PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
40. Jangan salahkan aku


__ADS_3

Menjelang malam, Abrine kembali ke Apartmen El. Rupanya kepulangannya itu sudah ditunggui oleh sang suami. El tampak duduk di ruang tamu sambil mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya.


"Kau menungguku?" tebak Abrine saat melihat El.


"Kenapa baru pulang? Apa setiap hari kau pulang jam segini?"


Abrine melihat arloji yang melingkari tangannya. "Ini belum larut malam, langit baru saja menggelap," tuturnya santai.


"Ku pikir kau akan pulang sore hari seperti jam kerja pada umumnya."


"Jangan menungguku, El." Abrine berlalu dan menuju kamarnya. Melihat itu, El pun berjalan cepat untuk mengejar langkah istrinya itu.


"Brine..."


"Apalagi? Kau mau mengatakan padaku untuk memberitahumu semua jadwalku?"


Elrich diam, dia menatap Abrine dengan sorot mata yang sulit diartikan. Tapi, Abrine justru membalas tatapannya itu seolah tak gentar sedikitpun. Ya, Abrine menantangnya lewat sorot mata.


"Dengar, El.... aku tidak wajib memberitahumu segala tentangku dikala akupun tidak mengetahui siapa suamiku! Jadi, jangan paksa aku!" tegas Abrine.


Abrine menutup pintu kamarnya dengan keras. Dia tak menyangka akan bertengkar dengan El hari ini, dihari keempat pernikahan mereka.


"Abrine.... maafkan aku. Aku tahu aku salah," teriak El dari balik pintu.


Abrine tak menggubris ucapan El, dia kembali kesini pun hanya karena mau mengambil kopernya.


"Brine, jangan bersikap seperti ini padaku," kata El memohon diluar kamar.


Sebenarnya, dia merasa serba salah dengan perasaannya terhadap Abrine. Istrinya itu benar, selama ini dia lah yang membangun tembok diri agar tak tersentuh. Abrine sudah mulai menyentuh hatinya, tapi lagi-lagi logikanya ingin mematahkan itu. El tidak mau keinginan hatinya menjerumuskan dia pada kesalahan. Tapi, apakah Abrine adalah kesalahan? Karena bagi El, cinta adalah kesalahan yang besar. Mencintai adalah sebuah jebakan. Dia... pernah terjebak pada hal itu.


Beberapa saat kemudian, Abrine membuka pintu kamar, dia menatap El dengan tatapan kecewa.


"Minggirlah!" kata Abrine menyenggol lengan kekar El yang menghalangi jalannya. Rupanya dia sudah bersiap dengan koper yang bahkan belum dia bongkar sejak kembali ke Jerman.


Menyadari itu, El gelagapan, dia nampak panik. "Ka-kau mau kemana, Brine?" tanyanya gelisah.

__ADS_1


"Kau melarangku tinggal di Apartmenku sendiri! Kau mengajakku tinggal bersamamu, tapi kau memberiku kamar yang berbeda..." Abrine tersenyum sinis pada El, membuat pria itu tertohok.


Wanita itu pun menghela nafas sejenak. "Dengar El, aku mau kita tinggal satu kamar bukan karena aku adalah wanita yang haus belaian. Tapi, apakah sesulit itu menghargaiku, El?" tanyanya.


"A-aku hanya belum terbiasa, Brine!" lirih El memberi alasan.


"Apa aku ini benalu yang melilit lehermu? Dan saat kau ingin terbangun di pagi hari, kau akan merasa tercekik saat aku tidur disampingmu?"


"Brine...?"


"Aku tidak bisa menurutimu disaat kau sedang ingin! Aku bukan barang yang bisa kau gunakan sesuka hatimu. Aku punya harga diri dan aku punya perasaan!"


Abrine berjalan menggeret kopernya, dia menyeka airmatanya yang lolos begitu saja. Demi apapun, dia tidak mau tampak menangisi El. Dia akui dalam dirinya jika dia sudah terjatuh pada pesona pria yang masih berstatus suaminya itu.


"Jangan pergi, Brine!" El mencekal lengan Abrine namun Abrine menghempas tangan El yang mencegahnya.


"Jika kau terus begini, aku tidak bisa bertahan disini meski sehari pun," tukas Abrine.


El tidak lagi bisa mencegah keputusan Abrine. Dia terdiam dengan tatapan nanar. Dia tahu dia salah. Dia sadar, pada akhirnya letak kesalahan itu ada padanya, bukan pada istrinya.


Keharmonisan rumah tangganya seharusnya bisa dia dapat, hanya saja dia belum bisa memulainya karena keraguan diri. Ini semua karena perasannya sendiri. Belum genap seminggu mereka menikah, dia telah mencintai Abrine. Itulah kenyataannya. Dia pun tidak tega pada istrinya, tapi dia adalah pria yang pernah mengalami trauma. Trauma itu masih terasa nyata hingga saat ini.


