PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
94. Sebuah transaksi


__ADS_3

Di hari yang sama namun di tempat berbeda. Anne harus dihadapkan dengan klien yang terkenal genit. Bahkan untuk setiap pertemuan dengan Mr. Alison, Abrine sudah seringkali memperingati Anne agar berhati-hati. Pria berperawakan tambun itu tidak segan-segan mengambil keuntungan jika dirasa ada kesempatan.


Dengan Abrine, Mr. Alison pernah menawari tawaran yang menjijikkan tapi wanita itu berani menolaknya dengan tegas. Abrine juga memiliki keahlian bela diri yang mumpuni apabila Mr. Alison berniat bertindak tak senonoh padanya. Sehingga pria paruh baya itu cukup segan pada sikap Abrine yang demikian.


Tapi kali ini berbeda. Ini adalah Anne bukan Abrine. Anne harus bersikap profesional demi menjalin kerja sama dengan Mr. Alison. Terlebih, kedatangannya kali ini hanya sebagai pihak kedua dan dengan niat membantu.


"Selamat malam, Tuan." Anne berusaha bersikap se-rileks mungkin.


Mata genit Mr. Alison langsung memindai penampilan Anne dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Selamat malam, Nona Anne..." jawabnya dengan seringaian menjijikkan dimata Anne.


Anne datang kesana bersama Jerry, kakak tirinya. Ya, ini bukanlah pertemuan antara perusahaan Abrine dengan perusahaan Mr. Alison. Melainkan, Jerry yang tengah meminta tolong pada Anne karena perusahaan yang dibangunnya hampir kolaps.


Jerry tahu Anne bisa diandalkan didepan Mr. Alison-- mengingat tabiat pria itu yang menyukai wanita cantik.


Anne sendiri sebenarnya terpaksa membantu Jerry. Dia tidak punya pilihan karena Jerry selalu mengingatkannya untuk balas budi terkait Anne dan ibunya yang dulu di tolong oleh ayah Jerry dan diberi kehidupan layak serta menyekolahkannya sampai ke perguruan tinggi.


"Saya disini mewakili kakak saya, Jerry Grissham. Ingin menawarkan anda sebuah kerja sama Tuan."


"Oh, jadi Tuan Grissham adalah kakakmu?" tanya Mr. Alison.


Anne mengangguk.


"Apa keuntunganku jika bekerja sama dengan perusahaan yang hampir hancur milik Mr. Grissham?" tanyanya dengan senyum meremehkan.


Sebenarnya Mr. Alison sudah tahu bahwa dia akan bertemu dengan Jerry Grissham terkait peminjaman dana untuk menyokong perusahaan pria itu. Tapi Mr. Alison tidak tahu bahwa disini dia akan bertemu dengan Anne yang dia kenal sebagai sekretaris Abrine dari Brilian group.


Jerry mengatakan akan mengenalkan Mr. Alison pada adik perempuannya, itulah yang membuat Mr. Alison tertarik, dia bukan benar-benar berniat memberi Jerry pinjaman.


Tak disangka adik dari pria itu adalah Anne--sebab Mr. Alison memang tidak mengetahui nama belakang wanita cantik itu.


Mr. Alison menatap Jerry dengan seringaian penuh maksud. Jerry mengangguk sebagai isyarat untuknya.


"Bagaimana Nona Anne? Apa keuntunganku jika dapat membantu perusahaan kakakmu?" Mr. Alison kembali bertanya pada Anne yang bingung sebab belum menyepakati apapun dengan Jerry perihal hal ini. Jerry hanya memintanya ikut, tanpa menjelaskan apapun.


"Anda bisa membagi keuntungan secara balance jika perusahaan kakakku dapat bangkit kembali dari dana sokongan anda."


Jerry mengangguki ucapan Anne. Dia setuju saja, karena pada dasarnya dia sudah punya kesepakatan tersendiri dengan Mr. Alison.


"Baiklah, kalian lanjutkan saja bicara bisnisnya. Aku ke toilet dulu sebentar," ujar Jerry sambil mengerlingkan mata pada Mr. Alison.


Anne tidak berpikir apapun. Dia bersikap biasa dan sewajarnya. Padahal dibalik itu, Jerry dan Mr. Alison melakukan transaksi karena Jerry telah menjual Anne pada pria hidung belang tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana, Ben? Kau sudah mengurusnya?" tanya Mr. Alison pada asistennya. Pria yang berdiri tak jauh dari meja mereka itu menunjukkan ponsel ke arah sang Tuan. Disana tertera bahwa transaksi berhasil, dia telah mengirimkan sejumlah dana ke rekening pribadi Jerry.


"Bagus," sahut Mr. Alison manggut-manggut.


Sementara Anne hanya meremass jari jemarinya di bawah meja.


"Nona Anne. Saya akan menyetujui untuk menyokong dana ke perusahaan milik Tuan Jerry Grissham. Sambil menunggunya, silahkan minum dulu." Anne mengangguk, bersamaan dengan seorang pelayan yang menuangkan minuman ke dalam gelasnya.


*


Raymond baru saja menghadiri rapat bisnis dengan beberapa koleganya disebuah hotel ternama. Saat matanya memindai ruangan, tak sengaja dia justru melihat gadis yang tak asing tengah duduk bersama Mr. Alison.


