PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
38. Karena masa lalu


__ADS_3

Sementara itu, Erika terkejut melihat Wildan yang pulang dalam keadaan mabuk. Kebiasaan ini tidak pernah putranya lakukan. Ini pasti ada kaitannya dengan pernikahan Abrine dan El kemarin.


Disatu sisi, Erika tahu jika Wildan memang berharap besar pada Abrine sudah sejak lama, dia paham kekecewaan putra semata wayangnya itu, tapi dia juga tidak mau Wildan hancur hanya karena seorang gadis yang sudah menikah dengan orang lain.


"Erland! Sadar, Nak! Abrine sudah memilih untuk menikah dengan Elrich. Kamu sendiri yang bilang untuk tidak mencegahnya, bukan? Kamu yang mengatakan pada mama kalau kamu pasti bisa menahan perasaan. Jangan seperti ini, Er!" omel Erika mengguncang-guncang tubuh Wildan yang terduduk lemah diatas sofa, penampilan pria itu sudah acak-acakan dan bau alkohol sangat tercium disana.


"Aku tahu, Ma. Aku pikir aku bisa menahan perasaanku jika Abrine bahagia tapi nyatanya pernikahan mereka hanyalah kesepakatan tak jelas dan tanpa cinta. Rupanya Abrine dan Kak El menikah sementara, tapi aku tetap merasa kesal karena Kak El memanfaatkan gadis yang kucintai." Wildan berceloteh panjang lebar dan tak tentu arah karena efek mabuknya.


"Maksudnya?" tanya Erika tak paham.


"Abrine dan Kak El menikah karena kesepakatan saja."


Erika membulatkan matanya, meski Wildan mengoceh dalam keadaan mabuk tapi dia tetap ingin tahu mengenai info ini, apakah yang dikatakan Wildan benar atau hanya karena mengigau.


"Kamu tahu info ini dari mana?"


"Xander dan kekasihnya membicarakan hal ini kemarin, aku tidak sengaja mendengarnya."


"Xander teman dekat El?"


"Iya."


"Mungkin kamu salah mendengar, Erland. Untuk apa Abrine menyetujui pernikahan itu jika untuk sementara saja?"


"Aku tidak tahu, Ma. Aku rasa Abrine berada dibawah ancaman Kak El."


Erika menggeleng samar. "Tapi, bukankah ini bagus, mereka akan berpisah dengan sendirinya tanpa perlu kita melakukan apapun, iya kan?"


"Aku memang tidak mau melakukan apapun. Aku cuma mau Abrine bahagia, Ma." Suara Wildan terdengar sangat lemah, dia benar-benar terlihat menyedihkan dan kehilangan semangat. Ibarat kata kebahagiaan Abrine adalah mood booster untuk dia.


"Padahal mama sudah menyiapkan hadiah spesial untuk Abrine. Ah, tahu begini tidak usah mama berikan kemarin. Toh, pernikahannya cuma sementara."


"Hadiah?" Seketika itu juga Wildan menegakkan tubuh. Dia mengusap kasar wajahnya sendiri seolah mencari kesadaran diri. "Memangnya mama kasih Abrine hadiah apa, Ma?" tanyanya.


"Pil KB. Biar gak hamil," jawab Erika enteng.


"Astaga, Ma.... kenapa Mama kasih hadiah begitu ke Abrine!"

__ADS_1


"Ya, Mama cuma mencegah biar dia gak hamil anak El, Sayang. Kamu mau nungguin dia sampe janda, kalau dia punya anak dari El, emang kamu mau ngasuh anak itu?"


"Mama!" Wildan kesal sendiri mendengar ujaran sang Mama yang berpikir sampai sejauh itu.


"Tapi karena kamu bilang mereka menikah sementara ya pasti Abrine gak akan mau disentuh El. Obat itu juga gak ada gunanya, sih!"


"Kalaupun Abrine harus punya anak dari Kak El, itu gak masalah buat aku, Ma. Aku udah bilang, aku nerima Abrine apa adanya."


Seketika itu juga Erika bangkit dari duduknya. "Enggak dengan anaknya! Kamu harus ingat, Edgar juga gak mau ngasuh kamu dulu! Gimana bisa kamu mau ngasuh anak El," geram Erika.


Wildan akhirnya ikut berdiri dengan matanya yang sayu, dia ingin berlalu, tapi sebelum itu dia memberikan jawaban yang menohok pada Erika.


"Ayah Edgar ngasih aku kasih sayang sampe aku berumur 14 tahun, Ma. Dia hanya gak bisa nerima karena kenyataannya aku bukan darah dagingnya. Semakin aku dewasa, aku makin sadar kenapa ayah bersikap begitu. Itu wajar karena aku adalah anak dari hasil perselingkuhan Mama."


Erika terhenyak dengan ucapan putranya sendiri.


