PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
77. Mengenai hak waris


__ADS_3

Sesuai janjinya, setelah mengunjungi makam Emily seminggu yang lalu. Hari ini Elrich menemui Theresia kembali.


Elrich menemuinya seorang diri. Dia tidak mau Abrine terlalu lelah mengikutinya kemanapun. Meski sebenarnya dia sangat membutuhkan sosok istrinya yang sangat mampu menopang dia yang kadang masih saja tertekan dengan kenyataan ini.


"El? Kau sudah tiba?"


Theresia memeluk El dengan sikap keibuan yang hangat. Inilah cucunya, cucu semata wayangnya. Yang sejak lama dia tunggu kehadirannya. Yang sejak lama dia perhatikan tumbuh kembangnya hanya dalam diam.


Meski dulu Theresia tak merestui hubungan Emily dengan Edgar, tapi dia tak pernah menolak sang cucu yang telah lahir ke dunia ini. Dia tahu, darah yang sama mengalir dalam darah ditubuh cucunya, Elrich.


"Aku ingin mendengar apa keinginanmu, Nyonya."


Theresia menggeleng lemah. "Tak bisakah kau memanggilku nenek? Aku sangat menantikan itu, El. Sudah cukup lama."


"Tidak bisa. Mungkin belum," jawab El terus terang.


Theresia tak mau memaksa lagi. Dia hanya tersenyum menanggapi ucapan sang cucu.


"Baiklah, aku mengundangmu kekediamanku hari ini agar kau tahu satu hal mengenai keluargamu sendiri."


Elrich diam menyimak.


"Mansion ini adalah rumahmu juga. Aku sudah tua. Kelak aku pasti akan menyusul Emily. Jadi, aku menginginkanmu kembali ke tempat semula. Ke sini. Ke rumahmu."


Elrich menggeleng tegas. "Tidak!" ujarnya.


"Kenapa, El?"


"Aku memiliki tempat tinggal sendiri."


"Baiklah jika itu keputusanmu. Nenek tak akan memaksa. Tapi...."


"Katakan saja, Nyonya."


"Bisakah kau meneruskan semua usaha nenek? Nenek akan segera pensiun."


"Aku tidak bisa. Itu bukan bidang dan keahlianku."


"Yah, seharusnya sejak awal kau sudah dipersiapkan dengan kemungkinan ini. Sebenarnya sejak dulu, nenek sangat menentang keinginanmu memasuki fakultas kedokteran. Tapi, itu sudah menjadi keputusanmu dan nenek tidak punya kuasa untuk melarangmu."


"Hmmm..."


"Kalau begitu, katakan apa saja yang kau inginkan?"


"Aku tidak menginginkan hartamu, Nyonya. Aku datang kesini hanya karena menghargai undanganmu. Jika kau tanya apa yang aku inginkan, keinginanku adalah tidak akan ada yang berubah setelah pertemuan kita. Aku dan istriku akan tetap baik-baik saja dengan kehidupan kami yang sudah dijalani."


"Kau yakin, El?"


Elrich mengangguk mantap.


"Tapi semua harta Emily telah dibuat atas namamu."

__ADS_1


"Aku masih bisa memiliki harta dari kerja kerasku sendiri. Semua yang ku miliki sampai hari ini sudah sangat cukup dan tidak perlu ditambahi lagi." El menekankan setiap kata-katanya.


"Baiklah, jika keinginanmu begitu. Bisa beri nenek saran harus dikemanakan semua ini jika nanti Nenek telah tiada?"


"Sumbangkan saja ke panti sosial atau serahkan agar jadi aset negara."


"El.... semuanya tidak semudah itu! Jika bicara tentang sumbang menyumbang, setiap tahunnya nenek memberikan sokongan dana, dan menjadi donatur tetap untuk hampir seluruh panti sosial yang tersebar dipenjuru negri."


"...soal aset negara, jika dihibahkan begitu saja artinya usaha dan kerja keras nenek selama ini akan sia-sia saja sudah," imbuh Theresia dengan intonasi kecewa.


"Lalu? Hanya itu saran yang bisa ku berikan. Aku tidak memiliki pemikiran yang lain. Aku tidak pernah berurusan dengan harta atau semacamnya selama hidupku."


"Baiklah, begini saja. Jika kau tidak mau karena tak tertarik dan menjadi pengusaha bukanlah bidangmu. Bagaimana kalau semua ini nenek berikan tanggung jawab pada istrimu. Bukankah dia seorang pebisnis? Tapi tentunya semua tetap atas namamu, El! Nenek bisa mengangkat Abrine menjadi direkturnya."


"Tidak! Itu akan menjadi beban Abrine, dia sedang mengandung."


"Benarkah?" Theresia menatap El dengan binar kebahagiaan.


"Hemmm..."


"Kalau begitu, semua milikmu akan menjadi milik cicitku," putus Theresia tanpa tedeng aling-aling.


"Tapi ...."


"Ini sudah menjadi keputusan final, El. Jagalah kandungan istrimu baik-baik. Nenek sudah mendengar soal wanita bernama Claire itu."


