PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
14. Bukan lagi sakit tapi kecewa


__ADS_3

"Hei, Dokter! Kau itu mabuk, tidak waras atau sedang kerasukan, hah?" Abrine memberondong Elrich dengan kekesalannya begitu dia selesai berbicara dengan Edgar beberapa saat lalu.


Elrich hanya menatap gadis itu sekilas, duduk menyilangkan kaki kemudian menonton tv seolah tidak ada siapapun disana yang tengah menatapnya dengan ekspresi marah.


"Kau mendengarku, tidak?" cerca Abrine yang langsung menghampiri Elrich di posisinya, dia menghalangi pandangan El yang sedang menatap televisi.


Abrine berkacak pinggang dengan nafas naik turun. Ingin sekali menen-dang atau mence-kik pria ini sekarang juga, karena keputusan sepihak yang Elrich buat tanpa memberitahunya lebih dulu. Bisa-bisanya Elrich mengatakan akan menikahinya dalam dua bulan kedepan pada Edgar. Hah, lelucon apa lagi ini?


"Kau sudah jujur pada ayahku, kan? Lalu, apa kata ayahku?" Elrich malah berujar santai lalu bersedekap mengadah pada Abrine yang berdiri dihadapannya.


Abrine mendengkus. "Dia tetap menyetujui pernikahan itu, bod*h!" ujarnya dengan kekesalan yang hakiki.


Elrich malah tertawa kencang. "Sudah ku duga," katanya disertai kekehan.


"Apa maksudmu?"


"Sekalipun aku jujur, ayahku tetap akan menyuruhku menikahimu."


"Astaga.... benar-benar!" Abrine menatap El nyalang. "Ini namanya bukan lagi memanfaatkanku, dokter! Kau tau, kau ini sedang memerangkapku!" tuding Abrine mengepalkan tangannya didepan wajah Elrich.


Elrich mengangguk. "Yups," jawabnya. "Kau mau memukulku? Ya sudah, lakukan saja!" El malah menawarkan pipinya ke arah Abrine, agar ditonjok gadis itu.


Abrine menggeram marah, tapi dia hanya bisa menunjukkan tinjunya dihadapan pria itu dengan ekspresi kesal luar biasa. Dia tidak mau memukul Elrich karena dia takut El akan kembali memanfaatkan hal itu dan membuat tuntutan baru apabila dia memukulnya.


"Kau benar-benar tak mau menikah denganku?" tanya Elrich dengan tawa pelan, membuat Abrine yang hampir berlalu dari ruangan itu seketika menghentikan langkahnya.


"Kau pikir menikah itu sebuah permainan?" sarkas Abrine sambil lalu.


Akhirnya, Abrine masuk ke kamar tamu, dia membereskan semua barangnya yang tersisa. Dia hendak segera pergi dari Villa ini dan tak mau terikat urusan apapun lagi dengan Elrich. Soal permintaan Edgar, dia sudah menolaknya secara halus, meski dia tahu dia telah mengecewakan pria baya itu. Terlihat sekali tatapan sedih dikedua netra tua milik Edgar saat Abrine menutup pembicaraannya tadi. Tapi, mau bagaimanapun Abrine harus menolak hal itu. Dia tak punya alasan untuk menerima pernikahan antara dirinya dan Elrich-- yang diharapkan Edgar.


"Mau kemana?" Elrich menatap Abrine lekat.


"Pulang," jawab gadis itu singkat.


"Kau kesini bersamaku. Jadi, pulanglah bersamaku juga."


"Tidak mau!" ketus Abrine.


"Jika kau ingin pulang sekarang, tunggu sebentar, aku akan mengambil barang-barangku dan kita pulang bersama."


"Kau tidak dengar? Aku bilang tidak mau! Aku bisa menjaga diriku sendiri." Abrine menyorot El, tajam.


Tapi, pemuda itu balas menatapnya dengan sorot yang sama. "Menjaga diri seperti apa yang kau maksud? Mabuk, dan berbuat ceroboh hingga berakhir di Rumah Sakit, itu yang kau maksud dengan bisa menjaga dirimu sendiri?" tanyanya.


"Aku tidak mabuk malam itu!"


