PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
37. Semua tentangmu


__ADS_3

"A-aku .... dan Wildan, ehm .... kami pernah dekat sewaktu aku masih SMA."


"Apa? Dekat? Pacaran?"


Abrine mengibaskan tangannya. "Iya, uh... bukan begitu!" jawabnya.


"Iya atau tidak, Brine?" desak El. Kenapa dia tidak bisa menduga hal itu. Seharusnya dia sudah bisa menilai dari sikap dan tingkah laku Wildan yang memang nampak terlalu peduli pada Abrine selama ini. Sial.


"Begini, dia pernah mengajakku berpacaran waktu itu, tapi aku dan semua keluarga pindah ke Jerman, jadi---"


"Jadi perasaannya belum terbalas, sampai akhirnya kamu kembali dan ternyata malah menikah denganku, begitu?" potong El cepat.


"Jangan bahas ini lagi. Aku tidak memiliki perasaan padanya, El."


"Tapi dia?"


"Itu hak nya, kita tidak bisa melarangnya!"


"Aku bisa! Aku suamimu, Brine!" Rupanya El benar-benar merasa sudah memiliki Abrine sekarang. Memang dia belum mengatakan itu cinta, tapi dia tidak rela miliknya diincar oleh orang lain. Apalagi orang itu adalah Wildan.


"Kenapa kau harus semarah ini, El?" Abrine tak habis pikir kenapa El harus marah. Katanya tak punya rasa, tapi mendengar Abrine ditunggu oleh Wildan dia terlihat marah. Belum ada setengah jam yang lalu El mengatakan jika dia tidak percaya cinta, tapi sikapnya ini sudah seperti orang yang bucin akut pada Abrine. Kalau sudah cinta, apa sikapnya akan lebih parah dari ini?


"Aku bukan marah...." El menghembuskan nafas pelan, dia mencoba mengendalikan emosinya. "Aku hanya tak suka dibohongi," ujarnya kemudian.


"Tidak ada yang berbohong disini, El."


"Kau membohongiku."


"Kapan?"


"Sejak awal, seharusnya kau mengatakan padaku mengenai hubunganmu dengan Erland."


"Aku belum sempat bercerita, El. Bukan berbohong." Abrine duduk di pinggiran ranjang--disamping El--sambil mengacak rambutnya sendiri.


"Kalau begitu, ceritakan semua tentang dirimu, sekarang!"


"Untuk?"


Elrich memutar bola matanya. "Aku ingin tahu semuanya tentangmu, bukankah kau memintaku untuk belajar mencintaimu? Jadi, aku akan memulainya dengan mengenalimu luar dan dalam." El menatap Abrine dengan lekat, seolah tatapannya dapat menembus kedalam kornea mata kecokelatan milik sang istri.


Abrine selalu salah tingkah jika sudah ditatap El seperti ini. Hal yang sama terjadi saat mereka menghabiskan malam bersama tadi malam, dia mengingat momen itu sepintas sehingga wajahnya kian merona sekarang.


"Kau kenapa?" tanya El yang menyaksikan wajah Abrine merah padam.


"Tidak." Abrine menatap kearah lainnya. Membuang pandangan agar bisa menatap yang lain kecuali El.


"Jadi, mau cerita atau tidak?" tanya El menuntut.


"Iya, tapi... pakai dulu pakaianmu, El."


El baru sadar jika dia hanya mengenakan handuk sebab tadi dia memang baru selesai mandi, akibat mendengar percakapan Abrine dan Wildan melalui telepon dia jadi lupa pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Mana pakaianku?" El malah balik bertanya pada Abrine.


"Mana ku tahu!"


"Hei, kau ini istriku, Nona! Siapkan keperluanku."


Abrine jadi salah tingkah, El terus saja menatapnya dengan tatapan yang sama. Akhirnya dia bangkit dan mencari pakaian El didalam koper, dia menarik kaos secara random dan menyerahkannya pada pria itu.


"Underwearnya, mana?" tanya El sambil menaik-naikkan alisnya menggoda Abrine.


"Ehm itu, cari sendiri...."


Elrich terbahak, "Kalau begitu aku tidak usah memakainya seharian ini."


