
Berita tentang dipindahkannya Claire ke rumah sakit jiwa, tentu sudah terdengar sampai ke telinga Elrich. Pria itu pun kembali menghubungi Theresia terkait permintaannya.
"Nek, apa nenek sudah mengurus semuanya?"
"Sudah, El. Jangan khawatir."
"Terima kasih."
El melindungi istrinya melalui bantuan sang nenek. Pasalnya, bukan cuma Erika yang harus El waspadai tetapi ada Claire juga.
El ingin yang terbaik untuk istrinya. Dia tidak mau salah mengambil jalan hingga menyebabkannya menyesal dikemudian hari.
"El? Kau menelepon siapa?" Abrine menggeliat dari tidurnya. Dia sempat mendengar jika tadi suaminya sedang menelepon. Siapa yang ditelpon El sepagi ini?
"Ehm... dari pihak rumah sakit," dusta El. El sengaja merahasiakannya dari Abrine. Dia hanya tak mau Abrine merasa tak bebas dan terkekang. Karena dibelakang wanita itu, El dan Theresia sudah sepakat memberikan Abrine dua orang bodyguard.
Theresia menyetujui hal itu, sebab didalam kandungan Abrine ada pewaris tahta nya.
"Kau bekerja hari ini?" tanya Abrine mendekati posisi El.
"Ya, kenapa, sayang?"
"Aku sedang ingin bersamamu seharian," ujar Abrine dengan tatapan memelas.
"Memangnya kau tidak bekerja?"
"Entahlah, aku sedang malas. Aku sudah menelepon papa di Indonesia dan papa tak mempermasalahkan seringnya aku tak bekerja akhir-akhir ini, karena mereka semua tahu jika aku sedang mengandung."
El mengusap-usap rambut sang istri. "Ya, jangan terlalu memaksakan diri," ujarnya.
"Jadi, bagaimana?" Abrine mendongak menatap iris hazel milik sang suami.
"Bagaimana apanya?"
"Aku mau seharian bersamamu. Apa kau tidak bisa libur hari ini?"
Elrich tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. "Maaf sayang, pekerjaanku berbeda denganmu. Aku tidak bisa meninggalkan tanggung jawabku begitu saja. Banyak pasien yang harus ku tangani dan aku sudah terikat sumpah sebagai seorang dokter," katanya memberi pengertian pada sang istri.
Abrine mencebik sebal. El terkekeh karenanya. Sudah dia katakan kan, jika semenjak Abrine hamil istrinya itu jadi terlihat sangat manja.
"Bagaimana kalau aku ikut denganmu ke Rumah Sakit?"
"Untuk apa, sayang? Ku rasa tidak baik bagimu untuk terlalu lama di rumah sakit. Disana banyak penyakit, tidak baik bagimu yang sedang hamil, sayang."
"Jadi aku harus bagaimana?" Abrine melipat tangan di dada sambil mendengkus keras.
"Dirumah saja, ya." Bagaimanapun El akan sangat lega jika Abrine tetap berada dirumah daripada kemana-mana. Bukan dia membatasi istrinya, tapi banyak orang lain yang tak suka dengan kebahagiaan mereka, apalagi jika tahu Abrine tengah hamil sekarang.
"Aku tidak mau, El. Bayi-bayiku mau dekat dengan Daddy nya. Oh, bagaimana ini?" Abrine mondar-mandir gelisah sambil memegang kepalanya sendiri. Tampaknya dia mulai uring-uringan.
"Kau bisa mengundang Yemima kesini untuk menemanimu."
"Tidak bisa, El. Dia calon pengantin."
"Atau Kristy?"
"Dia pasti sedang bekerja juga. Lagipula dia akan lebih memilih sibuk dengan Galvin ketimbang menemaniku."
Elrich berpikir lagi. "Ya sudah, dirumah saja ya, bersama bibi Daisy. Sore aku sudah kembali."
"Aku maunya bersamamu, El."
Elrich menghela nafas sepenuh dada. Dia harus memiliki kesabaran ekstra untuk menghadapi sikap istrinya yang tengah dalam kondisi moody-an.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menelepon Xander untuk mengecek jadwal dokter bedah yang lain."
"Kau akan libur?" Tiba-tiba wajah Abrine berubah jadi berbinar-binar penuh pengharapan.
"Jika ada yang bisa menggantikan ku, aku akan coba ajukan libur untuk hari ini."
"Yeay! Suamiku yang terbaik..." Abrine memeluk leher El sambil melonjak. Menyebabkan tubuhnya tergendong didepan tubuh El begitu saja seperti anak koala. Dia bahkan melingkarkan kedua kaki di pinggang sang suami. Elrich saja sampai terkejut karena aksi istrinya tersebut.
"Kita coba dulu, aku tidak janji akan libur, Brine."
"Ya, ya, cepatlah telepon pihak rumah sakit," kata Abrine tak sabaran.
Setelah meminta izin untuk digantikan, akhirnya El benar-benar menemani Abrine untuk seharian kedepan.
Bibi Daisy datang namun mereka malah meminta wanita paruh baya itu agar pulang saja sebab mereka memang mau berduaan. Bibi Daisy memaklumi pasangan pengantin baru itu.
"Sayang, aku lapar..." Abrine mengelus-elus perutnya didepan El.
