PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
25. Sebuah Panggilan video


__ADS_3

Elrich menatap heran pada layar ponselnya saat dia melakukan panggilan video pada Abrine. Pasalnya, Abrine tampak tak seorang diri melainkan bersama seorang pria yang cukup familiar untuknya.


"El, aku sedang dijalan. Wildan mengajakku hangout hari ini," jelas Abrine dari seberang panggilan.


Elrich mengusap wajahnya sendiri. Dia tidak tahu jika Wildan menaruh hati pada calon istrinya itu, sebab Abrine memang tak pernah menceritakan tentang keduanya pada Elrich. Tapi, entah kenapa saat mengetahui Wildan mengajak Abrine jalan-jalan, hatinya tidak bisa menerima begitu saja.


"El? Kenapa kau melakukan panggilan video? Tidak biasanya," oceh Abrine yang melihat El diam saja padahal pria itu yang lebih dulu meneleponnya.


"Ehm, tidak, aku sedang di villa ayah... aku--aku merindukanmu," ucap El berdusta dan agak ragu.


Ucapan rindu El tentu bukan untuk memanasi Wildan karena diapun tak tahu Wildan memiliki rasa pada Abrine, melainkan agar Wildan pun tidak mencurigai hubungan mereka berdua.


Wildan memang mendengar obrolan keduanya dalam diam dan hatinya mulai panas, tapi dia tetap fokus mengemudi.


Elrich juga tak tahu kenapa feeling-nya menginginkan untuk melakukan panggilan video seperti ini pada Abrine, padahal Ayahnya juga tak berada disampingnya sekarang.


"Kau tidak bekerja, El?" Abrine pun mencoba perhatian pada Elrich, tentu dia melakukan itu didepan Wildan dengan niat menghindari ucapan El yang mengatakan merindukannya. Abrine tahu itu hanyalah akting El karena adanya Wildan.


"Aku dinas malam," jawab El pelan.


"Oh...."


"Jadi.... kau tidak merindukanku juga?" tanya Elrich menuntut jawaban Abrine.


"A-aku.... merindukanmu," jawab Abrine akhirnya.


Dilayar tampilan ponsel, Abrine dapat melihat El yang tersenyum mendengar ucapannya. Abrine tidak bisa jika berakting seperti ini terus, bahkan sejak El mengecup keningnya di Bandara waktu itu, dia terus kepikiran. Padahal, Abrine sudah berusaha tak membawa hingga ke perasaannya, karena Abrine pun sadar bahwa ini hanyalah akting mereka. Tapi, tetap saja dia mulai salah tingkah sendiri. Sementara saat melihat El, pria itu tampak biasa saja.


"Apa kau tidak mau menyapa, Wildan?" tanya Abrine.


"Ehmm... arahkan ponsel kepadanya."


Abrine menuruti keinginan Elrich dan memperlihatkan pada Wildan yang sedang menyetir.


"Apa kau sehat, Er?" tanya Elrich berusaha biasa saja.


Wildan menatap sekilas tanpa mengalihkan fokusnya.


"Aku sehat, Kak!" jawabnya sekenanya. Wildan kemudian melirik Abrine. "Aku sedang menyetir, kalian bicara saja," ucapnya.


Abrine mengangguk, kembali pada layar ponsel.


"Kalian mau kemana?"


"Entahlah, Wildan akan mengajakku kemana."


"Jangan pulang terlalu sore," pesan Elrich. "Aku tahu kau bisa menjaga dirimu sendiri, tapi ku harap kau mendengarkan ucapanku kali ini," tambahnya.


"Iya, aku mendengarmu, El."

__ADS_1


"Ya sudah, aku tutup teleponnya."


"Oke."


"Ehm.... I love you, Honey..." ucap Elrich demi melancarkan aktingnya.


Abrine menatap El dengan mata membola, tapi El memberinya isyarat agar menjawab ucapannya barusan.


"Ya, ya... I lo-love you," jawab Abrine terbata dengan rasa hati yang campur aduk. Bukan apa-apa, baginya kalimat seperti itu adalah kalimat sakral yang tidak seharusnya dengan mudah mereka ucapkan dan permainkan, tapi gara-gara El dia jadi mengucapkannya juga pada pria itu.


Abrine menyimpan ponselnya ke dalam tas.


"Aku iri pada kalian," celetuk Wildan tiba-tiba.


*


Panggilan video dari Elrich membuat Wildan merasa gusar, mood baiknya langsung lenyap apalagi dia juga mendengar saat Abrine dan El saling melempar kata cinta satu sama lain. Wildan merasa dirinya sudah kalah terlalu jauh dan tidak ada jalan untuk membersamai Abrine.


Wildan mengajak Abrine bermain ice-skating tiruan di sebuah Mall yang ada di kota mereka. Hal itu membuat keduanya tampak senang dan akrab. Wildan pun kembali pada mood baiknya. Setelah itu mereka juga makan dan mengobrol santai.


"Kamu bekerja dimana, Wil?"


"Aku lagi merintis sih," jawab Wildan menatap Abrine lurus.


"Usaha?"


"Wah, hebat dong kamu."


"Biasa aja. Gak hebat kalo gak didampingi wanita yang hebat juga," katanya tersenyum tipis.


"Hehehe.... akan datang disaat yang tepat, kok!"


