
El tiba dikediamannya sebelum Abrine pulang ke rumah. Dia benar-benar datang ke Villa Edgar hanya untuk memperjelas penyataan Erika mengenai ibu kandungnya. Setelah itu, dia langsung kembali.
Saat dia tiba, dia menemukan sarapan paginya yang telah dingin. Sangking terburu-buru menuju villa sang ayah, ia tidak sempat menyicipi sarapan yang disiapkan istrinya.
Dia memakan sandwichnya meski roti isi itu sudah tak patut untuk dia konsumsi. Setidaknya, dia harus menghargai usaha istrinya. Not bad, tidak terlalu buruk. Hanya sayuran didalamnya sudah tidak terasa segar lagi di indera pengecapnya.
Hhhh
El menghela napas panjang, dia tidak tahu harus menceritakan beban dipundaknya pada siapa lagi jika bukan pada istrinya. Entah kenapa saat ini El sangat membutuhkan Abrine.
Ternyata sejak menikah, El bukan cuma membutuhkan Abrine sebagai teman tidurnya saja, tetapi dia juga sadar bahwa Abrine sangat berarti untuk dia. Dia tidak akan kuat tanpa istrinya, terlalu banyak beban yang kini dipikulnya.
Disaat yang sama, pertemuan dengan Xena membuat Abrine kehilangan mood baiknya. Dia tidak melanjutkan untuk kembali ke kantornya. Dia memilih pulang ke rumah. Dia pikir El pasti sudah berangkat ke rumah sakit. Nyatanya, dia terkejut mendapati suaminya tengah berdiri melamun didekat balkon kamar mereka.
"El? Kau merokok?"
Selain terkejut mendapati suaminya yang tidak bekerja, Abrine juga kaget melihat El yang sedang merokok. Ini pertama kalinya dia menyaksikan El melakukan hal itu, tampak seperti bukan El yang dia kenal. Atau, dia memang belum sepenuhnya mengenal pria yang dia nikahi? Ya, sepertinya begitu.
"Hmmm...." sahut El sambil mengembuskan asap rokoknya ke udara. El bukan perokok aktif, sesekali dia melakukan itu jika perasaannya sedang cemas atau pikirannya sedang kalut dan sangat lelah.
Seperti sudah ditakdirkan semesta, istrinya pulang disaat dia sedang membutuhkan. Apakah mereka memang ditakdirkan untuk saling melengkapi?
"Apa ada masalah?" Abrine bertanya sembari menyahut rokok dari sela jari jemari sang suami. Dia mematikan itu dan hanya ditatap El dengan tatapan kosong tanpa ekspresi.
El tidak marah, dia mematut senyum tipis. "Aku bukan anak Mama Naina, Brine," ujarnya kemudian.
Abrine terdiam. Dia mengerti sekarang, El sedang dalam fase tidak baik-baik saja. Baru malam tadi El menceritakan mengenai masa lalu percintaannya yang berakhir buruk, sekarang El harus menghadapi kenyataan lain mengenai asal-usulnya. Parahnya, semua ini terungkap disaat El baru saja menikah dengan Abrine.
"Apa kau akan meninggalkanku, Brine? Asal usul ku tidak jelas. Aku sendiri tidak tahu siapa ibuku."
Abrine menggeleng. Dia mengusap pundak El yang lebar dengan tatapan prihatin.
"Kata ayah, dia sudah lebih dulu menikahi ibuku sebelum menikah dengan Mama Naina. Itu bukanlah perselingkuhan." El tersenyum miris. "Haruskah aku mencari keberadaan ibuku, Brine? Aku hanya ingin bertanya padanya, kenapa dia meninggalkan aku disaat aku masih merah dan tak tahu apa-apa!?"
Abrine menggenggam jemari El, menautkannya dijemari miliknya.
"Kau tahu El, tidak semua pertanyaan dalam hidup ini akan langsung terjawab, begitupula dengan permasalahanmu ini. Tapi ingatlah, semua pertanyaan itu pasti ada jawabannya. Yang terpenting, kau harus sabar dan mempersiapkan diri sampai tiba saatnya jawaban itu akan kau terima."
El menatap kedalam manik kecokelatan milik istrinya. Abrine tersenyum hangat padanya dan itu sangat cukup menenangkan jiwanya yang suram saat ini.
"Semua masalah ada solusinya. Kau diuji karena kau mampu. Jangan minta Tuhan untuk menghilangkan masalahmu, tapi mintalah agar pundakmu diperkuat supaya kau bisa memikulnya."
__ADS_1
Tatapan El berubah nanar, dia merasa istimewa karena telah dikirimkan seorang wanita yang bisa menyikapi segala sesuatunya dengan sangat bijak dan dewasa seperti Abrine. Dia sampai sulit berkata-kata sekarang.
"Kau tahu, sayang.... aku sangat beruntung memilikimu. Bisakah kau lebih lama berada disisiku?"
"Selamanya, El...." ujar Abrine yakin dan jawaban itu sangat menenangkan jiwa El.
El pun merengkuh tubuh wanitanya dan mendekapnya erat. Betapa saat ini dia sangat membutuhkan dukungan dari orang terdekatnya.
Andai dulu dia menepis mati-matian perasaannya pada wanita ini, andai dia melepaskan Abrine dan melewatkannya begitu saja, pasti dia akan menyesali diseumur hidupnya.
