PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
13. Kebohongan yang diketahui


__ADS_3

Abrine tidak tahu harus menjawab apa pada Raymond. Haruskah dia jujur pada pria itu mengenai apa yang tengah dihadapinya? Tapi, entah kenapa dia tak mau berterus-terang, mengingat Raymond pun pernah membohonginya serta tertutup mengenai sebuah hubungan kepadanya. Memang tak seharusnya Raymond tahu segalanya tentang dia. Ya, paling tidak mengenai hal ini. Sebelum masalah ini selesai, ada baiknya Abrine menutup mulutnya, biarkan Raymond berspekulasi sendiri. Jika ada kesempatan dan semuanya telah selesai, mungkin saat itulah Abrine baru akan menceritakannya pada Raymond mengenai hal yang sempat terjadi ini.


"Brine, benarkah kau akan menikah?" Raymond mengulangi pertanyaan yang sama. Ada rasa tak percaya dalam diri mengenai hal yang tak sengaja didengarnya dari Abrine ini.


"Ehm... ehmm...." Abrine bingung, dia mau mengatakan tidak, tapi dia juga tak mungkin mengatakan iya, kan?


"Jawab, Brine. Katakan ini hanya sebuah lelucon saja!" Raymond mulai mengemukakan pemikirannya.


"Ya, aku memang akan menikah, Ray!" ujar Abrine akhirnya. Namun dalam hati dia menyambung kalimat bahwa dia memang akan menikah nanti, bukan sekarang. Dan entah dengan siapa nantinya. Kendati Abrine sadar ucapan itu adalah doa, tapi memang dia pun mengharapkan sebuah pernikahan suatu saat nanti, jadi dia tak merasa salah telah mengucapkan itu.


"Apa?" Sontak saja hal itu membuat Raymond terperanjat. "Jangan main-main, Abrine!" sambungnya.


...Tok tok tok...


Suara ketukan pintu menyelamatkan Abrine dari pertanyaan Raymond selanjutnya.


"Ray, sepertinya panggilan ini harus berakhir, aku ada urusan."


Tanpa menunggu jawaban dari Raymond, Abrine segera memutus panggilan itu dan menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Sebelumnya bahkan dia menonaktifkan data seluler agar tidak menerima panggilan lagi baik dari Raymond atau Yemima, dia malas memberi penjelasan, karena tujuan utamanya sekarang adalah menyelesaikan kekonyolan yang sudah dibuat Elrich didepan ayahnya.


Abrine membukakan pintu kamarnya, seorang lelaki berperawakan tinggi dengan rambut kecoklatan berdiri sambil memasukkan kedua jemari kedalam saku celana. Gayanya sangat santai, tapi Abrine yakin jika pikiran pria ini sudah selayaknya benak kusut.


"Kenapa?"


"Ayo! Aku akan menemui ayah sekarang."


"Ya sudah, temui saja. Pastikan semua selesai hari ini. Aku mau segera pulang."


"Ya, aku pastikan semuanya selesai hari ini dan kita bisa cepat pulang. Tapi aku mau kau juga mendengar percakapanku dengan ayah."


"Kenapa? Kau takut menghadapi ayahmu sendirian?" Abrine tersenyum penuh cibiran. "Takut ayahmu marah jika ternyata kau membohonginya?" lanjutnya sambil memandang Elrich dari ujung kepala sampai ujung kaki seolah meremehkan lelaki itu.


Elrich hanya tersenyum tipis. "Terserah kau saja mau bilang apa! Ayo!"


Akhirnya Abrine mengikuti langkah pria itu dan berjalan tepat dibelakang tubuh tegapnya. Abrine bahkan bersiul santai sambil melipat tangan di dada. Ah, akhirnya masalah ini akan segera tuntas. Jika Edgar akan marah pada Elrich, biarlah pria itu saja yang menyelesaikannya. Salah sendiri kenapa membohongi orangtua.


"Ayah...." Elrich membuka pintu kamar ayahnya. Tapi Abrine menunggu diluar, merasa sungkan masuk sebelum diizinkan.

__ADS_1


"Ya, El?" Edgar yang menatapi pemandangan dari kaca jendela kamarnya--berbalik menghadap pada sang putera.


"Kami mau bicara."


"Maksudmu kau dan Abrine?"


"Iya, Ayah."


"Baiklah, kita bicara di ruang keluarga saja agar Abrine tidak sungkan." Edgar melirik sekilas pada Abrine yang berada di ambang pintu, dia memahami kesungkanan gadis itu.


Sesampainya diruang keluarga, Edgar duduk disebuah sofa. Dia menatap El dan Abrine bergantian.


"Jadi, sudah ada keputusan, El?"


Elrich menganggukkan kepalanya. Sementara Abrine hanya diam menunggu El yang sebentar lagi akan kena semprot ayahnya karena berbohong.


"Aku dan Abrine, sebenarnya...." Elrich menatap Abrine sejenak, tampak ragu-ragu tapi kemudian melanjutkan kalimatnya. "Sebenarnya.... kami sudah sepakat akan menikah dua bulan lagi, Ayah." Ucapan El itu terdengar sangat tenang dan yakin.


Mendengar itu, Abrine justru terlonjak kaget dari posisinya. Apa-apaan ini? Dia mendelik pada Elrich yang justru melemparkan senyum tipis kearah gadis itu. Jika tadi dia mencibir sikap santai El, kini dirinyalah yang seakan menghadapi eksekusi mati karena ucapan pria ini. Semua ini tak sesuai dengan ekspektasinya. Damned!


