
Setelah kesepakatan antara Abrine dan El terjadi lagi hari ini. Mereka pun memutuskan untuk berkunjung ke kediaman Erika. Diikuti oleh mobil Wildan dibelakang mobil mereka, akhirnya mereka pun tiba disana.
Erika tengah membuat kue favorit putranya saat Wildan ternyata pulang ke rumah bersama Elrich dan Abrine. Wanita paruh baya yang cantik diusianya yang tak muda lagi itu menyambut kedatangan mereka dengan raut bingung namun juga syok saat melihat ada Elrich juga yang kini berdiri didepannya.
Bisa dikatakan, ini adalah pertemuan kembali antara Erika dan El setelah 12 tahun berpisah. Ibu dan anak itu tampak mematut raut wajah masing-masing yang sulit diartikan.
Abrine sendiri menatap keduanya bergantian, dia bingung, kenapa El sepertinya juga enggan menatap langsung ke wajah sang ibu.
"El...." Erika lebih dulu menyapa El tapi El tidak bergeming, dia hanya menunduk lesu.
Abrine menggoyang lengan El, seolah memberinya kode bahwa mereka sudah sepakat bahwa El memang harus berdamai dengan Erika hari ini juga.
El justru menggenggam erat jari jemari Abrine, genggaman itu seperti meminta kekuatan lebih karena dia sendiri tidak yakin dengan apa yang kini dilakukannya hanya demi Abrine.
Bisa-bisanya El menyepakati hal ini hingga membawa langkahnya menemui Erika dihadapan Abrine.
"Ma, kak El tadi berkunjung dan makan di Restoran ku," kata Wildan memecah keheningan yang tercipta.
"Benarkah?" Erika tampak semringah, matanya berkaca-kaca, tangannya terulur seolah ingin memeluk tubuh Elrich, putra yang sudah lama tak ditemuinya tapi dia ragu melakukan itu, sebab dia sadar bahwa selama ini Elrich membentang tembok tinggi untuk membatasi mereka. "Terima kasih, El. Kau juga sudah mau berkunjung kesini."
Elrich mengadahkan wajah, menatap langit diatas sana, sambil sesekali merem as jemari Abrine yang masih dalam genggamannya.
"El, are you oke? Apa kita pulang saja? Aku tidak akan memaksamu lagi," bisik Abrine. Dia yakin ada yang tidak beres disini dan seketika itu juga dia merasa bersalah pada El. Seharusnya dia tak memaksa El untuk melakukan ini demi dirinya, sekalipun niatnya adalah mendamaikan keluarga itu.
"Tak apa," jawab El singkat.
Selang berapa detik rupanya El sudah berani melihat pada sang ibu. Sama seperti pertemuan dengan Wildan di Restoran sebelumnya, El yang lebih dulu mengulurkan tangan kehadapan Erika.
"Maafkan aku, jika aku bersalah."
Seketika itu juga Erika tak langsung menyambut uluran tangan El, akan tetapi dia memeluk tubuh pria itu dengan isak tangis yang mendayu-dayu menyayat perasaan siapapun yang mendengarnya.
Elrich tidak membalas pelukan Erika, sikapnya masih datar, tapi dari binar dimatanya dia tampak berkaca-kaca seolah memendam kesedihan yang mendalam.
"El, Mama yang minta maaf, Nak. Maafkan Mama. Semua ini kesalahan Mama."
Erika melepas tautan tubuhnya pada El, mengajak mereka semua masuk untuk mencicipi kue yang sebelumnya baru saja matang.
"Ini, Mama membuatkan brownis kesukaan Erland, ini juga kesukaanmu kan, El...." Erika menatap Elrich dengan wajah penuh harap. "Ayo, makanlah, nak."
__ADS_1
Abrine menyaksikan kejadian mengharukan itu. Dilanjutkan dengan Elrich yang memang benar-benar memakan kue buatan sang ibu.
Tak banyak percakapan. Bisa dibilang keadaan memang tak akrab atau lebih tepatnya masing-masing dari mereka tampak canggung satu sama lain. Sesekali Abrine yang berusaha mencairkan suasana dengan membuat lelucon tapi hanya ditanggapi dengan senyuman kecil dari ketiga orang lainnya.
"Jika ada waktu, sering-seringlah berkunjung kesini, El...." Erika terus mengulas senyum ramah, dia tampak senang El sudah mendatanginya, tapi dia juga belum sepenuhnya tenang, sebab dia yakin El masih membentengi diri dan belum benar-benar merobohkan tembok yang selama 12 tahun terbentang diantara mereka.
"Baiklah," jawab El singkat.
"Kapan pernikahan kalian, El?" tanya Erika lagi.
"Satu Minggu dari sekarang."
