PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
49. Menanyakan


__ADS_3

"Aku tidak merasa terbebani, El. Aku sudah memutuskan untuk cepat hamil sesaat setelah kita menikah."


"Benarkah?" Alis El tertaut, kenapa Abrine bisa berpikir sampai kesana, padahal mereka sama-sama tahu, sejak awal pernikahan mereka tidak dilandasi oleh perasaan cinta. "Apa kau sangat ingin memiliki anak?" tanyanya.


Abrine menggeleng dengan seulas senyum. "Aku sebenarnya belum memikirkan tentang anak. Tapi, setelah ku pikir-pikir lagi, kehadiran seorang anak dapat semakin mengeratkan hubungan kita, ku rasa itu tidak ada salahnya."


"Itu artinya---"


"Sejak awal, aku tidak ingin kau melepasku, El. Aku tidak ingin berpisah denganmu, kendati bagaimanapun perasaan kita nantinya. Awalnya justru aku ingin kau terjebak dalam pernikahan ini dengan rencana kehamilanku," kata Abrine memotong ucapan El dengan cepat.


Elrich menggeleng samar, baru menyadari rencana culas istrinya. "Hmm, dan akhirnya bukan cuma aku yang terjebak, tapi kau pun sama." El mencolek hidung mancung istrinya lalu mereka tertawa bersama.


"Ya sudah, aku akan bersiap untuk bekerja sekarang. Ini sudah pagi. Kau tidak bekerja? Kau nyaris tidak tidur semalaman, El."


"Aku dinas siang, lagipula malam tadi aku pulang terlalu larut."


Abrine mengangguk dan dia berjalan menuju ke kamar mandi. Usai mandi, rupanya Abrine mendapati El yang sudah tertidur di ranjang mereka. Abrine membiarkannya. El butuh istirahat yang cukup meski ini bukan waktu yang tepat untuk tidur.


Abrine bersiap dengan cepat, dia membuatkan El sarapan pagi agar saat suaminya terbangun tidak merasakan lapar nanti. Sebelum benar-benar meninggalkan Apartmen, Abrine kembali menghampiri El yang tertidur dikamar mereka.


"Sayang, aku berangkat, ya." Abrine mengelus pelan rahang tegas milik suaminya yang terlelap. Hatinya menghangat, dia tidak menyangka dapat memanggil El dengan panggilan ini. Meski jika El dalam kondisi sadar, dia masih terlalu malu mengucapkannya.


"Ehm.... maafkan aku yang tidak mengetahui mengenai obat yang sudah ku konsumsi, mulai sekarang aku tidak akan menyentuhnya lagi dan akan lebih mawas diri terhadap apapun pemberian orang lain," gumamnya didepan wajah El. Dia merasa bersalah atas ketidaktahuannya dalam hal obat-obatan.


Dengan ragu dan gugup, untuk pertama kalinya Abrine memberanikan diri mencium pipi El sampai akhirnya dia berlalu dari sana untuk melanjutkan aktivitas hari ini.


******


Abrine bekerja seperti biasanya. Hari ini dia menemui klien disebuah restoran tak jauh dari kantornya. Bersama Anne, dia menjalankan pekerjaannya. Kliennya adalah seorang wanita yang tidak asing bagi Abrine. Dia adalah Xena, ibu kandung dari Raymond. Mereka memang keluarga pebisnis, itu makanya Raymond berkuliah bisnis, sama seperti Abrine.


"Aku dengar kau sudah menikah, Brine..." Xena memulai pembicaraan diluar konteks pekerjaan mereka karena meeting-nya memang sudah selesai.


Sebenarnya, sejak awal Abrine sudah berusaha bersikap profesional, meskipun dia sangat mengenal Xena diluar rancangan pekerjaan yang saat ini mereka geluti bersama-sama. Tapi, entah kenapa dia merasa tak enak hati saat bertemu wanita paruh baya yang fashionable ini. Sedikit banyak, pasti Xena mengetahui permasalahannya dengan Raymond karena pria itu sangat dekat dengan satu-satunya orangtuanya, Xena.


Abrine enggan membahas masalah pribadi, rupanya Xena yang lebih dulu memulainya. Akan sangat tidak sopan bila Abrine tak menjawab pertanyaan wanita ini.


