PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
76. Tentang buku harian


__ADS_3

El telah menemukan jati dirinya. Dia bukanlah seorang anak yang tidak diinginkan. Justru dia adalah anak yang diperebutkan.


Dari buku harian milik ibunya, El mengetahui semua fakta itu.


Emily dan Edgar menikah lebih dulu, pernikahan tanpa restu dari kedua belah pihak keluarga. Pernikahan yang hanya sah secara agama namun tidak diakui negara.


Mereka nekat menikah, namun memutuskan untuk menunda kehadiran seorang anak karena peliknya hubungan keduanya.


Tak berselang lama, Edgar dijodohkan dengan Naina. Edgar menolak karena sangat mencintai Emily. Tapi, dia dijebak dalam satu malam yang menyebabkan Naina harus mengandung benihnya.


Emily bersikeras untuk berpisah dari Edgar, namun Edgar tidak menyetujui hal itu karena hanya Emily yang dia cintai.


Dengan berat hati, Emily merestui Edgar untuk menikahi Naina yang telah mengandung. Ketika Elena lahir, Edgar mulai menyayangi keluarga kecilnya bersama Naina.


Disitulah perasaan Emily diuji. Dia menyadari bahwa sekarang dialah yang menjadi orang ketiga diantara mereka meski awalnya dia sudah mencoba berbesar hati.


Di usia Elena yang ke dua tahun, Emily masih mencoba bersabar dalam hubungan berbagi suami. Padahal dalam hati kecilnya dia juga ingin memiliki keluarga yang hangat layaknya yang dimiliki Naina.


Sampai pada akhirnya, Naina didiagnosa mengalami penyakit. Dia menderita kanker serviks stadium 3.


Harapan keluarga Edgar yang sangat menginginkan cucu lelaki harus pupus disana. Tetapi disaat bersamaan justru Emily lah yang tengah mengandung dan janin itu adalah seorang bayi laki-laki.


Dengan inisiatif Naina sendiri, dia menemui Emily untuk meminta hak asuh bayi yang tengah Emily kandung.


Naina berjanji akan menganggap bayi itu sebagai anaknya dan terlampir sebagai anak yang memiliki kekuatan hukum dalam akte lahir yang sah.


Awalnya tentu saja Emily menolak tegas. Dia juga menginginkan keluarga yang utuh. Disitulah sisi egoisnya melonjak. Dia justru berharap Naina segera meninggal, agar dia bisa memiliki Edgar seorang diri. Dia bisa mengasuh Elena bersamaan dengan bayi yang tengah dia kandung. Lalu, dia akan membesarkan mereka bersama-sama nanti.


Apa salah Emily berharap seperti itu? Sudah cukup lama dia menanti untuk bisa bersama Edgar seutuhnya. Sudah lelah dia berbesar hati selama ini.


Sayangnya, harapan Emily harus pupus seketika karena pada satu hari justru dia mendengar Edgar yang mengatakan ingin meninggalkannya demi Naina. Dia tidak tahu apa maksud Edgar bicara seperti itu. Dia hanya mendengar percakapan Naina dan Edgar secara tidak sengaja.


Edgar juga mengatakan bahwa selamanya hubungan dia dengan Emily takkan pernah berhasil karena Emily adalah anak konglomerat yang tak mungkin dilepaskan keluarga hanya demi pria seperti Edgar.

__ADS_1


Apalagi Edgar sudah memadu Emily selama ini. Theresia--ibu Emily--takkan membiarkan pernikahan ini terus berlanjut.


Setelah melahirkan, Emily memutuskan meninggalkan bayinya tanpa sepengetahuan Edgar.


Emily membawa luka dihatinya seorang diri. Dia merelakan putranya--Elrich--untuk diasuh oleh Naina. Karena dia tahu semua ucapan Edgar benar adanya. Theresia tak mungkin terus membiarkan dia dalam pernikahan ini bersama Edgar.


Tapi, putranya juga berhak untuk hidup yang layak dengan menyandang status anak yang sah dimata hukum.


Jika Emily membawa El turut serta, mungkin dia bisa membuat sebuah nepotisme di surat-surat kelahiran El, meski itu akan menjadi sebuah masalah dikemudian hari.


Tapi, jika dia nekat membawa El, hal itu justru akan membuat El tidak akan pernah mendapatkan sosok seorang ayah, karena Emily memang tak berniat menikah lagi sampai kapanpun.