El sadar bahwa dia begitu naif bahkan pandir saat dulu menyangkal cintanya pada Abrine hanya karena trauma dimasa lalu.
"Aku akan selalu menguatkanmu. Begitupun kau harus bisa menopang dirimu sendiri." Abrine berujar dalam dekapan suaminya yang begitu erat. Betapa dia tahu jika saat ini El butuh support sistem darinya.
"Sekarang, katakan apa yang ingin kau lakukan? Apa rencanamu?"
"Aku tidak tahu, seperti yang ku tanyakan tadi, haruskah aku mencarinya, Brine? Bukankah dia meninggalkan aku karena tak menginginkan kehadiranku?"
"Kita tidak bisa menyimpulkannya begitu saja, El. Setiap keputusan yang diambil, pasti ada alasannya."
El tak menyahut, tapi dalam hatinya dia mengiyakan ucapan istrinya itu.
*****
"Er, apa waktu itu kamu gak salah dengar soal pernikahan sementara Abrine dan Elrich?" Erika mendatangi Wildan yang tengah bersiap-siap untuk ke salah satu Restorannya.
Wildan mengernyit. Kenapa lagi Mamanya membahas masalah ini. Padahal Wildan sudah mati-matian ingin melupakan masalah ini dan menjalani hidupnya mengikuti arus. Jika Abrine jodohnya pasti akan kembali padanya nanti, tapi Mamanya selalu saja membahasnya.
"Kenapa, Ma?"
"Kamu bilang pernikahan mereka cuma sementara, tapi kenapa El sangat marah saat tahu Mama kasi Abrine pil KB?"
"Ya mana aku tahu, Ma." Wildan mengendikkan bahu.
"Ini gak bener, Er! Pasti Elrich itu punya rencana biar Abrine hamil. Kalau udah punya anak mana mungkin mereka bakal pisah," kata Erika dengan pemikirannya.
Wildan terdiam, dia sudah memikirkan ini berhari-hari, dia sempat tenang karena dia pikir Abrine dan El hanya menikah sementara, jadi dia tinggal menunggu saja saat nanti mereka berpisah. Saat itu tiba, dia akan mendapatkan Abrine kembali. Tapi, pernyataan Mamanya ada benarnya. Apa pernikahan sementara yang mereka jalani akan menghadirkan seorang anak? Memang itu tak masalah bagi Wildan, dia bisa menerima apapun keadaan Abrine nanti, tapi jika itu sampai terjadi, kemungkinan El akan meninggalkan Abrine jadi sangat kecil karena sudah ada anak diantara mereka.
"Sekarang Mama tanya sama kamu, kamu masih ada rasa gak sih sama Abrine?"
"Ya ada lah, Ma."
__ADS_1
"Kamu gak mau ngebahagiain dia?"
"Ya mau, tapi kalau sama aku dia gak bahagia aku bisa apa. Dia udah mutusin nikah sama Kak El. Aku menghargai itu, Ma."
"Tapi itu cuma nikah sementara loh! Kamu masih bisa dapatin Abrine!" Erika memprovokasi putranya.
Selama ini, Erika tidak bisa melupakan bagaimana Edgar mengusirnya dari Mansion yang dulu mereka tempati. Jauh dalam hatinya, masih ada dendam yang sangat besar. Kalau dia tidak bisa membalasnya langsung kepada Edgar, dia akan menghancurkan kebahagiaan Elrich, putra Edgar yang sangat berharga bagi pria itu.
Kebetulan sekali Wildan menginginkan wanita yang sama dengan El. Dia akan mengambil kesempatan ini agar El menderita sekaligus Wildan mendapat wanita yang dia inginkan.
Padahal Wildan sudah pesimis, tapi ucapan sang Mama yang mendukungnya membuat pikirannya terbuka. Dalam benak Wildan, dia mengira Abrine pun tidak bahagia dengan pernikahannya dengan Elrich. Entah kesepakatan apa yang keduanya lakukan hingga memutuskan menikah, tapi Wildan meyakini Abrine terpaksa dengan statusnya sekarang.
"Kamu susul aja Abrine ke Jerman, Er!"
"Aku gak mau nginjak negara itu lagi, Ma! Mama kan tahu itu!"
"Itu kan tanah kelahiran kamu. Gak ada yang ngelarang kamu kesana! Elrich aja bisa sampai kesini demi menikahi Abrine."
"Udahlah, Ma. Aku bakal nunggu Abrine dan kak El cerai aja nanti!"
"Yakin kamu mereka bakal cerai? Kalau Abrine beneran hamil dan El gak mau lepasin dia, nyesel kamu, Erland!"
*****
Nanti aku up lagi kalo hadiahnya nambah🤣 wehehe malak maksa yaa🤭
Biar kalian senang aku kasi visual Bang bule ya...
Jangan ada yang fitnah dia abis ini. Dokter aku cute, baik, Sholeh, gak tattoan tapi ttp macho dan manly dong. yang setuju acung jempol yaaahhh🥰😍😍
matanya hazel, rambutnya cokelat. Cakep no debat🤣🤣🤣🤣
gak tau deh fotonya bakal lulus review atau enggak nih✌️✌️
__ADS_1