"Tapi kenyataannya?"

__ADS_1


"Sudahlah, jangan ingatkan aku dengan hal itu lagi!"


"Aku akan terus mengingatkanmu!" ujar El, meski dia sendiri pun masih harap-harap cemas apabila nanti Abrine akan ingat bahwa gadis itu sama sekali tidak menabraknya, melainkan dirinyalah yang mengemudikan mobil dan membanting setir.


"Kenapa? Kau lupakanlah juga kejadian malam itu!"


"Mana bisa aku melupakan malam itu, karena malam itu kau sudah---" Elrich hampir mengucapkan soal Abrine yang sudah lancang menciumnya saat malam terjadinya kecelakaan itu, namun seketika perkataannya terhenti.


"Sudah apa?"


"Sudah membuat kita berdua celaka!" Akhirnya itulah kalimat yang El ucapkan.


Abrine terdiam. Ucapan El benar, dia dan kecerobohannya menyebabkan semuanya jadi runyam. Bahkan, hal itu yang mengantarkannya sampai pada titik ini, dimana sekarang dia harus terjebak dalam permainan Elrich.


Akhirnya mereka pulang bersama, menggunakan taksi yang El pesan. Edgar melepas keduanya dengan rasa tak rela, tapi bagaimanapun dia menyerahkan semua keputusan pada Elrich maupun Abrine. Tak lupa Edgar mengucapkan keinginannya sebelum keduanya benar-benar meninggalkan Villa sore itu.


"Ayah harap kalian bisa mengabulkan keinginan ayah. Binalah hubungan yang lebih baik, ayah menunggu kabar bahagia itu secepatnya."


Edgar memeluk puteranya. Kemudian beralih pada Abrine.


"Abrine, Paman juga berharap padamu agar mau memikirkan ucapan Paman. Pikirkanlah, nak! Paman mendoakan kalian agar berjodoh."


Abrine mengerti kekecewaan Edgar pada penolakan dirinya, kendati demikian dia tak mungkin menerima Elrich begitu saja sebab dia juga tahu tak ada rasa lebih diantara mereka berdua. Abrine sadar bahwa hatinya masih mencintai Raymond. Begitupun dia sadar bahwa Elrich mengajaknya menikah hanya karena desakan Ayahnya.


Saat dalam taksi, tak ada yang bersuara baik itu Elrich ataupun Abrine.


^^^[Brine, kau membuat lelucon soal pernikahan itu, kan?]^^^


^^^[Aku tahu alasan itu kau buat untuk menghindariku. Jangan paksa aku untuk tidak muncul lagi di hadapanmu, aku tidak bisa.]^^^


^^^[Brine, aku sudah memutuskan hubunganku dengan Freya. Aku tidak akan memaksa untuk langsung bisa bersamamu. Aku sudah membuat sebuah keputusan bahwa aku akan serius denganmu dan meninggalkan kebiasaan bersenang-senang yang kadang ku lakukan.]^^^


Membaca semua pesan dari Raymond membuat hati Abrine menghangat. Tidak dipungkiri bahwa di lubuk hatinya yang terdalam dia merasa senang dengan keputusan yang Raymond buat


"Jadi, kau sudah putus dengannya?" batin Abrine.


Kendati Abrine tak memaksa Raymond untuk memutuskan Freya karena dirinya, sebab tak mau dianggap telah merebut Raymond dari wanita itu, tapi tetap saja alasan utama Raymond melakukan itu pasti karena ucapannya tempo hari.


Entahlah, yang terpenting adalah Raymond sudah memilih dan itu artinya Raymond ingin menjadi seseorang yang lebih baik lagi dengan meninggalkan kebiasaan buruknya. Hati Abrine terasa berbunga-bunga sekarang, hingga membuatnya senyum-senyum sendiri.


Elrich melirik sekilas pada Abrine, dia hanya menghela nafas panjang saat melihat perubahan raut wajah gadis itu. Tapi, dalam hatinya bersyukur karena melihat Abrine sudah kembali tersenyum, itu artinya gadis itu sudah kembali pada mood yang baik.


Perjalanan kembali ke pusat kota memakan waktu hampir satu setengah jam. Saat hampir tiba, Elrich memutuskan untuk buka suara pada Abrine.