"El!!!" pekik Abrine yang ditanggapi El hanya dengan mengendikkan bahu. Menyebalkan.


Dengan sikap ogah-ogahan, akhirnya Abrine mencari barang kepunyaan El yang paling pribadi itu, dia mengambilnya dengan ujung jari seperti orang jijik. Sebenarnya dia bukan merasa seperti itu, tapi dia malu dan risih memegang kain segitiga pribadi itu.


Elrich malah terkekeh tak henti-henti melihat tingkah sang istri.


"Kau ini! Padahal tadi malam kau sudah menyentuh isinya," cibirnya, membuat Abrine membuang muka. Malu, tentu saja.


Elrich memakai pakaiannya didekat Abrine. Perlu diingat, dia mengenakan semuanya tanpa rasa malu, justru Abrine yang salah tingkah sendiri melihat kelakuan El itu.


"Kau bisa memakainya dikamar ganti, kenapa harus didepanku," gumam Abrine yang masih terdengar oleh El.


El hanya tersenyum tipis. "Buat apa merepotkan diri sendiri, kau juga sudah melihat semua milikku," jawabnya enteng.


"Sudah siap. Sekarang kembali ke topik awal, ceritakan semua tentangmu padaku. Termasuk tentang mantan-mantanmu!"


Abrine menggeleng samar. Pria ini sudah seperti suami sungguhan saja untuknya. Eh, tapi memang seharusnya begini, kan? Ini yang dia harapkan dari El. Baiklah, dia akan menceritakan semuanya pada El.


Abrine mengatakan bahwa dia tidak pernah berpacaran selama ini. Hanya Wildan yang mendekatinya. Mereka mengenal saat Wildan menjadi pelatih karate pengganti di kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Wildan mengatakan akan menunggu Abrine sampai dia kembali ke Indonesia. Sayangnya Abrine tidak mau berharap lebih, dia mengira Wildan pasti berubah pikiran seiring berjalannya waktu.


Lambat laun, Abrine justru dekat dengan Raymond selama di Jerman. Raymond mengajarkan Abrine banyak hal.


"Aku tidak pernah menaruh rasa lebih pada Wildan, aku merasa dia akan melupakanku dan apa yang terjadi dengannya hanyalah cinta monyet anak remaja."


"Setelah aku sengaja menjauh dari Wildan, memutus kontak dengannya, aku bersahabat dengan Raymond di Jerman. Dia mengajariku banyak hal yang belum pernah ku ketahui."


Elrich masih mendengarkan cerita Abrine dengan seksama. Dia tak merasa marah lagi mengenai Wildan, tapi sekarang dia justru kesal mendengar Abrine menceritakan mengenai Raymond.


"Raymond mengajariku mengendarai motor besar, menyelam, dia juga mengajakku ke banyak tempat, berkumpul dan bertemu teman baru. Kami membentuk komunitas sosial yang membantu orang-orang tidak mampu...." Wajah Abrine tampak menerawang ke masa-masa itu, dimana saat itu dia sangat dekat dengan Raymond.


"Raymond juga banyak membantuku, dia pernah berkomplot denganku untuk membantu Airish keluar dari gangguan pria tua yang kurang ajar dan menjebloskannya ke penjara."


".... Raymond juga orang pertama yang selalu menyelamatkanku. Ada disaat aku membutuhkannya. Aku.... aku.... tidak bisa menolak perasanku yang datang begitu saja, aku merasa dia adalah cinta pertamaku," tutur Abrine dengan menahan sesak.


Entah kenapa rasa sakit yang Abrine rasakan mampu membuat El terenyuh. Dia merangkul tubuh istrinya itu, lalu mendekapnya. Dia kesal mendengar Abrine memuji segala kebaikan Raymond, tapi dia juga tak bisa mengabaikan kesedihan dan kesenduan diwajah Abrine saat bercerita mengenai pria itu.


"Wajar jika kau mencintainya," gumam El dengan suara pelan. Entah kenapa dia panas sendiri mengetahui kenyataan ini.

__ADS_1


"Hmm, tapi dia juga yang telah menghancurkan aku. Dia membohongiku. Aku dua kali melihatnya bersama Freya diatas tempat tidur."


