PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
39. Kembali


__ADS_3

Pintu kedatangan Bandara terasa sangat padat, hari ini El dan Abrine telah kembali ke Jerman bersama keluarga El yang juga ikut pulang ke negara tersebut.


"Kalian ke villa ayah lebih dulu, El?" tanya Elena.


"Tidak, Kak. Aku dan Abrine akan langsung ke Apartmenku saja, aku cukup lelah, lagipula besok aku sudah kembali bekerja."


"Baiklah, jaga diri dan istrimu baik-baik, El. Kakak juga akan segera kembali ke Swedia beberapa hari lagi karena pekerjaan Hardin juga sudah menunggu."


"Ya, kabari aku jika kakak akan pulang."


Edgar memberi petuah-petuah pada Elrich sebelum mereka beranjak dari sana, yang ditanggapi El dengan anggukan saja.


Abrine dan Elena juga saling memeluk sejenak, hingga kemudian mereka semua benar-benar harus langsung berpisah di Bandara tersebut untuk menuju tujuan masing-masing. Edgar, Elena dan Hardin langsung pulang ke Villa yang ditempati sang ayah, sementara Elrich dan Abrine akan bertolak ke Apartmen El yang lebih dekat dengan Rumah Sakit tempat El berdinas.


"Aku akan kembali ke Apartmenku dulu, El."


"Maksudmu? Kita tinggal terpisah? Tidak! Kita tinggal bersama di Apartmenku."


"Tapi semua barang-barangku ada disana, termasuk semua baju kerjaku."


"Apa itu lebih penting dariku?" El menatap Abrine lekat, Abrine membuang pandangan karena gugup dipandangi pria itu.


"Memangnya sejak kapan kau penting bagiku?" cibir Abrine seraya mengulum senyumannya.


"Tentu saja sejak kita menikah," sahut El enteng.


Untuk pertama kalinya Abrine berkunjung sekaligus akan menempati apartmen milik Elrich. Apartmen itu terletak di bagian paling atas, lebih tepat disebut sebagai penthouse yang mewah.


"Ini terlihat berlebihan untuk kau tinggali seorang diri selama ini," komentar Abrine sesaat setelah memasuki tempat itu.


"Ini baru ku beli untuk kita berdua. Awalnya aku hanya tinggal di Apartmen biasa yang masih satu gedung dengan tempat ini, aku membeli penthouse ini sesaat setelah kau menyetujui pernikahan kita."


"Benarkah?" Abrine menatap El tak percaya. "Kenapa berlebihan sekali," gumamnya.


"Apa ini berlebihan? Aku hanya mau kau tinggal dengan nyaman selama bersamaku."


"Wohooo, ternyata suamiku ini tidak terlalu buruk, aku bisa gendut menikmati fasilitas di tempat ini." Abrine berdecak lidah secara berulang-ulang, menandakan kekagumannya pada El tapi pria itu justru terkekeh saja mendengar pujian sang istri.

__ADS_1


"Ayo! Aku akan menunjukkan padamu sesuatu." El menarik pelan lengan Abrine yang diikuti wanita itu dengan berlarian kecil dibelakang tubuh tinggi El.


"Ini adalah kamarmu, spesial untukmu." El tersenyum kecil pada Abrine tapi Abrine merasa salah fokus dengan ucapan El barusan.


"Kamarku?" tanyanya.


Elrich mengangguk. "Yups, kamarmu."


"Lalu kau? Kau tidak tidur bersamaku? Kita tidur terpisah?" Abrine tercengang.


"Maaf, aku belum bisa untuk itu." El menatap Abrine serius, seolah tidak ada keraguan dengan keputusannya ini.


"Tapi waktu di Indonesia kita---"


"Itu berbeda, Brine. Saat itu kita berada dekat dengan keluarga dan mau tak mau kita tak boleh membuat mereka curiga."


"El?"


Elrich ingin berbalik pergi, tapi Abrine mencekal tangannya.


"Kau sendiri yang mengatakan jika ingin aku mengandung anakmu tapi kenapa--"


"El, kau ini...." Abrine tidak bisa melanjutkan kalimatnya, dia tak habis pikir dengan keputusan El. Dia sebenarnya punya segala macam kata, sumpah serapah, sampai umpatan untuk dia lontarkan pada El tapi semua itu seakan tertahan di kerongkongan.


"Kamarku ada di lantai atas, jika perlu sesuatu kau bisa menelpon atau mengetuk pintu kamarku lebih dulu."


Abrine terdiam, dia membiarkan El pergi setelah kalimatnya selesai. Abrine terduduk di lantai marmer itu dan dia memijat pelipisnya sendiri.


