
"Karena aku ini istrimu, El." Abrine tertawa pelan diujung kalimatnya.
El tidak mau mendesak istrinya lagi. Mungkin Abrine masih butuh waktu untuk ungkapan rasa itu. Atau mungkin Abrine memang belum sampai pada fase mencintai dia? Entahlah. Tapi El berharap besar jika dia sudah bisa memenangkan hati istrinya, sebab dia sudah menyadari bahwa dia sangat mencintai wanita itu meski dalam kurun waktu singkat kebersamaan mereka.
"Aku akan membelikanmu kopi, tunggulah sebentar," kata El menepuk pelan punggung tangan istrinya dan Abrine mengangguk.
El pergi menuju gerai penjualan kopi yang ada disekitar tempat itu. Syukurlah mereka bukan mendaki gunung tetapi yang mereka datangi memang sudah termasuk tempat destinasi wisata-- dimana banyak gerai yang menyajikan makanan dan minuman.
Seperginya El, Abrine kembali memandang ke hamparan pemandangan yang memanjakan mata. Tapi, dia terkesiap saat seseorang duduk dihadapannya tanpa permisi. Orang itu bukanlah El suaminya, melainkan Raymond.
"Ray, kau disini?" Abrine menghela nafas pelan. Dia sulit mengartikan perasaannya pada pria ini sekarang. Masih cinta, menyayangi atau apa? Dia tidak tahu. Tapi, dia juga tidak bisa membenci Raymond begitu saja.
Raymond tersenyum tipis. "Aku mengikuti kalian," akuinya terus terang.
"Untuk apa, Ray? Pergilah!" usir Abrine. Dia tahu sekarang jika sejak kemarin Raymond lah yang telah mengikuti mereka. Feeling-nya tidak salah, mereka memang sedang diikuti.
Raymond menggeleng. Dia menarik lengan Abrine untuk menjauh dari keramaian.
"Ray! Apa-apaan!" Abrine menepis cengkraman tangan Raymond di lengannya hingga tautan itu terlepas.
Raymond menatap Abrine penuh kekecewaan.
"Aku mendengar kau dan Freya bertengkar tempo hari."
Abrine mengangguk lalu mengendikkan bahu cuek.
"Maaf, itu pasti karena aku."
"Lupakan itu. Pulanglah, Ray! Tidak ada gunanya kau berada disini."
"Kau juga bertemu dengan ibuku, kan? Apa dia mengatakan hal yang tidak-tidak? Tolong maafkan ibuku, Brine."
"Tak apa, Bibi Xena hanya memintaku untuk menjengukmu. Katanya kau sakit." Tentu Abrine tak mengatakan pada Raymond bahwa Xena sempat meremehkan El, suaminya.
"Tapi kau tidak menjengukku, hmm?"
"Ya, aku belum sempat. Kau juga sudah sehat, kan?"
Raymond memegang kedua pundak Abrine. "Apa kau bahagia?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Of course, seperti yang kau lihat. Aku dan El sedang berbulan madu sekarang."
Raymond tersenyum tipis. "Maafkan aku, Brine. Aku tidak bisa melupakanmu. Tapi jika kau bahagia sekarang, aku tidak akan mengusikmu lagi. Kebahagiaanmu juga bagian dari rasa bahagiaku. Aku disini hanya mengkhawatirkanmu."
"Terima kasih, Ray. Ku harap kau juga menemukan kebahagiaanmu nanti. Kau tidak perlu khawatir padaku lagi, ada El yang menjagaku sekarang."
Raymond mengangguk. "Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kali?" tanyanya pelan.
Abrine tersenyum. "Kemarilah, kau sahabatku, kan?" ujarnya merentangkan tangan lalu memeluk Raymond dan menepuk-nepuk punggung pria itu beberapa kali.
"Aku merelakanmu, Brine. Ku harap kau benar-benar bahagia setelah ini."
Abrine tertawa pelan, dia membentuk huruf O dengan jari telunjuk dan ibu jari nya. "Oke," katanya.
__ADS_1
Sementara itu, El yang sudah selesai membeli kopi disebuah gerai, kembali ke tempatnya semula dimana Abrine tadi berada. Dia tidak menemukan Abrine disana dan sontak saja dia langsung mencari keberadaan istrinya.
