
Sejak malam itu, Anne dan Raymond memutuskan untuk menjadi lebih dekat. Mereka menemukan kecocokan setelah mengenal lebih jauh. Raymond tidak begitu posesif, pria itu sangat pandai membawa diri dan cukup dewasa bagi Anne.
Sedangkan sosok Anne, Dimata Raymond dia adalah gadis yang pantang menyerah dan tidak rewel. Terkadang Anne bisa menunjukkan sikap manjanya diwaktu-waktu yang tepat. Raymond tidak bisa mencegah perasaan sukanya yang mengalir begitu saja untuk gadis itu. Tidak peduli bagaimana tanggapan Freya yang amat kesal mengetahui kenyataan itu didepan matanya.
"Jadi, dia wanita itu?" sinis Freya saat mendapati Anne berada di rumah Raymond sebab Xena mengundangnya. Sekarang, Freya sudah menyadari dimana dia pernah bertemu dengan Anne sebelumnya.
"Hmm, kami akan menikah tiga bulan ke depan," kata Raymond tenang.
Freya menghentakkan kaki dihadapan pasangan baru itu. Kehadirannya dikediaman Raymond hanya seperti benalu yang tidak diharapkan. Pada kenyataannya pria itu lebih memilih sekretaris Abrine, bukan dirinya. Hal itu cukup menampar harga dirinya. Dia merasa sangat menyedihkan.
Beberapa hari setelah Raymond mengenalkan Anne padanya, Freya memilih untuk meninggalkan kota Jerman. Dia pergi mengikuti passion nya dan dia pun berangkat ke negara lain demi membuka lembaran hidup yang baru. Freya membuka sebuah usaha coffeeshop di Inggris demi melupakan masa lalunya bersama Raymond.
Sedangkan Xena, ibu kandung Raymond-- tidak perlu bersusah payah memaksa putranya untuk menikah karena nyatanya Raymond dan Anne sudah setuju tanpa ia minta.
Xena juga tidak perlu cemas karena putranya tidak lagi mengharapkan Abrine yang sudah menjadi istri orang. Sikapnya yang biasa menjengkelkan di mata Anne, perlahan mulai berubah menjadi sangat peduli dan hangat. Dia tidak mau menjadi calon mertua yang jahat seperti di film-film karena dia takut rumah tangga putranya nanti akan hancur karena dia.
Dilain sisi, Abrine dan Elrich melewati keseharian mereka dengan cukup tenang karena Erika dan Wildan sudah kembali ke Indonesia beberapa waktu lalu.
Setelah keluar dari rumah sakit waktu itu, Erika mengajak putranya untuk segera pulang ke kediaman mereka yang sebenarnya. Entah kenapa keputusan itu begitu cepat Erika ambil, Abrine dan Elrich tidak pernah mengetahui alasannya. Tapi, tentu hal itu membuat keduanya merasa sangat lega.
Kehidupan rumah tangga Elrich dan Abrine berjalan dengan baik. Sesekali, saat kondisi kesehatan Abrine dan kandungannya sangat baik-- mereka akan berlibur ke villa milik Edgar.
Abrine sebenarnya sangat senang berada di villa milik mertuanya. Selain pemandangannya sangat indah, disana juga terdapat kebun jeruk dan apel yang bisa dia petik saat musim panen telah tiba.
Sayang, terkadang fisik Abrine tidak kuat jika berlama-lama di daerah sejuk pegunungan.
"Kau mau mengajakku kemana, El?" Saat ini, Abrine tengah memetik beberapa buah apel dengan keranjang ditangannya. Tetapi El justru menarik tangannya seolah mengajaknya ke arah yang berbeda.
"Aku akan menunjukkan mu sesuatu."
"Apa?"
"Ikut saja, Sayang." El mengedipkan sebelah matanya dan Abrine tersenyum kecil.
Wanita itu meletakkan keranjang buah didekat tempat duduk mereka sebelumnya. Lalu dengan langkah perlahan dia mengikuti kemana El akan membawanya.
"El, ini semakin ke hutan..." Jujur saja Abrine ragu dengan jalan yang diarahkan El saat ini.
__ADS_1
"Aku tahu, kau percaya padaku, kan?"
Akhirnya Abrine mengangguk walau dia sedikit takut karena perjalanan mereka yang belum terlalu jauh sudah mengarahkan pada hutan yang cukup gelap walau hari masih amat siang.
Lambat laun, Abrine mendengar sesuatu yang berbeda. Seperti suara air yang mengalir.
"Coba kau lihat disana..." El menunjuk ke arah yang dia maksud. Disaat itulah Abrine melihat air terjun yang tak begitu tinggi tetapi menjatuhkan air yang begitu jernih dan tampak menyegarkan.
"El, aku mau berenang disana!" pekik Abrine sangat terdengar antusias.
Elrich tertawa pelan. "Kau yakin? Aku takut kau kedinginan. Ini air pegunungan."
"Kalau begitu, izinkan aku hanya mencuci kaki disana."
Niat awal El adalah hanya menunjukkan pada istrinya bahwa disini ada pemandangan air terjun yang indah, nyatanya Abrine malah tergoda untuk menceburkan diri, tentu saja dia mencegah. Selain Abrine memiliki riwayat hipotermia, istrinya juga sedang hamil besar.
"Baiklah, aku akan memegangimu."