Elrich putranya, berhak mendapatkan hidup yang lebih baik bersama kedua orangtua yang lengkap.


Jadi, dengan sangat terpaksa dia harus meninggalkan Elrich bersama Naina. Dengan begitu, Putranya akan mendapatkan keluarga yang utuh.


Begitupun dengan Edgar, dia juga berhak mengasuh putranya, karena Elrich adalah bentuk nyata cinta mereka berdua.


****


Tapi hal ini juga mengajarkan El satu hal, yaitu kasih sayang ibunya tidak bisa dia nilai meski tumpukan uang bertabur disisinya.


El memendam hal itu untuk menjadi pelajaran hidupnya. Paling tidak, semua yang dia ketahui sampai hari ini ada sebuah hikmah yang dapat dia petik untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh ayahnya.


Disatu kesempatan, El mengajak istrinya untuk mengunjungi Edgar di Villa milik pria itu.


Dia tidak mengatakan mengenai isi buku harian mendiang ibunya pada Edgar. Dia tak mungkin memberitahu ayahnya bahwa sang ibu sempat menaruh kecewa yang begitu besar pada pria itu.


Tapi, dari sinilah Elrich tahu kenapa ayahnya selalu memberinya petuah.


"Jadilah suami yang lebih baik daripada Ayah."


Mungkin Edgar juga memiliki penyesalan dimasa lalunya. Soal pernikahan ketiga Edgar dengan Erika, sejatinya sang ayah tidak menaruh cinta pada wanita itu. El tahu ayahnya menikahi Erika karena merasa Erika akan menjadi ibu yang baik untuk El dan Elena selepas kematian Naina. Karena pada waktu itu, Erika adalah baby sitter yang dipekerjakan dirumah mereka dan terlihat sangat menyayangi mereka.

__ADS_1


"Ayah, hari ini kita akan ke pemakaman."


"Pemakaman? Apa kau ingin mengunjungi makam Mama Naina?"


Elrich menggeleng. Dia khusus menjemput ayahnya untuk ke pusara terakhir Emily, ibu kandungnya.


"Kita bisa ke makam Mama Naina besok atau kapan-kapan. Tapi, hari ini kita akan pergi ke pemakaman ibuku."


Edgar mengernyit, dia melempar pandangan ke arah Abrine seolah menanyakan pada menantunya itu apa yang dimaksudkan oleh El.


"Ke makam ibuku," ujar Elrich terdengar dingin. Bagaimanapun dia menyembunyikan, dia tetaplah merasa sakit hati akibat penderitaan wanita yang telah melahirkannya.


Disaat itu juga Edgar terhenyak. Matanya membulat sempurna. Apa pencariannya selama ini sudah berakhir? Ya, akhirnya dia memang menemuka wanita yang selama ini dia cari. Emily.


Tapi, itu artinya Elrich yang menemukannya lebih dulu. Dan pemakaman? Apa maksudnya Emily sudah meninggal? Benarkah?


Apa ini mimpi?


"Aku ingin meminta maaf pada mendiang ibuku meski ini sudah terlalu terlambat. Aku ingin berterima kasih padanya terkait semua yang telah dia berikan padaku dalam bentuk apapun."


Edgar masih terdiam, dia hanya menatap nanar pada tampilan anak dan menantunya yang kompak mengenakan pakaian serba hitam.


"Satu lagi, aku juga ingin mendengar permintaan maaf ayah kepada mendiang ibuku."


Menjelang sore, mereka tiba di pemakaman tersebut. Disana tidak terlalu banyak pusara orang lain seperti tempat pemakaman pada umumnya. Hanya ada beberapa dan makam Emily terletak dibawah sebuah pohon akasia.


Pusara itu dihiasi oleh bebatuan alam berwarna kecoklatan. Diatasnya berjajar bunga-bunga yang masih segar. Mungkin ada yang baru mengunjungi makam tersebut. Batu nisannya terukir sebuah nama.


Emily Langford. Dengan ukiran berwarna perak.


Sebuah foto wanita muda yang sangat cantik turut dilampirkan dalam nisan yang sama.


Mungkin foto itu diambil ketika Emily masih seumuran Abrine. Tampak dia masih sangat muda dengan senyum hangat yang menampilkan sisi kecantikan alami.

__ADS_1


"Ibu, akhirnya kita bertemu...."


******


__ADS_2