PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
28. Aku memang calon suamimu


__ADS_3

Hari itu Abrine dan El akhirnya mengunjungi bangsal Airish bersama-sama. Mereka pun melihat bayi cantik yang dilahirkan Airish dengan senyum semringah. Elrich juga tampak sangat senang dengan bayi itu. Dia mengajak bayinya bercengkrama, hingga Abrine yang menggendong sang bayi tampak keheranan.


"Apa kau sangat menyukai anak-anak?" bisik Abrine.


"Iya, aku menyukai bayi. Bayi dilahirkan bersih tanpa dosa. Bayi harusnya dirawat dengan baik dengan keluarga yang lengkap."


Entah kenapa Abrine justru melihat mata El yang berkaca-kaca saat mengatakan kalimat itu. Apa El teringat dengan keluarganya yang tak lengkap lagi karena kedua orangtuanya berpisah? Tapi, El bukannya ditinggalkan sejak bayi. El sendiri yang mengatakan bahwa dia tinggal terpisah dari sang ibu sejak umur 17 tahun. Lalu, kenapa El terlihat sedih sekarang? Padahal tadi dia nampak bahagia melihat Baby Lakeysha.


Melihat kedatangan Elrich, semua keluarga tampak senang dan tak lupa menanyakan kabarnya.


"Kapan ayahmu tiba di Indonesia, El?" tanya Nev pada El.


"Lusa mungkin ayah sudah tiba disini bersama kakakku, Om."


Nev mengangguk. Sebenarnya selama dua bulan ini dia juga menjaga komunikasi dengan Edgar di Jerman, mereka kerap bicara sebagai teman dan saling mengakrabkan diri sebab anak-anak mereka akan menikah. Bagaimanapun Nev juga ingin mengenal keluarga dari calon menantunya.


Saat ini, Elena--kakak El-- bersama suaminya sudah berada di Jerman. Merekalah yang akan menemani Edgar untuk sama-sama terbang ke Indonesia nanti. Awalnya, El ingin berangkat bersama juga, tapi Edgar bersikeras agar El lebih dulu pergi karena Edgar tak mau keluarga Abrine di Indonesia khawatir jika Elrich terlalu lama datang sebab pernikahan akan dilakukan tak lama lagi.


Sebenarnya, Edgar juga sungkan karena urusan pernikahan itu hanya melibatkan keluarga Abrine saja tanpa campur tangannya, tapi mau bagaimana lagi, kesehatan Edgar juga harus dipertimbangkan. Dia harus benar-benar mendapat izin dan surat dari rumah sakit secara resmi untuk bisa bepergian jauh.


"Kelihatannya kau sangat menyukai bayi kami," celetuk Zio yang kini melihat Abrine menyerahkan sang bayi dalam gendongan El.


"Begitulah, bahkan dulu aku ingin menjadi dokter anak." Elrich tersenyum tipis diujung kalimatnya.


"Lalu?" Kini Aarav yang menyahut. "Kenapa malah berubah jadi dokter bedah?" tanyanya.


Elrich mengendikkan bahu. "Keberuntunganku hanya menjadi dokter bedah," jawabnya sambil terkekeh pelan.


Sore harinya, Abrine, Elrich dan Nev lebih dulu pulang ke rumah utama. Sedangkan Raya masih menunggui Airish di rumah sakit. Aarav dan Rahelsa juga sudah kembali kekediaman mereka sendiri.


Nev langsung masuk ke dalam kamarnya sebab dia sangat lelah. Sementara Abrine dan Elrich masih berada di ruang tamu.


"Aku akan ke kamar, kau masuklah ke kamarmu. Tadi aku sudah menelepon Bi Yana untuk menyiapkannya. Kau masih ingat dimana letaknya, bukan?" ujar Abrine pada El.


Elrich menggeleng pelan. "Aku menginap di hotel saja."


Mendengar itu Abrine menatap El lama. "Kenapa?" tanyanya akhirnya.


"Nothing. Aku rasa tidak baik saja jika kita tinggal satu atap sebelum menikah."

__ADS_1


Abrine tertawa mendengar ucapan Elrich. "Hei, Dokter! Bahkan jika kita sudah menikah nanti, tetap tidak baik jika kita harus tinggal bersama. Baiklah, ku rasa tinggal di hotel memang keputusan yang baik," katanya.


Elrich pikir Abrine akan mencegahnya, nyatanya gadis itu menyetujui keputusannya. Dia sendiri tak tahu kenapa dia lebih memilih tinggal di hotel. Padahal dirumah inipun dia dan Abrine menempati kamar yang berbeda. Dia di lantai dasar dan Abrine dilantai 2. Tapi, sejak dia melihat Abrine dan Raymond pagi tadi, entah kenapa dia merasa ada yang lain pada dirinya sendiri. Dia merasa ragu dengan pengendalian dirinya sendiri.


"Ya sudah, aku pergi."


Abrine mengangguk. Dia sendiri sebenarnya ingin mencegah niat El, tapi dia sadar bahwa pria itu sudah membentengi diri bahkan sebelum mereka menikah. Lagi-lagi Abrine berada pada simpang keraguan diri. Haruskah pernikahan ini tetap berlanjut?


"El...."


Elrich menoleh karena panggilan Abrine.


"Ya?"


