PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
72. Alasan meninggalkan


__ADS_3

Begitu tahu jika yang ada dihadapan adalah nenek dari suaminya, tubuh Abrine menegak seketika. Tapi, satu yang ada di kepala Abrine sekarang. Kenapa Theresia menemuinya bukan menemui Elrich?


"Nyonya, aku---"


"Panggil lah aku nenek."


"Tapi---"


"Begitulah yang seharusnya."


"I-iya, Nek...."


Abrine akhirnya menurut. Tapi dia bingung harus menyikapi hal ini seperti apa. Dia juga bingung harus bicara apa pada Theresia. Padahal ada banyak sekali pertanyaan dibenaknya, salah satunya adalah dimana Ibu kandung El sekarang dan bagaimana keadaannya?


"Abrine..."


Theresia memegang punggung tangan Abrine, senyumnya menyiratkan sesuatu. Abrine dapat merasakan jika wanita tua ini penuh kasih, tapi dia terlalu bingung harus bagaimana sekarang.


"Kau mungkin ingin tahu kenapa aku lebih dulu menemuimu dari pada El, cucuku sendiri."


Abrine tertegun. Ternyata Theresia cukup peka dengan pemikirannya.


"Selama ini aku ingin sekali menemui El, tapi keadaannya cukup sulit."


"Kenapa?"


"Karena aku terikat janji dengan anakku, Emily. Aku berjanji tidak akan menemui Elrich, cucuku. Tapi, aku tidak mungkin terus berpura-pura tidak melihatnya. Umurku sudah semakin tua. Aku ingin sekali saja bertemu dengan cucuku. Sepertinya aku akan melanggar janjiku pada Emily."


".... jadi, aku menemuimu hari ini karena aku hanya ingin kau tahu bahwa Elrich tetaplah cucuku. Aku menganggapnya. Dia adalah yang paling berhak atas semua hartaku," paparnya kemudian.


Theresia hanya memiliki satu anak kandung, Emily Langford--ibu kandung Elrich. Dia merasa umurnya sudah menua dan dia membutuhkan seorang yang mampu menggantikannya.


Hanya Elrich satu-satunya harapan bagi seorang Theresia, tapi karena tak ingin melanggar janji pada Emily, selama ini dia berusaha menahan diri walau sebenarnya dia memantau pertumbuhan El dari kejauhan.


"Lalu, dimana ibu kandung El sekarang?"


"Emily.... dia, dia sudah tiada." Theresia menghapus air matanya sekilas. Matanya berkaca-kaca, raut kesedihan terpantul jelas disana.


Abrine sendiri begitu terkejut dengan hal ini, dia tidak menyangka ternyata Elrich tidak ditakdirkan untuk bertemu dengan ibu kandungnya walau hanya sekali pun.


"Itulah, aku ingin lebih dulu bertemu denganmu dibandingkan El. Aku takut dia tidak siap menerima kenyataan ini. Aku mau kau menenangkannya lebih dulu sebelum bertemu denganku."


Abrine mengembuskan nafas berat. "Boleh aku tahu kenapa dulu Nyonya Emily meninggalkan Elrich begitu saja?"


"Alasan pertama karena Emily ingin El terlahir dengan kekuatan hukum yang jelas. Dan pernikahan yang resmi secara hukum adalah pernikahan Edgar dengan Naina. Sementara dengan Emily, walau itu lebih dulu dilaksanakan tapi pernikahannya belum tercatat secara hukum."


Abrine mengangguk paham. "Apa ada alasan lain?" tanyanya.


"Apa kau tahu Elrich terlahir dengan kelainan jantung?"


"A-apa?" Abrine tercekat. Dia tidak mengetahui hal ini. El juga tidak pernah menceritakannya. Pikirannya sudah kemana-mana sekarang.

__ADS_1


"Emily sakit-sakitan sejak meninggalkan Elrich. Dia menyesal dan merasa bersalah. Tapi dia tahu itu yang terbaik untuk Elrich pada saat itu. Dia mau El hidup normal dengan memiliki kekuatan hukum dari pernikahan Edgar dan Naina. Dia juga pergi agar Edgar bisa melupakannya dan menerima Naina."


".... tapi, sejak tahu jika El mengalami kelainan, Emily bertekad suatu saat nanti dia yang akan mendonorkan jantung untuk putranya."


"Ja--jadi?"


"Begitulah, El pernah menjalani transplantasi jantung dari Emily. Tapi dia tidak tahu jika pendonor itu adalah ibunya sendiri."


***


"El?" Abrine memeluk tubuh suaminya dari belakang. Menghirup aroma itu dalam-dalam. Sejak hamil dia memang sangat menyukai jika berada dekat dengan sang suami.


"Hmm? Kenapa?"


