PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
31. Sebuah Kenyataan


__ADS_3

Erika mondar-mandir dengan gelisah sesaat setelah Wildan mengatakan dia belum bisa mengikhlaskan Abrine begitu saja untuk El.


Namun, untuk membuka kedok El yang sebenarnya pun mereka belum siap. Terlebih, Elrich dan Wildan sama-sama berada dalam posisi yang sama. Jika rahasia tentang El mereka bongkar dihadapan Abrine lalu gadis itu menolak menikah dengan El akibat aib itu, maka bukan tidak mungkin Abrine juga akan menolak Wildan karena Wildan Dan Elrich berada dalam status yang sama.


"Kita tidak bisa mengatakan pada Abrine yang sebenarnya, Ma."


"Tapi, itu bisa membuat Abrine berpikir dua kali untuk menikahi Elrich! Apalagi jika keluarga Abrine mengetahui hal ini," jawab Erika dengan gusar.


"Lalu bagaimana denganku, Ma? Statusku dan Kak El, sama. Kami sama-sama anak yang lahir karena perselingkuhan!" jawab Wildan membuat Erika tertohok.


Erika memijat pelipisnya sendiri karena ucapan sang anak.


"Elrich tidak akan membuka jati dirimu, Er. Mama yakin itu."


"Kenapa Mama bisa seyakin itu?"


"Karena rahasia El juga ada pada kita."


"Kak El tidak pernah tahu, bahwa dia juga anak dari hasil perselingkuhan."


Erika tersenyum tipis. "Bukan soal itu, tapi soal Pevita," ujarnya.


"Tapi, Ma...."


"El akan berpikir seribu kali untuk membuka siapa dirimu pada Abrine, Er. Bagaimanapun, kita mengetahui aibnya mengenai Pevita."


"Jadi, apa hal mengenai Pevita yang akan kita katakan pada Abrine agar dia mau membatalkan pernikahan mereka?" Wildan menyandarkan tubuh dengan lesu, dia menatap langit-langit diatasnya.


Erika menghela nafas sepenuh dada. Dia juga masih bimbang-- hal mana yang akan dia beritahukan pada Abrine lebih dulu agar gadis itu tak jadi menikah dengan El. Membatalkannya.


"Aku rasa kita tidak perlu membuka tentang semua ini, Ma. Aku akan berusaha menahan perasaanku," ujar Wildan akhirnya, dia bangkit dan meninggalkan sang Mama yang masih berpikir keras.


Wildan tahu, walau bagaimanapun, dia juga tak mau jika Abrine mengetahui tentang dirinya. Membuka kedok El didepan Abrine, sama saja dengan mengibarkan bendera permusuhan pada El.


Apalagi, mereka sama-sama tahu satu sama lain, bukan? Itu artinya, jika aib El terbongkar maka Wildan juga harus siap jika nantinya Abrine akan mengetahui tentang aibnya yang dibeberkan oleh Elrich.


Jadi, Wildan pikir, lebih baik saling menjaga rahasia masing-masing didepan Abrine, ketimbang saling mengumbarnya. Lagipula, berkat Abrine, keadaan antara dia dan El sekarang sudah jauh lebih baik. Wildan tak mau mengulangi perang dingin yang baru saja usai.


Sebuah kenyataan yang ditutupi, memang akan terbuka pada waktunya. Tapi, Wildan belum siap jika semua tentangnya diketahui oleh Abrine sekarang. Paling tidak, aib mengenai dirinya akan terbuka disaat Abrine sudah bisa menerimanya nanti.


Dan keputusan Wildan adalah menunggu, meski nanti status Abrine bukan lagi seorang gadis.


*******


"Kau sedang apa?"

__ADS_1


"Astaga! Kau mengagetkanku, El!" Abrine memegangi dadanya sendiri, dia benar-benar terkejut karena kedatangan Elrich yang tiba-tiba disaat dia tengah melamun di sisi kolam renang.


"Kau tidak berenang?"


Abrine menggeleng.


"Kau memikirkan sesuatu?" tebak El.


"Entahlah, aku hanya sedikit galau."


"Galau?"


"Hmm...."


"Apa yang membuatmu merasa galau?" Elrich terkekeh pelan, akhirnya dia ikut duduk disisi Abrine, bahkan mengikuti jejak gadis itu dengan memasukkan kaki kedalam air di kolam renang.


"El, sepertinya aku galau soal pernikahan ini."


"Jangan katakan jika kau berubah pikiran disaat pernikahan ini tinggal menghitung hari!"


"Apa kau tidak takut?" Abrine malah memberikan pertanyaan pada El.


"Takut apa?"


"Kau tahu aku tidak percaya dengan hal itu," jawab El datar sembari menatap lurus kedepan.


"Tapi aku merasa kau tidak seperti itu. Kau hanya membentengi dirimu, kau menutup diri agar tidak mencintai."


