PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
90. Kabar kematian


__ADS_3

Ditengah malam yang dingin, disertai hujan yang cukup deras. Claire meringkuk sambil ketakutan. Dia masih berada di rumah tua didekat hutan.


Mungkin tempat ini aman untuk misi pelariannya yang seorang buron. Tapi tempat ini justru semakin membuatnya merasa sepi dan sendiri. Mengikis rasa berani yang ada dalam dirinya.


Disaat seperti itu, dia justru tak ingin terlelap.


Saat dia terjaga, yang dia lihat didepannya hanyalah kegelapan.


Beberapa kali dia tak sengaja terlelap karena lelah dan mengantuk, tapi hal itu justru membuatnya bermimpi buruk.


Bayangan-bayangan kejahatannya, terus saja berputar didalam mimpi dan menghantuinya. Bayangan itu seperti kilasan film dokumenter yang terus membuat kewarasannya menipis dan sama sekali tak berfungsi.


Bahkan dalam tidurpun dia tak mendapat ketenangan. Itulah yang menyebabkannya tak ingin terlelap tadinya.


Senyuman El juga menghantuinya. Bukan sebuah senyum manis seperti yang biasa dia lihat didunia nyata. Tapi, senyum pria itu terlihat seperti senyum penuh kebencian.


Saat Claire kembali tersadar dari tidurnya, dia tersentak kaget karena petir yang menggelegar. Cahaya kilat menyambar-nyambar. Meski kilatannya bisa memberikan efek cahaya untuknya didalam rumah tua, tapi tetap saja hal itu membuatnya ketakutan.


Tak berselang lama, Claire justru merasa takut pada dirinya sendiri. Entah kenapa.


Claire berdiri, terkejut karena secara tiba-tiba dia melihat ada sesosok yang datang menghampirinya.


Sosok itu menyeringai kearahnya. Claire sadar bahwa yang dia lihat saat ini adalah bayangan dirinya sendiri.


Entah nyata atau alam bawah sadarnya yang menstimulasinya untuk mundur, Claire menurut dan benar-benar mundur secara perlahan. Sementara, sosok yang menyerupainya--- tanpa ada perbedaan itu--- semakin melangkah maju mendekat kepadanya.


Claire ketakutan. Meski sosok itu mirip dia tapi dia merasa sangat takut. Tak salah lagi, dia merasa takut pada dirinya sendiri.


"Mau apa, kau?" Claire bersuara. Kegilaannya mulai menjadi. Entah kenapa dia justru bisa melihat sosok yang menyerupainya ini dengan sangat jelas. Padahal disana ruangan dalam kondisi gelap gulita.


"Claire, kau adalah pembunuh!" ujar sosok yang serupa dengan dia.


"Tidak, tidak, aku tak sengaja." Claire mencengkram kepalanya sendiri, dia menggeleng keras sambil menyangkal tuduhan yang didengarnya.


"Kau pembunuh!"


"Tidak!" sanggahnya lagi.


"Kenapa kau tidak mati saja?"


"Tidak, aku masih ingin hidup!"


"Matilah kau, Claire! Kau layak mendapatkan itu."


"Tidak.... tidak...." Claire menangis ketakutan. Dia semakin berjalan mundur karena dalam penglihatannya, sosok yang mirip dengannya itu-- semakin maju menghampirinya dan dia jadi kalut sendiri.


"Jangan mendekat! Mau apa kau?" senggak Claire sambil memasang gelagat was-was.

__ADS_1


"Aku akan membunuhmu! Sebelum kau membunuh orang lain lagi."


"Tidak, aku tidak membunuh siapapun!"


"Kau tega sekali, Claire! Bahkan pria yang kau cintai sudah terbunuh. Apa kau tak mau menyusulnya?"


"Benarkah? Apa Elrich sudah tewas?" Sekarang Claire melirih.


"Ya, maka dari itu susul lah dia!"


Saat Claire mendengar itu, langkah kakinya yang mundur rupanya sudah tak memiliki pijakan. Dia terpeleset sekaligus terjatuh disaat yang sama.


Claire terjerembab ke lantai dasar bangunan tua itu, hingga mengeluarkan suara yang cukup kuat karena bobot tubuhnya baru saja menimpa tanah yang lembab dan basah disana. Kepalanya mengeluarkan darah. Begitupula dari telinganya.


Menjelang kematiannya, Claire melihat sosok yang mirip dengannya tertawa terpingkal-pingkal. Tubuh Claire menggelepar, seperti ikan yang dinaikkan ke darat tanpa diberi air sama sekali. Disaat itu dia merasa sulit bernafas. Tenggorokannya terasa dicekik dengan sangat kuat. Andai dia bisa menjerit pasti suara jeritannya sudah memecah kesunyian hutan dan mengalahkan suara deraian hujan.


Akhirnya, Claire pun tewas mengenaskan dengan kedua mata yang terbuka.


