
Hari ini Elrich akan kembali ke Jerman seorang diri sebab Abrine akan tetap di Indonesia sampai hari pernikahan mereka.
Untuk menghindari tanda tanya besar dari semua pihak keluarga, terpaksa Abrine harus mengantarkan Elrich ke Bandara. Padahal jika mengikuti keinginan hatinya, Abrine sangat malas melakukan hal itu.
Abrine mengantar Elrich bersama dengan Aarav. Mereka bertiga berangkat cukup pagi karena El akan berangkat dengan pesawat pertama.
Aarav tampak memperhatikan interaksi antara Abrine dan El yang terlihat biasa-biasa saja. Bisa dibilang mereka berdua malah sibuk dengan gadget masing-masing padahal sebentar lagi akan berpisah jarak. Hal itu memancing keingintahuan Aarav tentang hubungan mereka.
"Kalian udah biasa gini, ya?" celetuk Aarav sambil tetap fokus mengemudikan mobil.
"Biasa gini, gimana?" tanya El yang duduk di sebelah Aarav.
"Ya, gini, sibuk sendiri-sendiri. Bukannya bentar lagi kalian mau pisah jarak, biasanya kalau pasangan lain itu pasti bakal lengket buat lepas kangen-kangenan. Hahahah." Aarav tertawa diujung kalimatnya. "Aku juga gitu sih kalau sama Els," sambungnya lagi.
Elrich langsung terkesiap sebab menyadari kecurigaan Aarav, dia melirik Abrine yang duduk santai di jok belakang. Tidak ada tanggapan dari gadis itu, Abrine justru terlihat biasa saja seperti tidak mendengar ucapan Aarav barusan.
"Ehm, kita---"
"Kita kan bukan kayak pasangan lain, kak!" sahut Abrine memotong ucapan Elrich yang bahkan belum terlontar. "Kita beda! Lagian kita sama-sama sibuk, El punya kerjaan sendiri, aku juga gitu. Kita gak punya waktu buat mewek-mewekan karena pisah jarak sementara," ujarnya cuek sambil menunjukkan gadget yang dia pegang kepada Aarav dari pantulan kaca spion mobil.
Aarav justru terkekeh pelan. "Aku sama Els juga sama-sama sibuk, tapi gak saling cuek kayak kalian juga, kali!"
"Beda, dong! Kalian udah menikah. Kita kalau udah nikah juga bakal gitu, ya kan, sayang?" Abrine menaik-naikkan alis pada Elrich.
Elrich hanya memasang senyum tipis apalagi mendengar panggilan Abrine barusan kepadanya. Sebenarnya El ingin mengatakan jika akting Abrine sangat buruk, namun sebisa mungkin dia menahan diri.
"Kapan kamu balik kesini lagi, El?"
"Mungkin seminggu sebelum hari pernikahan kami. Aku titip Abrine, Rav...." kata El sambil melirik Abrine dibelakang.
Abrine menghentikan fokusnya pada gadget akibat mendengar ucapan El barusan. Kenapa pula dia harus menitipkan Abrine pada Aarav? Bukan apa-apa, terdengar seperti sangat peduli saja dan itu justru membuat Abrine tak mau salah mengartikan nantinya.
Sesampai di Bandara. Aarav berjalan di belakang Abrine dan Elrich yang berjalan bersisian lebih dulu.
"Kenapa kau menitipkanku pada Kak Aarav segala!" protes Abrine.
"Lalu? Kau mau ku titipkan dimana? Di tempat penitipan barang?" ujar El acuh tak acuh.
Abrine mendengkus sebal mendengarnya, namun tak melakukan protes lagi.
Kini tibalah El akan benar-benar terbang ke Jerman dan Abrine harus melepasnya pergi.
__ADS_1
"Aku berangkat dulu, jangan rindu padaku!"
"Ih...." Abrine mencebik sebal mendengar ucapan El yang dia anggap gurauan itu.
Aarav kembali memperhatikan tingkah keduanya, disitulah Abrine tersadar akan sesuatu. Dia mengingat jika dulu ayah Elrich mencurigai hubungan mereka karena seringnya mereka berdua berdebat, jadi kali ini Abrine tak mau mengulangi kesalahan yang sama hingga membuat Aarav curiga.
Saat Elrich ingin berbalik pergi, Abrine segera menarik pergelangan tangan pria itu.
"Apa lagi? Aku belum pergi dan kau sudah merindukanku?"
Abrine memelototi Elrich akibat ucapannya yang asal sebut.
Elrich tertawa melihat Abrine, disaat itulah Abrine merasa sesuatu yang tak biasa berkecamuk dihatinya. Entah kenapa, secara mendadak dia merasa berat melepas kepergian Elrich hari ini.
"Kenapa? Kau tidak rela melepasku pergi?" tebak Elrich, lebih kepada mengejek sikap diam Abrine.
Plak!
Abrine memukul lengan pria itu, membuat Elrich mengaduh kesakitan.
"Kau memukulku dengan tenaga dalam? Ini sakit sekali," keluh El. "Sudahlah, aku berangkat!" ucapnya lagi sambil mengusap-usap sisi tangannya yang tadi dipukul Abrine.
"Rasakan! Makanya jangan suka bergurau yang tidak-tidak!" gumam Abrine.
"Tunggu dulu," cegahnya.
"Apa?" Elrich tampak keheranan.
"Cium keningku!" titah Abrine sedikit berbisik dan kini justru Elrich yang melotot kepadanya akibat kaget dengan permintaan Abrine.
"Cepatlah! Jangan salah sangka! Aku hanya tidak mau kakakku curiga pada kita. Tadi di mobil dia sudah curiga dengan sikap kita yang sama-sama cuek," desak Abrine agak berjinjit dekat telinga El, agar Elrich mendengar ujarannya. Dia memang berbisik disana.