"Baiklah, kau mau makan apa? Kita pesan online saja."
"No! Aku mau kau yang memasak."
"Astaga, jika tahu begini lebih baik tadi bibi Daisy tetap masuk bekerja," gerutu Elrich sambil terkekeh samar.
"Aku mau masakanmu, El."
"Baiklah, Nyonya Manja. Kau mau makan apa?"
"Nasi...."
"Nasi?"
Abrine mengangguk. Makan nasi adalah makanan yang jarang dia dapatkan selama di Jerman. Berbeda jika dia sedang di Indonesia.
"Tidak, aku mau nasi pakai telur ceplok."
"Hah? Makanan apa itu?" tanya Elrich tak paham.
"Hahaha, telur mata sapi. Kau tahu kan?"
"Ya kalau itu aku tahu." Akhirnya Elrich terkekeh.
"Ya sudah, buatkan untuk aku dan anak-anak."
"Siap, Nyonya."
Elrich memasakkan Abrine telur mata sapi dan nasi. Untunglah keinginan istrinya tidak terlalu merepotkan. Andai Abrine meminta dia memasak makanan Indonesia dengan berbagai bumbu pasti dia sudah menyerah sebelum memulai.
Elrich menyajikan makanan itu dihadapan Abrine yang sudah duduk di meja makan mereka.
"Spesial for you... telur coplok."
"Hahah, telur ceplok, sayang!" kata Abrine meralat ucapan Elrich.
"Ya, ya, telur coplek."
"Astaga, El..." Abrine terbahak. Dia mulai menyuap nasinya dihadapan El.
"Kau tidak makan?" tanya Abrine pada El yang diam saja menatapnya.
"Aku akan makan setelah melihatmu makan dengan baik."
"Tidak, tidak. Makanlah bersama," kata Abrine.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memastikan rasa masakannya dulu...."
Abrine mulai memakan makanannya dengan lahap.
"Bagaimana rasanya? Enak?"
"Good. Tolong ambilkan aku kecap. Ini akan makin enak jika ditambah dengan kecap manis."
"Baiklah," kata El sambil beranjak dan mengambil botol kecap dan diberikan pada Abrine.
Elrich melihat istrinya makan dengan sangat lahap. Dia tersenyum melihatnya.
"Naf su makanmu sepertinya bertambah sejak kau hamil. Aku menyukainya, makanlah dengan banyak."
"Kalau setelah aku melahirkan aku jadi gendut, bagaimana El?" Abrine bertanya sambil tetap mengunyah makanannya yang penuh didalam mulut.
Elrich mengendikkan bahu. "Tak masalah. Fat is se-xy, Sayang," ujarnya dengan senyuman tipis.
Abrine tertawa mendengar suaminya sedang menggombal. Ternyata Elrich bisa bersikap sangat manis seperti ini. Bagaimana mungkin dia tidak luluh.
"Makanmu berantakan sekali, sayang! Ada sisa kecap diujung bibirmu," kata El dan Abrine mencari-cari tisu untuk membersihkan itu.
Karena tak mendapati tisu, Abrine hendak mengelap dengan punggung tangannya tapi El mencegah itu, dia menangkap tangan Abrine dan sepersekian detik berikutnya, justru El mendekat lalu membersihkan itu dengan sapuan bibirnya.
Ya, El mengecupnya disana.
Tentu saja Abrine terkejut dengan ulah suaminya itu.
"Apa yang kau lakukan, El? itu jorok!" protes Abrine masih tak percaya.
"Haha, tidak. Aku suka. Itu hanya kecap dengan aroma telur," kelakar El, membuat Abrine menepuk dahinya sendiri.
"Ya ampun. Kau ini... apa rasanya?"
"Manis, sama sepertimu."
Abrine menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan gelak.
"Ternyata kalau udah bucin sikapnya jadi gesrek," gumam Abrine bermonolog pada dirinya sendiri.
"Bucin? Gesrek? Apa itu?" tanya El polos.
Disaat itulah Abrine tak tahan untuk tidak terbahak.
"Itu bukan bahasa Indonesia, kan?" tanya El. Setahunya, tidak ada bahasa Indonesia seperti itu. Boleh dicari di kamus bahasa, pasti memang tak ada. Dia sangat yakin, pikirnya.
"Sayang, bucin itu Bu-dak Cin-ta. Kalau gesrek itu.... hemmm, gimana ya... gesrek itu.... rada gila." Akhirnya Abrine memberi penjabaran sekaligus penjelasan.
"Yaya, aku sudah bucin pada istriku. Dan istriku membuat aku sedikit gila," akui El membuat Abrine semakin cekikikan.
"Habis makan kita kemana, El?"
"Memangnya mau keluar? Aku pikir kita dirumah saja seharian?"
"Jalan-jalan ya. Bayi-bayiku butuh hiburan."
"Selalu memfitnah bayi. Padahal bayinya belum bisa bicara," kata El geli.
"Kau sendiri? Selalu beralasan jika bayinya ingin dijenguk. Padahal itu alasanmu saja, kan?"
Baiklah, El mengaku kalah kali ini. Dia juga sering memberi alasan dengan membawa bayi-bayi mereka.
"Ya sudah, kita kemana sayang?" El pasrah. Dia akan menuruti keinginan Abrine saja.
__ADS_1
*****