
Hampir dua Minggu Elrich dan Abrine menikah. Namun, El belum mengumumkan pernikahannya itu.
Setelah membicarakannya dengan sang istri, El dan Abrine berniat melangsungkan sebuah pesta pernikahan yang mereka khususkan untuk semua relasi El yang memang belum mengetahui mengenai pernikahan ini.
Seusai acara ini dilangsungkan, El sekaligus ingin mengurus cuti panjangnya untuk bisa melakukan bulan madu bersama istrinya. Dia sadar masalah hidupnya terlalu rumit, kendati demikian dia tidak mau berlarut-larut dalam masalah itu. Dia dan Abrine butuh refreshing.
Semua relasi Elrich akhirnya mengetahui jika El telah menikah. Tak terkecuali Claire yang turut diundang dalam acara tersebut. Dia tersenyum sinis menanggapinya.
Acara itu dilangsungkan disebuah hotel ternama. Hanya pesta kecil yang dibalut acara makan malam sederhana. Abrine tidak suka keribetan, hal semacam ini hanya formalitas baginya demi menghargai Elrich yang sudah memperkenalkannya sebagai istri didepan publik.
"Selamat, El. Istrimu cantik juga, semoga dia tidak bernasib tragis seperti adikku," desis Claire yang menyalami tangan Elrich. Elrich hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Claire berganti menyalami tangan Abrine. "Selamat atas pernikahan kalian. Ku harap El tidak pernah menjadikanmu korban dari sikap egoisnya," bisiknya ditelinga Abrine.
Abrine sudah tahu mengenai Claire, dia menatap Claire dengan seringaian tipis.
"Itu tidak akan terjadi, karena disini El yang berkorban untuk diriku," balas Abrine yang ikut berbisik ditelinga Claire. Ucapan itu sekaligus mengartikan bahwa dia tidak gentar dengan apapun yang coba Claire provokasikan kepadanya.
Claire bersungut-sungut pergi setelah ucapan selamatnya itu. Tentu dia tidak senang melihat El bahagia sedangkan adiknya meninggal karena perbuatan El di masalalu.
Sebelum benar-benar pergi dari sana. Claire menatap tajam pada pasangan yang memasang senyum ramah pada semua tamu disana. Dia mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku jarinya memutih.
"Kau tidak akan pernah bahagia diatas kematian adikku, El."
*****
Acara itu usai, Abrine dan El memutuskan untuk bersiap pulang ke kediaman mereka. Sayangnya, mereka harus menunda kepulangan itu sebab ada tamu yang tidak diundang tiba-tiba hadir disaat tamu lain sudah mengosongkan ruangan.
"Brine...."
Abrine terkesiap, dia melihat seseorang yang tak ingin ditemuinya kini berada tepat dihadapannya dan El sekarang.
"Mau apa kau kesini?" tanya El dingin.
"Aku mau meminta maaf pada kalian atas perbuatan Mama. Aku tidak tahu jika Mama memberikan Abrine obat pencegah kehamilan waktu itu." Ya, dia adalah Wildan yang datang ke pesta mereka setelah acaranya usai.
Wildan sudah dua hari berada di Jerman, dia tidak mengetahui alamat tempat tinggal Abrine dan Elrich, tapi dia sempat mendengar dimana pria itu berdinas. Saat dia mendatangi Rumah Sakit, rupanya hampir semua perawat dan pekerja disana tengah memperbincangkan pesta yang akan diadakan oleh El dan Abrine malam ini. Dia mendengarkan itu dan menarik informasi untuk dapat menemui mereka.
"Kau jauh-jauh datang kesini hanya untuk meminta maaf?" Mata El memicing menatap Wildan. Dia tahu, Wildan punya niat lain yang terselubung, tak mungkin pria ini datang jauh hanya karena sebuah permintaan maaf atas kesalahan yang Erika perbuat.
"Itu salah satunya, memang ada hal lainnya." Wildan tersenyum smirk tampak misterius.
__ADS_1
"Apa?"
"Aku hanya ingin mengingatkan Abrine." Wildan menatap Abrine yang memegang lengan El kuat-kuat. "Tentang pernikahan sementara yang kalian jalani sekarang," imbuhnya.
Bukan hanya Abrine, tapi El juga tersentak saat Wildan mengucapkan kalimat tersebut.
"Jika kau datang untuk membuat keributan, lebih baik kau jangan menunjukkan dirimu didepanku!" kata El menggeleng samar. Dia tak habis pikir Wildan sampai terbang ke Jerman demi merusak rumah tangganya.
"Bukan begitu, Kak. Aku takut kalian lupa soal kesepakatan yang kalian buat sendiri."
Elrich menggeleng samar.
"Aku tidak tahu kamu mengetahui omong kosong itu darimana, tapi kamu sangat mengada-ngada, Wil." Abrine mulai buka suara.
"Mengada-ngada?" Wildan tertawa penuh ironi. "Aku tak sengaja mendengarnya dari ucapan Xander. Bukankah ini semua benar, Brine? Kamu tidak perlu melanjutkan ini jika akan menyakiti diri kamu sendiri nantinya."
Elrich tersenyum tipis. "Dengar, Erland. Sekalipun ini rencana kami, kau tidak berhak ikut campur, kau hanya orang lain!" tukas El menohok.
Wildan terdiam, sebenarnya dia tak mau ada perdebatan seperti ini. Dia mengira Abrine terpaksa dalam hubungan yang mereka bina. Itu menyebabkannya berani untuk berargumen sekarang.
