PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
42. Video amatir


__ADS_3

Sementara itu, ditempat lain tepatnya di Rumah Sakit tempat El berdinas, semua orang memandangi pria itu dengan tatapan aneh sesaat setelah dia baru saja tiba. Kebanyakan dari mereka justru berbisik-bisik satu sama lain kemudian melempar senyum pada El, El semakin keheranan dengan tingkah orang-orang itu.


Bukan cuma pengunjung Rumah Sakit, bahkan para perawat dan beberapa dokter lainpun memandangnya dengan cara yang sama. El sebenarnya cukup risih, tapi dia berusaha mengabaikan itu.


Sampai pada akhirnya Xander datang ke dalam ruangannya.


"Kau jadi trending topik hari ini, El!" ucapnya sambil mengulumm senyum.


"Apa maksudmu?" El bertanya sembari memakai jas putihnya yang sebelumnya memang belum sempat dia kenakan.


"Coba kau lihat ini..." Xander menunjukkan ponselnya, disana sebuah video sedang berputar dimana menampilkan sosok El yang tengah memeluk Abrine sambil meminta maaf kepadanya dan tampak sangat romantis. Ya, itu adalah kejadian malam tadi di depan lobby Apartmennya.


"Astaga.... pantas saja," kata El menyadari jika semua orang yang memandanginya aneh hari ini pasti karena viralnya video amatir tersebut.


"Aku tidak tahu ada yang merekam kami dan memviralkan video ini," katanya kemudian.


Xander mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jelas saja tidak tahu, kau mana sadar apapun lagi jika kau terlalu asyik berpelukan begini," ujarnya mencibir pada kejadian yang ada dalam rekaman video itu.


Elrich tertawa pelan. "Sudahlah, aku ada jadwal operasi pagi ini," ujarnya.


"Lalu video ini, bagaimana?"


"Biarkan saja, itu bukan aib... biar saja keromantisan kami membuat orang lain iri." El tersenyum dengan wajah memerah.


"Bukan itu, apa kau tidak mau mengumumkan pernikahanmu? Semua rekan kita mengira jika gadis di rekaman ini adalah kekasihmu. Bukankah lebih baik mereka tahu yang sebenarnya jika Abrine adalah istrimu."


"Ah, soal itu aku akan membicarakannya dengan Abrine nanti. Pasti dia punya solusi yang baik mengenai hal ini."


Xander memicing pada El yang tampak lain dipandangannya. "Hei, El .... setelah ku perhatikan, tampaknya auramu berbeda hari ini," tuturnya sambil kembali memandangi wajah sang sahabat.


"Apa?" tanya El dengan tawa.


"Ku rasa kau sudah terinfeksi virus cinta. Ah, rasakan itu! Salahmu sendiri, kan? Jadi, tidak usah diobati!"


"Aku juga tidak berniat mengobatinya."


Mereka berdua pun terbahak bersama-sama.


Xander semakin yakin jika El dan Abrine telah terjebak dalam permainan dan kesepakatan mereka sendiri karena tak lama setelah obrolan absurdnya dengan El, Yemima juga menanyakan makanan yang disukai El karena Abrine ingin mengetahuinya.


Disaat El tengah sibuk dalam ruang operasi. Dilain tempat Abrine tengah bertikai dengan orang yang sempat menamparnya.


"Kau cari masalah denganku?" Abrine memberang. Kesal dan tidak menyangka seseorang itu berani menamparnya, padahal mereka tidak terlibat keributan sama sekali sebelumnya.

__ADS_1


"Ya, aku cari masalah denganmu!" jawab orang itu. Dia adalah Freya. "Kau mempermainkan banyak pria dengan tampangmu itu!"


Mendengar ucapan Freya membuat Abrine kembali emosi, dia mencakar wajah Freya dan menjambak rambutnya. "Apa katamu tadi?" tanyanya.


Freya tak mau kalah, dia ikut menarik rambut Abrine juga. "Kau membuat Raymond meninggalkan aku, setelah dia mengejarmu, kau malah berhubungan dengan pria lainnya. Apa itu namanya jika bukan mempermainkan pria?" Freya tersenyum sinis pada Abrine.


Kejadian itu, menarik perhatian banyak orang. Keduanya pun dipaksa keluar dari area supermarket oleh dua orang petugas security.


Mereka berdua diminta berdamai tapi Freya enggan melakukan itu, padahal Abrine sudah mengalah padanya dan mau berbicara secara baik-baik.


Karena Freya tidak mau diajak berkompromi, security itu meminta seseorang menjemput Freya untuk menjaminnya agar tidak ada keributan lagi diarea sekitar supermarket itu.


Sementara Abrine, dia tidak bisa menghubungi El karena El masih berada dalam ruang operasi pagi ini. Akhirnya Abrine menelepon Yemima untuk datang.


"Brine, are you oke?" Yemima tiba tak terlalu lama, dia tampak mengkhawatirkan Abrine. Yemima melirik sekilas pada Freya, dia hanya ingin memastikan kondisi wanita itu, dia takut Freya babak belur dibuat Abrine, syukurnya Freya tampak masih baik-baik saja.


"Aku tidak apa-apa, aku bisa menjaga diriku. Thanks, Mima."


