
Abrine sibuk memasak sebelum El tiba di Apartmen mereka. Jika siang tadi dia tak jadi membawakan El makan siang, maka malam ini mereka harus makan masakannya.
Abrine lebih memilih berbelanja bahan makanan melalui online daripada ke supermarket. Dia tak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti pagi tadi, bukan karena dia takut akan bertemu Freya kembali dan melakukan keributan lagi, tapi dia ingin menghemat waktu agar saat El tiba diapun sudah selesai memasak.
Tepat saat bel berbunyi, masakannya pun telah siap.
Abrine setengah berlari dan membukakan pintu untuk suaminya.
"Kenapa menekan bel? Bukankah masuk sendiri juga bisa?" Abrine menahan tawanya melihat El yang senyum-senyum saat menatapnya.
"Aku ingin pulang dengan disambut oleh istriku."
Kali ini Abrine tidak bisa lagi menahan tawanya, dia terbahak keras. El ikut tertawa, kemudian merangkul bahu istrinya untuk memasuki unit Apartmen mereka dengan langkah yang sama.
"Sepertinya aku mencium bau masakan." El seperti mencari-cari sesuatu yang entah apa.
"Iya, aku memang memasak untukmu."
"Benarkah?" El semringah. "Thanks, sayang. Aku sudah lama tidak mencium bau masakan ketika pulang ke rumah." El mengecup dahi istrinya dari samping.
"Ya sudah, mandi dan bersihkan diri. Aku juga sudah menyiapkan pakaian gantinya dikamar."
El menatap Abrine dengan tatapan aneh. "Abrine?" katanya.
"Ya?"
"Apa ini benar-benar dirimu?" Elrich terkekeh dan Abrine tahu El tengah menyindir kelakuannya yang manis hari ini.
"Aku cuma mau menyenangkanmu, apa itu salah?" Abrine berlagak cemberut.
El menggeleng. "Tidak salah, tapi....." Dia sengaja menggantungkan kalimat.
"Tapi, kenapa?"
"Tapi aku jadi makin jatuh cinta padamu berkali-kali."
"Halah!" Abrine memukul lengan El sekilas dan mereka tertawa bersamaan.
Saat El sudah beranjak menuju kamar mandi dikamar mereka, Abrine pun gegas menyiapkan hidangan makanan di meja makan.
Abrine merasa perlakuan El kepadanya semakin menghangat. Jika begini terus, dia benar-benar akan jatuh cinta pada pria itu. Tapi, sekarang dia tidak takut jika itu benar-benar terjadi, karena setidaknya dia sudah mengetahui bahwa cintanya itu tak bertepuk sebelah tangan. El sudah mencintainya, kan? Lagipula El adalah suaminya sendiri. Ya, jelas saja itu tidak salah justru itu harus.
El kembali ke ruang makan dengan pakaian rumahan yang tadi sudah disiapkan Abrine. Dia benar-benar mengenakannya.
"Sudah ku duga," celetuk Abrine melihat kedatangan El.
"Duga apa, sayang?"
"Suamiku akan sangat tampan mengenakan kaos itu," pujinya.
El tersenyum dengan wajah memerah. Bisa-bisanya Abrine menggombalinya seperti ini. Akhirnya dia hanya menggeleng samar sambil mengulumm senyum saat melihat wajah cantik istrinya itu.
"Sudah boleh makan, belum?" Akhirnya El mengalihkan pembicaraan, dia terlalu malu dipuji oleh Abrine. Grogi luar biasa.
"Boleh, dong! Tapi senyum dulu...."
__ADS_1
El benar-benar menyunggingkan senyum lebar sesuai permintaan istrinya.
"Duh, manisnya...." Lagi, Abrine memuji El membuat wajah pria itu semakin tersipu saja.
"Ya sudah, ayo makan. Mau makan yang mana dulu, sayang?"
El terpana beberapa saat ketika dia menyadari jika Abrine telah memanggilnya dengan panggilan sayang.
"A-apapun yang kau masak hari ini akan ku makan," jawab El dengan suara bergetar membuat Abrine tertawa pelan saat mendengarnya. Dia pu mengambilkan El nasi dan lauk yang tadi sudah dimasaknya.
Hari ini Abrine memasak cumi saus tiram dan ayam goreng mentega. Tidak lupa dia juga memasak sayur yang mungkin akan disukai El mengingat profesi suaminya adalah dokter yang pasti bukan cuma menilai rasa tapi juga memikirkan nilai gizi dari setiap masakannya. Entahlah, Abrine tak begitu mengerti dengan takaran itu, tapi dia memasak sayur hanya untuk berjaga-jaga saja.
El mulai mengambil makanan yang Abrine sajikan. Dia merasainya dan tersenyum tipis.
"Kenapa? Gak enak, ya?" Abrine menatap El dengan tatapan yang butuh sebuah penjelasan. "Atau keasinan?" lanjutnya.
"Tidak, ini enak. I'm seriously!" Setelah mengucap kalimat itu El benar-benar menyantap makanannya dengan lahap.
Abrine tersenyum puas. Jika El menyukai masakannya maka dia akan memasak setiap hari, tak masalah, yang penting suaminya senang.
"Dimana kau belajar memasak? Aku sempat meragukan hal ini darimu," kata El terus terang.
"Sebenarnya dulu mama yang sempat mengajarkanku dasar-dasar memasak. Tapi, karena hidup mandiri aku jadi bisa secara otodidak."
"Proud of you, wifey..."
Kali ini Abrine yang tersipu dengan pujian El kepadanya.
