
Dengan langkah gusar, Wildan kembali ke Apartmen yang dia sewa selama tinggal di Jerman. Entah apa lagi yang harus dia lakukan sekarang. Bahkan saingannya bukan cuma Elrich tapi ada Raymond juga yang membuatnya semakin kesal saja.
Andai tadi dia bisa datang lebih cepat ke kantor polisi, pasti dia yang lebih dulu mengeluarkan Abrine dari sana.
Ponselnya berdering dan itu adalah nomor dari Indonesia. Ini pasti panggilan dari sang Mama.
"Kenapa, Ma?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Erland, gimana? Udah bisa menangin hati Abrine belum?"
Dia menarik nafas dalam. "Menangin apa, Ma? Mama pikir ini perlombaan makan kerupuk? Gak segampang itu, Ma! Bahkan mau ketemu Abrine aja susah!" keluhnya.
"Masa gitu aja kamu udah nyerah, sih! Ingat dong, Abrine itu cinta pertama kamu. Kamu harus bisa dapetin dia bagaimanapun caranya." Erika mendukung penuh putranya.
Bagaimana tidak, Erika memang menunggu saat dimana Elrich hancur setelah Wildan benar-benar berhasil merebut Abrine dari sisi pria itu. Memang terkesan memanfaatkan putranya sendiri, tapi itu tidak ada ruginya bagi Wildan. Jika nanti berhasil merebut Abrine itu juga akan menyenangkan hati Wildan sendiri, begitu pikirnya.
Setelah mendengar petuah dan ultimatum dari Erika. Wildan merasa semangatnya untuk bertemu Abrine kembali menyala. Dia memang harus bisa membuat Abrine berpaling dari pernikahan sementaranya dengan Elrich. Jadi, usahanya sampai terbang ke Jerman tidak akan sia-sia.
Sementara disana, Abrine sendiri bingung melihat sikap suaminya yang mendadak jadi pendiam. Elrich ini kenapa? Selama mereka menikah, El tidak pernah menunjukkan sikap seperti ini?
Memang terkadang mereka bertengkar kecil, tapi selalu selesai dengan cepat dan berujung sebuah kata maaf baik itu dari El atau dari mulut Abrine sendiri.
"El, aku mau belanja dulu. Di supermarket bawah," kata Abrine merujuk pada sebuah supermarket yang ada dilantai dasar gedung Apartmen yang mereka tempati.
"Hmm...." Elrich menyahut ringan dan Abrine pun pergi dari hadapannya tanpa banyak kata lagi.
Elrich memilih banyak diam bukan karena dia marah pada Abrine.
Memang statusnya adalah suami Abrine, tapi kenapa semua hal yang harusnya lebih dia ketahui mengenai istrinya malah diketahui juga oleh pria lain yang bukan siapa-siapa.
Dia marah. Ya, tapi marah pada dirinya sendiri.
Dia cemburu. Jelas dia tahu jika Raymond adalah pria yang dicintai Abrine sejak lama.
"Arkh!" El meninju udara.
Sebenarnya dia merasa bersalah pada istrinya karena dia selalu saja menjadi orang terakhir yang mengetahui segala hal tentang Abrine.
Soal Hipotermia Abrine waktu itu. Dia suami Abrine, dia juga seorang dokter, tapi Raymond yang mengetahui hal itu lebih dulu.
Dan sekarang saat Abrine masuk kantor polisi, dia bahkan datang paling terakhir dan setelah masalah itu diselesaikan oleh Raymond.
Dia merasa tidak berfungsi sebagai suami Abrine. Saat Abrine membutuhkannya, selalu saja dia tidak bisa diandalkan. Padahal dia sudah mengajukan diri agar Abrine menjadikan dia orang pertama yang harusnya menolong istrinya sendiri. Nyatanya, dia tidak bisa.
Abrine sendiri tengah asyik memilih belanjaan yang akan dia masak untuk makan malam. El juga sudah pulang lebih cepat hari ini. Jadi dia akan memasak untuk suaminya.
__ADS_1
Dia berpikir, El mendiamkannya karena merasa cemburu. Dia dapat memaklumi itu. Abrine tidak mau berlarut-larut, dia adalah wanita yang simpel dan tidak mau memikirkan sikap diam El ke dalam hatinya. Nanti juga akan baik sendiri, pikirnya.
"Wildan?" Abrine terkejut mendapati Wildan ada diantara barisan makanan yang tersusun di rak-rak yang ada di supermarket tersebut.
"Abrine?" Wildan juga tampak tak menyangka. Dia senang, sore ini dia bisa bertemu Abrine lagi setelah pertemuan tak mengenakkan yang terjadi pagi tadi di Kantor Polisi.
"Kamu sedang apa, Brine?" tanya Wildan.
Seharusnya tadi Abrine tak menyapa Wildan, harusnya dia bersikap seolah tak melihat pria itu saja. Tapi, dia sudah terlanjur menyapa jadi mau tak mau dia harus meladeni pertanyaan pria ini.
"Belanja, seperti yang kamu lihat," kata Abrine seraya menunjukkan keranjang belanjaannya.
"Mau masak sup jamur?" tebak Wildan ketika melihat isi keranjang wanita itu.
"Kamu tahu? Hehe ya, begitulah." Abrine menyengir.
"Tidak sulit menebaknya."
