
Sementara itu di Indonesia, Abrine menghabiskan waktu dengan memantau pekerjaannya lewat laporan yang dikirimkan Anne melalui email. Terkadang dia terlibat zoom meeting, tidak ada hari yang tidak sibuk bagi Abrine. Hal itu membuatnya sedikit lupa dengan patah hatinya terhadap Raymond, meski pria itu terus mencoba menghubunginya sampai hari ini. Mungkin juga Raymond sedang sibuk mencari keberadaannya di kantor atau Apartmennya yang ada di Jerman, karena saat terbang ke Indonesia bersama Elrich, Abrine memang tidak berpamitan pada sahabatnya itu.
"Non, ada tamu yang cari...."
Ucapan Bi Yana membuat Abrine menoleh.
"Siapa, Bi?"
"Enggak tahu, katanya temen Non Abrine. Cowok, cakep." Bi Yana mengacungkan jempol membuat Abrine tertawa sekilas kemudian bangkit dari posisinya.
"Ya udah, aku temuin dulu ya, Bi."
"Jangan tergoda ya, Non. Ingat udah mau menikah," kelakar Bi Yana sambil berlalu menuju dapur.
Abrine hanya menggeleng-gelengkan kepalanya disertai senyum jenaka karena godaan sang ART.
Sambil berjalan pelan, Abrine menghampiri teras, dia bersiul-siul riang namun raut wajahnya seketika pias saat menyadari tamu yang berkunjung hari ini ke kediaman orangtuanya di Indonesia.
"Brine? Kau sehat?"
Abrine membuang pandangan, tapi kemudian dia menyahut ucapan pria yang berdiri didepannya.
"Untuk apa kau datang kesini, Ray?"
"Hargai kedatanganku, aku hanya ingin mencegahmu menikah. Aku mau kau berpikir lagi tentang hal itu."
Abrine menghela nafas berat, Raymond sampai rela datang jauh demi menemuinya. Dia menghargai kedatangan Raymond, tapi dia tidak bisa membatalkan lagi pernikahannya karena semua pihak keluarga sudah mengetahui hal itu.
"Percuma, Ray. Aku dan El akan tetap menikah. Lagipula semua keluarga kami juga sudah menyetujuinya."
"Dengar aku, kau belum mengenalnya, Brine!" lirih Raymond.
"Kami akan saling mengenal nanti," ujar Abrine enteng. Dia melipat tangan di dada dan memandang Raymond yang terlihat putus asa.
"Kau tidak tahu dia baik atau tidak untuk mendampingimu."
Abrine tersenyum miris mendengar ucapan Raymond. "Lalu? Siapa yang kau rasa baik untuk mendampingiku? Jangan katakan itu kau!"
"Abrine!" Raymond tak menyangka Abrine akan berkata keras seperti ini dalam menyinggungnya, namun diapun tahu letak kesalahannya yang sangat payah. Jangankan Abrine, dia pun jengkel pada dirinya sendiri.
"Sudahlah, ku rasa lebih baik kau pergi!" Abrine mendadak mengingat lagi rasa sakit hatinya. Entahlah, melihat Raymond memelas kepadanya seperti saat ini, justru membuatnya semakin bertekad untuk segera menikah dengan Elrich agar terhindar dari Raymond.
"Brine...."
Abrine menoleh saat seseorang memanggil namanya, karena sibuk berdebat dengan Raymond dia sampai tak menyadari kehadiran orang lain diantara mereka. Dia pikir itu Aarav ternyata itu adalah Wildan yang juga berkunjung ke kediaman orangtuanya.
Abrine dan Raymond sama-sama menatap Wildan sekarang. Pria itu menggunakan pakaian casual yang terkesan santai.
__ADS_1
"Wil? Kamu kesini?" Abrine menyambut Wildan dengan seulas senyum. Bukan karena dia masih memiliki rasa pada pria itu, tapi sekarang dia mau realistis, bagaimanapun Wildan akan menjadi iparnya nanti.
"Ya, aku mau mengajakmu hangout, apa kamu punya waktu?" Wildan berujar sambil sesekali melirik pada Raymond-- yang tidak dia ketahui siapa pria itu.
