PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
34. The day


__ADS_3

Dilain sisi, Yemima dan Xander sudah tiba di Indonesia hari ini. Kedatangan mereka tentu khusus untuk menghadiri pernikahan Elrich dan Abrine yang akan dilakukan besok lusa. Tapi, mereka justru mendengar kabar bahwa El sedang dirawat di Rumah Sakit saat ini, sehingga keduanya segera bertolak ke tempat dimana Elrich berada.


"Kau kecelakaan lagi?" tanya Xander begitu tiba di bangsal El.


Elrich hanya tersenyum tipis menanggapinya.


Yemima dan Abrine yang baru bertemu pun saling melepas rindu dengan saling bercerita disudut ruangan.


Yemima tidak habis pikir karena akhirnya Abrine akan berakhir menikah dengan El. Dia ikut senang karena setahunya Elrich adalah pria yang baik dan dewasa untuk Abrine, tapi dia akan lebih senang jika mereka menikah karena saling mencintai bukan seperti sekarang ini. Dia tetap tidak menyangka ini benar-benar terjadi, karena semua terasa begitu sangat cepat.


"Sejujurnya aku masih speechless dengan kabar pernikahan kalian. Ku pikir kalian hanya saling memanfaatkan," bisik Yemima pada Abrine sambil matanya sesekali melirik pada Elrich dan Xander yang juga sedang saling bicara-- entah membicarakan apa.


"Sudahlah, aku tidak mau membahasnya, Mima."


"Kau masih bisa membatalkannya jika kau mau."


"Aku tidak bisa."


"Why? Apa kau sudah mulai terpesona pada El? Ya, harus ku akui dia memang tampan. Tapi pernikahan bukan hanya soal itu, Brine!"


"Ku pikir sejak awal kau mendukungku untuk mengiyakan tawaran pernikahannya."


"Waktu itu, aku tidak serius! Aku tidak menyangka jadinya seperti ini, kalian benar-benar akan menikah. Ini mengejutkanku."


"Lalu, menurutmu bagaimana? Aku tidak bisa membatalkan pernikahan yang sudah diambang mata. Keluarga El juga sudah di Indonesia."


"Oh my.... kalian ini!" Yemima mengusap wajah. "Ku harap ini awal mula kebahagiaanmu, Brine! Jangan berpikir untuk berpisah darinya, belajarlah saling mencintai!" ujarnya kemudian dengan sungguh-sungguh. Bagaimanapun, Yemima tahu pasti Abrine dan El tak saling mencintai. Entahlah apa yang terjadi sehingga keduanya punya kesepakatan menikah. Di berharap mereka saling menemukan kebahagiaan didiri masing-masing.


Sementara itu, El dan Xander juga bicara empat mata dan saling berbisik diposisi mereka yang tak jauh dari Yemima dan Abrine.


"Jadi, kau akan melepaskannya setelah kalian menikah nanti?" tanya Xander.


"Entahlah, ku rasa tidak."

__ADS_1


"Kenapa? Kau mulai ada rasa padanya?" tebak Xander lagi.


"Bukan, aku tidak mau ayahku kembali memaksaku untuk menikah jika nanti aku dan Abrine sudah berpisah."


"Kalau begitu jangan kau lepaskan! Buat dia bertekuk lutut padamu sehingga dia tidak akan mau kau lepaskan!"


"Aku tidak tega jika dia harus berada disisi orang sepertiku."


"Sudahlah, El. Kau yang paling tahu jati dirimu sendiri. Aku juga tahu kau orang baik. Aku percaya padamu. Semua orang punya masa lalu dan tak semua masa lalu itu baik, jangan mengaitkan masa lalu dengan masa depanmu atau kau akan selalu terjebak disana dan tidak pernah melangkah maju."


Elrich menghela nafas panjang. "Aku hanya tak bisa mempercayai wanita manapun lagi."


"Termasuk Abrine?"


"Begitulah.... kami tak saling mengenal."


"Makanya, kenali dia dengan baik."


Elrich menggelengkan kepalanya. Dia terlalu lelah mengenali wanita yang justru akan merepotkannya suatu saat nanti.


"Misalnya?"


"Come on, El! Kau pasti lebih tahu apa maksudku," kata Xander disertai seringaian tipis diwajahnya.


