
Saat ini Claire menjadi buronan dan dicari-cari di seluruh penjuru Negeri. Tentu saja, kejahatan yang dilakukannya sangat banyak.
Bukan cuma terhadap El, tetapi semua bukti sudah menunjukkan mengenai keterlibatannya dalam tragedi kebakaran RSJ-- sampai menelan beberapa korban jiwa.
Claire dapat dijerat dengan pasal berlapis, juga pembunuhan berencana.
Disana, Claire tengah meratapi kesalahannya. Dia mungkin akan rela menjalani hukuman seumur hidupnya apabila semua yang telah dia korbankan sesuai dengan rencananya. Yaitu membunuh Abrine.
Nyatanya, semua tak sesuai ekspektasi. Dia sangat merasa syok dengan kelakuannya sendiri. Dia justru melukai pria yang dia cintai.
Apa kabar El disana?
Apa El tewas selepas kejadian itu?
Dia telah kehilangan El selamanya.
Pikiran-pikiran semacam itu terus melintasi benaknya. Bersamaan dengan cuplikan kejadian malam itu yang selalu muncul setiap dia berkedip.
Sejak awal, Claire memang memiliki gangguan mental dan sikap yang berubah-ubah. Dia semacam punya kepribadian ganda-- yang justru setelah kejadian ini, ada satu bagian dalam dirinya yang terus mengumpat dan menyalahkan dirinya sendiri.
Bukannya puas dengan apa yang terjadi pada Elrich. Sekarang dia malah merasa miris dan menyesal. Dia seperti dihantui dan hal itu semakin merusak mentalnya dan jiwanya yang sudah berantakan.
Dia berpikir untuk menyerahkan diri ke polisi saja atas tindakan yang telah dia lakukan, tapi satu sisi lain yang ada dalam dirinya justru mencegah hal itu.
Antara mau dan tak mau.
Antara takut dan berani.
Was-was. Dihantui. Khawatir yang sangat berlebihan.
Sudah dua hari ini, Claire lari dari kerumunan dan pusat kota. Dia menahan lapar dan dahaga. Dia makan makanan sisa dari tempat sampah yang ditemuinya. Bahkan dia minum air dari sisa-sisa genangan yang ditampungnya. Sangat miris.
Perlahan tapi pasti, langkah kaki membawanya sampai ke pinggiran hutan.
Claire tau bahwa saat ini semua orang tengah mencari dan mewaspadainya. Dia bukan hanya pasien rumah sakit jiwa yang kabur. Bahkan sebelum menjadi pasien, dia juga sudah berstatus tahanan. Sekarang malah dia mendapat gelar baru. Seorang buronan.
Apakah dia harus kembali kepada orangtuanya?
Tidak mungkin. Ibunya pasti akan mengusirnya karena sudah mendengar kabar ini.
Sedangkan ayahnya, pasti akan menghajarnya habis-habisan seperti yang sudah-sudah. Atau justru melenyapkannya?
Kemana langkah kakinya harus berjalan lagi? Dia sudah lelah, dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa-- dia menemukan sebuah rumah tua kosong yang terletak di daerah pinggiran dekat hutan yang tadinya sempat dia lewati.
Rumah itu sudah ditumbuhi tanaman merambat. Dindingnya berlumut dan licin akibat genangan hujan yang tak mengering.
"Lebih baik aku disini untuk sementara waktu," gumamnya sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Sepanjang hari dia hanya bisa menangis. Saat lapar, dia membuka sebuah kantung yang tadinya dia isi dengan stok makanan yang sebelumnya sempat dipungutinya dari tempat sampah.
"Besok semua makanan sampah ini pasti akan habis. Aku tetap harus keluar dari tempat ini untuk memungut lagi," gumamnya.
Saat malam hari, suasana tempat yang ditinggali Claire menjadi semakin seram. Suara jangkrik beradu dengan lolongan serigala. Nyamuk terasa bebas memangsa darahnya. Bahkan, tak ada setitik cahaya yang dapat menerangi malamnya.