Ya, itu Anne--sekretaris Abrine.


Apa yang mereka lakukan? Apa sedang membicarakan soal pekerjaan? Apa Abrine meminta Anne untuk mewakilinya bertemu dengan Mr. Alison?


Tapi, mata Raymond juga menangkap sosok pria disebelah Anne. Dia adalah Jerry Grissham. Sebuah senyum miring terbit diujung bibirnya.


"Ivan, apa Jerry Grissham sudah membayar hutang-hutangnya?"


"Baru separuh, Tuan. Tapi sepertinya dia tidak ada niatan untuk melunasinya. Untuk itu saya mengirim beberapa orang ajudan ke kantornya tempo hari."


"Lalu, untuk apa Anne bersama Jerry menemui Tuan Alison?" ujar Raymond heran. Apa Anne berkencan dengan pria itu? Pria dengan riwayat hutang yang banyak dengan perusahaannya? Itu masih dengannya, bagaimana dengan perusahaan lain?


Saat Raymond hendak bangkit sebab sudah selesai melakukan rapat itu. Dia sempat melirik lagi ke arah meja dimana Anne berada. Rupanya disana hanya ada Anne dan Mr. Alison saja.


"Huh? Apalagi ini? Apa pria itu berniat menjual kekasihnya pada si tua Alison?" gumam Raymond yang mengira Anne adalah kekasih Jerry. Jika berurusan dengan Mr. Alison, dia sudah bisa menebaknya luar kepala.


"Sebaiknya kita tidak usah mencampurinya, Tuan." Ivan memberi saran. Bagaimanapun itu bukan urusan Raymond, pikirnya.


Raymond menggeleng. "Dia sekretaris Abrine. Apa aku harus membiarkannya saja?"


"Jika dia sudah setuju atas transaksi Jerry pada Mr. Alison. Anda tidak mungkin mencegahnya, Tuan."


"Ya, kalau ternyata diapun tidak tahu ulah Jerry yang sudah membuatnya jadi alat transaksi apa aku harus diam saja?" Otak encer Raymond selalu bisa diandalkan untuk membaca situasi. Dugaannya tidak pernah meleset. Intuisi pria itu cukup tinggi. Dia bisa menilai apa yang tengah terjadi sekarang.


"Darimana anda tahu jika nona Anne tidak mengetahui hal ini."


Raymond berdecak. "Jika dia setuju, mereka pasti akan langsung berlanjut di salah satu kamar yang ada di hotel ini. Nyatanya? Kau lihat sendiri disana, Mr. Alison mencekoki banyak minuman agar gadis itu mabuk."


"Jadi, apa yang akan anda lakukan tuan?" tanya Ivan.


"Kita sapa saja mereka."

__ADS_1


Dengan gaya tengilnya, Raymond mendekati meja Mr. Alison dan Anne.


"Hai, Mr. Alison?" sapa Raymond berlagak ramah.


Pria tambun itu melempar cengiran kearah Raymond, seolah tengah tertangkap basah oleh pemuda itu.


"Kau sedang berkencan? Kenapa wanitamu terlihat mabuk?" tanya Raymond sembari meneliti wajah Anne yang sudah memerah.


"Ah tidak, aku sedang membicarakan bisnis dengan Nona Anne."


"Oh, ya?" Raymond mengetuk-ngetuk jari di dagunya seolah tengah berpikir. "Bisnis plus-plus?" bisiknya pada pria tua itu.


Seketika itu juga wajah Mr. Alison berubah pias.


"A-apa maksudmu, Tuan Rodriguez?" ujarnya sambil mengibas-ngibaskan tangan, menyangkal.


"Hai nona... apa kau sudah mabuk berat?" Raymond mencoba menyapa Anne. Rupanya gadis itu memang telah mabuk, Anne tak menjawab Raymond justru menyandarkan kepala di meja yang ada dihadapannya.


Astaga, dia sama saja seperti Abrine-- batin Raymond.


Raymond menarik nafas panjang.


"Mr. Alison, apa kau sudah izin dengan istrimu untuk malam ini?" sindir Raymond lagi.


"Ah, ke-kenapa harus membawa-bawa nama istriku, Tuan...." katanya terdengar sungkan pada Raymond.


"Baiklah, itu artinya kau belum meminta izin pada Nyonya Rebecca. Apa aku harus meneleponnya untuk memintakan izin?" Raymond berniat mengancam.


"Jangan begitu, Tuan."


"Jadi, maumu bagaimana? Atau mau perusahaanmu saja yang ku usik?"


"Ah... jangan Tuan. Baiklah, aku akan pergi dari sini." Mr. Alison tentu saja takut, perusahaan milik keluarga Rodriguez berada diatasnya dan jika Raymond ingin, maka dia bisa hancur seketika.


"Hmm, bagus kalau kau paham." Raymond mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ivan, pesankan satu kamar di hotel ini untuk Nona Anne!" titahnya pada sang asisten.


Ivan mengangguk dan segera berlalu. Sementara Raymond membantu Anne untuk bangun.


"Hei, Nona! Ayo bangun! Kau ini polos atau terlalu bodoh?" Sempat-sempatnya Raymond mengatai Anne saat itu. Dia memapah tubuh Anne dan menggendongnya dikedua tangan.


****

__ADS_1


__ADS_2