******


Abrine dan Yemima memutuskan keluar bersama dari ruang perawatan El. Mereka beranjak untuk melihat kondisi Raymond yang terkapar diruangan lainnya. Syukurlah ada Yemima, sehingga Abrine tak perlu menemui Raymond seorang diri.


Sesampainya mereka disana, rupanya Raymond sedang tidur. Abrine sebenarnya tidak kuasa menahan rasa sedihnya melihat keadaan Raymond. Kepala Raymond nampak diperban, sepertinya kondisinya lebih parah daripada Elrich.


Abrine mengusap airmatanya yang keluar tanpa permisi. Dia ingin bicara pada pria yang tertidur itu, bicara dari hati ke hati, dia yakin jika mereka benar-benar berjodoh akan ada jalan yang bisa membuat mereka bersama. Tapi sejujurnya, Abrine tak yakin jika Raymond adalah cinta sejati dalam hidupnya.


"Maafkan aku, Ray..." bisik Abrine didekat telinga pria itu.

__ADS_1


"Siapa yang menjaminnya disini?" tanya Yemima.


"Aku, dia tak punya kerabat disini. Aku tahu dia berada di Indonesia karena aku." Wajah Abrine terlihat sendu.


Yemima mengusap pundak Abrine, dia tak mengerti jelas bagaimana perasaan temannya itu, tapi dia yakin Abrine masih memiliki rasa meski sedikit untuk seorang Raymond.


"Kau akan menikah. Sebaiknya kau tidak bertemu dengannya lagi, Brine..."


"Aku tahu, aku salah menemuinya semalam. Aku hanya ingin menyelesaikan semuanya dan Raymond bisa menghargai keputusanku. Tapi, semuanya malah berakhir begini."


"Sudahlah, yang penting dia tidak apa-apa, kan?"


Abrine mengangguk. Dokter juga sudah memberitahunya terkait kondisi Raymond yang hanya mengalami gegar otak ringan. Tadinya Raymond juga sudah sempat sadar tapi sekarang dia tertidur lagi karena efek obat yang dikonsumsinya.


*****


Hari pernikahan itu pun tiba, sebelumnya semua keluarga kaget melihat El yang mengalami luka-luka di beberapa bagian tubuhnya, tapi El berhasil menjelaskan jika dia hanya mengalami kecelakaan ringan dan tak perlu dikhawatirkan.


Abrine sendiri belum sempat menjenguk Raymond lagi, karena dia terlalu sibuk untuk menuju hari pernikahannya ini. Tapi, Abrine sudah mendengar kabar bahwa Raymond juga telah keluar dari Rumah Sakit. Dalam hati Abrine merasa lega dan semoga hari ini semua berjalan dengan lancar.


Janji sakral sudah terdengar. Kini Abrine dan Elrich sudah resmi dinyatakan sebagai sepasang suami istri. Sejujurnya Abrine tak bisa menahan airmatanya. Dia merasa terharu sekaligus sedih. Disaat seperti ini dia semakin sadar bahwa dia tak mau ada pernikahan yang kedua kalinya.


"Apa kau menyesal?" celetuk Elrich disamping Abrine.


"Tidak perlu ada yang disesali. Kita tetap pada kesepakatan kita."


Elrich mengangguk, walau dalam batinnya menolak hal itu. Tidak akan ada yang melepas dan dilepaskan setelah pernikahan ini terjadi. Itu tekadnya.


"Apa kau yakin bisa menemukan cinta sejatimu setelah kita menikah?" bisik Elrich.


"Tentu saja. Akan ada yang menerimaku apa adanya nanti." Abrine menjawab percaya diri, padahal dia tak yakin. Dia sendiri tak mau ada perpisahan lagi setelah ini, dia bertekad menaklukkan Elrich.


Jika disimpulkan, keduanya sama-sama tak mau saling melepaskan satu sama lain meskipun itu bukan karena rasa ingin memiliki melainkan karena pemikiran mereka masing-masing. Elrich tak mau dipaksa menikah lagi nantinya, sementara Abrine tak mau menyandang status janda. Keduanya bertekad untuk mempertahankan pernikahan, tapi di bibir mereka mengatakan akan melakukan kesepakatan semula.

__ADS_1


"Jika ternyata cinta sejatimu adalah suamimu sendiri, bagaimana?" tanya Elrich sambil berlalu membuat Abrine terdiam dalam posisinya.


******


__ADS_2