"Bisakah kita bicara sebentar?"


Elrich tersenyum diposisinya. "Sebentar? Aku punya waktu selamanya bersamamu, sayang." El memutar tubuh dan memeluk istrinya dengan sikap posesif.


"Tapi ini hal serius."


"Hal serius apa? Kau mengidam? Ingin makan yang aneh-aneh?"


"Tidak, saat ini belum." Abrine menyengir demi mencairkan suasana.


"Hal apa yang ingin kau bicarakan?"


Abrine menarik El ke sisi ranjang dan mengurut lengan El perlahan.


"Kau ingin sesuatu?" tebak El.


"Iya," jawab sang istri.


"Apa?"


"Aku mau bicara, tapi jangan potong ucapanku sebelum aku selesai berbicara."


"Hanya itu? Baiklah," kata El menyetujui.


"Ehm... aku mendapat klien baru. Dia menanam saham yang cukup besar ke perusahaanku dan aku menerimanya."


"Lalu? Masalahnya dimana? Apa dia seorang pria genit dan kau menyesal sudah membuat kerja sama dengannya?"


"Bukan itu. Dengarkan aku dulu, jangan menyela pembicaraanku, El."


"Ah iya, maaf. Lanjutkan ceritamu."


"Klienku itu.... namanya, ehm... Theresia Langford." Abrine menggigit ujung bibirnya, wajahnya tampak ragu menunggu bagaimana reaksi El atas hal ini.


Rupanya El tampak biasa saja. Mungkin belum memahami apa makna dibalik nama itu karena nama belakang yang sama cukup banyak disana.


"Theresia Langford pemilik Heaven Company rupanya adalah nenekmu, El."

__ADS_1


Elrich menunduk, kemudian membuang pandangan kearah lain. Entah apa yang ada dibenak pria itu sekarang. Abrine tak bisa menebak dan menyimpulkannya.


Cukup lama hening dalam keadaan absurd. Akhirnya El buka suara juga.


"Darimana kau tahu dia adalah nenekku? Apa dia yang mengatakannya padamu?"


Abrine mengangguk.


"Berarti dia mengetahui jika kau adalah istriku?"


"Ya, dia tau."


"Lalu, selain menanam saham ditempatmu. Untuk apa lagi dia menemuimu?"


Elrich terlalu tenang dalam berujar, sehingga Abrine tak bisa menebak apa yang sebenarnya El rasakan. Apakah kecewa, marah atau justru memang biasa saja.


"Tentu dia ingin memberitahuku mengenai statusnya. Dia adalah nenekmu, ibu dari Mama Emily."


"Jika dia berkata padamu bahwa dia ingin menemuiku, maka lupakan itu, karena aku tidak akan mau menemuinya."


"Kenapa?" lirih Abrine.


"Tak ada alasan. Aku hanya tidak mau."


Usai mengatakan itu El berlalu keluar dari dalam kamar.


Abrine tahu sekarang, El bukan marah, tapi ada rasa kecewa dalam dirinya. Kenapa setelah sekian lama baru sekarang Theresia mau menemuinya? Pasti begitu pemikiran Elrich setelah mengetahui Theresia menemui Abrine dibelakangnya.


Abrine mengejar langkah Elrich. Dia menangkap lengan sang suami.


"El, aku sudah mendengar semua penjelasannya. Ada baiknya kau mendengar juga secara langsung dari nenek."


"Nenek? Nenek siapa? Aku tidak memilikinya! Setidaknya itu yang ku tahu selama hampir 30 tahun hidupku!"


"El, kau harus mendengar semuanya."


"Sudahlah, Brine. Aku tidak mau bertengkar denganmu hanya karena orang asing!"


"El?" Abrine menatap sang suami dengan raut kecewa.


"Sejak wanita yang melahirkan ku meninggalkan aku, maka sejak saat itu juga dia tidak menganggapku ada. Apa aku harus menganggapnya sekarang?"


Abrine menggeleng. "Jangan salahkan ibumu, El.... hal ini sudah pernah kita bahas, semuanya pasti ada alasan. Setiap sebuah keputusan yang telah diambil, itu pasti ada alasannya!" tegas Abrine.


"Sudahlah," kata El berlalu pergi. Pria itu keluar dari apartmen begitu saja.


Abrine melengu-h panjang. Bagaimana dia bisa melembutkan hati Elrich. Dia paham kenapa sikap El jadi sekeras ini. Dia tak ingin memaksa tapi walau bagaimanapun El harus tahu kenyataannya.


Apalagi mengenai pendonoran jantung. El juga harus tahu jika Emily telah tiada.


"Apakah kau juga akan merasa bersalah, jika tahu kenyataannya, El?" gumam Abrine pada dirinya sendiri.

__ADS_1


*****


__ADS_2