
Deringan ponsel milik Abrine, membuyarkan pikiran El yang tadinya sedang mencari-cari seseorang yang nyaris di tabraknya.
Abrine tidak menjawab ponselnya meski sudah terdengar berdering berulang kali. Abrine justru kembali menyandarkan kepala ke sandaran jok-nya.
Elrich menurunkan tuas jok agar posisinya membuat Abrine nyaman. Dia pun meraih ponsel milik sang istri.
"Ya?"
"Freya mencampurkan alkohol ke jus milik Abrine." Itu adalah panggilan dari Raymond, karena tak memiliki nomor pribadi Elrich, dia berinisiatif untuk menghubungi ke ponsel Abrine.
"Sh*it!" umpat El sambil memukul kemudi mobilnya sekilas.
"Kalian sudah tiba di rumah?" Raymond kembali bertanya dari seberang sana.
"Masih dijalan."
"Baiklah, segera bawa Abrine pulang dan pastikan dia baik-baik saja."
"Tidak usah mengkhawatirkannya!" tukas El menekankan setiap kata-katanya.
Panggilan itu terputus sebelah pihak sebab Elrich tak mau mendengar perhatian Raymond terhadap istrinya lagi.
Elrich melirik Abrine sekilas. "Kita pulang, sayang," ujarnya lembut.
El kembali menyalakan mesin mobil setelah benar-benar memastikan tidak ada siapapun didepan mobilnya.
Baru saja suara mesin mobilnya menderu. Kaca samping mobil El seperti dilempari oleh batu kecil.
Sekali,
Dua kali,
Sampai lemparan ke empat, El tidak tahan lagi.
"Apa lagi ini?" gumam El pelan. Dia melirik pada sebuah mobil yang ikut berhenti tepat dibelakang mobilnya.
Elrich mengambil ponsel pribadinya dan tampak menghubungi seseorang.
"Ada yang tidak beres. Istriku ada didalam mobil bersamaku. Jaga dia," titah El pada seseorang diseberang panggilan.
El keluar dari mobilnya. Begitupun seseorang yang juga tampak keluar dari mobil belakang. Ya, itu adalah ajudan yang ditugaskannya menjaga Abrine.
Setelah dua orang itu berdiri disisi mobil Elrich. El pun mencari seseorang yang dengan sengaja melempar ke arah mobilnya. Dia menatap sekeliling. Yakin, jika ini ada kaitannya dengan seseorang yang hampir dia tabrak tadi.
El berjalan perlahan. Ini seperti sesuatu yang direncanakan. Kawasan ini cukup sepi apalagi waktu sudah mulai cukup larut. Layaknya film horor kebanyakan.
"Siapa, kau?" El bertanya pada seseorang yang memunggunginya. Dari bahasa tubuhnya, entah kenapa El merasa familiar. Tapi, suasana cukup gelap sehingga El tidak bisa memastikannya.
Belum mendapat jawaban, El beranjak semakin mendekat pada orang itu. Namun, langkahnya terhenti tatkala dia justru mendengar suara teriakan istrinya dari arah berlawanan.
"Abrine?" El panik. Dia berlari kembali ke tempat dimana mobilnya berada.
Disana, El melihat kedua ajudan sedang menangani beberapa orang yang memakai pakaian pasien rumah sakit jiwa. Bahkan, keduanya tampak kewalahan karena orang-orang yang berjumlah hampir sepuluh orang itu seakan ingin menyerang Abrine--yang entah bagaimana sudah berada diluar mobil--- Abrine tampak menahan tubuh di body mobil, dia sempoyongan akibat mabuk.
__ADS_1
Seketika itu juga El teringat sosok yang tadi mengalihkannya. Jika sudah berurusan dengan pasien RSJ, ini pasti berkaitan dengan Claire. Wanita itu tidak kabur sendirian dari rumah sakit jiwa. Terbukti dari beberapa pasien ini yang ikut keluar bersamanya.
"Elrich!"
El menatap pada seseorang yang memanggilnya. Benar, itu adalah Claire.
Elrich mengabaikannya. Dia justru berlari kearah dimana istrinya berada. Saat El tiba didekat Abrine, seorang pria muncul dari belakang mobil mereka. Entah sejak kapan pria itu bersembunyi disana, atau El yang tidak menyadarinya.
"Lepaskan istriku!" El berkata pada pria itu. Meski dia tak yakin pria ODGJ itu akan mengerti dan menanggapinya.
El tahu, Claire memanfaatkan semua pasien ini untuk membantu rencananya. Benar-benar sia lan.
"Dia tidak akan melepaskannya, El." Suara tawa Claire dari seberang terdengar mengolok El. "Dia terlalu berterima kasih padaku karena aku membantu melepaskannya dari RSJ," imbuhnya.
"Ayo, Jhon. Keluarkan senjatamu," titah Claire pada pria yang rupanya bernama Jhon itu.
Pria itu menanggapi Claire dengan seringaian yang menjengkelkan. Hanya sedetik berselang, dia mengeluarkan sebuah pisau lipat.
Elrich melihat pada ajudannya yang sibuk dengan para ODGJ yang lain. Menghadapi orang gila, bisa-bisa membuatnya jadi gila juga, pikir El.
Tapi, nyawa istrinya berada diujung tanduk. Dia harus bisa menghadapi ini dengan kepala dingin. Mungkinkah Claire mau diajak bernegosiasi?
"Claire, minta dia melepaskan pisau itu... please," mohon El mencoba membujuk Claire, agar Jhon membuang pisaunya.
Claire berjalan mendekat. Justru kemudian dia menghampiri Abrine yang sepertinya masih bergumam-gumam karena efek mabuknya semakin parah. Andai Abrine tak dalam kondisi demikian, pastilah Abrine dapat melawan.
