
"Bagaimana? Apa sudah puas menjenguknya?" Yemima melemparkan pertanyaan saat melihat Abrine keluar dari ruang dimana Elrich dirawat.
"Huh! Kau bersekongkol dengannya, Mima!" Abrine mengibas-ngibaskan tangan dihadapan Yemima.
Yemima meringis. "Sorry," katanya sungkan.
Setelah berbincang singkat, Raya dan Aarav yang juga masih berada disana memutuskan untuk melihat keadaan Elrich didalam ruang perawatan. Langkah mereka diikuti oleh Abrine dan Yemima yang juga ikut masuk.
"Syukurlah El sudah kembali pulih. Mama benar-benar lega melihat kamu sudah sadar, nak. Mama tidak enak karena kejadian ini menyebabkan kamu berakhir di rumah sakit." Raya menepuk-nepuk punggung tangan El dan bersikap hangat.
"Sudah seharusnya begitu, Ma. Mama jangan merasa bersalah, ya. Ini juga karena masa laluku, aku yang seharusnya merasa tak enak hati dengan keluarga Abrine. Dan lagi, inilah resikoku menjadi seorang suami." El tersenyum hangat membalas ujaran mertuanya.
"Terima kasih, El. Kau sudah menjaga Abrine dengan baik," timpal Aarav. Sedikit banyak, dia sudah mendengar kronologis kejadian malam itu hingga menyebabkan El tertusuk. Aarav juga tahu bahwa El sedang berusaha melindungi Abrine.
"Itu sudah kewajiban ku. Abrine adalah tanggung jawabku sepenuhnya," kata Elrich sungguh-sungguh.
Abrine hanya bisa menunduk mendengar obrolan antara suami, kakak dan juga ibunya.
"Kemarin mama juga sudah menjenguk ayahmu di Rumah Sakit. Keadaannya sudah membaik waktu itu. Mungkin sekarang sudah kembali ke villa dimana beliau tinggal," kata Raya merujuk pada Edgar--ayah kandung Elrich.
"Ah ya, terima kasih juga ya, ma. Aku sudah membuat banyak orang cemas bahkan sakit. Aku juga sudha merepotkan banyak pihak," ujar Elrich tak enak hati.
"Jangan begitu, El. Kejadian yang menimpamu tak ada yang menginginkannya."
"Kakakmu Elena masih berada di jerman sampai keadaanmu dan ayahmu pulih," ujar Aarav.
Mendengar itu El sedikit lega karena Elena berada disisi Edgar sekarang. Dia akan segera ke villa ayahnya jika keadaannya sudah lebih baik dan memungkinkan.
****
Dua hari setelah Abrine menemui Elrich di Rumah sakit yang ada di luar kota itu, akhirnya El diperbolehkan untuk pulang.
Menggunakan helikopter pribadi milik Theresia-- mereka pun tak membutuhkan waktu yang terlalu lama dalam perjalanan pulang.
Keluarga Abrine juga sudah kembali ke Indonesia sore kemarin. Jadi, malam ini El sudah dapat tidur di kediamannya sendiri. Meski begitu, Abrine terlihat menjaga jarak dengan suaminya.
"Kau kenapa?" El menatap Abrine heran. Sang istri beringsut menjauh dari posisinya yang berbaring.
"Tidak ada, aku takut melukaimu saja."
Elrich terkekeh pelan. "Bukankah tempo hari kau sudah memukuliku? Kenapa baru sekarang kau takut melukaiku?" ledeknya.
Abrine memanyunkan bibir. "Sudah, istirahatlah. Ini sudah malam dan lagi tadi kita sudah cukup lama dalam perjalanan."
"Kau tahu tidak--"
"Tidak," potong Abrine cepat.
Elrich mendesahh keras. "Aku belum selesai bicara, Brine. Bisakah kau tidak memotong ucapanku?"
Abrine akhirnya mengangguk.
__ADS_1
"Kau tahu kan, kita sudah berpisah hampir 2 Minggu."
"Lalu?"
"Malam ini aku tidak mau berpisah denganmu lagi."
"Apa-apaan, ini juga sudah bersama, kan?" gumam Abrine seolah bicara pada dirinya sendiri namun sebenarnya dia sedang menanggapi ujaran sang suami.
"Ya, maksudku ... malam ini kita.... tidurlah bersama. Bukankah kau sempat mengatakan bahwa kau sangat merindukanku?"
"Ng... itu... anu... aku tidur di kamar sebelah saja, ya."
"Kenapa? Kau tidak mau tidur disampingku?" Elrich menaikkan sebelah alisnya menatap sang istri.
"Bukan begitu, El. Kau tahu kan, cara tidurku bagaimana? Apalagi setelah aku hamil gaya tidurku makin berantakan. Aku takut lukamu akan terkena pukulanku atau bahkan tendangan kakiku." Abrine menggeleng-gelengkan kepalanya membayangkan hal itu. "Itu pasti sangat buruk, El," lanjutnya.
"Tidak akan," jawab El yakin."
"Kenapa kau seyakin itu?"
"Aku akan memelukmu dengan erat agar waktu tidur kau tidak bisa bergerak lagi."
Wajah Abrine memerah mendengar ucapan Elrich yang terang-terangan.
"Bagaimana?" tanya El lagi.
"Tidak mau." Abrine menggeleng keras.
"Ayolah, sayang. Sudah cukup lama aku tidur sendiri di ranjang pasien. Apa setelah tiba di rumahku sendiri dan melihat istriku pun-- aku harus kembali tidur sendirian?"
"Ini sudah kering. Apa kau tidak melihatnya?"
