PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
46. Tersulut emosi


__ADS_3

Bam!


Elrich memukul meja dihadapannya. Dia tidak bisa mengendalikan diri. Dia tersulut emosi ketika melihat wajah Claire yang nyaris persis dengan Pevita.


Benar kata Claire, masa lalu itu membuat banyak pihak merasa trauma. Bukan cuma Claire dan keluarganya, tapi El pun demikian. Bahkan Edgar--ayah El, yang memintanya untuk segera menikah sebelum usia 30 tahun -- itu terjadi pun tak luput karena masalah ini. Edgar takut sumpah serapah orangtua Claire untuk El dikabulkan oleh semesta. Yaitu, dia tidak akan pernah menikah sampai kapanpun.


Xander yang melihat keadaan El yang kacau, hanya bisa mengurut dada, dia tidak mau berkomentar apa-apa sebab dia takut salah bicara.


"Maafkan aku, saat rapat dewan, aku memang tidak menghadirinya. Aku tidak tahu rupanya rapat itu juga membahas mengenai dokter baru yang akan bekerja disini. Ku pikir itu hanya rapat asosiasi dewan biasa." Xander akhirnya buka suara setelah cukup lama membiarkan El terdiam dengan luapan emosi. Dia merasa bersalah tidak memberitahu El lebih dulu mengenai kedatangan Claire, seharusnya Xander tahu karena dia adalah anak pemilik Rumah Sakit ini, tetapi karena ke-alfa-an-nya, hal inipun luput dari pengetahuannya.


Elrich menyugar kasar rambutnya sendiri. "Sudahlah, aku harus bersiap masuk ruang operasi sekarang," ujarnya gusar.


"Apa kau yakin bisa melakukannya? Partner-mu hari ini adalah Claire..." lirih Xander.


Elrich menggeleng lemah. "Aku akan mengabaikannya," ujarnya walau tak yakin. Sedikit banyak, kemunculan Claire memang membuat konsentrasinya terpecah.


Terlepas dari masalah Pevita, Claire memang sudah sering bentrok dan tidak sepaham dengan El--- sejak mereka sama-sama duduk di kursi mahasiswa kedokteran. Entah apa yang membuat Claire selalu memandang remeh padanya, dia juga tak paham kenapa wanita itu begitu membencinya.


Didalam ruang operasi, El berusaha seprofesional mungkin. Kendati dia masih kesal dengan pertemuan dengan Claire, dia selalu ingat jika setiap tindakan operasi haruslah dijalankan oleh kelompok yang solid dan sepaham. Tak boleh ada keributan. Jika ada perdebatan kecilpun, maka harus segera diatasi dan mengalah sebab nyawa orang lain adalah taruhannya. Jadi, sebisa mungkin El bersikap biasa saja.


Operasi pencangkokan jantung itu akhirnya selesai. Syukurlah Claire tidak menyinggung hal apapun mengenai kehidupan pribadi disaat tugas berlangsung.


Elrich keluar dari ruangan itu dengan cukup lega. Keluarga pasien selalu mengajak bicara terkait kondisi keluarga mereka yang telah melakukan operasi dan El menjelaskan secara singkat mengenai keadaannya.


Ucapan terima kasih terdengar dari pihak keluarga itu. El menanggapinya dengan jawaban ramah.


"Cih, apa orang sepertimu masih bisa disebut dokter? Bahkan mendapatkan ucapan terima kasihpun seharusnya sudah tidak layak!" Claire berdecih sambil melewati Elrich. Ujarannya terdengar sangat sarkasme.


Elrich mencoba menahan kesabaran. Dia tidak mau ribut didepan orang lain, apalagi Claire adalah seorang wanita. El masih menghargainya meski Claire tak pernah menunjukkan etika itu kepadanya.


Elrich tidak kembali ke ruangannya setelah dia membersihkan diri, dia memilih untuk menemui Xander. Perlu diketahui jika Xander adalah dokter umum. Dia tidak melakukan operasi seperti yang El lakukan karena pria itu tidak melanjutkan kuliah spesialis, akibat saat kuliah kedokteran awal, dia sudah disibukkan mengenai pengurusan Rumah Sakit milik keluarganya.


"Bagaimana? Operasinya lancar?" tanya Xander melihat kedatangan El kembali.


"Sudah, tapi kehadiran dia disini benar-benar menggangguku."


Xander menepuk-nepuk pundak Elrich berusaha menenangkannya. "Apa aku perlu melakukan nepotisme?" tanyanya.


"Untuk?"


"Untuk bisa memindahkan Claire ke rumah sakit di kutub Utara."


Mendengar itu akhirnya Elrich terkekeh juga. Merasa ucapan Xander terlalu berlebihan.


"Kau ini..."


"Kau pikir aku bercanda? Aku serius, wanita seperti dia akan menjadi batu sandungan untuk hidupmu. Aku akan membicarakannya dengan orangtuaku nanti."

__ADS_1


"Tidak usah, Xander. Aku tidak enak pada Paman dan Bibi, lagipula ini masalah pribadi diantara kami. Kau tidak perlu melakukan nepotisme hanya karena masalah ini."


Xander akhirnya mengangguk. "Aku hanya khawatir padamu."