Elrich semakin mengeratkan pelukannya pada Abrine. Dia cukup tahu rasanya dikhianati, meski dia tidak melihat secara langsung seperti yang Abrine alami. Pasti Abrine sangat terpukul dengan hal itu.


"Sudah, sekarang ada aku, kan? Kau bisa mengandalkan aku! Jangan lagi mengharapkannya. Aku akan menjadi pria pertama yang kau hubungi disaat kau butuh apapun, hmm?" Elrich membingkai wajah Abrine dan menyorot kedalam mata sang istri.


Abrine mengangguk. "Aku akan mengandalkan mu," katanya.


Seharian itu, mereka tidak jadi keluar dari kamar hotel. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan bercerita.


Ketika mereka lapar, mereka memanggil pelayanan kamar dan kembali melanjutkan sesi bercerita. El juga menceritakan mengenai keluarganya yang sempat sangat ingin diketahui Abrine.


"Mama Erika selingkuh, dia mengkhianati ayahku. Aku tidak tahu sejak kapan, tapi saat aku remaja, aku justru pernah melihatnya berciuman dengan seorang pria yang adalah sopir ayahku."


"Benarkah?" Abrine terkejut mengetahui hal ini.


"Ya, hal itu salah satu faktor yang juga mempengaruhiku, bahwa tidak ada cinta yang tulus didunia ini."


"Entah bagaimana, kami semua juga akhirnya mengetahui bahwa Erland bukan anak ayahku. Dia anak biologis dari sopir ayah. Itu mengartikan bahwa Mama Erika sudah lama berselingkuh dengannya, atau justru sudah menjalin hubungan sebelum menikah dengan ayahku. Aku tidak tahu."


"Tapi tidak semua orang bersikap sama dengan dia, El!" tanggap Abrine.


"Ya, ku harap kau juga tidak sama seperti dia."


"Aku? Tidak mungkin!"


"Ku harap begitu, makanya aku melarangmu dekat dengan pria lain. Aku tidak mau kejadian yang menimpa ayahku akan menimpaku juga."


"Astaga El...." Abrine membelai wajah El dengan jemarinya. "Lupakan masa lalu kita, aku harap kita bisa sama sama membuka hati. Bagaimana?"


Elrich mengangguk.


"Lagipula, aku merasa Mama Erika sudah belajar banyak hal dimasa lalu. Sekarang dia pasti sudah menyesalinya dan belajar jadi lebih baik lagi."


"Mudah-mudahan, aku sangat senang jika ada orang yang kembali pada kodratnya. Sejatinya kita diciptakan Tuhan menjadi manusia yang baik, kan?"


Abrine terkekeh mendengar ucapan El yang terdengar sangat religius itu.


"Untuk itu, kau kembalilah juga pada kodratmu... Tuhan menciptakan cinta untuk umatnya, jadi kau jangan menyangkal hal itu dengan mengatakan tidak percaya akan cinta."


Elrich mengulumm senyum mendengar ultimatum yang istrinya sampaikan. Kadang Abrine bisa mengimbanginya dengan sikap dan tutur yang dewasa. Ada satu kekaguman dalam diri El mengenai Abrine yaitu Abrine selalu bisa mengerti dirinya tanpa dia minta.


"Baiklah, ku rasa tidak sulit mencintai gadis seperti dirimu. Sepertinya aku akan takhluk dengan cepat." El mengangkat kedua tangannya ke udara, seolah tanda bahwa dia telah menyerah dan memasrahkan perasaannya.


"Sudah ku bilang, kau bukan tidak percaya cinta itu ada. Kau yang membentengi dirimu. Kau yang membangun tembok raksasa itu sehingga membuatmu menjadi pribadi yang sulit tersentuh."


Elrich memandangi Abrine dengan pemikirannya sendiri.


"Jangan tinggalkan aku, Brine! Bukan demi aku atau demi kau, tapi demi kita!" ujarnya sembari mendekat pada Abrine dan meninggalkan kecupan dalam di dahi sang istri.


Abrine bisa merasakan ketulusan dan kehangatan ciuman El yang menyentuh dahinya. Dia merasa sangat diinginkan meski El belum pernah menyatakan perasaannya kepadanya.

__ADS_1


*******


__ADS_2