"Tidak, tidak apa-apa. Pergilah!" Abrine berusaha mengulas senyum dan Elrich menganggukinya pelan.


Keesokan harinya, Abrine masih sibuk dengan urusan pekerjaan. Dia serius dengan teleponnya, dia mengerjakan pekerjaannya di ruang kerja Nev sampai dia tidak menyadari jika Elrich sudah masuk kedalam ruangan itu.


Elrich duduk disofa yang ada diruangan itu, menyilangkan kaki dan bersedekap. Dia menatap Abrine yang sibuk. Seulas senyum melengkung dari kedua sudut bibirnya. Aktivitas ini terasa sia-sia, membuang waktu. Elrich sadar itu, tapi entahlah .... dia tetap melakukannya. Dia senang dengan hal ini, memperhatikan Abrine yang mengoceh lewat sambungan telepon dan sesekali tampak mencatat sesuatu diatas kertas yang ada dimeja kerja.


Abrine terkesiap kaget saat menyadari ada seseorang yang duduk dan memperhatikannya dengan lekat. Dia sampai memegangi dadanya sendiri sangking terkejutnya. Kendati demikian, Abrine berusaha kembali fokus pada ucapan Anne dari seberang panggilan sampai telepon itu benar-benar berakhir.


"Kenapa? Kau takut dengan calon suamimu sendiri?"


"Jangan bicara begitu, El. Kau berkata seolah-olah kau memang calon suami yang sesungguhnya!" Abrine berdebar, entah kenapa tatapan El kali ini tampak lebih intens kepadanya sehingga membuatnya gelagapan. Dia berusaha terlihat sibuk dengan menyusun semua berkas-berkasnya diatas meja tanpa berani beradu mata dengan El.


Elrich bangkit dari posisinya, dia menghampiri meja dimana Abrine ada disana. "Aku memang calon suamimu, kan?" tanyanya saat posisi semakin mendekat.


"Hah? Ya, suami palsu..." gumam Abrine lesu.


Elrich hanya tersenyum tipis menanggapi gumaman sang gadis. Sementara Abrine, dia tak bisa mengartikan apa arti dari senyuman El itu.


"El, sebenarnya ada yang mau ku katakan padamu."


"Apa?" Tatapan El kembali menghunus ke jantung Abrine, membuatnya gemetar. Kenapa pandangan pria ini sekarang tampak berbeda? Entahlah ada apa dengannya.


"Aku---aku ingin bertanya padamu. Apa kau tidak ragu sama sekali dengan pernikahan kita?"


"Tidak. Kenapa? Kau ragu?"

__ADS_1


Abrine menelan ludah susah payah. "I-iya," jawabnya akhirnya.


"Apa yang membuatmu ragu?"


"Awalnya aku mengira kita akan berpisah setelah salah satu dari kita menemukan cinta sejati, kan?"


Elrich mengangguk. Memang itu kesepakatan yang Abrine buat kepadanya, meski dia sudah bertekad tak mau ada perpisahan.


"Tapi .... setelah ku pikir-pikir, hal itu justru akan merugikanku nanti."


"Merugikan bagaimana?"


"Ya, jika kita berpisah, statusku berubah menjadi .... menjadi .... janda. Aku tidak mau menyandang status itu El," kata Abrine menundukkan wajah.


Elrich tersenyum tipis. "Kalau begitu, kita jangan berpisah!" ujarnya enteng.


Demi apapun, Abrine sungguh sangat speechless dengan ucapan El yang terdengar sangat menggampangkan sesuatu.


"El?"


"Baiklah, bagaimana kalau kita saling jujur satu sama lain tanpa menutupi apapun...."


Mendengar itu Abrine terbelalak. Jujur apa yang dimaksud El? Apa jujur mengenai perasaannya yang memang sudah menyalahi kesepakatan mereka?


"Memangnya apa hal yang kau tutupi dariku, El?" tanya Abrine dengan nada ragu.


Elrich terkekeh. "Tidak ada," jawabnya berdusta. "Sudahlah, jangan dipikirkan. Aku mau mengajakmu keluar hari ini." Elrich kembali mencairkan suasana yang sempat akward. Atau lebih tepatnya dia menghindar, setelah dia pikir-pikir, dia sendiri ragu untuk mengakui pada Abrine tentang semuanya, termasuk tentang insiden kecelakaan itu yang masih dia tutupi sampai saat ini dari Abrine.


"Kemana?" tanya Abrine.


"Kemana saja, aku tidak tahu jelas negara ini."


Seketika itu juga Abrine teringat sesuatu. Dia pernah mengatakan ingin mencoba menu populer di restoran milik Wildan. Walau Abrine tak tahu masalah apa yang ada di keluarga mereka, tapi Abrine ingin sekali Elrich berdamai dengan Erika, karena bagi Abrine, mereka tetaplah ibu dan anak. Serta dia juga ingin menyatukan kembali Elrich dan Wildan sebagai kakak dan adik.


"Aku mau coba menu favorit di sebuah restoran. Apa kau keberatan?"


"Tidak, aku akan menemanimu." Elrich tak menaruh curiga sedikitpun dengan ajakan Abrine yang terdengar wajar. Dia pun menyetujui saja keinginan gadis itu.


******

__ADS_1


__ADS_2