"Bagus! Itu baru pria sejati." Wajah Edgar tampak semringah, berbanding terbalik dengan wajah Abrine yang pias memutih bagai tak ada darah mengalir dibawah kulitnya.


"Baik, Ayah."


Abrine menggeleng keras, dia menatap Elrich bergantian dengan Edgar.


"Paman.... Paman.... tunggu dulu!" cegah Abrine sambil menghampiri Edgar yang nyaris meninggalkan ruang keluarga itu.


"Ada apa, Nak?"


"Ini tidak seperti itu, ini ada sebuah kesalahan. Dokter El hanya bercanda... iyakan, dokter?" Abrine menatap El seolah mencari dukungan disana. Tapi Elrich hanya mengendikkan bahu tak acuh.


"Paman, Dokter El berbohong. Kami-- kami sebenarnya tidak ada hub--" mulut Abrine segera tersumpal oleh telapak tangan lebar milik Elrich. Abrine meronta-ronta minta dilepaskan tapi El mengerahkan seluruh tenaganya agar Abrine tidak melanjutkan kalimat yang sudah jelas dia ketahui kelanjutannya.


"Ayah, istirahatlah. Terkadang Abrine memang masih suka bertingkah kekanakan. Aku---hanya aku yang bisa menghadapinya."


Edgar tersenyum dan mengangguki ucapan Elrich. Dia berjalan menuju kamarnya kembali. Disaat bersamaan Abrine menggigit tangan El yang terus membekap mulutnya.

__ADS_1


Elrich meringis, Abrine justru menambahi dengan menginjak kaki pria itu kuat-kuat. Dia melotot pada Elrich. Geram dan kesal tentu saja.


"Kau ini! Ingat ya, urusan kita belum selesai, Dokter!" tukas Abrine sambil berlalu mengejar langkah Edgar. Dia ingin mengutarakan segalanya sebelum semuanya terlambat.


Elrich ingin mencegah tapi injakan kaki Abrine sungguh membuat kakinya nyeri, dia hanya meneriaki nama gadis itu secara berulang, namun tidak digubris Abrine sama sekali karena Abrine terus melanjutkan langkah demi menyusul Edgar.


*******


Abrine berhasil menyusul Edgar, dia menjelaskan semuanya pada pria baya itu. Mulai dari kecelakaan yang sempat terjadi hingga membuat tangan El patah. Dia juga mengatakan El memanfaatkan keadaannya, sehingga mau tak mau dia menyetujui ide gila yang dibuat Elrich.


Edgar mendengarkan penjelasan Abrine dengan seksama. Sesekali dia mengangguk tapi tampangnya terlihat biasa saja. Tidak ada raut kekecewaan, kemarahan atau bahkan terkejut pun tidak. Pria baya itu tampak sangat tenang dan sulit untuk ditebak. Apa sebenarnya yang dipikirkan oleh Edgar setelah mengetahui semua ini?


"Sebenarnya, Paman sudah mengetahui jika kalian tidak ada hubungan apapun."


"A-apa?" Justru sekarang Abrine yang terkejut. "Darimana Paman tahu?" tanyanya.


Edgar menyunggingkan senyum, tapi senyum itu sulit diartikan oleh Abrine. "Kalian terlihat canggung satu sama lain. Dan sering berdebat. Paman mungkin sudah tua. Kacamata Paman mungkin tidak bisa menangkap jelas sikap kalian satu sama lain, tapi telinga dan perasaan orangtua ini tidak bisa dibohongi."


Abrine merasa malu sendiri dengan ucapan Edgar. Ternyata dia sudah ketahuan berbohong sebelum dia mengakuinya.


"Tapi, keputusan dan ucapan Paman tidak Paman tarik, Paman tetap merestui kalian."


"Tapi, Paman? Kami bahkan tidak berpacaran. Kami baru mengenal. Aku juga tidak mau menggantungkan hidup pada pria yang tidak ku percayai."


Edgar tersenyum tipis mendengar ucapan Abrine.


"Tidak berpacaran bukan berarti tidak boleh menikah. Banyak yang menikah karena perjodohan yang sebelumnya mereka pun tidak saling mengenal. Dan anggaplah Paman sedang menjodohkan Elrich denganmu, Nak."


Abrine terbelalak kaget. "Tapi... tapi... bagaimana dengan kepercayaanku padanya, Paman? Aku belum bisa mempercayainya. Lihat! Hari ini saja dia membohongiku, dia mengatakan akan jujur pada Paman tapi ternyata dia malah berbicara soal pernikahan," keluh Abrine sambil menghela nafas lirih.


"Baru mengenal atau tidak, tidak menjamin kepercayaan itu ada, Nak. Bahkan mungkin kamu tidak bisa mempercayai orang-orang yang sudah kamu kenal begitu lama. Atau justru kepercayaan itu bisa memudar seiring waktu karena perbuatan."


Abrine terdiam. Ucapan Edgar seolah mengingatkannya pada Raymond. Ya, kepercayaannya pada pria yang sudah lama dikenalnya pun kini sudah memudar karena meski telah lama mengenal tapi Raymond tega membohonginya, ya itulah perbuatan yang dimaksudkan Edgar dalam ucapannya.


"Tapi, Dokter El juga membohongiku tadi," gumam Abrine pelan.


"Setidaknya, dengan kau mengikuti El sampai ke Villa ini, itu artinya kamu memiliki kepercayaan tersendiri kepadanya. Coba tanya pada dirimu sendiri, jika kamu tidak mempercayainya sejak awal, mana mungkin kamu mau saja dia ajak ke tempat ini, bukan?"

__ADS_1


*******


__ADS_2