PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
55. Pertengkaran


__ADS_3

"Ku pikir kalian bukan anak kecil lagi atau dokter kemarin sore yang membahas masalah pribadi diruang operasi." Dokter Finn menyorot El dan Claire bergantian.


El hanya diam tanpa sahutan, dia tak tahu harus menjawab apa. Membela diri pun percuma. Sementara Claire, tampak melakukan tindakan yang sama, tidak ada suara jawaban yang keluar dari bibirnya.


Dokter Finn menghela nafas pendek. "Baiklah, terlepas problem apa yang telah terjadi diantara kalian berdua, ku harap kedepannya kalian bisa lebih profesional dan tidak membawa hal itu ke ranah pekerjaan."


"Baik, Dokter." Claire menjawab. "Maaf aku sudah membuat masalah. Aku hanya tidak bisa mengontrol emosiku jika berhadapan dengan Dokter El," imbuhnya.


El menaikkan sebelah alisnya. Dia menatap Claire tajam, namun dia tak mungkin menyelesaikan ini dihadapan Dokter Finn yang tak tahu pangkal masalahnya.


"Jika memang begitu, ajukan surat mutasi kerja ke Rumah Sakit lain saja, Dokter Claire!" tandas El.


"Itu tidak mungkin, aku baru saja dimutasi ke Rumah Sakit ini," sahut Claire dengan senyuman tipis.


"Mungkin kau juga membuat masalah di Rumah sakit sebelumnya, sehingga kau di mutasi kesini." El mengendikkan bahu acuh tak acuh saat menyindir Claire.


"Tidak sepatutnya kau mengomentari pekerjaanku, kau tak tahu apapun!" sahut Claire bersungut-sungut.


"Sudahlah, apa kalian mau berdebat didepanku?" Dokter Finn angkat bicara. "Urus masalah kalian secara dewasa, jangan sampai ini menjadi batu sandungan untuk karir kalian sendiri! Ku rasa kau sangat paham mengenai ini, Dokter Claire!" tukas Dokter Finn yang tahu sejak awal jika Claire lah yang memulai segala keriuhan ini.


Setelah perbincangan yang cukup alot, keduanya keluar dari ruangan Dokter Finn dengan aura gelap yang sangat terpancar.


"Ikut aku!" El tidak bisa menahan kesal pada Claire yang terang-terangan menjatuhkannya. Kini semua orang akan tahu mengenai masa lalunya. Terlebih, jika orang lain yang tidak bisa memfilter hal yang benar dan salah, maka nama baiknya akan rusak perlahan-lahan akibat ucapan Claire di ruang operasi tadi.


"Kenapa kau membahasnya didepan semua orang, hah?" El menarik Claire sampai di ruangannya.


"Ku pikir kau ingin tahu kebenarannya, siapa yang membuat Pevita hamil waktu itu!"


"KAU TIDAK PERLU MEMBICARAKANNYA DIDEPAN BANYAK ORANG!" cerca El kehilangan kendalinya. Jika memang Claire berniat ingin dia tahu, seharusnya bisa membicarakannya dengannya empat mata.


Perbuatan Claire di ruang operasi tadi bukanlah hanya untuk El mengetahui sebuah fakta, tapi dia berniat menjatuhkan nama baik El didepan rekan-rekan yang lainnya.


Claire mendadak ciut melihat kemarahan El yang selama ini tidak pernah ditunjukkan dihadapannya. El selama ini selalu diam, meski Claire memaki dan mengumpatnya dengan sumpah serapah. El juga diam saat ayahnya--Isaac--menghajar pria itu setelah dua hari kematian Pevita. Tapi, kenapa sekarang El tampak sangat murka dengan ocehannya di ruang operasi tadi?

__ADS_1


"Kenapa kau marah? Kenyataannya kau memang meminta Pevita untuk aborsi dan itu menyebabkannya meninggal!" Claire tak mau kalah, dia membalas El dan menatapnya nyalang.


"Aku tahu aku salah! Lalu apa tindakanmu tadi benar? Kau mencoreng nama baikku!"


"Nama baik kau bilang?" Claire tersenyum ironi. "Kau terlalu egois, El... kenapa waktu itu kau meminta Pevita untuk aborsi? Kenapa kau tidak meninggalkannya saja dan meminta pria yang menghamilinya untuk bertanggung jawab? Kenapa?"


"Apa urusannya denganmu! Itu hak ku untuk menerima kondisi Pevita, tapi tidak dengan bayi nya. Aku tidak bisa! Sudahlah, lagipula itu hanya masa lalu!" El memijat pelipisnya yang mendadak pening. Percakapan ini kembali membuka luka lamanya yang ingin dia kubur.


"Galvin. Dia adalah ayah dari bayi yang Pevita kandung." Claire menjawab dengan lesu.