"Aku tak apa, tapi....." El mendadak teringat pada istrinya. "Aku mengkhawatirkan Abrine. Aku takut dia belum siap mengetahui masa lalu ku."


"Sudah ku bilang sejak awal, semua orang punya masa lalu dan tak semua masa lalu itu baik. Aku yakin Abrine akan memahaminya."


Sementara itu, Abrine juga baru selesai meeting dengan seorang investor penanam saham. Dia senang karena investor itu berhasil dia yakinkan.


Sejak siang tadi dia sudah mencoba menghubungi Elrich, tapi suaminya itu belum menjawab atau membalas semua pesan yang dia kirimkan. Abrine tahu, jika begini El pasti sedang berada diruang operasi.


Menjelang sore, rupanya El menghubungi Abrine lebih dulu dan dijawab wanita itu dengan penuh sukacita.


"El... kau sudah makan siang tadi?"


"Sudah... kau makan siang dimana?"


"Tadi sudah makan siang di kantor, aku pesan online, hehehe...."


"Ehm, apa harimu berat?" tanya El dari seberang panggilan.


Abrine mulai menceritakan kesehariannya hari ini dan kesuksesannya meyakinkan investor, El menanggapinya dengan senang dan Abrine berharap El juga mau membagi mengenai keseharian pria itu padanya.


"Bagaimana denganmu, El?"


Tapi, El juga tak melupakan apa yang sempat dia temukan dikamar mereka pagi tadi.


"Ehm, ada yang ingin aku bicarakan padamu."


"Apa?" tanya Abrine.


"Aku akan membicarakannya secara langsung nanti."


"Baiklah," jawab Abrine. Dia penasaran hal apa yang ingin El bicarakan padanya, tapi dia mencoba bersabar sampai mereka benar-benar bertemu di rumah nanti.


Sore harinya, Abrine menunggu taksi, dikarenakan pagi tadi dia diantar oleh El jadi dia tak membawa mobil. Menunggui dijemput El pun tidak mungkin, sebab kabarnya El akan pulang larut hari ini.


Abrine menaiki taksinya dan tak lama dia tiba di Apartmennya. Dia membersihkan diri kemudian memasak simpel untuk disantap El saat dia pulang nanti.


Abrine memutuskan memainkan game sambil menunggu kepulangan suaminya. Sampai akhirnya dia merasa jenuh sendiri dan El belum juga tiba dirumah.


"Menunggu memang paling membosankan." Abrine bergumam. Tapi, inilah resikonya menikah dengan El yang seorang dokter. Bahkan waktu romantis mereka bisa dipotong jika memang El mendapat panggilan mendadak terkait pekerjaannya.


Abrine merasa mengantuk tapi dia bertahan demi menunggui El sampai benar-benar tiba dirumah.


Hingga akhirnya Abrine mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat ke kamarnya. Itu pasti El yang sudah tiba.

__ADS_1


"El..." Abrine menyambut hangat kepulangan suaminya. El tidak memencet bel karena dia pikir Abrine pasti sudah tertidur di jam ini.


"Sayang, belum tidur?"


Abrine hanya tersenyum tipis.


"Mau makan? Biar aku hangatkan makanannya," kata Abrine.


"Kau masak?"


"Iya, bagaimana?"


"Boleh, jika tidak merepotkanmu. Aku mandi sebentar."


Abrine mengangguk, dia menyiapkan pakaian ganti sang suami, lalu dia turun dan menghangatkan makanan di microwave.


"Apa yang ingin kau bicarakan padaku, El?"


El menatap Abrine dengan tatapan sendu. "Aku makan dulu, boleh?"


Akhirnya Abrine mengangguk walau dia sangat penasaran hal apa yang ingin dibicarakan El padanya.


"Seharusnya kau tidak usah menungguku, Brine. Ini terlalu larut. Lebih baik kau tidur lebih dulu."


"Tidak apa-apa, aku mau menunggu suamiku."


El meletakkan sendoknya, dia meneguk air minum kemudian menggenggam tangan Abrine yang duduk disampingnya.


"Brine, bisakah kau menjawab ku dengan jujur."


Abrine tersenyum dan mengangguk.


"Kenapa.... kenapa kau mengonsumsi obat pencegah kehamilan, Sayang?"


Mata Abrine membola karena terkejut dengan ucapan suaminya.


"Pen-pencegah kehamilan?" tanyanya syok. Dia tidak tahu apa yang tengah dimaksudkan El padanya.


"Iya, pil KB. Kenapa kau meminumnya?" Elrich tersenyum sendu. "Apa karena kau tidak mau mengandung anakku? Atau kau ragu dengan perasaanku jadi kau--"


"Tidak!" potong Abrine cepat. "Aku tidak mengonsumsi obat seperti itu!" lanjutnya.


Elrich tersenyum kembali dan menatap kedalam netra kecokelatan milik Abrine. "Tidak apa, Brine. Aku paham kenapa kau masih mau menundanya, mungkin kau belum siap dan ini karena kau belum mencintai aku."


Abrine menggeleng cepat dengan pupil mata yang melebar. Apa maksud perkataan El ini. Kenapa menuduhnya mengonsumsi pil KB?


"Aku tidak mengonsumsi obat semacam itu, El. Justru aku rutin minum obat kesuburan agar cepat mengandung."

__ADS_1


*******


__ADS_2