PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
75. Tak diizinkan bertemu


__ADS_3

Elrich, mungkin akan sangat menyukai sebuah percandaan yang membuat dia atau orang lain tertawa terbahak. Dia juga memliki selera humor yang cukup baik, apabila dia sedang dalam mode bercanda.


Tapi, saat ini El sedang dalam mode serius. Dia membutuhkan jawaban yang bisa memuaskannya. Bukan sebuah lelucon yang justru akan memancing kemarahan ataupun sebuah kekecewaan yang mendalam.


"Emily telah tiada. Ibumu sudah meninggal, El."


Pernyataan dari Theresia mampu membuat air muka Elrich yang sebelumnya datar berubah menjadi pias.


Dia memang belum bisa menerima Theresia yang datang tiba-tiba kedalam kehidupannya. Dia juga belum bisa memaafkan ibu kandungnya yang telah dengan sengaja meninggalkannya.


Tapi, hal ini sangat mengejutkannya. Lelucon apa lagi kali ini? Apa Theresia ingin mengujinya? Atau justru semesta yang sedang mempermainkannya?


"Jangan membuat sebuah lelucon! Sekalipun wanita itu tak memiliki nyali untuk bertemu denganku yang sudah dia tinggalkan, maka.... biarkan aku menemuinya sekali saja. Ya, begitu lebih baik. Aku ingin bicara padanya dan menanyakannya secara langsung!"


El berdiri dari duduknya seketika.


Abrine dan Theresia ikut terkejut dengan reaksi yang El tunjukkan. Ketakutan Theresia mengenai hal ini terbukti, Elrich tampak syok dengan pernyataannya.


Sementara Abrine sendiri, dia hanya bisa mendekap El dengan erat. Seolah menyalurkan seluruh kekuatan agar sang suami bisa kuat saat mengetahui kenyataan ini.


"El, maafkan nenek. Tapi... kenyataannya memang begitu. Emily... Emily.... telah berada di dunia yang berbeda dengan kita," lirih Theresia yang menyeka air bening disudut matanya.


"Tidak mungkin! Kau membohongiku tentang apalagi, Nyonya?" senggak El kesal. Tanpa diduga dia justru ikut menitikkan airmata saat mengetahui kenyataan ini.


Sejatinya Elrich adalah pria yang perasa. Baru saja secercah harapan dalam dirinya muncul ketika dia tahu ada seorang nenek yang mengakuinya sebagai cucu.


Memang, sikapnya marah dengan kedatangan Theresia yang mendadak. Tapi, sisi lain dalam dirinya tentulah merasa terharu karena nyatanya dia masih memiliki seorang ibu. Meski pada kenyataannya ibunya lah yang meninggalkannya dulu, tapi El masih berharap dapat bertemu Emily.


Kalaupun Theresia tidak berada didepan El saat ini. Pada satu kemungkinan untuk nantinya El memang sudah berniat mencari keberadaan ibunya. Sebab, walau bagaimanapun dia terlahir dari rahim Emily.


Elrich kembali terduduk lesu karena tidak ada kebohongan di wajah Theresia saat menyebutkan jika Emily memanglah telah meninggalkan dunia ini.


"El, aku tahu kau kesal. Aku tahu kau juga marah. Tapi, aku mengerti dengan kesedihanmu...." Abrine memeluk kepala El, menyandarkan itu ke perutnya, sebab saat ini Abrine masih berdiri didepan El yeng terduduk lemas.


"Dosa apa yang ku perbuat, Brine? Bahkan aku sudah ditinggalkan sejak bayi. Sekarang aku tidak bisa melihatnya sekalipun. Dan dia malah sudah meninggalkanku untuk selama-lamanya."


El menggerutu dalam dekapan istrinya, membuat hati Theresia bagai tersayat-sayat saat menyaksikan hal itu.


Theresia terkenang saat Emily masih berada didunia. Betapa putrinya sangat mencintai Elrich dan selalu diam-diam memperhatikan tumbuh kembangnya dari kejauhan.


Theresia pun mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang dia gunakan. Itu tampak seperti sebuah album dan buku usang.

__ADS_1


"Ini adalah milik ibumu, El. Dia tidak pernah memintaku untuk memberikannya padamu. Tapi, ini adalah inisiatif ku sendiri."


Theresia mengangsurkan itu kehadapan Elrich. El hanya menatap benda itu dengan nanar tanpa minat untuk menyentuhnya.


"Kau bisa melihatnya nanti, mungkin tidak sekarang. Bukalah disaat perasaanmu lebih baik."


Theresia bangkit dari duduknya. Dia berbalik pergi tapi sebelum dia benar-benar meninggalkan tempat pertemuan mereka, dia kembali bersuara tanpa menoleh ke arah cucunya itu.


"Nenek akan segera pensiun, bila kau sudah siap dengan semuanya, temui lah nenek lagi nanti."


Elrich cukup memahami kalimat sang nenek. Tapi, dia tidak memikirkan hal itu. Yang ada dikepalanya adalah masih mengenai kematian Emily. Ibunya.


"Bisakah aku tahu kenapa ibuku meninggal?" tanyanya menghentikan langkah anggun perempuan baya itu.


"Ibumu sakit-sakitan, dia juga sempat mengalami kecelakaan yang membuatnya cedera otak."