El mengatakan tidak mau Abrine tinggalkan. El juga sudah melanggar perjanjian dengan menyentuhnya. Mereka melewatkan malam pertama itu layaknya pengantin yang sebenarnya, tapi sekarang El memutuskan mereka untuk tidur dikamar terpisah. Abrine pikir El memang berniat membuka hati untuknya, nyatanya ada suatu yang dia lupa. Ya, Abrine tak begitu mengenal sosok pria yang telah menjadi suaminya.


Kenapa El memutuskan hal ini? Meski El masih bersikap lembut padanya, tapi tetap saja hal ini membuat tanda tanya besar dalam diri Abrine? Hal apa yang disembunyikan El darinya? Atau kenapa El bertingkah seperti ini? Apa yang tidak dia ketahui lagi mengenai sang suami?


Dia selalu ingat jika El tidak mempercayai cinta, tapi bukankah El telah berjanji akan mencoba belajar mencintainya?


Ternyata keputusan kembali ke Jerman bukanlah hal yang tepat untuk rumah tangga mereka. Bahkan status istri yang Abrine sandang barulah 4 hari. Kenapa El berlaku seperti ini, ini tidak pernah dia duga sebelumnya.


Dengan gegas Abrine mandi dikamarnya, dia membuka koper dan berpakaian formal. Dia memutuskan untuk bekerja saja hari ini kendati waktu sudah menunjukkan hampir menuju jam makan siang. Dia tak peduli, dia kesal dan ingin segera pergi.

__ADS_1


Tepat saat Abrine hendak menekan kenop pintu untuk keluar, rupanya El menuruni tangga dan memanggil namanya.


"Kau mau kemana, Brine?"


"Aku ke kantor, aku sudah lama tidak memantau keadaan disana."


"Tapi kau baru tiba di Jerman. Apa kau tidak lelah?"


Abrine ingin menjawab dia lebih lelah berada serumah dengan El tapi hanya diperlukan saat diinginkan saja. Tapi kalimat itu tak bisa dia ucapkan. Dia hanya menjawab El dengan sorot mata penuh kekecewaan. El yang melihat itu tak dapat lagi mencegah kepergian Abrine.


Akhirnya Abrine benar-benar pergi. El mengembuskan nafas kasar.


"Maafkan aku, ini hal yang paling ku takutkan sejak awal. Kau akan terluka jika berkaitan dengan lelaki sepertiku. Tapi, aku juga tidak mau kau tinggalkan." Elrich meneguk air mineral disisinya dengan perasaan gusar dan serba salah.


Sedangkan Abrine sendiri, dia menaiki taksi dan menuju kantor. Dikantornya, dia mendapat banyak sekali ucapan selamat menikah dari para pekerjanya. Abrine juga mendapat banyak kartu ucapan yang memang dikirimkan dari relasi bisnisnya ke kantornya.


Semua hal itu harusnya membuat Abrine bahagia, tapi mengingat hal yang sempat terjadi di Apartmen El tadi, seketika itu juga Abrine kehilangan mood baiknya.


Abrine tak bisa bekerja. Selain dia memang lelah, dia juga tidak fokus. Akhirnya Abrine menelepon Yemima dan mengajaknya makan siang bersama.


Disebuah Cafe bergaya retro, dia dan Yemima bertemu dan menceritakan semuanya tanpa ditutup-tutupi satu apapun. Termasuk mengenai sejauh apa hubungannya dengan El.


"Apa kau tahu kenapa dia bersikap seperti itu?"


"Aku tidak tahu. Tapi Xander mungkin mengetahuinya," jawab Yemima ikut penasaran.


"Yang aku tahu, dia hanya trauma dengan rumah tangga orangtuanya. Ayahnya pernah dikhianati oleh ibu sambungnya. Dia mengatakan itu salah satu faktor yang membuatnya tidak percaya cinta. Tapi, kenapa dia harus bersikap seperti ini padaku?" Abrine tidak bisa menahan airmatanya. Biasanya dia tidak secengeng ini, ini adalah airmata pertamanya setelah menikah dengan El.


"Brine, jangan menangis, aku akan menanyakannya nanti pada Xander. Apa yang membuat El seperti ini."


Abrine segera menghapus airmatanya. Dia tak mau terlihat lemah, bagaimanapun semua ini sudah menjadi keputusannya dan satu lagi, soal El yang menyentuhnya, dia tak menyalahkan El sepenuhnya karena dia juga salah karena telah menikmati hal itu juga.


"Kalau aku boleh berpendapat, El sudah jatuh cinta padamu. Dia tidak mau mengakui. Dia sengaja membuat jarak untuk menutupi perasaannya, Brine." Yemima memberikan penilaiannya.


"Entahlah, aku tidak mau terlalu berharap. Aku terlanjur tak habis pikir dengan dia."


"Jadi, apa keputusanmu? Kau tidak mungkin meninggalkan dia, kan? Kalian baru saja menikah."

__ADS_1


*****


Berikan Vote dihari Senin, guys🙏 ntar aku up lagi deh 🤎


__ADS_2