PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
16. Siapa dia?


__ADS_3

Sementara itu, Raymond terbangun dengan kepala yang terasa pusing luar biasa. Kemarin dia putus asa, mendengar Abrine mengatakan akan menikah secara tiba-tiba. Sementara dia sudah meninggalkan Freya hanya demi bersama dengan Abrine. Dia sadar bahwa perasaannya pada Abrine bukan hanya menyukai melainkan dia sudah mencintai gadis itu terlalu dalam.


Tapi, kenapa Abrine mengambil keputusan untuk menikah dengan orang lain? Kenapa Abrine tak mau memberinya kesempatan untuk berubah? Abrine juga tak mau melihatnya lagi, bahkan gadis itu menghindarinya. Dia berulang kali menelpon Abrine namun tidak bisa. Akhirnya dia mengirimi Abrine pesan. Tapi, pesannya tak mendapat satu balasanpun.


Raymond mengunjungi Apartmen gadis itu, ingin bicara secara langsung namun tidak mendapati Abrine disana. Merasa frustrasi, akhirnya dia pergi ke sebuah Bar dan minum-minum. Mabuk, itulah yang membuat kepalanya nyeri sampai sekarang.


Raymond memegang dahinya, dia hendak bangkit dari posisinya yang berbaring, namun begitu terkejut saat melihat seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Frey? What are you doing? Kenapa kau berada di kamarku?" Raymond menatap heran ke arah Freya.


"Bukankah kau yang memintaku disini? Menemanimu tidur dan tetap bersamamu?"


Ucapan Freya membuat Raymond sadar bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan. Raymond berdiri dan gegas ke kamar mandi, dia tak menghiraukan Freya yang terus memanggil-manggil namanya.


Freya memutuskan duduk di sofa, menunggu Raymond selesai dengan urusan mandinya.


"Ray! Kau ini kenapa?" Freya menghampiri Raymond dengan tatapan keheranan.


Raymond mengenakan pakaiannya didepan Freya. "Hubungan kita sudah berakhir, kan? Kau pasti tahu apa yang ku lakukan tadi malam bersamamu itu adalah sebuah kesalahan karena aku mabuk."


Freya mengerucutkan bibir, dia sadar bahwa dialah yang memanfaatkan keadaan Raymond semalam.


"Pulanglah, aku harus bekerja sekarang!"


Freya menggeleng. "Jangan membuatku menjadi wanita yang menyedihkan seperti ini, Ray!"


"Menyedihkan bagaimana? Kita sudah berakhir. It's over!" Raymond beralih pada cermin di kamarnya, memakai pomade dan menyisir rambutnya rapi. Freya mendengkus kesal melihat Raymond tidak memedulikannya.


"Kau tidak membutuhkanku, Ray?"


"Tidak," jawab Raymond yakin.


"Kau keterlaluan, Ray!" hardik Freya. Dia memukul kesal pada sisi tubuh Raymond, namun kelakuannya itu tidak berpengaruh apapun bagi Raymond, bahkan pria itu tak bergeming sedikitpun seolah pukulan Freya tak ada artinya.


Melihat Freya yang terus merengek. Akhirnya, Raymond menatap sang wanita dengan tatapan serius. "Listen to me! Jangan berharap lagi padaku. Maafkan aku. Kita tidak bisa bersama lagi," ujarnya lembut memberi Freya pengertian.


Freya membuang pandangan. "Kau hanya membutuhkanku disaat kau terpuruk, Ray! Kau bahkan menganggapku sebagai Abrine semalam," gumam Freya yang masih bisa didengar oleh Raymond.


"Maafkan aku...."

__ADS_1


Raymond tidak tahu jika kelakuannya bersama Freya kemarin diketahui oleh Abrine. Dia memutuskan pergi bekerja hari itu dan akan mengunjungi Abrine ke Apartmennya nanti sore sepulang dia bekerja.


Sayangnya, Raymond tidak sabar menunggu hingga sore. Pada jam makan siang dia langsung datang ke Apartmen Abrine, dia membawa sekotak cokelat untuk gadis itu karena dia tahu Abrine sangat menyukainya.


Kendati Raymond sudah mendengar mengenai rencana pernikahan yang tak sengaja Abrine katakan, namun dia tetap tak percaya dan tidak akan puas sebelum bicara langsung pada sang gadis.


Raymond menekan password apartmen Abrine. Sebagaimana Abrine mengetahui sandi rumahnya, begitupun dia mengetahui tentang Abrine. Namun, dia terkejut karena ternyata tidak bisa membuka pintu itu begitu saja.


Raymond menyadari bahwa Abrine telah mengganti password keamanan pintu.


"Sial," dengkusnya pelan. Dia tahu ada yang tidak beres sekarang. Mungkinlah ini karena faktor Abrine yang akan menikah, sehingga gadis itu mengganti sandi rumahnya? Padahal kemarin dia masih bisa masuk ke dalam Apartmen milik sang sahabat kendati tak bertemu dengan Abrine.


Raymond pun memutuskan menekan bel. Selama beberapa saat dia menunggu, dia tidak juga mendapat sahutan. Dia memanggil Abrine dari kotak suara, mungkin Abrine akan mendengarnya dari dalam ruang Apartmennya, namun sepertinya memang tidak ada tanda-tanda kehidupan didalam sana.