"Kau benar-benar mengambil kesempatan, Nona!" gumam El membuat Abrine mencebik.
"Aku yang memberimu kesempatan, Tuan!" ujar Abrine sambil mendelik.
Elrich menggeleng samar, dia tersenyum miring tapi kemudian dia meraih kedua sisi wajah Abrine dengan jari jemarinya, mendekatkan wajah gadis itu kepadanya, lalu dengan ragu-ragu akhirnya dia mendaratkan sebuah kecupan pelan di kening Abrine selama beberapa detik.
Sebenarnya Abrine tak mau merasakan ciuman El pada keningnya. Tapi, tetap saja hal itu dia rasakan. Ciuman itu terasa menggetarkan hatinya. Ah, sial. Elrich yang sangat mendalami peran dalam hal menciumnya hari ini, atau dia yang terlalu membawa hal ini sampai ke perasaan?
"Sudah?" tanya Abrine ingin memastikan sekaligus menyadarkan El agar ciuman itu segera dihentikan sebab dia tidak mau ini terlalu lama, berdampak pada perasaannya nanti, tapi El tidak menyahut, justru tetap pada posisinya yang masih diam mengecup kening Abrine. Entah apalah yang dirasakan pria itu saat ini, Abrine tidak tahu.
__ADS_1
"Sudah, El. Nanti kau bisa ketinggalan pesawat," kelakar Aarav yang memang menyaksikan aksi dua sejoli itu.
Sontak saja Abrine segera menarik diri dari Elrich. Dia memang mau memperlihatkan sikap mesra bersama El didepan kakaknya itu agar tidak dicurigai, tapi tetap saja dia merasa malu karena Aarav sampai menegur mereka walau teguran itu terdengar seperti gurauan.
Pada akhirnya, Abrine benar-benar menyaksikan punggung Elrich yang menjauh dari posisinya. Langkah lebar pria itu mulai meninggalkannya. Lagi, perasaan Abrine kenapa jadi merasa tidak ikhlas? Kendati demikian, buru-buru dia menepis rasa itu.
"Kita pulang, kak!" ujar Abrine mengajak Aarav dengan wajah lesu yang tidak dibuat-buat.
_____
Elrich tiba di Jerman dan pulang langsung ke villa Edgar. Dia ingin memberitahu sang ayah bahwa dia sudah mendapat restu dari keluarga Abrine di Indonesia. Kepulangannya dan berita baik itu disambut Edgar dengan perasaan bahagia. Elrich tidak mengatakan pada Ayahnya mengenai Abrine yang sempat menemui Erika. Dia merasa itu tak perlu dibahas sebab itu adalah masa lalu sang ayah.
Keesokan harinya, Elrich kembali bekerja di Rumah Sakit. Kedatangannya langsung disambut senyum miring dari Xander.
"Jadi, berawal dari memanfaatkannya akhirnya kau berniat menikahinya?" Entah kenapa pertanyaan Xander terdengar sarkasme ditelinga Elrich.
"Begitulah," jawab Elrich sekenanya.
"Ku rasa kau tidak lupa jika pernah berkata tak mau membuat dia sakit hati nanti, El."
"Ini kesepakatan kami berdua. Kami tak akan menggunakan hati jadi tak akan ada yang sakit hati."
"Benarkah?" tanya Xander sambil bersedekap seolah mengintimidasi Elrich.
"Sudahlah, aku mau bekerja dan tidak mau membahas hal ini." Elrich menghindar.
"Aku dengar dari Yemima, Abrine itu patah hati karena teman mereka yang bernama Raymond."
"Lalu?" Elrich berujar acuh tak acuh seolah tak perduli dengan hal yang Xander ucapkan.
"Aku rasa dia setuju menikah denganmu karena ingin melampiaskan rasa sakit hatinya. Aku cuma berharap, kau bisa menjadi obat untuk sakit dihatinya itu, bukan malah membuat lukanya semakin parah!" Xander menepuk pelan pundak Elrich, tapi ucapan Xander barusan cukup membuat Elrich berpikir.
Elrich terdiam, dia mencerna ucapan Xander. Sedikit banyak, Elrich sadar bahwa pernikahan bukanlah sebuah permainan, dia juga sadar dengan status itu akan mengikat dia serta diri Abrine sekaligus.
Sisi hati kecil Elrich, justru berharap Abrine tak akan pernah menemukan cinta sejati seperti yang pernah dikatakan gadis itu, sebab El mau Abrine tetap bersama dirinya. Bukan karena cinta tentu saja, tapi itu demi dirinya sendiri yang tidak mau repot mencari sosok lain yang akan bersedia menikahinya nanti. El tidak butuh cinta, El hanya butuh status karena tuntutan ayahnya.
Jika nanti Abrine ingin dia lepaskan dan jika nanti mereka benar-benar bercerai, bukan tidak mungkin Edgar akan kembali memaksanya untuk menikah lagi. Jadi, daripada itu terulang kembali, ada baiknya Abrine tetap berstatus istrinya meski dia tak yakin Abrine akan bertahan dengan pria seperti dia.
Hhhh
Elrich mengembuskan nafas perlahan. Satu sisi hatinya yang lain, justru sangat khawatir sejak awal dia memanfaatkan Abrine.
__ADS_1
Ya, Elrich khawatir jika tiba-tiba saja Abrine mengingat awal mula kecelakaan itu. El tidak bisa membayangkan jika Abrine mengingat bahwa tidak ada yang tertabrak dalam insiden itu. Apalagi jika Abrine sampai mengingat jika Elrich adalah pengemudi yang sebenarnya. Walau bagaimanapun, semua ini bermula dari rasa bersalah Abrine atas insiden tersebut.
********