Elrich menatap Abrine dan menyorotnya tajam. "Kau bahkan tidak mengenalku dengan baik, bagaimana bisa kau menilai diriku?" tanyanya.


"Sudahlah, lupakan pertanyaanku yang aneh tadi. Sepertinya kita memang tak mungkin saling jatuh cinta meski kita banyak membuat momen kebersamaan," tutup Abrine. Dia pun bangkit dari duduk meninggalkan Elrich yang tercenung seorang diri sekarang.


"Kau tidak akan bisa mencintai pria sepertiku, Brine..." lirih Elrich bicara pada dirinya sendiri.


Abrine kesal dan meninggalkan Elrich karena jawaban pria itu tidak bisa menyenangkannya. Entah kenapa dia kecewa karena dia sudah berharap El bisa menjawabnya dengan serius. Abrine memutuskan naik ke lantai atas. Dia memasuki ruang karaoke dan bernyanyi disana seorang diri.


Dia menyetel lagu beritme cepat, bernyanyi dengan cara berteriak-teriak meluapkan kekesalannya. Toh, dalam ruangan ini tak akan ada yang bisa melihat aksi gi-lanya ataupun mendengar suara cemprengnya saat menyanyikan lagu karena ruangan ini kedap suara.


Abrine juga menyanyikan lagu rock sambil jingkrak-jingkrak. Seolah dialah sang vokalis yang sedang bernyanyi diatas panggung.


Sampai pada akhirnya Abrine menyudahi kegiatan unfaedah yang dia lakukan saat dia sudah puas dan lelah sendiri. Dia tak merasa jika dia sudah berada dalam ruangan itu selama satu setengah jam. Saat dia keluar dari sana dia berpapasan dengan Rahelsa.


"Rahel, kau disini?" tanya Abrine pada kakak iparnya itu.


"Iya, tadi aku dan Aarav mengantarkan obat untuk papa tapi papa meminta kami makan malam disini sekalian," terang Rahelsa.

__ADS_1


Abrine mengangguk pelan. Papa Nev memang sudah tua sekarang dan beliau harus rutin mengonsumsi obat-obatan agar darah tingginya tidak naik. Apalagi jika Abrine membuat ulah. Itulah mengapa Abrine tak mau membebani pikiran orangtuanya lagi sekarang tapi soal pernikahannya yang sekarang membuatnya galau, bagaimana ini?


"Hel, boleh bicara bentar, gak?"


"Ya boleh, bicara aja, Brine."


"Gak disini. Berdua." Abrine menunjukkan jari yang membentuk huruf V.


"Oh, mau curhat...." kata Rahelsa menebak dan tentu saja tebakannya itu benar.


"Iya, masih ada waktu bentar nih sebelum makan malam." Abrine segera menarik lengan Rahelsa dan membawa sang kakak ipar kedalam kamarnya.


"Ada apa, Brine?"


"Ehm...." Abrine bingung mau mengutarakan darimana masalah antara dia dengan Elrich. Dia juga ragu menjelaskan pada Rahelsa mengenai hal yang membuatnya galau. Tak mungkin dia jujur pada Rahelsa soal pernikahan sementaranya dengan Elrich. Apalagi kakak iparnya itu sudah mewanti-wanti dia lebih dulu agar jangan sampai ada perceraian.


"Kenapa, sih?" Rahelsa makin penasaran melihat gelagat aneh dari Abrine.


"Gini, gini.... kamu ingat kan, kamu ada ngasih tahu aku soal jangan sampai nantinya pernikahanku gagal..."


"Iya, aku ingat soal itu. Emang kenapa?"


"Jadi, aku kepikiran soal itu, Hel. Aku gak mau pernikahanku nanti gagal. Aku udah memutuskan kalau aku cuma mau menikah satu kali seumur hidup."


"ya, bagus dong! Kalau kamu komitmennya kayak begitu."


"Iya, tapi aku juga kepikiran sih sama omongan kamu waktu itu soal.... soal.... memenangkan hati suami sampai dia gak mampu berpaling sedikitpun," Abrine pun tak tahu kenapa dia sampai pada keputusan ini, semuanya tercetus begitu saja. Dia baru sadar bahwa dia tak mau gagal dalam pernikahannya sekalipun ini dimulai karena kesepakatan bo doh. Hingga akhirnya, dia sampai pada keputusan akhir yaitu mau bertahan dan mempertahankan.


"Oh, jadi kamu mau memenangkan hati mas bule? Emangnya selama ini belum menang?" Rahelsa terkikik diujung kalimatnya.


"Aku serius loh!"


"Aku juga serius, kalau dia udah milih kamu buat jadi istri berarti kamu udah menang, dong!"


"Ya, tapi aku juga harus mempertahankan statusku nanti. Gitu kan kata kamu kemarin?"


Rahelsa mengangguk-anggukkan kepalanya secara berulang.


"Gampang itu!"


"Caranya?"


"Lahirkan anak untuk dia!" jawab Rahelsa enteng.


*******

__ADS_1


__ADS_2