Mereka makan malam bersama-sama dengan perasaan menghangat dan bahagia.
"Kapan kau mau ku ajak jalan-jalan?" tanya El disela-sela sesi makan itu.
"Hemm, baiklah."
Setelah makan, El membantu Abrine membersihkan piring bekas makan mereka. Dia juga mencucinya padahal Abrine sudah mencegahnya.
"Aku juga sudah biasa mandiri, Brine. Biarkan aku membantu istriku," katanya.
Seketika itu juga Abrine merasa beruntung, dia tidak hanya menikahi dokter tampan tetapi pria itu juga baik hati sampai mau menolongnya dalam urusan rumah tangga.
Abrine yang sudah siap membersihkan meja, melirik sekilas pada punggung lebar suaminya yang tengah mencuci piring di kitchen sink. Dia memberanikan diri mendekati tubuh tinggi itu, sampai akhirnya dia memeluk tubuh El dari belakang.
El terperanjat sesaat, sampai akhirnya dia bisa menguasai keadaan. Jantungnya berdebar kencang, entah kenapa dia menyukai Abrine-nya manja seperti ini kepadanya.
"Besok aku akan bekerja, harusnya tadi. Tapi karena tadi ada masalah aku sampai lupa ke kantor."
"Iya," jawab El sambil membilas piringnya.
Abrine mengeratkan dekapannya di punggung bidang sang suami, membuat itu menjadi tumpuan ternyaman untuknya bersandar. Dia memejamkan matanya disana dan menghirup aroma aftershave yang digunakan suaminya dalam-dalam. Aroma itu memabukkannya hingga dia enggan beranjak dari sana.
"Apa kau tidur?" tanya El dengan suara yang berubah parau.
"Tidak, kenapa?" Abrine menjawab masih dengan memejamkan matanya.
"Ku pikir kau nyaman sekali sampai tertidur disana."
__ADS_1
"Kalau boleh," kata Abrine random.
"Boleh saja, tapi aku harus memakan makanan penutupku dulu, Brine."
"Aku tidak membuat makanan penutup, maaf," jawab Abrine polos.
Elrich tertawa pelan. "Makanan penutupku sedang bersandar dipunggungku sekarang," katanya.
Seketika itu juga Abrine tersentak, dia sadar ke arah mana pembicaraan ini. Secara perlahan, dia melepas tangannya yang tadi melingkari perut El dari belakang. Dia hendak kabur tapi El segera menangkapnya.
Abrine terkikik geli saat El menciumi lehernya.
"Malam ini absen dulu, El. Masih perih!" kata Abrine mencoba protes.
El malah menyeringai karena ujaran polos istrinya itu.
"Kalau begitu, biar aku bantu mengobatinya. Kau mau kan?"
"Tidak, aku bisa sendiri," jawab Abrine dengan wajah merah padam. Bagaimana cara El membantu mengobatinya nanti? Itu pasti sangat memalukan.
"Tapi pasti kau sulit mengobatinya, pasti ada bagian yang kau lewatkan. Jika aku yang membantu pasti perihnya akan cepat sembuh karena aku bisa melihat bagian mana yang sakit."
"Astaga, El.... tidak usah!"
Elrich terkekeh-kekeh melihat Abrine yang ingin menghindar darinya.
"Kau yakin? Jangan meragukanku, aku ini dokter jika kau lupa!"
"Iya, dokter me-sum!" tuding Abrine. Bukannya marah akibat ucapan istrinya itu, El malah semakin tidak mau melepas tubuh istrinya dari dekapannya.
"El, kenapa seperti ini!" Lagi-lagi Abrine mengajukan protes.
"Siapa suruh kau membuatku kecanduan!" katanya sembari membawa sang istri dalam gendongannya.
Jika sudah begini, Abrine hanya bisa pasrah. Dia melingkarkan tangan dileher suaminya yang menggendongnya dengan kedua tangan.
Sesampainya dikamar, El mengambil obat yang pagi tadi dia tinggalkan untuk sang istri.
"Sini, biar ku bantu mengobatinya."
"Ah, aku pikir kau main-main. Tidak usah, El. Yakinlah, aku bisa sendiri," tolak Abrine.
El tak mengindahkan ucapan istrinya. Dia benar-benar membuka kaki Abrine lebar-lebar membuat wanita itu harap-harap cemas dengan perasaan campur aduk. Malu, gugup, canggung, entahlah semua menjadi satu saat El menatapi miliknya untuk diberikan gel yang dia katakan sebagai obat.
"Ini memang terlihat bengkak," kata El dengan pelan. Perasaan malu menyergap diri Abrine secara bertubi-tubi.
Abrine refleks menutup kakinya tapi El secepat kilat mencegahnya. "Tunggu! Belum ku olesi, Sayang."
Akhirnya Abrine kembali pasrah. Saat tangan El menyentuh miliknya, dia berkedip-kedip gelisah. Rasa dingin menyergap dirinya ketika gel itu berhasil teroles disana.
"Bagaimana? Apa terasa nyaman?" tanya El.
"I-iya, sudah." Abrine berharap El segera menyingkirkan jarinya disana tapi pria itu tetap tak bergerak, lama kelamaan Abrine malah merasakan sesuatu yang berbeda dari tindakan jari El.
"El...." Abrine segera menangkap tangan El dengan sigap. Dia menggeleng pada sang suami sebagai isyarat agar tidak melanjutkan aksi itu.
__ADS_1
Elrich mengembuskan nafas perlahan. "Baiklah, aku akan menunggu kondisinya lebih baik," putusnya kemudian.
********