El terkesiap saat mendapati Abrine dan Raymond yang berpelukan. Dia bisa melihat itu jelas didepan kedua matanya sendiri. Meski dia tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi pemandangan itu cukup membuatnya cemburu.
El ingin menarik Abrine saat itu juga, tapi entah kenapa kakinya sulit untuk melangkah. Membuatnya hanya bisa berdiri kaku sampai Abrine dan Raymond melerai tautan tubuh mereka berdua.
El menahan perasannya dalam-dalam. Bagaimanapun, dia tahu jika Raymond adalah pria yang pernah Abrine cintai. Kendati sekarang Abrine adalah istrinya, dia tidak tahu apa Abrine sudah melupakan Raymond atau belum.
Raymond berlalu dari hadapan Abrine, dia melewati jalan yang berlawanan. Dia tidak melihat El yang ternyata sudah melihat perlakuannya pada Abrine barusan.
Abrine juga tidak menyadari jika El sempat melihatnya dengan Raymond. Saat dia berbalik badan, dia dapat melihat suaminya ada disana.
"El, kau mencariku sampai disini?" tanya Abrine kikuk. Apa dia harus mengatakan pada El bahwa dia baru saja bertemu Raymond tadi? Abrine merasa serba salah.
"Sedang apa kau disini, Brine?" Akhirnya El bisa membuka suara menanyakan istrinya.
"Aku .... tadi ...." Abrine bingung, dia takut El marah bila dia jujur, tapi jika dia bohong pun dia akan merasa bersalah pada suaminya. "Tadi aku bertemu dengan Ray--mond," akuinya akhirnya.
"Oh..." El menghargai kejujuran istrinya. "Dia sengaja datang kesini untuk menemuimu?"
"Tidak juga, ku pikir dia juga sedang berlibur disini." Abrine menggosok lehernya sendiri. Dia gugup, tak mungkin dia jujur soal Raymond mengikuti mereka sampai disini, bisa-bisa El murka pada sahabatnya nanti. Bukan mau melindungi Raymond, tapi Abrine tak mau ada keributan.
Elrich mengangguk samar. Dia menyodorkan satu cup kopi untuk Abrine nikmati.
Abrine menerima itu. Dia meminumnya perlahan-lahan. Rasa hangat menjalari tenggorokannya. Tapi tegukannya yang kedua terhenti kala mendengar ucapan suaminya.
"Apa kau masih mencintainya, Brine?"
Hampir saja Abrine memuntahkan kopi yang baru saja masuk ke mulutnya. Dia menatap El dengan tatapan tak mengerti.
Abrine terdiam. Sementara El menatap ke arah pemandangan air sungai yang mengalir dibawah sana.
"Apa posisiku sekarang sebagai suamimu belum mampu membuatmu melupakan dia?"
"El.... kenapa tiba-tiba kau menanyakan ini?"
"Jawab saja, Brine!" desak El. "Apa semua yang terjadi tidak membuka matamu? Apa yang dia lakukan padamu? Apa yang dia lakukan padaku saat balapan waktu itu? Apa itu tidak bisa membuat perasaanmu terkikis darinya?"
Abrine meneguk salivanya dengan cepat. "El, Raymond sahabatku."
"Ya, sahabat yang kau cintai!"
Abrine tidak menyangkal itu, karena dia pun tidak tahu bagaimana mengartikan perasaannya saat ini. Sudah dia katakan kan, bahwa dia bingung, apakah dia masih cinta Raymond, menyayanginya atau justru sudah tak ada rasa lagi. Yang jelas, dia hanya tak bisa membenci sahabatnya sendiri. Itulah kenyataannya.
"Apa semua yang kita lewati sampai hari ini tidak bisa membuka hatimu untukku, Brine?" El menggeleng pelan. Dia merasa tengah mengemis cinta pada istrinya sendiri, hal yang tak pernah El lakukan selama 29 tahun hidupnya.
"El, aku menghargaimu sebagai suamiku. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kau tahu itu, kan?"
El menatap Abrine dengan tatapan sendu. "Listen to me, aku juga menghargaimu sebagai istriku, aku juga sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu. Tapi, itu ku lakukan karena aku punya alasan. Itu semua karena aku mencintaimu, Brine."