Dengan telaten dan hati-hati, El menuntun Abrine ke pinggiran sungai dekat air terjun itu. Saat Abrine memasukkan kakinya ke dalam air, matanya langsung membola dan senyuman semringah terpancar diwajahnya.
"El, ini segar sekali..."
"Benarkah?"
"Ya, dan Elena hanya bisa memandangi kami di tempat dudukmu sekarang.
Abrine tertawa mendengarnya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menjadi Elena dan menunggumu berenang disini. Ayo, aku mau melihatnya."
Elrich menautkan alis seperti memikirkan saran sang istri, tak lama dia membuka kaus yang membalut tubuhnya.
Tak sampai satu menit, pria itu sudah ber te lan jang dada dan membuka celana panjangnya. El hanya menyisakan celana diatas lutut sebagai pakaian terakhir yang melekat ditubuhnya.
El menceburkan diri ke dalam sungai tenang dengan air yang sangat dingin itu. Dia berenang kesana kemari disaksikan oleh Abrine yang cukup iri saat melihatnya.
"El, aku juga mau ikut," rajuk Abrine memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Elrich yang berada ditengah-tengah air pun tertawa.
"Aku tidak mau kau sakit. Disana saja, tunggu aku selesai..."
"Tidak mau."
"Jangan mendebatku, Brine."
Abrine pun melipat tangannya di dada, ini bukan salah El sebenarnya, salah dirinya sendiri yang tidak tahan dengan udara dan suhu dingin. Tak lama, dia terkesiap saat merasakan sentuhan menggelitik di kakinya yang masih berada didalam air.
"El, jangan begini..." Abrine memprotes, sebab sekarang El berenang didekat kakinya. Pria itu mengelus dan menggelitik betis Abrine yang tidak tertutup kain apapun sebab dia hanya menggunakan dress tadi.
Sekarang El yang berada dalam air mengadahkan wajah pada Abrine yang terduduk dipinggiran sungai. El merentangkan kaki Abrine agar betis mulus istrinya bertumpu pada kedua bahunya. Dalam posisi itu, El juga melingkari pinggang Abrine dengan kedua tangannya, membuat kepalanya bisa bersandar di perut bulat sang istri.
"Kau tahu, aku tidak menyangka bisa berada didalam fase ini. Fase dimana kau menjadi bagian dalam hidupku."
"Aku bangun dan terlelap di ran jang yang sama denganmu. Aku dapat melihatmu berada sangat dekat denganku dan bisa menyentuhmu sesuka hatiku."
"Brine, tidak ada hari yang lebih baik selain hari kebersamaanku, denganmu. Aku bahkan bisa mendoakanmu di dalam setiap waktu. Kau adalah wanita yang merusak tembok pertahananku. Kau yang mengajarkanku arti mencintaimu. Terima kasih, aku sangat beruntung memilikimu."
Abrine menutup mulutnya yang ternganga. Dia tak menyangka Elrich bisa berkata hal seromantis itu padanya. Wanita mana yang tidak merasa bahagia jika lelakinya mengaku sangat beruntung telah memiliki dia.
Akhirnya Abrine mendekap kepala El yang masih bersandar di perutnya. Meresapi hawa dingin yang timbul karena rambut pria itu yang basah. Seolah dia tengah menyalurkan kehangatan bagi prianya yang juga sangat dia cintai.
"Aku juga berterima kasih padamu ... kau pria yang memenangkan hatiku. Suamiku." Abrine pun tersenyum lembut sembari menangkup rahang sang suami.
Untuk pertama kalinya, Elrich menitikkan airmata kebahagiaan karena ucapan sungguh-sungguh yang diucapkan istrinya. Meski Abrine tidak menyadari tangisnya sebab wajahnya memang telah basah, tapi dia tahu Abrine dapat merasakan bahwa dia sangat terharu dengan jawaban wanita itu.
Perlahan tapi pasti, Abrine merundukkan wajah agar setara dengan posisi suaminya. Mereka berciuman dengan lembut. Ciuman yang tidak tergesa-gesa dan tanpa naf su disana. Seolah ciuman itu mengalirkan cinta satu sama lain yang sangat dalam.
"Kau yang terbaik...." kata El disela-sela ciumannya. Dia menggendong tubuh Abrine hingga akhirnya membawa tubuh itu ikut bergabung ke dalam air tanpa menghentikan ciuman mereka. Dia akan menyudahi ini jika merasa sudah cukup. Nyatanya, dia selalu merasa kekurangan jika didekat istrinya.
"Kita pulang, tidak baik kau berada disini terus," kata El memutuskan.
Akhirnya, mereka pun kembali ke Villa. Edgar terheran-heran melihat keadaan mereka yang basah. Tetapi, pria tua itu tidak mau menanyakan apa yang terjadi. Edgar hanya bisa mengucap syukur sebab rumah tangga El berjalan dengan baik. Dia berharap, semoga Elrich tidak mengalami apa yang pernah dia rasakan sebagai seorang suami dan ayah.
Edgar juga mendoakan agar putranya bahagia untuk selamanya. Bagaimanapun, El sudah cukup menderita karena tidak pernah mengenal sosok ibu kandung yang sebenarnya. Edgar berharap Abrine dapat mengisi kekosongan dihati El mengenai rasa kurangnya kasih sayang tersebut.
__ADS_1
*****
1 Part lagi ya.....🙏🙏🙏