__ADS_1
Claire selalu menjerit-jerit histeris saat dia tertidur. Dia bukan takut pada hantu. Tapi sekelebat bayangan tentang kejahatannya kembali datang dipikiran.
Dia benar-benar tersiksa. Sangat tersiksa meski tidak ada yang menjahatinya secara fisik. Tapi batinnya sangat tertekan.
****
Di lain tempat, tepatnya di Rumah Sakit tempat Elrich di rawat. Theresia mengerahkan seluruh kekuasaannya agar El dapat sembuh sesegera mungkin. Dia bahkan menyarankan agar El dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar daripada yang sekarang menanganinya.
Bukan hanya masalah luka tusukan yang membuat Theresia khawatir. Tapi, harus digarisbawahi disini bahwa El adalah seorang pasien yang pernah menjalani transplantasi jantung. Jadi, dia tidak bisa sembarangan diobati.
Abrine setuju dengan hal itu. Tentu dia mau El pulih dengan cepat. Tapi, dia juga bingung harus merelakan El pergi atau tidak karena dia tak bisa ikut untuk menjaga El nantinya.
"Percayakan saja semuanya pada Nenek. Kau tidak usah ikut, perjalanan itu akan membuatmu lelah. Pikirkanlah kandunganmu, Abrine."
Abrine berada dalam dilema. Memang dia juga harus memikirkan kondisinya sendiri. Berat tubuhnya yang sebelumnya naik, sekarang bahkan turun drastis hanya dalam hitungan hari. Pipinya tampak cekung, kantung matanya juga menghitam.
Rasanya baru kemarin Dokter Stella mengatakan bahwa kandungannya kuat dan baik-baik saja. Tapi sore tadi, dia kembali diperiksa karena mengalami darah rendah. Kandungannya melemah. Bahkan, dia dianjurkan untuk bedrest.
Dokter juga menyarankan agar Abrine tidak banyak pikiran, tapi apa bisa? Dia selalu saja memikirkan keadaan sang suami.
Belum selesai mengenai hal itu, Abrine juga mendengar kabar bahwa Ayah mertuanya masuk rumah sakit akibat kejadian yang menimpa El. Dia semakin bingung harus bagaimana.
Setelah berseteru dengan dirinya sendiri, akhirnya Abrine menyetujui saran nenek.
Untuk terakhir kali, dia menemui Elrich diruang ICU yang sama, sebab besok El akan dipindahkan ke rumah sakit lain demi menjalani perawatan yang lebih baik.
"El?"
"Kau tahu kan? Aku disini menunggumu pulih. Pergilah, El. Tapi kembali lagi dalam keadaan sehat tanpa kurang satu apapun."
Abrine melemas. Selalu seperti ini padahal setiap dia akan menemui sang suami didalam ranjang pesakitan, dia sudah mewanti-wanti diri agar lebih kuat.
"Aku akan menunggumu, El."
"Aku mencintaimu, El." Abrine mengecup pelipis suaminya dengan isakan yang membuat bahunya berguncang.
Keesokan harinya, El benar-benar dipindahkan ke rumah sakit lain menggunakan helikopter pribadi milik sang Nenek. Theresia ikut didampingi oleh orang kepercayaannya dan juga Xander yang mengajukan diri.
Abrine tak bisa ikut mengantar, karena nyatanya sekarang dia benar-benar diinpus di kediamannya. Dia meratap sedih ditemani oleh Yemima dan Bibi Daisy.
Menjelang siang, Kristy dan Galvin datang menjenguknya. Kedatangan mereka cukup menghibur Abrine.
Keluarga dari Indonesia juga akan tiba hari ini. Meski tak bisa melihat Elrich yang sudah dipindahkan. Tapi, Aarav berjanji akan menyusul ke rumah sakit disana untuk melihat perkembangan pria itu nanti.
