PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
69. Mau menebus dosa?


__ADS_3

Abrine masih memikirkan kenyataan yang siang tadi sempat dia ketahui dari Kristy. Jadi, Galvin dan Claire pernah menjalin hubungan. Itu artinya saat El masih berpacaran dengan Pevita, Claire dan Galvin juga masih bersama pada saat itu.


"Sayang?"


Suara El yang baru tiba di rumah mengagetkan Abrine. Dia menoleh dan mendapati El yang tersenyum simpul kepadanya. Hatinya menghangat tapi kepalanya terlalu banyak berpikir hari ini.


"Kau baik-baik saja?" tanya El yang aneh melihat istrinya tampak diam.


"Hmm.... siang tadi aku bertemu Kristy."


"Lalu?"


"Dia mengatakan tentang hubungan Galvin dan Claire. Rupanya mereka pernah memiliki hubungan yang cukup lama."


El diam tak menyahut ujaran Abrine.


"Kenapa kau tidak memberitahuku soal ini, El?"


"Maaf, ini terlalu rumit untuk kau pikirkan. Jadi aku---"


"Apa lagi? Apa lagi yang aku tidak tahu, El? Bukankah ketidaktahuanku justru membuatku berada dalam bahaya. Kau mau aku berada dalam situasi seperti itu terus?" Abrine menatap El marah.


El menghela nafas panjang. Dia hanya tak mau semua masalahnya menjadi beban pikiran sang istri. Termasuk perasaan Claire padanya selama ini.


Dia ingin pikiran Abrine tenang, tidak seperti pikirannya yang seperti benang kusut sejak mengetahui jika Claire sudah mengharapkannya sejak lama, bahkan telah melakukan banyak hal buruk hanya karena obsesi gila itu.


"Seharusnya sejak awal aku tahu, El. Jadi aku bisa mawas diri dari wanita bernama Claire."


"Intuisimu bekerja lebih baik dari aku, sayang. Justru kau yang memberitahuku untuk berhati-hati padanya, kan?"


"Ya, maka dari itu kau pun harus terbuka padaku, El!"


Elrich terdiam. Dia tahu letak kesalahannya. Bukan dia tidak percaya pada Abrine, tapi dia hanya tak mau Abrine kepikiran dan jatuh terlibat. Padahal setelah dia sadari, Abrine pasti sudah terlibat sejak dia resmi menjadi istrinya. Buktinya, Claire telah menjadikan Abrine sebagai salah satu target untuk disakiti.


"Maafkan aku, aku merasa telah membawa masalah besar kepadamu."


"El?" Abrine sampai sulit berkata-kata. Dia kesal tapi El tampak sangat menyesali hal ini.


"Maaf, karena masa laluku justru membuatmu berada dalam situasi sulit."


Abrine diam, dia berlalu menuju kamar mereka, meninggalkan El yang termenung dengan berbagai pemikiran mengenai tanggapan istrinya itu.


"Kristy ada cerita apa lagi?" El bertanya sembari membuka satu persatu kancing kemeja yang dia kenakan.


Abrine sudah meringkuk diatas tempat tidur tanpa memedulikan El lagi.


"Sayang? Kenapa tidak menjawab ku? Aku sedang bertanya padamu."


"Entahlah. Menurutmu apa lagi yang Kristy katakan padaku?" Abrine malah balik bertanya sambil bersungut-sungut kesal.


"Apa dia juga mengatakan kalau Galvin adalah pria yang menghamili Pevita?"


Mendengar itu, seketika Abrine bangkit dari posisinya. Dia menegakkan tubuh dan menatap sang suami dengan tatapan menyelidik. "Kau bercanda, kan?" tanyanya.

__ADS_1


"Oh, jadi Kristy tidak menceritakan hal itu."


Abrine menggeleng kebingungan. "Apa kau tidak mau menceritakannya juga padaku?"


"Ya, begitu...." El sebenarnya malas membahas ini tapi karena istrinya ingin tahu segala hal, ada baiknya dia memang memberitahu Abrine apapun. Ya, apapun.


"Claire memanfaatkan Galvin. Karena Galvin sangat mencintainya jadi dia menuruti kemauan Claire untuk menghamili Pevita."


"Tunggu .... tunggu, ini terlalu janggal. Bukankah Claire itu kakaknya Pevita? Untuk apa dia melakukannya?"


Elrich mendekati Abrine dan duduk disisinya. "Satu yang harus kau ingat, Claire itu tidak waras. Ah, menceritakan ya saja membuatku kesal...."


"Ceritakan, ayo!" desak Abrine sembari mengguncang pundak suaminya.


"Iya-iya. Jadi, waktu itu Claire mau Pevita hamil dengan orang lain, agar aku meninggalkan Pevita yang sudah mengkhianatiku."


".... Pevita mencintai Galvin sejak remaja. Aku hanya persinggahan untuk dia," tambah El dengan ekspresi biasa saja.


"Kau tidak sakit hati karena hal itu?" tanya Abrine hari-hati, dia ingin membaca raut wajah El tapi El hanya mengendikkan bahu tak acuh.


"El, aku serius. Apa kau tidak sakit hati karena Pevita mengkhianatimu waktu itu?"