"Tidak, itu tertutup perban."
"Astaga.... mau tidur dengan istri sendiri susahnya minta ampun!" gerutu Elrich sambil menyugar rambutnya ke belakang dengan gusar.
Abrine diam saja seolah tak mendengar ujaran suaminya.
"Ini sudah kering, sayang, kau bisa melihatnya nanti ketika perbannya diganti." Elrich masih mencoba mengajak Abrine bernegosiasi.
"Ya, bagian luarnya kering. Bagian dalam belum tentu sudah pulih." Abrine bersikukuh.
"Lagipula kita cuma tidur, bukan mau bergelut. Kenapa kau takut akan mengenai lukaku? Sepertinya gaya tidurmu tidak separah itu," keluh Elrich.
"Sudahlah, sekarang kau tidur saja. Jangan banyak protes. Oke!" Abrine menyelimuti tubuh Elrich dan menyalakan lampu tidur yang ada di dekat nakas.
"Selamat malam." Abrine mengecup pipi El singkat, tapi El tidak meresponnya lagi. Pria itu terlanjur kesal sendiri karena keputusan sang istri.
Abrine mematikan lampu utama dan menutup pintu kamar tersebut, dia keluar untuk tidur di kamar sebelah.
"Ah, apa-apaan ini! Apa dia tidak tahu aku sangat merindukannya!" Lagi-lagi Elrich menggerutu setelah kepergian Abrine.
__ADS_1
Elrich bahkan menendang selimut yang tadi diselubungi Abrine ke tubuhnya.
Dua jam kemudian, Elrich benar-benar tidak dapat tertidur. Dia memutuskan bangkit dari posisinya.
"Kalau kau tidak mau tidur denganku, baiklah... biar aku yang mendatangimu." Elrich tersenyum miring saat dia keluar dari kamar utama.
Klek...
Syukurnya Abrine tidak mengunci pintu kamar sebelah. Dengan leluasa Elrich masuk dan melihat istrinya yang sudah tertidur dalam posisi meringkuk.
"Ini baru benar...." batin Elrich terkekeh. Dia mulai membaringkan diri disebelah istrinya. Dia bahkan mengecupi pipi Abrine berkali-kali dan wanita itu terlihat tidak terganggu sama sekali karena ulahnya.
"Good night my wife..." El mendaratkan kecupan terakhir di dahi istrinya, kemudian dia mulai memejamkan mata.
Mencium aroma tubuh istrinya yang sangat dia rindukan membuatnya semakin mengantuk dan jatuh terlelap.
Keesokan paginya, Abrine menggeliat dari posisinya. Tapi, dia merasa ada yang janggal.
Kenapa guling yang dia peluk seakan bernafas?
Bahkan sepertinya gulingnya punya detak jantung yang beritme teratur.
Abrine menarik diri, terkejut tentu saja. Dia menyadari bahwa Elrich sudah berada disampingnya, bahkan tadi posisinya adalah dia yang memeluk kepala Elrich dan membenamkan wajah pria itu dalam dekapannya.
Abrine menggeleng kencang. "Astaga... pria ini..." gerutunya menyadari situasi.
Abrine mengecek ke arah punggung Elrich yang sempat terluka. Abrine bisa bernafas lega karena ternyata perban yang terpasang disana tidak copot dan masih baik-baik saja.
Abrine akhirnya membiarkan El. Tak mungkin dia mengomel di pagi buta bahkan ketika Elrich belum terbangun, kan? Padahal dia sangat ingin menceramahi pria ini yang sudah berjalan kesana kemari dengan aktifnya. Bahkan menyusulnya untuk tidur di kamar tamu.
Abrine memandangi wajah teduh pria itu. Dia benar-benar Elrich. Pria yang sudah beberapa waktu ini membuatnya menangis dan histeris. Pria yang juga berhasil membuatnya sangat merindukan seseorang.
Seperti mimpi, El sekarang sudah ada dihadapannya.
"I love you..." gumamnya, seolah bicara pada El yang belum sadarkan diri dari tidur.
Abrine mengelus dahi El dengan telunjuknya, perlahan-lahan jari itu turun menyentuh hidung mancung sang suami, lalu semakin turun sampai ke bibir. Cukup lama jari Abrine terhenti disana. Dia mengelusnya pelan mengikuti bentuk bibir suaminya.
Elrich terbangun saat menyadari sesuatu bergerak-gerak di bibirnya. Dia tahu ini ulah istrinya. Dia mengintip sedikit namun enggan membuka matanya secara terang-terangan.
"Maafkan aku, El. Karena menyelamatkanku-- kau harus menanggung sakit yang seperti ini. Aku berjanji tidak akan menyakitimu dan mengecewakanmu."
El mendengar istrinya yang sedang mengeluarkan isi hati dihadapannya. Sepertinya ini menjadi hobi baru El sekarang. Bukankah dengan pura-pura tak sadar dia jadi tahu kalau Abrine mencintainya? Maka dari itu sekarang dia mau diam dan mendengarkan saja.
"Jangan pernah cemburu lagi pada pria manapun. Aku hanya mencintaimu saja, El."
".... mari kita hidup bersama selamanya. Menjaga anak-anak kita. Bukankah itu terdengar sangat menyenangkan?"
Abrine terkekeh pelan. Kemudian dia memajukan wajah dan mengecup bibir suaminya.
Abrine ingin menarik diri dan menghentikan ulahnya sendiri, tapi, apa dia kira El akan membiarkannya begitu saja?
__ADS_1
Jawabannya... tidak mungkin!
*****