
Sesampainya dikediaman Nev, baik Abrine maupun El tetap diam seribu bahasa. Abrine terlalu khawatir menyinggung perasaan El lagi. Setelah dia pikir-pikir, dia tak bisa memaksa Elrich untuk berterus-terang padanya mengenai ibu dari pria itu.
Benar kata El, dia tak seharusnya meminta restu karena pernikahan mereka pun bukanlah pernikahan yang layak untuk direstui sebab suatu saat nanti mereka sama-sama sepakat untuk berpisah.
Elrich masuk ke dalam kamar tamu yang disediakan untuknya selama tinggal dikediaman orangtua Abrine. Abrine hanya bisa menatap nanar punggung lebar pria itu yang perlahan-lahan menjauh dari pandangan matanya.
"Apa aku sudah keterlaluan padanya?" batin Abrine. Sepertinya dia salah telah membahas soal Ibu El didepan pria itu.
Abrine memutuskan naik ke kamarnya. Dia mandi dan mengenakan pakaian rumahan. Kebetulan dia sangat merindukan rumah orangtuanya yang ada di Indonesia ini, jadi dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan selama berada disini. Dia ingin merasakan lagi semua fasilitas yang ada disini.
"Bi Yana, yang lain pada kemana?" tanya Abrine saat tak sengaja berpapasan dengan asisten rumah tangga dirumah itu.
"Oh, Tuan Nev tadi pergi sama ibu. Katanya mau ngurusin keperluan pernikahan Non Abrine."
"Kalau Den Aarav sama Non Rahelsa udah pulang ke rumah mereka tadi pagi."
"Airish?"
"Non Airish ke Rumah Sakit. kontrol terakhir kehamilannya."
Abrine mengangguk. Dia memutuskan untuk pergi ke ruang Gym yang ada di sayap kanan rumah besar itu.
Sesampainya disana ternyata sudah ada Elrich yang tengah berlari diatas treadmill.
Elrich menghentikan kegiatannya, dia tampak hendak menghindar dari Abrine.
"El, tunggu...." cegah Abrine dengan suara pelan.
"Maaf karena memakai ruangan ini, aku tidak memiliki kegiatan dan merasa bosan," ujar pria itu terdengar dingin.
Abrine tidak menggubris ucapan El yang menurutnya tidak penting itu.
"Maaf," lirih Abrine akhirnya.
Elrich menoleh dan mendapati Abrine yang tertunduk dalam.
"Kita akan tetap menikah, dengan atau tanpa restu wanita itu!" Kali ini selain dingin, ujaran Elrich juga terdengar tegas.
Abrine mengadah, menatap pada netra hazel sang pria. Apa maksud El mengucapkan itu? Apa ini artinya El setuju untuk membawanya bertemu dengan sang ibu?
"El, aku---"
"Dia ada di Indonesia. Ya, wanita itu! Jika kau bersikukuh ingin bertemu dengannya, maka temuilah dia!" Elrich menatap tajam pada Abrine. "Tapi, tanpa aku!" imbuhnya.
"Tapi El...."
"Kau yang ingin bertemu dengannya, kan? Bertemulah! Tapi, seperti yang ku katakan, apapun katanya nanti... merestui atau tidak, kita akan tetap menikah seperti kesepakatan kita!"
Elrich berlalu dari hadapan Abrine yang terpana dengan kejadian barusan. Abrine pun menyisir rambutnya kebelakang dengan perasaan gusar.
Besoknya, Abrine mendatangi sebuah alamat yang diberikan El padanya. Ya, itu adalah alamat yang Elrich ketahui mengenai tempat tinggal ibunya selama di Indonesia.
Berbekal alamat itu, Abrine memberanikan diri untuk datang seorang diri kesana sebab dia tak mau mengajak El ikut serta, dia takut akan menyulut emosi El lagi nantinya. Kendati El marah pada sang Ibu, itu tak menyurutkan Abrine untuk mendatangi Ibu dari pria itu. Baginya langkah ini memang terlalu naif untuk pernikahannya dengan El yang sementara, namun entah kenapa perasaannya ingin membuat El dan Ibunya menjalin hubungan yang lebih baik karena walau bagaimanapun mereka adalah ibu dan anak.
Sebenarnya Abrine tidak habis pikir kenapa bisa hubungan antara ibu dan anak jadi seperti El dan Ibunya. Tapi, diapun merasa tak berhak untuk tahu dan mengorek terlalu dalam masalah ini dengan bertanya pada El mengingat hubungannya dengan El pun bukanlah hubungan yang benar.