Yemima tahu Abrine tengah meredam emosinya dalam-dalam saat ini, akhirnya dia menarik tangan Abrine setelah menjaminnya pada security itu. Entahlah apa yang terjadi pada Freya, karena belum ada yang menjemputnya sampai saat itu.


Mereka pun meninggalkan pos keamanan tersebut begitu saja.


"Apa yang terjadi, Brine?" tanya Yemima saat mereka sudah duduk didekat taman terdekat.


"Dia menamparku tiba-tiba, aku membalasnya."


Abrine mengangguk. "Tapi aku tidak mengerti kenapa dia mengatakan aku mempermainkan banyak pria," ujarnya.


"Hah?" Yemima terbengong.


"Katanya, setelah Ray mengejarku, aku justru berhubungan dengan pria lain. Apa mungkin pria yang dia maksud itu El, ya? Tapi, dia tahu darimana mengenai El?"


Yemima langsung menarik sebuah kesimpulan sekarang.


"Mungkin dia tahu karena video amatir yang tersebar."


"Video? Video apa?"


"Ini, aku juga baru melihatnya karena dikirimkan oleh Xander." Yemima menyerahkan ponselnya pada Abrine.


Abrine menatap video itu lekat-lekat dan mendapati sosoknya dan El yang ada direkaman video itu.


"Ku rasa Freya menyimpulkan sendiri tanpa mengetahui jika El sudah berstatus suamimu sekarang."

__ADS_1


Abrine memijat pelipisnya. "Sudahlah, biarkan saja dia mau berpikiran apa tentangku. Yang penting aku tidak pernah mengusiknya."


Yemima tercengang menatap Abrine. "Kau yakin membiarkannya saja?"


"Lalu aku harus apa? Melenyapkannya?" kekeh Abrine kemudian.


"Ya, paling tidak buat dia jera agar tidak sembarangan menyerangmu lebih dulu, Brine."


"Tidak semua perbuatan orang lain harus ku ladeni, itu hanya membuang waktuku saja. Biarkan saja dia hancur dengan sendirinya, masih ada hukum alam yang akan mengajarkannya nanti," jawab Abrine. Dia tahu jawaban itu terdengar naif, tapi dia juga tak mungkin menyalahkan Freya karena wanita itu bersikap demikian pasti karena keputusan Raymond yang membuatnya sakit hati.


"Bagaimana kalau sekarang kita ke Rumah sakit saja? Sudah hampir jam makan siang, suamiku pasti sudah lapar."


Yemima berdecih mendengar ucapan Abrine. "Cih, suami katamu," cibirnya dengan tawa.


"Memang benar, kan?" Abrine ikut terkekeh juga.


"Lalu, bagaimana rencana memasakmu?"


Abrine melihat arlojinya sendiri. "Tidak sempat lagi, aku akan mengajaknya makan diluar saja nanti."


Yemima mengangguk.


"Kau ikut tidak? Apa kau tidak mau bertemu kekasihmu?" ajak Abrine pada sang sahabat.


Di rumah sakit, rupanya El belum selesai dengan kegiatan operasinya. Saat Abrine dan Yemima tiba disana, mereka diminta menunggu. Akhirnya kedua wanita itu duduk didepan ruang operasi yang masih berlangsung dan dipimpin oleh Elrich.


Xander menghampiri keduanya.


"Sayang," sapa Xander pada Yemima dan mereka berciuman singkat didepan Abrine membuat Abrine membuang muka.


"Tunggulah sebentar, durasi operasinya mungkin akan usai sesaat lagi." Xander beralih pada Abrine karena dia tahu Abrine tengah menunggui El.


Abrine mengangguk. Dia jadi obat nyamuk diantara Xander dan Yemima yang tampak tidak peduli dengan keadaan sekitar, mereka memang tampak serasi dan sangat intens, kabarnya mereka juga akan menikah dalam waktu dekat ini.


Setelah beberapa saat, rupanya operasi didalam sana telah selesai. Beberapa perawat yang mendampingi proses operasi itu mulai keluar satu persatu. Tak lama, El juga keluar dari sana.


Matanya bersirobok dengan Abrine, dia tak menyangka istrinya ada disini karena dia pikir kondisi tubuh Abrine sedang tidak fit sebab kejadian semalam.


Abrine sendiri merasa dejavu saat melihat tampilan suaminya yang masih berbalut pakaian steril. Bukan, bukan pakaian itu yang membuat Abrine terpana, tapi seseorang yang menatapnya itu tengah mengenakan masker yang hanya menyisakan bagian matanya saja. Abrine tahu itu memang suaminya, tapi dia juga merasa familiar dengan hal ini.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dokter? Apa operasi ya lancar?" Tiba-tiba seorang wanita baya bertanya pada El, mungkin dia adalah keluarga dari pasien yang baru saja melakukan operasi. Hal itu pula yang memutus kontak mata El dengan Abrine.


Elrich membuka maskernya, lalu menjawab sang wanita. "Operasinya berjalan lancar, Bu."

__ADS_1


Selanjutnya El terlihat bicara pada keluarga pasien, sementara Abrine tampak berpikir keras mengenai suatu hal yang entah apa.


*******


__ADS_2