Abrine berpikir sejenak, daripada dia meladeni Raymond yang selalu membuatnya sakit hati, lebih baik dia menghindar dengan ikut bersama Wildan. Toh, Wildan terlihat sudah bisa menguasai diri, tak lagi syok seperti pertemuan mereka beberapa waktu lalu saat Abrine menyatakan akan menikah dengan Elrich. Pria itu sepertinya sudah lapang dada dengan keputusan Abrine dan Abrine merasa lebih nyaman bersamanya, daripada terus bersama Raymond yang selalu menuntutnya membatalkan pernikahan dengan Elrich.
"Siapa dia, Brine?" Raymond menyela ditengah-tengah percakapan Abrine dengan Wildan.
"Dia... dia adiknya Elrich. Dia calon adik iparku," jawab Abrine realistis.
Mendengar itu, Raymond kembali dikuasai rasa sakit.
Begitu pula dengan Wildan, sebenarnya dia pun merasa jengah dengan kenyataan yang tiba-tiba menghampiri. Apalagi jawaban Abrine barusan membuatnya memejam barang sejenak. Tapi, dia bisa apa sekarang?
"Wil, tunggu sebentar, aku akan berganti pakaian. Gak apa-apa, kan?"
Wildan mengangguk dengan seulas senyum manisnya.
Seperginya Abrine, Raymond dan Wildan saling bertatapan satu sama lain tapi tetap memilih diam tanpa suara, seolah mereka saling berpikir dengan pikiran mereka masing-masing.
"Jadi, kau adalah adik dari calon suami Abrine?" Raymond tak berniat bertanay, dia hanya bergumam dengan bahasanya sendiri. Tak munafik, dia pun ingin tahu sesuatu mengenai pria yang akan menikahi Abrine.
"Bisa dibilang begitu," jawab Wildan, membuat Raymond menoleh pada dirinya karena tak menyangka jika Wildan akan menjawabnya.
"Kau tidak mirip dengannya," Raymond tersenyum miring. Walau hanya sekali bertemu dengan Elrich waktu itu, dia bisa menilai perbedaan wajah kedua pria ini. Wildan lebih berperawakan Asia, sementara Elrich sangat dominan kebarat-baratan dengan khas mata hazel dan rambut cokelatnya.
"Kau sendiri, siapa?" tanya Wildan akhirnya.
"Aku orang yang paling peduli pada kebahagiaan Abrine."
"Woho, benarkah?" Wildan mengetuk-ngetuk jari didagunya sendiri sambil memperhatikan Raymond dengan teliti. "Biar aku tebak, kau datang dari Jerman untuk membatalkan pernikahan mereka, iya?"
Raymond mengendikkan bahu. "Aku masih berharap Abrine berubah pikiran, dia tidak mengenal calon suaminya. Dia tidak tahu siapa sebenarnya kakakmu itu! Aku hanya tak mau dia menikahi seorang yang salah," katanya terus-terang. Sebejat-bejatnya dia, dia masih memiliki rasa cinta untuk Abrine. Sedangkan Elrich? Tidak ada yang tahu apa motif pria itu hingga mau menikahi Abrine secepat ini.
Wildan menarik sudut bibirnya. Dia tertarik ingin tahu lebih lanjut, tentu bukan tentang hubungan Raymond dan Abrine, melainkan apa yang sebenarnya terjadi sehingga Abrine dan Elrich memutuskan untuk menikah.
Saat Wildan ingin menanyakan pada Raymond sebab mengira Raymond tahu banyak tentang hubungan Abrine dan El, rupanya gadis yang mereka bicarakan sudah keluar dari dalam rumah dengan penampilan yang lebih rapi tapi terkesan santai. Abrine mengenakan celana 7/8 yang menampilkan sebagian betis putihnya, kaos ringan dan sebuah topi hitam nampak bertengger dikepalanya.
"Ayo, Wil.... kita tidak boleh membuang waktu terlalu lama." Abrine berkata demikian untuk segera terlepas dari obrolan bersama Raymond.
"Lalu, bagaimana dengan dia?" Wildan merujuk pada Raymond yang diam memperhatikan.
"Ray, pulanglah. Aku tidak akan merubah keputusanku. Bye, Friend...." kata Abrine menekankan kata terakhirnya, membuat Wildan tersenyum miris kearah Raymond.