Raymond ingin pergi, namun saat dia berbalik badan dia mendapati Abrine berdiri disana dengan seorang pria.


_______


Elrich memang belum sepenuhnya bisa bekerja karena dia baru saja pulih dari pasca operasi pemasangan pen ditangannya yang patah. Untuk itu, dia menawarkan agar bisa mengantar Abrine kembali ke kantor gadis itu. Dia ingin tahu sedikit banyak mengenai Abrine walaupun mereka sepakat tidak akan mencampuri urusan masing-masing dikedepan hari.


Abrine baru saja selesai menerima telepon dari Anne, ternyata ada sebuah berkas yang tertinggal di Apartemennya, jadi dia akan pulang dulu ke rumah sebelum nanti kembali ke kantor.


"Tak apa, biar aku antar kesana. Aku juga ingin tahu unit Apartmenmu." Kemarin Elrich hanya mengantar sampai depan gedung, kini dia mau tahu jelas letak unit tempat tinggal Abrine.


"Tapi jangan masuk kesana, ya!"


"Kenapa? Aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin tahu dimana kau tinggal, mengetahui sedikit tentangmu mungkin akan membantuku menjawab saat bertemu kedua orangtuamu nanti."


"Tidak apa-apa, hanya saja.... berantakan." Abrine menyengir kuda dan dibalas Elrich dengan senyuman tipis.


Saat tiba di koridor, Abrine tidak menyangka, ternyata didepan pintu unitnya dia malah bertemu dengan Raymond disana. Masalahnya adalah untuk apa lagi Raymond mendatanginya?


"Brine?"


Abrine melengos, dia berjalan melewati tubuh Raymond dan dengan tenang membuka pintu Apartmennya.


Raymond menatap Elrich, pandangan mereka bertemu. Elrich menanggapi Raymond dengan santai, tapi Raymond memandangnya dengan aura permusuhan.


"Kau tidak mau masuk?" Suara Abrine mengejutkan keduanya. Kedua pria itu sama-sama menoleh, tanpa tahu siapa diantara mereka yang diajak masuk oleh Abrine ke Apartmennya.

__ADS_1


Raymond berjalan ke ambang pintu dengan sikap percaya diri, sayangnya Abrine tak mau melihat pada pria itu. Dia masih memandangi Elrich yang mematung ditempatnya.


"Brine...." Raymond membuka suaranya, ingin mengatakan maksud kedatangannya dan tentu ingin menanyakan siapa pria yang kini ikut bersama Abrine sampai ke unit ini.


Lagi-lagi Abrine mengabaikan Raymond, dia justru memangil Elrich sekarang.


"Sayang, katanya mau ke Apartmenku!" seru Abrine sengaja memanas-manasi Raymond dengan panggilan sayangnya kepada El.


Elrich terbelalak, niat awalnya hanya mengantar Abrine sampai disini, ternyata Abrine menawarinya masuk. Namun, seketika dia langsung menyadari niat Abrine saat ini dan langsung menguasai keadaan kembali. Meskipun mendengar Abrine memanggilnya dengan sebutan 'sayang', membuat El jadi serba salah. Entah kenapa dia justru senang walau dia tahu sekarang Abrine sedang memanfaatkannya didepan Raymond.


"Y-ya, aku... ya, baiklah." Elrich mendekat dan masuk, dia melewati Raymond yang berada di ambang pintu dengan tampang kebingungan.


Raymond mengendikkan bahu cuek, dia ikut masuk juga dan duduk di sofa ruang tamu seolah tidak ada Elrich disana.


"Kau mau minum apa?"


"Softdrink," jawab Raymond dan Elrich bersamaan. Mereka sama-sama tak tahu siapa diantara mereka berdua yang diajak Abrine bicara.


Abrine berdecak singkat, berlalu dan kembali dengan dua kaleng softdrink.


"Siapa dia, Brine?" Akhirnya Raymond bertanya, dia penasaran dengan pria asing yang tiba-tiba hadir diantara dia dengan Abrine.


"Aku Elrich," jawab El akhirnya.


"Aku bertanya pada Abrine, bukan padamu." Raymond tidak bisa menguasai dirinya, dia kesal melihat Abrine dengan pria lain.


Elrich tersenyum tipis, dia menoleh pada Abrine, seolah menyerahkan hal ini pada gadis itu.


"Ray, dia adalah Elrich. El adalah calon suamiku."


"Apa?" Sontak saja Raymond langsung terperanjat dan berdiri dari duduknya. "Sudah ku bilang jangan terus membuat lelucon, Brine! Ini sama sekali tidak lucu!" Wajah Raymond merah padam, dia tidak percaya dengan semua ini.


"Tapi inilah kenyataannya, aku dan El akan menikah sebentar lagi."


Raymond menggeleng keras. Dia menatap Abrine kemudian melihat pada Elrich yang menyunggingkan senyum miring seolah tengah mencibirnya.


"Kita harus bicara berdua!" Tiba-tiba saja Raymond menarik tangan Abrine.


******

__ADS_1


__ADS_2