"Iya, Bibi. Aku memang sudah menikah seminggu yang lalu." Abrine berujar santai seperti biasa, bicaranya pun sudah tidak seformal saat mereka masih membahas pekerjaan tadi.


"Siapa pria beruntung itu? Apa dia salah seorang pebisnis? Direktur perusahaan, atau justru seorang pemiliknya?"


Ucapan Xena memang terdengar menyanjung, tapi Abrine cukup memahami jika disini Xena berniat mengerdilkan profesi suaminya.


"El seorang dokter bedah, Bibi."


Xena menganggukkan kepalanya. "Oh, hanya seorang dokter. Ternyata pilihanmu jauh dibawah Raymond, Brine," ujarnya meremehkan.


Abrine menghela nafas perlahan. "Bagiku itu tidak masalah, Bibi. Yang penting pekerjaan El baik, dia bisa menghargaiku dan dapat ku percaya. Lagipula, pernikahanku bukan sekedar untuk memperkaya diri," tandas Abrine sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


Ujaran Abrine sangat menampar harga diri Xena. Selain Abrine membuat Raymond patah hati dengan pilihan prianya yang jauh dari standar mereka, rupanya Abrine tampak sangat membanggakan suaminya yang hanya seorang dokter saja.


"Hem, begitukah? Berapa sih gaji dokter di kota ini. Sebesar-besarnya gajinya memang tidak bisa menjamin masa depan."


Abrine tidak tahan lagi dengan ucapan lembut Xena yang terdengar sangat meremehkan. Dia tidak bisa berlama-lama lagi bersama wanita itu.


"Baiklah, Bibi. Ku rasa, pembahasan kita mengenai pekerjaan sudah selesai, ada baiknya kita menyudahi ini."


Xena mengendikkan bahu acuh tak acuh.


Abrine berjalan menjauh, diikuti oleh Anne yang berjalan dibelakangnya. Dalam hati, Abrine bersyukur bukan Xena yang menjadi ibu mertuanya.


"Tunggu, Abrine!"


Rupanya Xena mengikuti langkah Abrine dan mencekal lengannya.


"Maaf jika perkataan bibi yang mungkin keterlaluan, tapi... bisakah kau datang menjenguk Ray? Dia sedang sakit sekarang."


Wajah Xena nampak berkaca-kaca penuh pengharapan.


"Aku pikir tidak ada pengaruhnya aku datang atau tidak, Bibi." Sangking kesalnya, Abrine menjawab dengan perkataan itu.


"Abrine, datanglah sebagai sahabat untuk Ray. Dia pasti akan sangat senang. Mungkin kedatanganmu akan mengembalikan semangatnya. Dia sangat tidak bersemangat setelah pernikahanmu." Kali ini Xena nampak bersungguh-sungguh.


Abrine berpikir sejenak seperti menimbang-nimbang.


****


Disana, El baru saja terbangun. Dia menelpon Xander, mengatakan bahwa dia tidak ke rumah sakit hari ini dan meminta semua jadwal operasinya digantikan oleh dokter bedah yang lain. Xander menyanggupi sebab El mengatakan akan mengurus sesuatu hal yang sangat penting.


El sudah berpikir, dia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia segera bertolak menuju villa Edgar untuk menanyakan semua tentang perkataan Erika.


El berpikir, semua masalahnya harus dia selesaikan satu persatu. Salah satu yang sangat menggerogoti pikirannya sejak kemarin adalah pernyataan Erika mengenai asal-usulnya. Jika itu benar, dia berhak tahu siapa ibu kandungnya, bukan?


El tiba di Villa sang ayah menjelang siang. Dia langsung menemui Edgar yang tengah membaca surat kabar di beranda belakang rumah.


"Ayah...." Sebenarnya El serba salah, dia tidak mau menyinggung ayahnya dan berakibat pada kesehatan Edgar. Namun, dia juga tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lebih lama lagi.


"El, kau disini, nak?"


"Bagaimana keadaan ayah?"


"Ayah sehat, El." Edgar seperti mencari-cari sesuatu di belakang El. "Mana Abrine?" tanyanya kemudian.


"Abrine sedang bekerja, Ayah."


"Lalu, kau sendiri tidak bekerja, El? Apa yang membawamu kesini? Kau terlihat sangat terburu-buru."

__ADS_1


"Maafkan aku ayah, aku hanya mendengar kabar yang kurang baik. Dan kedatanganku kesini untuk bertanya pada ayah sekaligus mengonfirmasinya demi ketenangan hatiku."