*****


"Claire tewas. Dia ditemukan meninggal di hutan dekat rumah tua yang ada disana."


Ucapan Kristy membuat Abrine tertegun. Pasalnya berita itu memang tak sengaja dia dengar pagi tadi lewat saluran televisi. Sebelumnya, Abrine tak menyangka jika jasad yang ditemukan adalah Claire, tapi ucapan Kristy yang menjenguknya siang ini telah menjadi sebuah jawaban.


Jasad yang ditemukan di hutan oleh pencari jamur sudah di autopsi dan benar saja dia adalah Claire. Dugaan sementara wanita itu jatuh terpleset dari lantai 2 gedung tua tersebut. Pun dikarenakan tak ada tanda-tanda kekerasan lain ditubuhnya.


Kristy mengendikkan bahu acuh tak acuh. "Ya, atau mungkin dia sengaja bunuh diri," ujarnya.


"Sebenarnya memang tidak ada gunanya dia hidup lagi," sahut Galvin menimpali. Ucapannya terdengar sangat sampai hati dan blak-blakan.


"Kau tidak ke rumah duka, sayang?" tanya Kristy, lebih terdengar meledek kekasihnya.


"Aku tidak berminat." Galvin berdecak diujung kalimatnya.


"Siapa tahu kau mau memberikan penghormatan terakhir untuk---"


"Dia tidak layak dihormati," potong Galvin secepat kilat membuat Kristy ternganga.


"Dulu kau mencintainya. Pergilah!" kata Kristy yang kini lebih terdengar manusiawi daripada yang sebelumnya.


Galvin menggeleng. "Sekalipun aku sudah dapat berjalan. Aku tidak sudi mengunjungi makamnya."


Abrine hanya menghela nafas pelan. Entah dia harus senang atau sedih mendengar kabar kematian Claire. Tapi sejujurnya dia pun tak menampik bahwa hal ini membuatnya lega.


Setidaknya, dia dan El sudah terlepas dari belenggu seorang wanita bernama Claire yang sangat mengerikan.


****

__ADS_1


Seminggu sudah El di rawat di ruang Sakit yang berbeda kota dengan tempat tinggalnya.


Dia diberikan perawatan terbaik dan berangsur-angsur mulai pulih. Saat El sadar, dia tampak seperti mencari-cari sesuatu tapi dia tak mengeluarkan sepatah katapun untuk bertanya.


Disana, El hanya dapat melihat sosok Theresia dan Xander. Dia tidak bertemu dengan Aarav ataupun Nev yang sempat melihat keadaannya karena pada saat keluarga Abrine menjenguk, El sedang dalam keadaan tidur dan beristirahat.


"Kau membutuhkan apa, El?" tanya Theresia dengan sabar.


El hanya menggeleng lemah. Wajahnya masih tampak pucat.


"Apa kau merindukan istrimu?" tanya Theresia pengertian.


El diam saja tak menyahut.


"Pagi tadi kakak ipar dan mertuamu kembali datang kesini untuk melihat keadaanmu. Tapi baru saja mereka meninggalkan kota ini karena ada suatu urusan."


".... nenek membiarkan mereka, El. Lagipula kondisimu mulai membaik."


Elrich tak mengeluarkan kata. Dia hanya menatap sosok neneknya lamat-lamat.


"Apa ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Theresia tapi Elrich menggeleng pelan.


"Baiklah, nenek akan menyuruh Xander menemanimu disini. Kebetulan dia datang bersama istrinya. Nenek keluar dulu, El."


Elrich mengangguk pelan sembari menghela nafas panjang.


Xander dan Yemima masuk ke bangsal perawatan dimana Elrich berada.


"Kau sudah pulih?" tanya Xander berbasa-basi.


Sejak pertama El dibawa ke rumah sakit ini, baru hari ini Xander dapat melihat El terduduk tegak. Kemarin El masih diruang ICU meski Xander juga sempat mendengar bahwa El telah sadar, tapi sekarang El sudah berpindah ke ruang perawatan.p


"Hai, El. Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Yemima ramah.


"Aku, baik." Akhirnya El bersuara. Dia menyahuti pertanyaan Yemima.


"Abrine pasti senang kau sudah dalam keadaan sadar. Apa kau mau melakukan panggilan dengannya?" tawar Yemima dengan riang.


"Tidak usah," tolak El.


"Why?" Yemima dan Xander saling berpandangan penuh keheranan.


*****


Maaf ya kemarin gak up. Sibuk banget di dunia nyata🙏🙏


mohon dukungannya ya ke karya ini. komentar kalian meski gak semuanya othor balas, tapi ttp othor bacain satu-persatu tanpa ada yg dilewatkan. dan itu bisa buat othor semangat ngetik lagi. makasih banyak ya semuanya. semoga kita semua sehat dan diberi kemudahan dalam setiap harinya🤲

__ADS_1


__ADS_2