Erika mengangguk, dia melirik pada Wildan sekilas dan Wildan hanya tersenyum tipis pada sang ibu. Erika tahu jelas senyuman Wildan itu adalah senyum kesedihan karena walau bagaimanapun El akan menikahi Abrine, gadis yang Wildan harapkan. Tapi, mau bagaimana lagi, mereka tak bisa melakukan apa-apa. Tak ada.
El dan Abrine pun pulang. Awalnya hanya keheningan yang ada diantara keduanya selama diperjalanan. Sampai akhirnya, El lebih dulu buka suara pada Abrine.
"Terima kasih," katanya.
"Untuk?"
"Kau sudah membuat hubungan kami jadi lebih baik walau aku tak yakin jika ini benar-benar terjadi."
"Kalau aku boleh tahu, sebenarnya ada masalah apa, El? Aku tahu, aku hanyalah orang asing yang tiba-tiba hadir di kehidupanmu, tapi bukankah sebentar lagi kita akan menikah?" Abrine menatap El serius dari posisinya.
Elrich menyunggingkan senyum kecil. "Dulunya dia menipu ayahku. Itu yang membuatku sulit untuk memaafkannya, tapi pada akhirnya, hari ini aku lah yang meminta maaf padanya. Itu keinginanmu, bukan?" Elrich mengendikkan bahu sambil melirik Abrine sekilas.
Abrine tampak salah tingkah. Kalau Erika yang salah dan sempat menipu Edgar, berarti Elrich benar-benar menurunkan harga diri sampai dia rela meminta maaf pada Erika. Abrine jadi merasa sungkan pada Elrich, karena hal ini. Tapi, ada kalanya anak memang lebih pantas meminta maaf pada sang ibu, bukan?
"Maksudmu, Tante Erika menipu ayahmu? Aku tidak paham kenapa dia melakukan itu pada keluarganya sendiri?"
Elrich mengangguk. "Begitulah kenyataannya. Ah, satu lagi.... aku dan Elena bukanlah anak kandungnya."
"Hah?" Abrine terkejut mengetahui fakta ini. Dia kira selama ini Elrich telah durhaka pada ibu kandungnya sendiri.
"Ibuku sudah meninggal saat aku kecil. Dulunya Mama Erika adalah baby sitter ku dan Elena. Dia mengasuh kami selayaknya anak sendiri, hal itu membuat ayahku jatuh hati padanya sampai akhirnya memilihnya untuk dinikahi."
"Lalu?" Abrine jadi tertarik dengan cerita El, apalagi dia mengatakan Erika telah menipu Edgar. Bagaimana ceritanya?
"Seharusnya aku tak menceritakan ini pada orang lain...."
__ADS_1
"El, aku ingin tahu!" desak Abrine. "Apa aku masih orang lain bagimu? Kita akan menikah, El!"
"Ya, tapi pernikahan seperti apa yang akan kita jalani nanti?"
Abrine mendengkus keras.
"Sudahlah, intinya kau hanya perlu mengetahui sampai disitu."
"Dasar payah!"
"Aku hanya menjaga privasi keluargaku. Tapi, jika kau memang sangat ingin tahu, aku akan menceritakannya padamu."
"Benarkah?" Abrine mantap El dengan binar penuh harap.
"Ya, tapi tepati dulu janjimu."
"Janji yang mana?"
"Kau sudah lupa? Janji.... jika kau akan melakukan sesuatu demi diriku, hmm?"
"Oh yang di Restoran tadi. Aku ingat. Baiklah, aku akan melakukannya untukmu... apa yang kau inginkan?" Sangking penasarannya, Abrine mengiyakan ucapan Elrich dengan mudahnya. Dia tak memikirkan efek. Sama seperti dia memutuskan menikahi El dulu, dia juga tak pernah memikirkan imbasnya nanti.
"Tidak sekarang, Brine. Saat ini aku belum punya keinginan."
Abrine mengembuskan nafas kecewa. Itu artinya, cerita tentang keluarga Elrich yang sangat ingin dia ketahui harus terhenti sampai disini saja. Dia akan mengetahui kelanjutannya setelah nanti Elrich mengutarakan keinginannya dan bisa Abrine penuhi.
"Intinya, kau sudah tahu, jika Mama Erika bukanlah ibu kandungku."
"Iya iya.... aku akan menunggu sampai kau menyebutkan keinginanmu. Disaat itu, aku akan tahu semuanya, benar?"
"Hmmm, tapi... saat aku mengatakan apa yang ku inginkan nanti, jangan sampai kau tidak mengabulkannya, oke?"
"Iya, Dokter!"
"Good!" Elrich terkekeh senang.
Abrine bersedekap, dia memandang kearah luar jendela.
"Kalau Wildan? Apa dia adik kandungmu? Apa kalian satu ayah?" tanya Abrine tanpa menatap Elrich.
__ADS_1
*****