Abrine tertunduk lesu, sekarang dia tahu apa yang El inginkan darinya.
".... sedangkan kau? Kenapa kau melakukan itu, Brine? Kau tidak mempunyai alasannya," imbuh El sambil meremat cup plastik bekas kopi yang sudah dia tandaskan.
__ADS_1
"El, tidak begitu... aku punya alasan melakukannya."
"Ya, alasanmu karena kau adalah istriku, kan? Sudahlah, Brine. Kita tidak usah membahasnya lagi." El menatap Abrine lekat. "Ada baiknya, kita kembali ke penginapan sekarang."
Sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan diantara keduanya. Abrine beberapa kali sudah membuka mulutnya untuk berucap, tapi kemudian dia urung untuk memulainya.
El sendiri hanya fokus mengemudikan mobilnya untuk tiba di penginapan.
Sesampai didepan penginapan itu, hari sudah kembali gelap. Abrine merasa ada yang aneh pada tubuhnya secara drastis dan tiba-tiba. Entah kenapa, dia merasa sangat kedinginan.
"Ayo turunlah!" kata El sembari beranjak dari jok nya. Dia membuka pintu dan keluar dari mobil range rover nya.
Beberapa saat berjalan, El baru sadar jika Abrine tidak mengikuti langkahnya. Wanita itu masih didalam mobil dan tidak beranjak sama sekali. El menghampiri Abrine dan mengetuk kaca mobil dari luar.
"Brine, ayo turun. Kenapa diam disana?"
"E--el... aku menggigil."
El merasa ada yang tidak beres. Dia segera membuka pintu mobil dan memegang dahi Abrine untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Kau tidak demam. Kau kenapa, Sayang?" El panik. Tadi Abrine baik-baik saja.
El segera menggendong tubuh Abrine, tubuhnya terasa bergetar.
"Abrine, kau bisa mendengarku?" El khawatir karena Abrine tampak lemas dan pucat. Tubuhnya juga terasa dingin saat disentuh. El ingin segera mengecek keadaan Abrine di kamar mereka.
"Hmmm..." Abrine hanya menjawab dengan gumaman. Dia kedinginan teramat sangat.
Beberapa langkah dari mobil sambil menggendong Abrine. Raymond sudah terlihat didekat mereka. El tak begitu terkejut dengan kehadirannya.
"Mau apa kau disini?" tanya El dingin.
"Kenapa dengan Abrine?" tanya Raymond tak kalah dingin. Sebenarnya dia sudah bisa menduga hal ini.
"Bukan urusanmu!"
Raymond tak mengindahkan ucapan El. Dia menatap Abrine dengan raut khawatir. "Brine, kau tak apa?" tanyanya.
"Di--ngin..." Hanya itu yang keluar dari mulut Abrine dan Raymond langsung menyadarinya.
"Breng sek! Hipotermia Abrine kambuh!" umpat Raymond entah pada siapa. Dia ikut panik, bahkan membuka jaketnya untuk menyelubungi tubuh Abrine.
Mendengar itu, El terbelalak. "Hipotermia?" desisnya pelan.
"Iya, Abrine punya riwayat hipotermia. Seharusnya kau tidak mengajaknya ke tempat dingin seperti ini!" ucap Raymond kesal. Inilah yang menyebabkannya menguntit El dan Abrine, dia khawatir Abrine akan kambuh jika berada di tempat tujuan mereka ini.
El sangat terkejut. Dia tidak mengetahui hal ini. Hipotermia memang bisa datang kembali apalagi pada seorang yang pernah menderita penyakit itu sebelumnya.
******
*Hipotermia \= penurunan suhu tubuh secara drastis yang berpotensi berbahaya. Penyebab yang paling umum adalah berada di lingkungan bersuhu dingin dalam waktu yang lama.
Hipotermia juga dapat disebabkan oleh hal-hal di luar penyakit. Contohnya termasuk paparan dingin atau aktivitas fisik yang ekstrem.
__ADS_1
******
Bantu vote dan hadiah dong! Ntar othor up lagi kalo banyak dukungan. hehehe 💚💚💚💚 love you guys🥰🥰🥰