El mengepalkan tangannya sendiri. Betapa dia tidak tahu sesulit apa hidup ibunya setelah meninggalkannya. Selama ini dia bahkan sempat mengira ibunya meninggalkannya untuk bisa bersenang-senang dengan hidup baru yang lain. Pergi dengan pria lain, misalnya. Atau sudah memiliki keluarga yang baru. Nyatanya, hari ini perkiraannya itu harus tertampar keras pada kenyataan yang Theresia lontarkan.


Rupanya, ibunya tidak baik-baik saja setelah meninggalkan dia.


Sekelebat ingatan El muncul ke permukaan. Ingatan itu mengarah pada pembicaraannya pada Abrine tempo hari mengenai siapa pendonor jantung untuknya.


Dunia kedokteran sudah bagai asam garam bagi El selama ini. Jadi, saat dia mengetahui fakta ini. Fakta mengenai ibu kandungnya yang pernah mengalami cedera otak, seketika itu juga otaknya bekerja dan menyimpulkan semua yang telah terjadi.


Abrine tahu El sudah dapat mengartikan semuanya sendiri. Tapi untuk menjawab ucapan sang suami pun dia tak tega.


Sementara Theresia sendiri pun tidak berniat membuat El merasa bersalah atas jantung Emily yang sudah diterimanya.


"Dan wanita itu adalah ibuku...." lanjut El sambil tertawa penuh ironi. Dia tertawa namun nyatanya dia menangis.


Selama ini, Abrine memang tidak pernah melihat sisi lemah suaminya. Mungkin dia pernah tanpa sengaja melihat El menitikkan airmata. Ya, beberapa waktu lalu saat dia ditimpa musibah yang disebabkan oleh Claire. Tapi, baru kali ini Abrine melihat El yang terang-terangan menangis didepannya.


"Aku malu padamu, Brine..." kata El kemudian.


"Malu?"


"Ya, hidupku ternyata berantakan. Sangat berantakan. Bahkan Tuhan tidak mengizinkanku untuk bertemu dengan ibu kandungku, sekalipun."


"El, kau jangan berkata begitu. Semua yang terjadi sudah ada yang mengaturnya."


"Ya, hidupku diatur untuk jadi seperti ini. Aku terlihat sangat menyedihkan."

__ADS_1


"Karena kau kuat, makanya kau diuji. Itulah yang aku tahu. Pundakmu terlalu kokoh. Bahkan setiap masalah yang kau hadapi sampai hari ini, tidak bisa merobohkan kekuatanmu. Aku tahu kau pasti mampu melewatinya."


****


Berselang beberapa hari setelah El menemui Theresia waktu itu. Akhirnya, El memantapkan diri untuk membuka pemberian neneknya.


Sebuah album foto yang berisikan kenangan masa kecilnya. Disana juga ada foto Emily muda--ibunya--yang memiliki warna mata sama dengannya.


Semua foto-foto itu diambil secara candid, tanpa sepengetahuan siapapun. Entahlah Emily mendapatkan ini darimana tapi ada sebuah keyakinan dalam diri El yaitu benar bahwa ibunya tak pernah meninggalkannya begitu saja. Beliau memang memantau tumbuh kembangnya.


Sebuah jus jeruk disajikan Abrine diatas meja, untuk menemani El melihat-lihat kenangan itu.


"Wah, jadi ini fotomu waktu kecil, ya?" Abrine ingin menghibur El yang beberapa hari ini tampak murung.


"Hmm..." sahut El pelan.


"Ternyata sejak kecil kau sudah tampan. Apa nanti anak-anakku akan mewarisi ketampananmu?"


El tersenyum melihat istrinya, meski rona sedih masih terpancar jelas di raut wajah itu.


"Jika salah satu atau kedua bayi kita perempuan, mereka pasti akan cantik sepertimu. Tapi jika mereka lelaki, maka pastilah mereka menjadi duplikasiku."


Abrine menghela nafas lega, rupanya sang suami sudah bisa diajak bercengkrama.


"Aku senang melihatmu kembali bersemangat. Aku tidak mau kau sakit." Abrine mengelus rahang El secara berulang-ulang.


"Hmm, aku juga tidak mau sakit. Kalau aku sakit siapa yang akan menjagamu dan mereka?" ujar El sambil mengelus perut sang istri.


"Jadi, apa rencanamu selanjutnya, El?"


"Aku akan lanjut membaca buku harian ibuku. Lalu, aku akan mengabarkan berita tentangnya kepada ayah. Selama ini ayah sudah mencari ibuku dan beliau pasti telah menunggu lama tanpa sebuah kepastian."


"Aku setuju dengan itu, El."


"Jika sudah, nanti aku akan mengunjungi makam ibu bersamamu dan ayah. Lalu...."


"Lalu apa?"


"Mungkin aku akan memikirkan kembali pesan nenek terkait pertemuanku dengannya."


El tidak tertarik dengan harta neneknya, tapi dia memiliki rencana lain mengenai itu. Dia ingin menguji Theresia lebih dulu. Apa neneknya memang memiliki belas kasih kepadanya atau hanya ingin menemuinya karena tak punya pilihan lain sebab akan pensiun?

__ADS_1


******


__ADS_2