El terbelalak, setelah kematian Pevita 8 tahun yang lalu akhirnya hari ini dia tahu siapa pria yang menghamili kekasihnya waktu itu.


"Tidak mungkin!" El menggeleng pelan. "Kau mau menipuku? Galvin itu kekasihmu bagaimana mungkin dia menghamili Pevita? Apa Galvin juga mengkhianatimu?" tanyanya.


"Tidak, aku yang meminta Galvin melakukannya."


"Kau gi-la!" tutup El sambil menggelengkan kepalanya sebab tak habis pikir.


El ingin berlalu dari ruangannya itu, tapi Claire kembali bersuara.


El menghentikan langkah. Tentu dia ingin tahu alasannya.


"Itu karena Pevita menyukai Galvin tapi Galvin mencintaiku dan mau menuruti semua yang ku inginkan."


"Hah? Bicara apa kau ini? Pevita menyukai Galvin? Tidak mungkin."


"Itu kenyataannya, Pevita bahkan menyerahkan tubuhnya untuk Galvin begitu saja!"


Kenyataan terkadang memang tak semanis ekspektasi. Pil pahit harus ditelan El bulat-bulat. Jadi, dimasa lalu Pevita tidak pernah mencintainya? Begitukah? Semua ucapan cintanya hanya omong kosong!


"Saat Pevita meminta pertanggung jawaban pada Galvin, dia tidak mau karena dia tak mencintai Pevita. Dari situlah Pevita malah mengadu padamu... dia yakin kau mau menerimanya."


Elrich tertawa sumbang ditempatnya, betapa hidupnya malang dan menyedihkan. Dia pikir dia beruntung pernah dicintai oleh Pevita, dulu. Nyatanya dia hanya cinta sendirian.

__ADS_1


"Lalu, apa alasanmu meminta Galvin melakukan itu pada Pevita?" El Kemabli menatap manik mata Claire, berharap kali ini Claire jujur kepadanya.


"Karena dia mengambilmu dariku!"


Apa ini kejujuran yang sebenarnya? Kenapa hal ini yang harus El dengar sekarang? El sampai tidak bisa berkata-kata lagi sekarang. Lidahnya terasa kelu untuk berucap.


"Kau tidak pernah memandangku! Bahkan melirikku pun tidak pernah! Kau tidak menganggapku! Padahal kita berada dalam tahun ajaran yang sama pada waktu itu. Kedatangan Pevita ke kampus yang sama di tahun berikutnya justru menarik perhatianmu. Padahal wajah kami mirip, tapi entah apa yang kau lihat darinya. Pevita mengambilmu dariku, padahal dia mencintai Galvin sejak remaja."


"Pevita itu serakah, dia sudah mendapatkanmu tapi dia juga menginginkan Galvin," imbuhnya lagi, membuat Elrich semakin terkekeh miris mendengarnya.


"Sekarang ku minta pergilah dari hadapanku!" ucap El dingin.


"Tapi, El... aku...."


"Jangan katakan apapun lagi, aku sudah memahami apa yang terjadi. Pergilah!" usir El.


Claire membuka mulutnya, dia sudah jujur pada El mengenai semua keadaan serta perasaannya, tapi kenapa El tidak menghargai kejujurannya sama sekali?


"El, aku sudah jujur padamu. Apa kau tidak mau mengucapkan apapun setelah mengetahui kenyataannya?"


"Aku harus bilang apa lagi, Claire? Pevita sudah meninggal. Aku bahkan sudah dihukum oleh keadaan dan perasaan karena kejadian itu. Semua masa lalu itu sudah ku tutup!"


"Tapi, El---"


El mengadahkan tangan, meminta Claire menghentikan ujarannya.


"Cukup! Pergilah! Aku sudah memiliki masa sekarang dan aku tidak mau membahas masa lalu."


"Tapi perasaanku bukan cuma dimasa lalu, El! Sampai saat ini aku masih mengharapkanmu! Kenapa kau tidak pernah melihatku, El? Sekarang kau malah menikah dengan wanita lain!"


El menghela nafas panjang. "Kalau kau tak mau pergi, baiklah, biar aku yang pergi."


El berlalu dari hadapan Claire yang bergeming diposisinya. Claire memikirkan apa yang telah dia perbuat. Apa setelah ini nama baik El memang akan tercoreng karena ulahnya? Sekarang dia kesal pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Sebenarnya aku lelah harus selalu memulai pertengkaran denganmu, El. Tapi jika tidak begitu, kau tidak akan pernah melihat keberadaan ku!" Claire bermonolog pada dirinya sendiri.Ada rasa menyesal sekaligus lega akhirnya dia bisa jujur pada El. Tapi, setelah ini dia pun harus memperbaiki semua kesalahan yang telah dia perbuat.


*****


__ADS_2