Edgar mengernyit dengan alis yang tertaut dalam.


"Hal apa itu, El?" Edgar merasa Elrich putranya sedang menginterogasinya. Tatapan sang anak terlihat sangat mengintimidasinya. Tak biasanya El seperti ini. Hal apa? Atau El sudah mengetahui satu fakta yang selama ini Edgar tutupi?


"Ayah, apakah aku dan Kak Elena lahir dari ibu yang sama?"


Pertanyaan Elrich membuat Edgar tersentak. Dia sudah mempersiapkan jawaban dari jauh-jauh hari apabila suatu saat nanti El akan menanyakan hal ini. Tapi, ketika saatnya tiba dan El benar-benar menanyakannya, entah kenapa Edgar malah sulit untuk berkata-kata.


"Jawab aku, Ayah! Apa benar, aku adalah anak dari hasil perselingkuhan?" El menanyakannya dengan menahan emosinya dalam-dalam. Intonasi suaranya tertahan.


Edgar tergugu. Meski El bertanya dengan nada pelan tapi pertanyaan El membuatnya harus memegangi jantungnya yang mendadak terasa nyeri akibat hal ini. Edgar berusaha bertahan sekuat tenaga, bagaimanapun El berhak tahu segalanya.


"Ayah, apa ayah baik-baik saja? Maafkan aku," kata El memegangi tubuh tegap Ayahnya yang melemas. "Maafkan aku ayah, aku hanya ingin tahu kebenarannya mengenai jati diriku."


"A-ayah, tidak apa, El. Bantu ayah ke ka-kamar." Edgar bicara tersendat-sendat. Dia butuh obatnya sekarang.


El membawa Edgar yang ringkih ke dalam kamar pria itu. Edgar segera meraih gelasnya dan El sigap memberinya obat yang memang tersedia diatas nakas. El tahu tindakannya ini akan mempengaruhi kesehatan ayahnya, tapi dia tak akan memaksa Edgar untuk menjawab dengan segera. Intuisi El bekerja lebih baik dan dari mimik wajah serta bahasa tubuh ayahnya, dia sudah dapat menyimpulkan sebuah kebenaran.


Edgar merasa lebih tenang, dia sudah bisa mengendalikan diri dan menatap teduh pada sang putra setelah obat yang dia minum mulai bereaksi.


"El, semua berita yang kau dengar mengenai jati dirimu, tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah, nak!" ujar Edgar dengan perlahan-lahan. Wajahnya seperti tengah menerawang jauh ke masa silam.


"Elena dan kau memang berbeda Ibu. Elena adalah anak Naina. Sementara kau adalah anak dari.... wanita lain."


El terbelalak, meskipun dia sudah dapat mengira jawaban ini, tapi dia tetap terkejut mengetahui ini dari mulut ayahnya sendiri.


"Tapi percayalah, Nak. Kau bukanlah anak dari hasil perselingkuhan seperti yang kau katakan. Ayah dan Ibumu sudah menikah sebelum ayah menikahi Naina."


"Lalu, siapa... siapa ibuku, ayah?"


"Dia adalah Emily Langford. Ayah dan Emily menikah lebih dulu, tapi tanpa sepengetahuan keluarga. Tapi, Naina adalah istri pertama yang tercatat di negara."


Elrich terduduk lemas. "Kenapa kau melakukan itu, ayah?"


"Emily adalah gadis yang ayah cintai, sementara pada saat itu ayah dijodohkan dengan Naina dan dalam posisi tak bisa menolak."


"Baiklah, aku sudah mengerti keadaannya sekarang. Lalu, dimana ibu kandungku, ayah?"


Edgar menggeleng. "Ayah tidak tahu, dia pergi sesaat melahirkanmu. Entah apa alasannya, dia meninggalkan kita. Mau tak mau ayah membawamu pulang dan membesarkanmu bersama dengan Elena."


"Ayah sudah mencarinya. Tapi tidak bisa menemukannya, El. Mencari seseorang yang tak meninggalkan jejak, tidak semudah membalikkan telapak tangan."


Elrich terdiam. Dia tidak tahu apa ibunya masih hidup atau telah meninggal, tapi fakta yang Erika berikan--benar--bahwa dia bukanlah satu ibu dengan Elena.


******

__ADS_1


__ADS_2