Elrich menghela nafas panjang. Hal apa yang luput dari pantauan neneknya. Apalagi mengenai keselamatannya. Atau justru neneknya juga mengetahui soal Pevita lebih dulu daripada dirinya.


Theresia menggeleng dengan senyuman kecil.


"Tidak, El. Sepertinya dia akan segera masuk rumah sakit jiwa."


"A-apa?" Benar saja, hal ini justru neneknya yang lebih dulu tahu daripada dia.


*****


Abrine baru menyelesaikan sebuah rapat bersama para pekerja di ruang meeting yang ada dikantornya.


Selesai rapat itu, dia menatap Anne dengan tatapan heran pasalnya Anne seperti tengah menggerutu.


"Ada apa, Anne?" tanya Abrine cukup penasaran. Tak biasanya sekretarisnya bertingkah seperti ini, seolah tengah menahan kesal.


"Aku baru saja bertengkar, Miss."


"Dengan?"


"Awalnya dengan Resepsionis didepan. Tapi akhirnya bertengkar dengan...." Anne tak melanjutkan kalimat.


"Siapa?"


"Hemm... itu, Miss. Anda melarangku untuk mengizinkan tuan Rodriguez masuk, rupanya resepsionis kita kecolongan. Tuan Rodriguez tadi datang dan dia...."

__ADS_1


"Kau bertengkar dengan Raymond?" tanya Abrine cukup speechless.


"Hmm, sebenarnya sudah beberapa hari berturut-turut dia datang kesini untuk bertemu dengan anda. Beberapa hari ini anda tak masuk, dan hari ini dia ngotot ingin bertemu karena mengetahui anda sudah datang ke kantor."


"Kenapa lagi dengan Raymond?" gumam Abrine. Dia merasa tak ada masalah dengan pria itu. Terakhir mereka bertemu adalah saat Raymond mengeluarkannya dari kantor polisi dan semuanya baik-baik saja.


Abrine memang melarang Raymond untuk menemuinya secara sengaja, apalagi jika tak ada urusan soal pekerjaan. Bukan bermaksud apa-apa, dia hanya ingin menjaga perasaan suaminya. Terakhir, El merasa sangat cemburu terkait Raymond yang lebih dulu membantunya di kantor polisi waktu itu, jadi Abrine hanya menjaga jarak saja.


"Dia bilang ingin bicara dengan Anda, Miss. Tapi dia marah karena saya melarangnya terus."


"Jadi, apa yang dia katakan padamu?"


Anne merengut. "Katanya dia mau membuat perhitungan denganku, Miss. Apa yang harus ku lakukan sekarang?"


Abrine hanya tersenyum samar. "Tidak, dia hanya mengancammu saja. Dia tak akan melakukan apapun. Raymond bukan pria seperti itu."


"Semoga saja, Miss..." Anne masih saja terbayang bagaimana wajah Raymond saat mengancamnya tadi. Pria itu tampak benar-benar marah karena bukan sekali ini saja Anne melarangnya bertemu dengan Abrine.


"Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu Anne."


"Baik, Miss."


Sementara disana, Raymond bersungut-sungut kesal didalam mobilnya. Ingin menemui Abrine saja susahnya luar biasa.


Selalu alasan yang sama yang dia terima. Abrine tak bekerja. Abrine pergi bersama suaminya. Abrine tidak masuk karena kurang sehat. Dan semacam itulah. Raymond kesal sekali apalagi tadi dia sempat melihat Abrine disana, sayangnya kali ini dia juga tak dapat bertemu dengan wanita itu.


Raymond ingin bicara pada Abrine terkait pemukulan yang dilakukan El kepadanya waktu itu. Dia bukan berniat mengadu tapi dia ingin tahu lebih lanjut mengenai wanita bernama Claire yang sempat membahayakan Abrine.


Bukankah Abrine harus berhati-hati pada wanita itu? Raymond tak bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya.


Dia sudah bisa merelakan Abrine bersama dengan Elrich, tapi dia tidak rela jika Abrine disakiti oleh orang lain hanya karena pria itu.


Raymond menunggu dibalik kemudinya. Dia menanti waktu dimana Abrine sudah pulang bekerja. Dia benar-benar ingin bicara.


"Brine!" serunya ketika melihat Abrine baru saja keluar dari gedung itu.


"Ray? Kau sengaja menungguku?" tebak Abrine.


"Hmm... bisa kita bicara?"


"Boleh saja," jawab Abrine berusaha sebiasa mungkin.


"Tidak disini. Bicara berdua."


Abrine melihat pada Anne yang ada disisinya. Dia menggeleng samar pada wanita itu sebagai isyarat jangan meninggalkannya berdua bersama Raymond.


"Kalau kau ingin bicara, boleh saja asal Anne juga ikut."


Raymond menatap kesal pada Anne. Wanita ini yang selalu menghalang-halanginya saat ingin bertemu Abrine.


"Ya sudah," jawab Raymond akhirnya, sambil melengos ke arah lain.

__ADS_1


*****


__ADS_2