"Erland!" serunya tak percaya. Sang anak melawannya hanya karena masalah ini.


"Perlu kamu tahu, Mama selingkuh dari Edgar itu karma untuk dia. Karena dulunya dia juga menyelingkuhi Naina, dan membawa Elrich ketengah-tengah keluarga mereka."


Plak!


Tanpa sadar, Erika justru melayangkan pukulan kepada pipi Wildan. Wildan hanya memegang pipinya yang memanas, dia tersenyum tipis pada Erika. Dia juga tak tahu kenapa bisa mengeluarkan unek-unek yang selama ini terpendam dihatinya, mungkin karena efek mabuk ini yang membuatnya berani mengutarakan kekesalannya pada sang Mama.


"Apa Mama puas? Hidupku yang tak tentu arah juga berasal dari masa lalu Mama! Jadi, jangan menyalahkanku juga, Ma!"


Erika menatap nanar pada tangannya sendiri, tangan itu yang telah menampar pipi putranya sendiri tanpa bisa dikendalikan.


"Er.... maafkan Mama, Nak." Erika menyesal. Dia tahu hidup Erland selama ini buruk karena kesalahannya juga.


Wildan berlalu tanpa menggubris sang Mama, dia mandi dan membersihkan diri. Didalam kamar mandi, dia bercermin dan menatap pada pantulan dirinya sendiri.


"Baiklah, jika memang begini kenyataannya, aku akan tetap menunggu kamu, Brine. Entah bagaimanapun keadaanmu nanti." Wildan bertekad seraya mengusap-usap cermin didepannya.


______


Abrine dan Elrich menghabiskan hari terakhir di Indonesia dengan berkumpul bersama seluruh keluarga. Mereka tampak semringah, tak ada yang tahu bahwa tak ada cinta diantara keduanya. Mereka justru terlihat semakin kompak setelah menikah dan bias kebahagiaan diwajah mereka tidak dibuat-buat, mereka tampak benar-benar bahagia satu sama lain.

__ADS_1


Airish dan Rahelsa, kompak menitipkan bayi mereka pada Abrine dan Elrich. Mereka memang berniat mengerjai pasangan pengantin baru itu.


"Titip Gala, ya, Brine!" kata Rahelsa sambil meletakkan bayi gembul tujuh bulan itu dalam pangkuan Abrine sehingga Abrine pun tak bisa menolaknya.


Tak lama, Airish juga datang sambil memomong bayinya yang berusia satu bulan.


"Kakak ipar bule, tolong gendongin Key sebentar, ya." Airish melakukan hal sama, meletakkan bayi Lakeysha ke gendongan Elrich, membuat pria itu terbengong dan tak bisa berkata apa-apa.


Akhirnya Abrine dan El saling pandang satu sama lain kemudian terkekeh karena merasa telah dikerjai oleh saudara-saudara mereka.


Elrich yang menggendong Baby Key pun mendekat pada Abrine yang memangku Gala yang mulai aktif.


"Gimana, udah siap punya anak?" tanya Elrich membuat Abrine senyum-senyum sendiri dalam posisinya.


"Jagain aja dulu dua bayi ini yang bener, baru cerita punya anak sendiri." Akhirnya Abrine menyahut.


Elrich terkekeh. "Aku mau punya banyak anak. Kita ikut program, bagaimana menurutmu?" ajaknya.


"Kamu serius?" Abrine malah terkejut, dia tak menyangka El mau memiliki keturunan dengannya. Ternyata bukan dia saja yang berharap cepat hamil, tapi El juga.


Elrich mengangguk yakin. "Kau tahu kan, aku sangat menyukai anak kecil. Ku rasa aku pernah mengatakannya." El menjawab sambil menggoyangkan badan sebab Baby Key mulai menggeliat dari tidurnya di gendongan El.


"Iya, nanti aku akan memikirkan soal program itu," jawab Abrine.


"Sebenarnya tidak ikut program kehamilan pun tak masalah, yang penting kita rutin dan giat melakukannya." El tersenyum kecil diujung kalimatnya.


"Huh?" Mata Abrine membola.


"Kalau cuma satu kali, belum tentu bisa langsung sukses membuahi...." lanjut El lagi menyinggung Abrine karena mereka memang baru sekali melakukan hal itu.


"Bilang saja itu memang maumu!" gerutu Abrine. "Apa dia tidak tahu rasanya itu tidak nyaman," sambungnya sambil bergumam pada diri sendiri.


Elrich malah makin terkekeh. "Kita akan membuat posisi yang nyaman dan kau sukai, kau tinggal katakan saja padaku... aku akan menurutinya."


"Kau ini!" Abrine berlalu sambil meghentakkan kaki, tak lupa dia membawa Gala dalam gendongannya. Kepergiannya itu diiringi oleh tawa renyah El yang tak kunjung berhenti.


*******

__ADS_1


__ADS_2