"Ya, kala itu aku sakit hati, Brine. Tapi sejak awal aku sudah tahu kan kalau Pevita hamil dengan orang lain. Yang ku kecewakan adalah ternyata dia tidak pernah mencintaiku. Sudahlah, aku malas membahasnya."


Abrine terdiam, beribu pertanyaan berkelebat dibenaknya. Salah satunya adalah bagaimana perasaan El sekarang yang telah mengetahui jika pria yang menghamili Pevita adalah Galvin?


"El?"


"Kenapa Claire ingin kau dan Pevita berpisah? Bahkan dia merelakan kekasih dan adiknya begitu saja?"


"Menurutmu?" El beranjak menuju letak kamar mandi.


Saat Abrine menemukan jawaban terkait hal itu, suaminya sudah terlanjur berada didalam kamar mandi.


"El!!!" seru Abrine sambil mengetuk pintu kamar mandi agar suaminya dapat mendengarkannya.


"Apa Claire melakukan itu karenamu?"


Tak ada sahutan dan El didalam sana. Hanya terdengar gemericik air dari shower yang menyala. Bahkan Abrine sampai menempelkan telinga demi mendengar jawaban dari mulut suaminya.


"El? Jawab aku! Aku tahu kau mendengarku, El!"


"Hmmm..."


"Apa Claire menginginkanmu dan terobsesi padamu?" pekik Abrine disertai rasa kesal yang menjadi-jadi.


"Tidak usah membahasnya!" sahut El enteng.


Tapi, jawaban El membuat Abrine tiba pada sebuah kesimpulan. Seharusnya dia sudah bisa menebak jika Claire menyukai El sejak malam itu Claire mencium El begitu saja tanpa terlihat menyesalinya.


Abrine pikir selama ini sikap menjengkelkan Claire adalah karena dendam pada El terkait kematian pevita, rupanya bukan itu. Rupanya wanita itu ada maksud yang lain.


"Kau menyembunyikan hal ini dariku, El? Awas saja kau!" batin Abrine geram pada suaminya sendiri.

__ADS_1


*****


Sejak tadi Abrine banyak diam. Elrich tahu istrinya masih marah karena dia menyembunyikan soal perasaan Claire terhadapnya.


"Aku juga baru tahu dia menyukaiku sejak lama. Aku tidak bermaksud merahasiakannya darimu."


Abrine tidak menggubris El, dia malah 'menye-menye' menirukan gaya bicara suaminya. El terkekeh pelan. Dia justru menyukai jika Abrine bertingkah seperti ini.


"Oh iya, bagaimana? Kau sudah testpack?"


Abrine baru ingat jika dia belum membuka kantong belanjaannya sama sekali. Sepulang dari apotek tadi, dia terlalu asyik bercerita dengan Kristy. Dia sudah mengatakan, bukan? Jika mereka bertemu sering sekali lupa waktu dan lupa dunia. Abrine jadi tak ingat mengecek urine-nya dengan testpack yang tadi dia beli.


"Belum."


"Ya, sudah. Cobalah besok pagi. Itu akan lebih akurat."


Abrine mengangguk. Dia tetap tak banyak bicara, sekarang pikirannya justru kembali mengingat soal kehamilan. Bagaimana jika El menebus kesalahan pada Pevita lewat kehamilannya nanti? Dia tak mau disamakan dengan wanita itu. Dia tak mau dianggap sebagai Pevita jika nanti dia hamil.


"Sayang, kau memikirkan apa lagi? Apa masih marah soal yang tadi?"


"Bukan, bukan soal itu."


"Jadi?"


"El, bagaimana perasaanmu setelah tahu Pevita mencintai Galvin dan menghianatimu?"


Elrich menggeleng samar. Menghadapi wanita memang harus punya kesabaran ekstra, baru saja Abrine berkata tidak memikirkan hal itu lagi, tapi sekarang wanita ini justru bertanya hal yang terkait dengan pembahasan yang sama.


"Aku bersyukur karena mengetahui itu sekarang. Sekarang aku punya kau jadi aku merasa biasa-biasa saja."


"Tidak sakit hati?"


"Tidak. Hanya rasa... ehm... cukup untuk sekedar tahu saja."


"Kalau perasaanmu setelah tahu Claire terobsesi padamu, bagaimana?"


"Haha, kalau itu awalnya aku merasa terkejut."


"Ya, ya, pasti kau merasa sok tampan seketika." Abrine memutar bola matanya, kesal.


Elrich terkekeh. "Tidak, bukan, aku justru merasa menyesal jika ketampananku ini membuat banyak orang tersakiti."


"Hah? Ternyata anda sangat percaya diri sekali, dokter!"


Elrich terbahak mendengar ujaran istrinya. Padahal dia benar-benar menyesali jika karena dirinya Claire tega melakukan hal-hal diluar nalar yang berimbas pada kerugian bagi orang lain.


"Tapi, El.... kali ini serius. Aku mau kau menjawabnya dengan serius."


"Apa?"


"Apa kau masih mencintai Pevita? Apa kau pernah berniat untuk menebus rasa bersalahmu padanya setelah dia meninggal?"


*****

__ADS_1


__ADS_2