"Ya, kamu ahli dalam hal kuliner." Abrine mengingat sekilas jika Wildan memiliki usaha Restoran makanan, jadi tak heran jika dia bisa menebak apa yang akan Abrine masak.
"Kamu tinggal di Apartemen ini?"
Abrine hanya tersenyum dan tidak menjawab hal itu. Dia merasa tempat tinggalnya harus diberi privasi.
Melihat Abrine yang diam saja, Wildan sudah dapat menarik kesimpulan. Yah, meskipun dia tak bisa menanyakan lebih lanjut di lantai berapa Abrine tinggal karena sikap diam wanita ini.
"Wil, maaf, sepertinya aku harus kembali. Bye."
Wildan tahu Abrine ingin menghindarinya dan tak mau melanjutkan basa-basi ini lagi. Abrine sendiri mengira pembahasan mereka tak terlalu penting. Suaminya dirumah lebih penting, pasti El sudah menunggunya. Dia akan memasakkan El segera setelah ini.
"Brine, tunggu!" Wildan mencegah langkah Abrine. Dia bahkan memegang pergelangan tangan wanita itu.
Abrine melirik sekilas pada tangan Wildan yang melingkari tangannya. Secara perlahan, Wildan paham jika Abrine keberatan dengan sentuhannya.
"Maaf." Wildan menunjukkan sikap sungkannya. "Tapi, aku hanya ingin kamu mendengar satu hal dariku," imbuhnya.
"Apa?" Abrine tak akan mau mendengar lagi jika pembahasan Wildan kali ini adalah mengenai perasaan.
"Maaf, Brine. Apa kamu tahu mengenai Pevita?"
Abrine mengangguk. "Ya, Pevita mantan pacar El. Kenapa?" tanyanya santai.
"Apa kamu juga tahu jika dia sudah meninggal?"
"Ya, aku tahu hal itu." Abrine memilih menunggu untuk mendengar ucapan Wildan selanjutnya, karena pembahasan nya kali ini justru membahas hal yang tidak Abrine perkirakan sebelumnya.
__ADS_1
"Dia melakukan aborsi. Kamu tahu itu, kan?"
"Iya, aku tahu. Lalu kenapa, Wil? Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?"
"Apa kamu tidak takut jika kamu hamil dan kak El memintamu melakukan aborsi juga?"
Sontak saja pertanyaan Wildan itu membuat Abrine terbahak.
"Wildan! Mana mungkin El memintaku untuk aborsi. Jikapun aku hamil, itu anaknya, dia tidak akan menyuruhku melakukan hal itu!"
Wildan menggeleng. "Buktinya dia meminta Pevita melakukannya."
"Itu karena Pevita mengandung anak dari pria lain," jawab Abrine masih terkekeh. "Kamu pun mungkin akan mengusulkan hal yang sama jika kekasihmu mengkhianatimu, Wil!" imbuhnya.
"Apa kau yakin?" tanya Wildan serius, matanya menyorot tajam pada Abrine.
"Maksudmu?"
"Apa kamu yakin jika itu bukan anak kak El? Siapa yang mengatakannya padamu? Apa kak El sendiri yang mengatakan bahwa itu bukan anaknya?"
"Ya, El yang mengatakannya."
Wildan tersenyum getir. "Tidak ada pria yang mau mengakui kesalahannya jika itu bisa merugikan diri mereka sendiri, Brine!"
Abrine terdiam. Dia menatap Wildan dengan tatapan kebingungan.
"Mana mungkin Kak El mengatakan padamu bahwa dia yang menghamili Pevita waktu itu. Dia akan kehilanganmu jika dia jujur, kan? Jadi dia pasti menutupinya."
Abrine menggeleng keras. "Gak, aku percaya El berkata yang sebenarnya."
"Terserah kamu aja, Brine. Yang jelas, aku gak mau nasib kamu sama kayak Pevita. Disaat kamu hamil justru Kak El meminta kamu untuk aborsi. Siapa yang tahu? Ya, mungkin aja Kak El belum siap menjadi ayah." Wildan mengendikkan bahunya.
"Kamu salah, El justru sangat ingin aku cepat hamil." Abrine menjawab yakin. Dia tahu El sudah sangat siap menjadi seorang ayah.
"Oh, ya?" Wildan melengkungkan bibir. "Atau.... Kak El ingin kamu cepat hamil karena dia mau menebus dosanya pada Pevita?"
"Maksud kamu?"
"Entahlah, mungkin dia akan menganggap kamu sebagai Pevita jika kamu hamil nantinya. Kak El sangat mencintai Pevita dan dia sempat hancur saat Pevita meninggal. Itu yang aku tau."
Abrine terkekeh pelan. "Itu dulu, Wil. Sekarang aku istrinya dan dia cuma cinta aku. Udahlah, gak guna juga ngomong sama kamu!" ujar Abrine yang cukup emosi sekarang.
Abrine berlalu dengan gusar. Apa El memang telah membohonginya? Padahal jika pun El mengatakan pernah membuat Pevita hamil, Abrine tetap akan menerima pria itu. Karena semua orang punya masa lalu kan?
Abrine tahu dulu El mencintai Pevita. Tapi sekarang ada dia disisi El. Apa mungkin El masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya?
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa aku harus cemburu pada orang yang sudah meninggal?" batin Abrine semakin gusar saja.
******