"Maunya yang kayak kamu. Bisa?"


Abrine menyengir. "Adik kembarku udah menikah, sih. Kalau masih single pasti aku comblangin ke kamu deh biar bisa dapat yang mirip aku," kata Abrine berseloroh.


Akhirnya Wildan pun ikut terkekeh.


"Aku maunya kamu, Brine. Sekalipun kamu punya kembaran yang identik dan belum menikah, aku tetap maunya kamu. Sekalipun aku harus nunggu sampai status kamu gak lagi seorang gadis, itu gak apa-apa, itu konsekuensi buat aku." Begitulah batin Wildan berkata-kata dalam hatinya tanpa bisa menyuarakan itu didepan Abrine. Perasaannya terlalu besar dan tulus pada Abrine.


"Kapan-kapan, boleh dong kita cobain salah satu menu populer di restoran kamu?" tanya Abrine membuat Wildan kembali menatap wajah gadis itu.


"Boleh..."


"Sama El juga, ya?"


Wildan terdiam, tapi dia sadar bahwa dia telah kalah dan gadis ini sebentar lagi akan menikah dengan Elrich, hingga akhirnya diapun mengangguk pelan.


Akhirnya, mereka kembali ke rumah sebelum jam 5 sore. Abrine menghargai pesan Elrich yang memintanya untuk tak pulang terlalu sore. Terlepas permintaan itu bentuk perhatian sesungguhnya atau hanya akting belaka, tapi Abrine berusaha melakukannya, toh itu juga demi kebaikannya sendiri. Sedangkan Wildan menyanggupi apapun permintaan Abrine sekalipun gadis itu meminta untuk pulang lebih cepat.

__ADS_1


"Brine!" Wildan memanggil Abrine yang ingin memasuki gerbang rumahnya setelah Wildan mengantarnya pulang.


"Ya?"


"Apa kamu bahagia dengan semua pilihan kamu?"


"Maksudnya?"


Wildan diam, wajahnya terlihat sendu.


"Wil?"


"Gak, gak apa-apa. Udah, lupain aja." Wildan menipiskan bibir, kembali memasuki Terios putihnya lalu melambaikan tangan pada Abrine lewat kaca jendela mobil yang sengaja dia buka.


Abrine terdiam sambil menatap mobil yang dikendarai Wildan semakin menjauh dari posisinya.


"Maaf Wil, apa aku udah buat kamu kecewa?" tanya Abrine dalam dirinya sendiri. Dia berusaha biasa saja didepan Wildan, tapi tatapan pemuda itu selalu mudah dia artikan. Wildan masih memiliki rasa besar kepadanya, itulah yang dapat Abrine simpulkan.


Abrine memasuki rumah dengan perasaan yang entah. Apa dia membatalkan saja rencana pernikahannya dengan Elrich? Bukan karena kemunculan Wildan yang membuat hatinya berpaling hingga mengurungkan niat, tapi dia takut terjebak dalam permainannya sendiri yang justru akan membuatnya lebih sakit daripada patah hati terhadap Raymond.


Keesokan harinya, Abrine melakukan aktifitasnya seperti biasa. Begitupula dengan Elrich. Mereka sama-sama larut dalam kesibukan masing-masing. Jarang berkomunikasi tapi sesekali memikirkan tentang satu sama lain.


Karena komunikasi yang jarang, Elrich terlalu bingung jika mau menghubungi Abrine lebih dulu. Bingung hendak melakukan obrolan apa nantinya. Begitu pula dengan Abrine, dia terlalu malu menelpon El duluan. Begitu seterusnya sampai hari pernikahan mereka benar-benar tinggal menghitung Minggu saja. Barulah Abrine berani menyingkirkan rasa malu demi menghubungi Elrich.


Elrich terkejut saat melihat nama penelpon di ponselnya. Dia tak menyangka Abrine menghubunginya lebih dulu, tapi tak dipungkiri jika perasaannya teramat senang mendapat panggilan dari gadis itu. Entah kenapa.


"A-abrine?" sambutnya saat panggilan sudah berlangsung.


"Kau mengingatku? Ku pikir kau melupakanku," keluh Abrine akhirnya.


"Maaf, aku terlalu sibuk akhir-akhir ini," dusta El. Padahal bisa saja dia menyempatkan diri demi menelepon sang gadis, tapi niat itu selalu dia urungkan karena selalu bingung mau menyampaikan topik apa dalam pembicaraan mereka nantinya.


"Apa pernikahan ini jadi dilaksanakan?"


"Tentu saja!" sahut El cepat.


"Baiklah, aku ingin memastikan saja karena hotel yang sudah di booking untuk acara itu, sudah mulai merekomendasikan menu makanannya pada kedua orangtuaku."


"Iya, aku tahu. Aku sudah mendapatkan jadwal cuti. Mungkin beberapa hari lagi aku akan terbang kesana."


"Benarkah?" Entah kenapa Abrine terdengar antusias.


"Kenapa? Sepertinya kau senang sekali mendengarku akan datang. Kau merindukanku, hah?" Elrich tersenyum miring setelah selesai dengan kalimatnya itu.


"Aku--- aku....."


******


Kalau jumlah vote dan hadiahnya nambah, aku bakal up lagi nanti ✌️😄

__ADS_1


__ADS_2