Abrine tiba disebuah rumah yang tak terlalu besar tapi tampak asri. Suasananya nyaman, banyak bunga dan tanaman hias serta ada sebuah kolam kecil dipekarangan rumah itu.
Abrine menekan bel yang ada disisi pagar. Dia dapat melihat sebuah mobil Terios putih terparkir disana, berarti ada orang didalamnya. Abrine berharap dapat bertemu penghuni rumah ini yang dia yakini pastilah ibu dari Elrich.
"Permisi....." Abrine berseru cukup kencang sampai seorang wanita tak terlalu tua menghampiri posisinya.
"Ada ada, Non?"
"Oh, saya ingin bertemu dengan Ibu Erika. Apa benar ini rumahnya?"
__ADS_1
"Non nya siapa, ya?" tanya wanita itu, yang Abrine yakini adalah pekerja atau asisten rumah tangga di rumah tersebut.
"Saya---"
"Mbak! Tolong bukain gerbangnya, dong! Aku mau keluar!" Seru seseorang menginterupsi percakapan Abrine dengan wanita didepannya.
Abrine masih bisa melihat kedalam pekarangan rumah dari teralis luar pagar yang belum terbuka, dia melihat seorang pria tinggi memasuki mobil Terios yang terparkir. Sepertinya pria itu sedang terburu-buru.
"Maaf ya, Non. Saya bukain dulu gerbangnya... itu Mas nya mau pergi dan keluarin mobil."
"Oh, oke..." Abrine sedikit menyingkir dari sisi gerbang, bersamaan dengan Asisten rumah tangga itu yang mendorong pagar agar terbuka lebar.
Tak lama, mobil Terios itu benar-benar keluar dari gerbang, melewati Abrine yang tercenung sambil menatap sekilas pada sisi mobil tersebut.
"Mbak, apa Ibu Erika nya ada?" Baru saja kalimat itu tercetus dari bibir Abrine, sepersekian detik berikutnya, lengannya terasa dipegang oleh seseorang.
Abrine menyadari bahwa orang ini adalah orang yang sama dengan yang memasuki mobil Terios tadi. Di satu sisi, rupanya mobil itu telah berhenti dan pengemudinya lah yang sekarang ada disamping Abrine.
Abrine menatap lengannya yang dipegang erat, kemudian beralih menatap siapa orang yang berani menyentuhnya ini.
Namun, seketika itu juga Abrine terkesiap, jantungnya terasa berdentum keras, bersamaan dengan suara dengungan di telinganya yang membuatnya nyaris terbelalak karena terkejut.
"Abrine?!"
"Ka-kamu?" Abrine menelan salivanya dengan susah payah. Belum lagi dia bisa mencerna keadaan, orang itu sudah kembali bersuara.
"Kamu beneran Abrine, Ya Tuhan...."
Abrine memegang pelipisnya sembari menggigit bibir kuat-kuat. Dia bingung sendiri dengan keadaan ini.
"Kamu .... kok bisa dirumah aku?" tanya orang itu lagi, terdengar sangat riang.
"Ru-rumah kamu?" Abrine terbata. Pasalnya, orang yang kini berada didepannya adalah pria dari masa lalunya. Wildan. Ya, dia Wildan. Anggaplah mereka pernah berpacaran dulu, meski sebenarnya itu keputusan sebelah pihak yang Wildan buat tanpa peduli jawaban Abrine dimasa lalu.
"Iya, ini rumah aku. Kamu... cari aku?" Wildan terkekeh jenaka. "Brine, aku gak nyangka ketemu kamu lagi hari ini. Kamu gak banyak berubah, tapi kamu kelihatan dewasa dan makin cantik sekarang." Wajah pemuda itu tampak sangat semringah menandakan dia benar-benar bahagia bertemu dengan Abrine.
"Kalau Ibu Erika itu---"
"Oh, Mama. Kamu cari Mama? Kok bisa cari Mama, ada urusan apa?"
"Mama?" Kini Abrine terkesiap kaget. Apa arti semua ini?
"Iya, Ibu Erika itu Mamaku, Brine! Ya udah, ayo masuk! Aku berangkatnya nanti aja!" Wildan dengan cepat membawa Abrine masuk kedalam rumah.
"Ma! Mama...." seru Wildan memanggil ke arah dalam rumah.
Abrine semakin bingung sekarang. Dikepalanya sudah bermunculan banyak pertanyaan, tapi mulutnya seakan terkatup rapat tak bisa bersuara sedikitpun. Abrine justru teringat saat dimana perpisahan terakhirnya bersama Wildan sekitar 7 tahun yang lalu, dimana saat itu dia akan pergi ke Jerman untuk mengikuti semua keluarga yang akan melakukan pengobatan pada Aarav yang waktu itu divonis mengalami kelumpuhan temporer.
