan tidak tenang. Sesaat setelah meminta Pevita menggugurkan kandungannya, El menyesal. Sangat menyesal. Ini tidak sesuai dengan hati nuraninya, tapi diapun tidak mungkin bertanggung jawab karena gelar Dokter tengah menantinya didepan mata.


El sudah menjalin hubungan dengan adik tingkatnya, Pevita, selama kurang lebih dua tahun ini. Dia sangat menyayangi gadis itu. Tapi kehamilan Pevita, tidak bisa dia terima.


Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, akhirnya El memutuskan untuk kembali menemui Pevita. Baiklah, dia akan menerima semua ini. Pevita adalah tanggung jawabnya. Siapapun pasti akan menyalahkannya tanpa tahu duduk permasalahannya.


Sejak tahu gadis yang dia cintai itu mengandung, sejak itu dia harus menekan ego diri dalam-dalam. Dia harus mengalah. Melepaskan semua pencapaiannya demi gadis itu dan menikahi Pevita. Tapi, sebelum itu, dia harus tahu sesuatu dari gadis itu. Sesuatu yang sejak tadi bercokol, dipikirannya namun tak berani dia tanyakan saat melihat Pevita.


Sayangnya, begitu El tiba dikediaman orangtua Pevita. Dia dihujami oleh hujatan, makian dan umpatan.


"Dasar breng sek! Kau membuat Pevita dalam masalah besar dan kau mau mencuci tangan?"


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat dipipi El, itu adalah hadiah yang diberikan oleh Claire, kakak Pevita.


"Apa maksudmu, Claire?"


"Adikku hamil, El. Kau tahu hal itu, bukan?"


El mengangguk. Dia kembali kesini pun untuk memberi sebuah keputusan yaitu menikahi Pevita.


"Bia dap! Kau yang memintanya untuk aborsi, kan?"


"Apa??"


"Ya, kau memintanya menggugurkan kandungannya dan Pevita melakukan hal yang kau minta, Bo doh!"

__ADS_1


"Aku--aku justru ingin menarik kata-kataku, Claire!"


Claire menatap El nyalang. "Sekarang Pevita kritis! Kau puas, kan? Jadi kau bisa kabur dari tanggung jawabmu!" hujatnya.


"Dimana Pevita? Dimana dia dirawat?" El panik.


"Kau bahkan tidak layak untuk melihat adikku lagi, El! Pergi kau, kepa rat!"


"Kau tidak layak jadi dokter!"


"Kau tidak punya nurani!"


"Kau manusia sampah! Tidak berguna! Kau menghancurkan masa depan adikku!"


Dua hari El mencari keberadaan Pevita di setiap Rumah Sakit yang ada di kota, namun gadisnya tidak bisa dia temukan dimanapun.


Hari ketiga, El memutuskan untuk memohon, kalau perlu dia akan bersujud dibawah kaki orangtua Pevita demi mendapat kabar mengenai gadis itu, namun yang dia dapatkan disana adalah menyaksikan upacara kematian kekasihnya. Pevita meninggal karena aborsi yang gadis itu lakukan. Mengubur semua harapan masa depannya bersama Pevita, serta tak dapat jawaban atas pertanyaan yang bercokol dibenaknya sejak tahu Pevita tengah mengandung.


Sumpah serapah diberikan orangtua Pevita kepadanya.


"Dasar breng sek! Laki-laki tidak tahu diri! Aku akan menuntutmu sampai ke meja pengadilan!" umpat Isaac, ayah Pevita.


Sejak saat itu, El trauma mencintai. Cinta itu adalah jebakan yang menjerumuskannya. Dia menyesali pernah meminta Pevita menggugurkan bayi itu. Dia juga menyesal tidak bisa menemui kekasihnya sampai Pevita benar-benar dijemput oleh ajal. Tapi, yang paling dia sesali adalah yang dikandung Pevita bukanlah anaknya! Dia tidak pernah menyentuh Pevita sejauh itu. Dia menghargai gadisnya. Apa salah jika dia tidak menerima anak dari hasil perselingkuhan Pevita? Inilah faktor utama dia tidak mempercayai cinta lagi.


Hal itu yang membuatnya sulit membuka hati, menganggap cinta itu tidak pernah ada. Berapa kali Pevita mengatakan mencintainya? Tapi, buktinya dia berkhianat. Pevita hamil dengan lelaki lain yang sampai detik ini El tidak pernah mengetahui siapa lelaki itu, padahal itulah yang ingin dia tanyakan pada Pevita. Siapa lelaki yang harusnya bertanggung jawab atas kehamilannya? Kenapa justru El yang dimintai pertanggung jawaban, hanya karena dia berstatus kekasih Pevita?


Dia terkena getahnya, padahal entah siapa yang menikmati buahnya.


Hidup kadang selucu itu. Semesta mempermainkannya dengan rasa bertajuk cinta.