"Baiklah, tidak perlu sampai seperti ini karena aku cukup tahu diri, Kak." Wildan pun menatap Abrine dengan tatapan dalam. "Kapanpun kau membutuhkanku, aku siap menolongmu. Anything, Brine!" imbuhnya.
Wildan berbalik pergi dengan langkahnya yang jenjang.
"Penggemar istriku sangat banyak, tapi Tuhan memberikannya khusus untukku. Apakah aku makhluk spesial?" canda El yang membuat Abrine tergelak kecil.
Kini Abrine menatap kearah dimana tubuh Wildan telah menghilang. Dia memahami jika Wildan tak bermaksud mengusiknya. Kendati bagaimanapun sikap Mama Erika, Abrine tak berhak ikut menyalahkan Wildan atas kesalahan yang diperbuat ibu dari pria itu. Ucapan Wildan tadi diartikan Abrine sebagai rasa khawatir dan peduli.
"Kita pulang, Sayang."
Ucapan El menghentikan lamunan Abrine, dia menggenggam jemari El untuk pulang ke kediaman mereka.
******
Suasana hari ini memang cerah. Sekitar pukul empat sore waktu setempat, El telah kembali ke rumah. Hari ini adalah hari terakhirnya bekerja, besok dan beberapa hari kedepan dia sudah mendapat jatah cuti terkait pernikahannya yang sudah dipublikasikan.
"Sayang, kau dimana?" El mencari keberadaan Abrine dikamar mereka. Dia masuk ke rumah tanpa menekan bel terlebih dahulu.
Rupanya Abrine tengah berada diruang pakaian. Dia tengah mengemasi baju-baju mereka yang akan dibawa untuk berlibur atau bulan madu yang memang sudah terlambat.
"Aku disini, El."
__ADS_1
Elrich mendekat pada istrinya dan mencium pipi Abrine sekilas.
"Ada yang bisa ku bantu?"
"Tidak ada."
Elrich melenguhh panjang, resikonya menikahi gadis yang terlalu mandiri. Tidak pernah mau dibantu. Tidak pernah merepotkan.
Dulu dia malas berurusan dengan wanita karena menganggap semua wanita itu merepotkan, sekarang dia justru merasa termakan ucapannya sendiri karena dia sangat ingin direpotkan oleh istrinya yang jarang sekali meminta bantuan padanya.
"Kapan-kapan sisakan pekerjaan yang bisa ku lakukan untuk dapat menolongmu. Aku ingin berguna untukmu," protes El yang ditanggapi Abrine dengan kekehan pelan.
"Kalau kau mau menolongku, temani aku ke suatu tempat saja nanti. Kau akan ku repotkan disana."
Elrich mengangguk. "Tak masalah, kemana?" tanyanya.
"Panti sosial, Yayasan penampungan jompo ataupun panti asuhan. Semacam itulah. Apa kau mau?"
Elrich mengangguk yakin, dia sudah mendengar perihal Abrine yang senang mengunjungi tempat seperti itu.
"Aku akan meniru kedermawanan istriku," ujarnya sambil mencubit gemas kedua pipi Abrine. Abrine mengerucutkan bibirnya tanda protes, tapi El malah mengecup ujung bibirnya yang merengut secara bertubi-tubi.
"Kau ini!" Abrine tidak bisa marah pada kelakuan suaminya. Wajahnya malah merona.
"Sudah siap? Ayo kita berangkat!" Abrine mengepak semua tas mereka dan kali ini Elrich langsung pasang badan untuk mengangkut semua koper itu kedalam mobil range rover nya.
Jangan kira mereka akan bulan madu seperti pasangan kebanyakan, karena istri El memang selalu lain daripada yang lain. El pikir, Abrine akan meminta keluar negeri dan berbelanja sepuasnya disana. Tapi, ternyata tidak demikian. Permintaan Abrine bahkan diluar ekspektasinya sebagai suami wanita itu.
Keinginan bulan madu Abrine sangat tak biasa. Dia mau hiking alias mendaki.
Setelah perdebatan yang cukup alot kemarin, akhirnya mereka sepakat akan Hiking di sekitar desa Lohmen, Sachsen. Pendakian ini akan menuju sebuah dataran tinggi yang memanjang, bukit dan ngarai hasil dari letusan gunung berapi, dan batu pasir mistis berusia 1 juta tahun yang berada di dalam hutan.
"Aku sangat ingin hiking, aku belum pernah melakukannya pasti itu sangat menyenangkan. Aku ingin melakukannya bersamamu." Begitulah ucapan Abrine yang membuat El tak bisa berkutik, salahnya sendiri yang pernah membahas hal mengenai pendakian didepan sang istri.
Baiklah, El menyanggupinya. Apa yang tidak dia lakukan untuk Abrine sekarang? Bahkan, hidupnya sudah dia pasrahkan bersama wanita itu untuk selamanya.
Mereka pun memulai perjalanan dari pusat kota yang ditempati untuk menuju desa Lohmen yang akan mereka tuju.
*******
Mohon dukungan dan komentar mengenai tulisan saya. Apabila ada kesalahan mohon dimaklumi karena Authornya memang masih remahan rengginang alias amatir🙏 berikan kritik dan saran yang membangun, serta tidak menjatuhkan mental daripada saya yang menulis novel ini. Setiap komentar kalian selalu menjadi semangat untuk saya dan melanjutkan lagi tulisan saya yang belum sempurna ini.
__ADS_1
Sampai part ini, untuk sementara kita jalan-jalan dulu sama mereka berdua ya. Ntar dilanjutkan lagi konfliknya. Biar kita semua sama-sama refreshing dulu💚💚💚💚💚