Dia tak pernah mengira ini terjadi, sehingga dia juga tak pernah mempersiapkan diri. Saat dia sadar akan perasaannya, dia kalut dan kembali membentengi diri, nyatanya tindakannya yang ingin memprotect diri sendiri, justru berimbas menyakiti hati istrinya. Dia merasa bersalah, dia telah berdosa.


Tak mau terlambat, akhirnya El memutuskan untuk mengejar langkah Abrine. Dia tidak sabar menunggu lift terbuka, hingga dia berlarian menggunakan tangga darurat. Dengan nafas ngos-ngosan, akhirnya dia tiba dilantai lainnya.


El baru sadar jika dia tidak akan kuat menyusuri tangga darurat setinggi itu mengingat penthouse nya ada di lantai teratas. Akhirnya dia kembali menaiki lift yang sudah terbuka dilantai berikutnya.


Dengan rasa tak sabar dan menyesal. El akhirnya tiba di lantai terbawah. Dia melihat punggung kecil istrinya yang nampak berjalan masih dengan menggeret koper.


El menarik pundak Abrine, membalik posisi wanita itu agar menghadapnya. Ingin bicara, tapi tidak, dia langsung memeluk tubuh sang wanita dengan nafas yang masih terengah-engah.


"You can't go! Maafkan aku, aku hanya takut mencintaimu. Tapi nyatanya, aku yang lebih dulu jatuh cinta padamu, sejak awal. Sejak awal pertemuan kita," akuinya terus terang.


Abrine terdiam dengan mata membola, dia belum membalas pelukan Elrich. Dia terlalu terkejut dengan hal yang tiba-tiba ini.

__ADS_1


"Kau tahu, aku pernah mengatakan padamu bahwa pria bisa melakukan hubungan tanpa menggunakan rasa, tapi tidak denganku, Brine. Aku tidak bisa melakukannya jika tidak memiliki perasaan. Jadi, jadi... aku menyentuhmu karena aku sudah memiliki rasa itu."


"... kemarin sampai tadi, aku masih ragu, tapi sekarang aku sudah yakin. Maafkan aku," bisik El tepat ditelinga Abrine.


Sebenarnya, El juga tak bisa jika tidur tanpa istrinya, tapi demi membentengi diri dari rasa cinta yang berlarut-larut, dia terpaksa menjaga jarak. Dia takut jatuh cinta. Trauma dengan hal itu membuatnya sulit membuka hati.


Beberapa orang yang melintasi lobby Apartmen itu melihat keduanya, mereka jadi tontonan banyak orang dan adapula yang merekam aksi keduanya. Ada beberapa orang yang meneriaki agar Abrine memaafkan suaminya terlepas dari apapun kesalahan yang El perbuat, karena pria itu nampak sangat bersungguh-sungguh.


"Kita kembali ke atas, jangan pergi, hmm?" Elrich menangkup kedua sisi wajah Abrine yang membuat Abrine tersenyum haru karena dia juga dapat merasakan ketulusan dan kejujuran dari setiap ucapan sang suami.


Sesampainya mereka di kediaman itu lagi, El langsung mengangkat tubuh Abrine dikedua tangannya. Dia membawa Abrine masuk ke kamar mereka yang sesungguhnya. Dia membaringkan wanitanya diatas pembaringan dengan sangat perlahan dan hati-hati.


Abrine tidak mengeluarkan sepatah katapun sejak tadi, dia seakan terhipnotis pada pesona pria itu. Ya, pria itu adalah suaminya sendiri.


"Can i kiss you?"


Abrine berkedip-kedip gelisah, biasanya saat El ingin menciumnya, pria itu tak pernah meminta izin seperti saat ini, tapi sekarang El malah meminta persetujuannya, ini justru membuat Abrine jadi gugup luar biasa. Padahal, tadi dia sangat marah dan kecewa pada El, tapi dibalik kekecewaannya akhirnya dia bisa mendengar pernyataan cinta dari sang suami.


El mendekatkan wajahnya pada Abrine, tapi dia tetap menunggu wanitanya menjawab.


"Boleh?" tanyanya lagi membuat Abrine tersipu hingga akhirnya mengangguk.


El menyelipkan rambut Abrine ke belakang telinga, lalu jari-jemarinya merambat ke tengkuk leher istrinya, mendorong itu pelan agar bisa membawa wajah Abrine lebih dekat dengannya.


Sebuah kecupan berlabuh, tapi itu hanya sejenak, karena selanjutnya El memegang kendali atas bibir sang istri.


Abrine memukul pelan dada bidang El demi menghentikan cumbuan El yang tidak kunjung berhenti padahal dia sudah hampir kehabisan oksigen.


"El..." kata Abrine terengah.


Elrich menggelengkan kepalanya sambil menatap Abrine. Entah apa maksud tindakannya itu, tapi Abrine menangkap maksud bahwa El sedang tidak mau ditolak.


"Katakan kau juga mencintaiku!"


"Hah?" Abrine kebingungan. "Tidak," sanggahnya.

__ADS_1


"Baiklah, jangan salahkan aku jika setelah ini kau akan jatuh cinta padaku." El berucap sembari melepas kaosnya sendiri dan mengungkung tubuh Abrine dibawahnya.


******


__ADS_2