"Jadi, keluargamu akan tiba hari ini?" tanya Kristy.
"Ya, mungkin malam nanti sudah tiba," jawab Abrine.
"Siapa saja yang akan datang?"
"Papa, Mama dan Kak Aarav." Sebenarnya semua keluarga ingin melihat keadaan Abrine di Jerman, tapi keadaan saudarinya--Airish--dan iparnya Rahelsa, yang memiliki balita membuat mereka belum bisa ikut.
"Semoga perjalannya lancar dan tidak ada delay," timpal Galvin menenangkan.
__ADS_1
Menjelang sore barulah Kristy dan Galvin pulang. Mereka tahu Abrine membutuhkan waktu untuk istirahat dan menyambut kedatangan keluarga besarnya.
Sekarang, Bibi Daisy sudah memenuhi meja makan dengan masakannya. Sejak El dirawat, wanita tua itu diminta Abrine untuk tetap stay di Apartmen mereka.
"Abrine, sayang!"
Abrine menoleh dan mendapati Raya--mamanya yang sudah tiba. Raya menghampiri putrinya dan memeluknya seketika. Mereka berdua larut dalam isak tangis.
Aarav dan Nev--Papa Abrine, menatap sendu kepada Abrine. Sungguh mereka tak menyangka rumah tangga Abrine harus diuji dengan hal semacam ini.
"Siapa yang jemput di bandara, Ma?" tanya Abrine, karena keluarganya memang belum pernah mengunjungi Apartmen tempat tinggalnya bersama Elrich selama ini.
"Wildan." Aarav menyahut.
Abrine bersyukur Wildan amat mengerti situasi dan keadaan. Pria itu juga berusaha membantu Abrine dari kemarin. Bahkan dia ikut menyiapkan barang-barang untuk dibawa El yang akan berangkat pagi tadi.
"Katanya dia menyewa apartmen di gedung sini juga, ya."
"Iya, kak."
"Kita ajakin mampir ke sini dia gak mau."
"Mungkin Wildan lelah, Pa. Sejak pagi dia juga kesana kemari ngurusin perpindahannya El."
"Mertua kamu gimana, Brine?" tanya Raya.
"Abrine belum sempat liatin. Keburu di infus juga."
Raya menggosok punggung Abrine demi menenangkannya.
"Besok biar papa sama Mama jengukin mertua kamu. Kakak iparmu, gimana?"
"Kak Elena sudah ditempat Ayah Edgar. Kemarin dia sudah sempat liat El sebentar karena Ayah juga gak mungkin ditinggalin terlalu lama."
Kejadian yang menimpa Elrich, membuat hampir semua keluarga mereka jadi terbang ke Jerman, termasuk Elena yang sebelumnya berada di Swedia.
"Siapa yang jaga El disana?" Kali ini Raya bertanya pada Yemima yang diam sejak tadi.
"Nenek dan Xander," jawab sahabat Abrine itu.
"Ya sudah, masing-masing sudah ada yang menjaga. Kita disini juga jagain Abrine dan jangan lupa berdoa." Nev angkat bicara.
"Ma, pa.... makan dulu, pasti lelah abis perjalanan jauh."
"Di pesawat juga kita udah makan. Tapi, boleh deh...." kata Aarav yang tergiur dengan masakan Bibi Daisy yang mengeluarkan aroma sedap.
Meski Abrine merasa tak tenang berada jauh dari suaminya tapi kehadiran keluarga dan sahabatnya hari ini cukup bisa membuatnya tersenyum dalam kesedihan.
Yang Abrine harapkan saat ini hanyalah kesembuhan orang-orang yang dia sayangi. El segera pulih, begitupula dengan Edgar. Dia juga berharap kandungannya akan baik-baik saja.
Soal pekerjaannya, Abrine sudah menyerahkannya pada Anne. Syukurnya sekretarisnya itu cukup bisa dia andalkan.
*****
__ADS_1