Flashback On...
"Abrine!" seru seseorang dan Abrine menoleh pada orang yang memanggil namanya itu. Dia melihat Wildan berdiri diujung koridor ruang ICU--dimana Aarav masih dirawat didalamnya.
Abrine menatap sang Ayah, bertanya lewat sorot mata, apakah boleh ia menemui Wildan? Nev mengangguk singkat, entah apa hubungan putrinya dengan cowok itu, namun ia merasa mereka perlu bicara apalagi terkait dengan keputusannya untuk berpindah ke Luar Negara.
Abrine berjalan pelan, menuju ke arah Wildan. kemudian mereka berbicara dikursi tunggu yang berada disisi koridor lainnya.
"Ada apa?" tanya Abrine pada Wildan. ia terduduk dengan kepala menunduk menatap sendal jepit yang tengah ia kenakan.
"Maaf, aku baru mendengar tentang insiden yang menimpa kakak kamu, makanya aku baru berkunjung sekarang."
Abrine menoleh pada Wildan, sejak kapan cowok ini bicara dengan bahasa seperti ini padanya? Terdengar aneh.
"Ya, gak apa-apa."
"Gimana keadaannya?"
__ADS_1
"Gak baik, yang jelas Papa berniat memberi pengobatan yang terbaik untuk Kak Aarav. Kami semua akan pindah ke Jerman," terang Abrine.
Wildan terkesiap. "Ke Jerman?" tanyanya memastikan.
Abrine mengangguk.
"Gimana dengan perjanjian kita, Brine?" tanya Wildan pelan.
"Sorry, gue gak bisa bantu lo lagi untuk jadi pacar pura-pura, gue bakal ninggalin Indonesia," kata Abrine lirih.
Wildan terdiam beberapa saat, sampai akhirnya dia bicara kembali.
"Kita masih bisa komunikasi lewat ponsel dan sosmed kan, Brine?"
"Mungkin."
"Aku ... aku bakal nunggu kamu balik untuk menepati janji itu, Brine!" kata Wildan lirih.
"Lo cari cewek lain aja yang bisa bantu lo, gue yakin banyak yang mau, kok! Jangankan jadi pacar pura-pura, jadi pacar beneran juga pasti pada mau!"
"Emang siapa yang mau jadi pacar beneran?" tanya Wildan.
"Ya banyak! Lo pilih aja salah satu pasti pada mau kok!"
"Kalo aku pilih kamu, gimana? Apa kamu juga pasti mau?"
Jantung Abrine berdebar mendengar ucapan Wildan, entah Wildan serius atau tidak mengucapkannya yang jelas sekarang Abrine merasa deg-degan karena pernyataan cowok itu.
"Lo kok aneh!" Abrine memaksakan tertawa.
"Aneh apanya?" tanya Wildan.
"Ya, kemarin kan perjanjian kita pacaran pura-pura, sekarang kenapa nawarin pacaran beneran!" Abrine nyengir, menyembunyikan kegugupannya.
"Ya karena aku rasa itu lebih baik..."
"Lebih baik apanya?"
"Lebih baik mencoba daripada gak sama sekali," kekeh Wildan.
"Dih... apaan sih! Terus kenapa sekarang ngomongnya pake aku kamu gitu?"
"Lebih sopan aja didenger." Wildan ikut nyengir.
Abrine membuang pandangan ke arah lain. Ia tahu semua tawaran Wildan tidak mungkin bisa ia jawab.
"Jadi gimana? Kamu mau kan?"
"Apanya?" tanya Abrine berlagak bodoh.
"Jadi pacar beneran."
"Aku bakal pindah, gak tahu sampai kapan di Jerman. Kamu carilah orang lain, yang sesama mahasiswa seperti kamu misalnya, bukan cewek bocah kayak aku."
Wildan terdiam, ia mendengar Abrine berbicara dengan panggilan yang berbeda, ternyata jauh lebih baik daripada sebelumnya. Membuatnya justru semakin suka pada gadis ini.
"Aku bakalan nunggu kamu, Brine."
"Itu sih terserah kamu. Aku gak mau memaksa, kamu bebas dan aku gak mengikat kamu dengan hubungan apapun."
Wildan hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Abrine.
*Flashback Off
******
__ADS_1
...(Udah aku temuin ya mereka. Dah bisa nebak lah ya siapa Wildan itu๐ ๐ ๐ jangan lupa vote, like dan hadiah bertangkai-tangkai bunga๐ฅฐ๐ฅฐ)...