"Kau mau Jhon melepaskan pisau itu, kan?" tanya Claire disamping Jhon.
"Ya, jauhkan benda itu dari Abrine." El bertutur penuh kehati-hatian.
Sama-sama gila, batin El.
Rupanya sekarang Claire yang menggantikan posisi Jhon. Dia menyandera Abrine dengan sebilah pisau yang jelas nampak berkarat.
"Claire! Claire! Jangan lukai Abrine." El gelagapan, sementara Claire terus mengarahkan pisaunya ke leher jenjang Abrine yang tak mampu melawan bahkan mungkin tak sadar apa yang telah terjadi.
"Oh kau sangat takut kehilangannya, ya?" Claire terkekeh-kekeh geli.
"Kau boleh minta apapun. Asal lepaskan istriku." El masih mencoba bernegosiasi.
Claire menggeleng samar. "Kau yakin?" tanyanya.
El mengangguk. Jangan tanyakan perasaannya saat ini. Dia sangat takut dan kalut. Apakah dia memang ditakdirkan tak bisa melindungi istrinya sendiri?
"Apapun, El?" tanya Claire lagi ingin memastikan.
"Ya, ya, apapun."
"Apa kau mau menikahiku?"
Astaga, masih saja, pikir El.
"Kita hidup bersama. Kau lupakan dia. Kau menjadi milikku! Satu-satunya milikku."
__ADS_1
Ingin sekali El menjawab 'meski kau tidak gila, aku tidak akan pernah memilihmu' namun dia tak mungkin mengucapkan hal itu disaat nyawa istrinya yang jadi taruhan saat ini.
El menelan salivanya dengan berat, tenggorokannya seakan kering. Bersamaan dengan itu suara gelak tawa Claire kembali memecah keadaan genting itu.
"Ayo, El. Ku beri kau waktu beberapa detik untuk menjawabnya."
"Tidak akan pernah!" kata El maju dengan langkah jenjang dan menarik Abrine seketika itu juga.
Gerakan El yang sangat cepat dan tak terduga, membuat Claire terkejut dan langsung menghujamkan pisau kearah sanderanya tanpa berpikir lagi. Sayangnya, bukan leher Abrine yang terkena pisaunya, melainkan punggung belakang El yang ternyata sudah mengambil alih posisi Abrine sebelumnya karena dia ingin mendekap kepala sang istri.
Sepersekian detik berikutnya, El meringis cukup kencang, kemudian ambruk dibawah kaki Claire. Begitupun Abrine yang ikut tergeletak lalu pingsan.
Claire terdiam. Matanya menjadi nanar. Dia melihat darah yang ada ditangannya, darah itu milik Elrich bukan Abrine. Tubuhnya seketika bergetar hebat.
Jiwa Claire yang sudah sakit, semakin terguncang melihat kenyataan didepannya. Ya, dia memang pernah ingin menghabisi Elrich dengan tangannya sendiri. Tapi, kejadian malam ini sungguh diluar prediksinya. Tidak, dia tidak membayangkan ini sebelumnya, nyatanya dia syok melihat pria itu tergeletak karena ulahnya.
"El! Elrich!?" Claire berlutut. Dia bahkan mengguncang tubuh Elrich yang matanya masih setengah terbuka. Antara sadar dan tidak.
Claire kalut, dia bingung dan melihat sekeliling. Entah kemana semua pasien yang tadi ikut kabur bersamanya. Tak ada. Mungkin dua orang ajudan El yang telah mengurus mereka.
Claire membuka mobil El dan mendapati sebuah ponsel disana. Dia tidak tahu itu milik siapa. Satu dalam pikirannya. Dia hanya ingin menyelamatkan nyawa El yang tak sengaja dia tusuk.
"Aku tidak membunuhnya," gumam Claire tampak ketakutan.
Sebelumnya dia tak pernah ketakutan begini saat menyakiti seseorang. Berbeda dengan El. Rupanya dia menjadi sangat khawatir. Tidak biasanya. Diapun baru menyadarinya sekarang. Biasanya dia justru senang setelah berhasil dengan aksi seperti ini terhadap hewan atau orang-orang yang tak dia sukai. Galvin, misalnya.
"Tidak aku tidak sengaja melakukannya." Claire bermonolog sambil tangannya memainkan ponsel yang sudah dia genggam.
Ponsel itu milik Abrine yang sebelumnya sempat El gunakan karena menerima panggilan dari Raymond.
Sebuah panggilan cepat tertekan tanpa sengaja oleh Claire. Abrine memang menyetel ponselnya dengan panggilan cepat untuk memudahkannya. Salah satu panggilan itu akan menghubungi keluarga, suami atau sahabatnya.
"Tolong, aku tidak sengaja!" kata Claire pada sambungan teleponnya.
"Halo? Abrine? Kau kenapa?" sahut seseorang dari seberang panggilan.
"Aku bukan Abrine."
"Lalu kau siapa? Dimana Abrine?"
"Dia ada. Dia pingsan."
"Apa? Dimana keberadaannya sekarang?"
"Aku tidak tau ini dimana," jawab Claire dengan gemetaran.
Setelah yakin akan ada yang menolong El dan tahu keadaan Abrine yang pingsan. Claire pergi dari tempat itu. Sebenarnya dia hanya menghawatirkan El, soal Abrine justru dia berharap Abrine yang mati dalam kejadian ini.
Claire berlarian tanpa tujuan. Entah kenapa airmatanya mengalir deras.
Sementara itu, dua orang ajudan yang sudah mengurus para odgj tampak kembali ke tempat mereka semula dan terkejut mendapati Elrich yang tertusuk.
Mereka membantu membawa El dan Abrine untuk masuk ke dalam mobil agar dapat memberikan pertolongan pertama.
__ADS_1
*****