Raymond mengangguk lemah, tidak ada gunanya dia tetap disini karena Abrine memang sengaja menghindarinya. Ada kalanya nanti mereka dapat bicara empat mata dalam suasana yang lebih baik.
*******
__ADS_1
Wildan berkunjung dan berani mengajak Abrine jalan bersama karena dia sudah tahu jika Elrich tidak lagi berada di Indonesia. Dia memang tidak bisa berbuat apa-apa jika ada Elrich. Dia berusaha menerima didepan Abrine soal keputusan gadis itu menikahi El. Tapi, sejujurnya dia mau membuat Abrine berubah pikiran. Tentu saja karena dia masih memiliki rasa yang teramat besar pada Abrine. Harapan untuk bersama, tidak mungkin kandas hanya karena seorang Elrich.
Satu yang Wildan hargai disini, dia tak pernah menganggap El sebagai musuh atau semacamnya. Tapi, untuk Abrine, dia akan memperjuangkan sebab dia merasa Abrine memang sudah seharusnya bersamanya. Sejak awal, Abrine adalah miliknya.
"Kita mau kemana, Wil?"
"Kamu mau ikut denganku karena menghindari pria tadi, kan?" tebak Wildan sambil menipiskan bibir.
Abrine terkekeh. "Begitulah, akhir-akhir ini aku merasa tidak nyaman dengannya."
"Tentu saja, kamu pasti lebih nyaman bersama Kak Elrich," katanya berseloroh menekan rasa sakit dihati atas ucapannya sendiri.
Wildan merasa, dia tidak boleh gegabah dalam mengambil jalan, dia tidak mau memaksa dan mendesak Abrine seperti yang dilakukan Raymond. Dia ingin semuanya perlahan dengan sikapnya yang biasa saja dihadapan gadis ini.
"Apa El ada menghubungi kamu? Dia sudah kembali ke Jerman."
"Gak ada, kami udah lama gak komunikasi."
"Soal itu... kenapa?"
"Masalah keluarga. Jika Kak Elrich gak mau cerita ke kamu, berarti aku pun gak berhak ceritain ke kamu, Brine!"
Abrine mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tak mau memaksa soal ini. Mungkin nanti waktu yang akan membuatnya tahu dengan sendirinya, ataupun Elrich bersedia bercerita padanya mengenai keluarga mereka.
Sebenarnya, Wildan punya jalan pintas untuk membuat Abrine mengurungkan niat soal pernikahan itu, sebab kartu as Elrich ada padanya. Tapi, dia tidak mau melakukan jalan itu. Dia mau mengambil hati Abrine lebih dulu, hingga gadis itu lebih memilihnya tanpa dia harus menusuk Elrich dari belakang dengan membuka rahasia El didepan Abrine.
Walau bagaimanapun, hubungannya dengan Elrich tidak pernah buruk selama ini, meski mereka tak pernah berkomunikasi lagi sejak 12 tahun yang lalu.
"Elrich itu seperti apa, sih?"
Sebenarnya, Wildan malas sekali meladeni pertanyaan Abrine seputar Elrich, dia mau membahas mengenai mereka berdua saja. Tapi, demi memenangkan hati Abrine dia harus lebih bersabar lagi.
"Kan, kalian jalin hubungan, harusnya kamu lebih tau Kak Elrich itu gimana," jawab Wildan sekenanya.
Abrine malu sendiri dengan jawaban Wildan. Ada benarnya juga, seharusnya dia lebih tahu, kan? Tapi, kenapa pula Abrine ingin tahu mengenai El sampai bertanya pada Wildan seperti ini? Pertanyaannya tadi pun keluar begitu saja seolah dia memang ingin tahu mengenai Elrich yang sesungguhnya. Duh, ada apa dengan dia??
"Ya, maksud aku... dia gimana didepan kamu?" ralat Abrine.
"Kak Elrich, dia.... baik."
Abrine terkesiap saat merasakan vibrasi ponsel dari dalam tasnya. Dia melihat itu adalah panggilan video dari Elrich.
"Siapa?" tanya Wildan.
"El, dia video call nih, aku angkat ya? Sekalian aku bilang kalau kita mau hangout."
"Eh?" Wildan mulai kebingungan.
__ADS_1
*******