Tapi, El tetap menyesal dan menyalahkan diri karena dia telah salah berujar pada Pevita waktu itu, kendati dia berubah pikiran dan akhirnya mau menikahi Pevita meski bukan dia yang berbuat, tapi pada kenyataannya Pevita meninggal karena aborsi dan itu tetaplah salahnya.


Setiap hari, El menyalahkan dirinya sendiri. Dia kehilangan Pevita, tapi dia juga kehilangan jati diri.


Dia sudah menjelaskan pada Claire dan orangtuanya bahwa dia tidak menghamili Pevita. Tapi semua ucapannya dianggap omong kosong. Hanya tiga orang yang mempercayainya saat itu. Yang pertama adalah ayahnya, Elena dan Xander, sahabatnya.


El bahkan harus menerima saat dihajar oleh Isaac. Dia juga menghadapi kepolisian. Tapi, karena Pevita datang ke klinik aborsi tanpa sepengetahuannya dan tidak bersamanya, dia terbebas dari tuntutan orangtua Pevita.


Hidupnya hampir hancur, kuliahnya berantakan, ayahnya bahkan terkena serangan jantung. Tapi, Xander memang banyak berjasa padanya, menyemangatinya dan membuatnya punya tujuan hidup.


"Aku percaya bukan kau yang menghamilinya, aku pun akan berkata demikian jika kekasihku hamil dengan orang lain lalu meminta pertanggungjawaban padaku. Sudahlah, lupakan itu, sambung hidupmu yang baru. Kau lelaki yang baik, El!" Xander mensuportnya sampai dia menyambung jenjang dan memasuki dunia spesialis bedah.

__ADS_1


Kutukan orangtua Pevita tak terjadi padanya, sekarang El sudah menikahi Abrine, tapi apa Abrine akan percaya padanya apabila nanti dia mengetahui hal ini?


El mengeratkan pelukan pada istrinya, sejak bertemu dengan Claire lagi dan kembali mendengar nama Pevita disebut, dia semakin gundah. Dia jadi mengingat masa lalunya yang runyam. Belum lagi masalah asal usulnya yang sempat Erika sebutkan.


Kepalanya hampir pecah sebab memikirkan ini semua. Tapi, melihat wajah teduh istrinya yang tertidur, dia kembali merasa tenang. Dia menemukan kedamaian saat melihat wajah Abrine, meski dulu dia menyanggah hal itu tapi sekarang dia meyakininya.


"El, kau tidak tidur semalaman?" Abrine bergerak. Dia menatap El lekat. "El, kau kenapa?" tanyanya mulai menyadari wajah suaminya yang sendu.


"Sayang, apa kau percaya padaku?" tanya El dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, tentu saja aku percaya padamu, El. Kenapa kau bertanya begitu?"


Elrich memeluk tubuh istrinya yang sudah terduduk namun masih ditempat tidur mereka.


"Bisakah kau mengabaikan apapun perkataan orang lain tentang diriku? Aku tidak bisa jika kau meninggalkanku, jika nantinya kau mengetahui kesalahan besar yang pernah ku perbuat dimasa lalu."


"Kesalahan apa?"


El menceritakan pada Abrine semuanya. Dia berusaha terbuka agar istrinya tidak salah sangka padanya suatu saat nanti. Biar namanya jelek dimata oranglain, tapi didepan istrinya, dia tetap mau jadi yang terbaik.


"Jadi, mereka semua menuduhmu telah menghamili Pevita lalu mau lari dari tanggung jawab?"


El mengangguk. "Iya, kesalahanku adalah pernah mengucapkan padanya untuk mengugurkan kandungannya. Aku tidak menyangka dia benar-benar melakukan hal itu. Aku sudah menjadi pembunuh secara tidak langsung, Brine!" El terus saja menyalahkan dirinya sendiri.


Abrine menangkup sisi wajah sang suami. Dia menggeleng. "Tidak, El. Jangan salahkan dirimu. Semua yang terjadi sudah jalannya, termasuk kematian Pevita. Hidupnya bukanlah tanggung jawabmu, El," kata Abrine memberikan dukungan pada El.


"Tapi aku yang menyuruhnya melakukan hal itu walau akhirnya aku berubah pikiran."


"Aku tahu. Tapi, seharusnya Pevita juga masih bisa memilih yang terbaik untuknya, itu adalah hidupnya, El. Dia bisa menentukan jalan yang terbaik untuknya sendiri."


"Semua orang menyalahkan aku."


"Kau pasti sudah melewati hari-hari yang berat selama ini." Abrine memeluk El dengan sangat erat. "Aku percaya padamu, El. Suamiku adalah pria yang optimis dan kuat."


"Terima kasih, kau mau mempercayaiku, Sayang. Tapi, setelah tahu hal ini, apa sebaiknya kita memang menunda punya anak dulu?"


"Kenapa?"


"Aku tidak mau membebanimu...."


******

__ADS_1


__ADS_2