"Aku akan mengantarmu ke depan gedung Apartmenmu."


"Tidak usah!" tolak Abrine cepat.

__ADS_1


Elrich mengernyit dalam. "Jadi, taksi ini akan membawa kita kemana? Aku ingin memastikanmu sampai dirumah karena kau ikut bersamaku jadi kau adalah tanggung jawabku!"


"Kalau begitu antarkan aku ke Excelo Apartmen saja."


Elrich kembali mengernyit, dia tahu bukan disana letak Apartmen Abrine. Ingin bertanya, tapi akhirnya dia memilih diam dan mengangguki permintaan sang gadis.


Membaca pesan Raymond tadi, membuat Abrine ingin memberi pria itu sedikit kejutan. Dia ingin mendatangi Apartmen Raymond, lalu menjelaskan semua yang terjadi padanya termasuk soal pernikahan yang dia maksudkan di telepon tadi. Meskipun sebenarnya Abrine kesal saat harus menginjak unit itu lagi--karena pasti akan mengingatkannya pada momen memergoki Raymond dan Freya waktu itu--tapi dia berusaha melupakan hal itu, sebab Raymond sudah mau berubah untuk jadi lebih baik. Bukankah semua orang layak diberi kesempatan kedua?


Abrine tiba di Apartmen Raymond saat hari sudah gelap, dia menekan password yang memang sudah dia ketahui. Tapi, sekali lagi, kejadian ini seperti Dejavu baginya. Dia melihat sebuah heels wanita yang bergelimpangan asal di ruang tamu. Bersamaan dengan itu, dia mendengar suara wanita.


Abrine tercekat, segala keberaniannya seperti menggumpal di kerongkongan, bersatu padu dengan adrenalin serta detak jantungnya yang berdenyut-denyut kencang saat dia mendekati kamar utama yang adalah milik Raymond.


Abrine tak mau melakukan hal yang sama seperti tempo hari, dengan langsung menekan kenop pintu. Kali ini, Abrine lebih memilih mendengarkan pembicaraan dari dalam kamar itu karena kebetulan pintunya memang tak tertutup rapat.


"Apa kau sudah puas? Kau senang aku disini?" Itu adalah suara Freya. Abrine membekap mulutnya sendiri. Bukankah Raymond mengatakan telah memutuskan hubungan dengan Freya? Lalu, ini apa? Kenapa lagi-lagi Abrine harus menyaksikan mereka berdua didalam kamar dan tempat yang sama?


Abrine mencoba mengintip. Dia melihat Freya tengah mengancingkan kembali kemeja milik Raymond, pertanda percintaan mereka telah selesai.


"Jangan menghindariku lagi. Aku tidak bisa tanpamu," jawab Raymond dengan suara serak khas-nya yang terdengar berat.


"Sekarang apa aku pulang saja? Atau kau mau ku temani untuk tidur?" ujar Freya lagi dengan suaranya yang manja.


Abrine sudah tak tahan melihat itu, dia tak berniat lagi untuk menghampiri Raymond. Dia segera berbalik pergi. Rasa kali ini lebih daripada sakit, ini adalah rasa kecewa yang besar. Meski belum ada ikatan diantara dia dengan Raymond tapi kenapa hal semacam ini yang harus terus disaksikannya lebih dari sekali?


Abrine menyadari bahwa dia telah kehilangan pria itu. Raymond bukanlah untuknya. Kesempatan kedua untuk Raymond tidak seharusnya ada, karena sejatinya kesempatan yang dia beri hari ini adalah kesempatan yang terakhir.


Abrine keluar dari gedung Apartmen dengan sedikit berlari. Dia menyetop taksi secara asal, menahan gejolak perasaan yang teramat sakit. Perasaan kecewa membuatnya ingin menjerit saja. Airmatanya kembali keluar untuk pria yang sama dan kesalahan yang sama pula.


Abrine terkejut saat memasuki taksi, ternyata taksi itu adalah taksi yang sama dengan taksi yang mengantarkannya tadi. Taksi itu bahkan masih ada seseorang yang sama pula didalamnya. Ya, dia adalah Elrich.


"K-kau belum kembali?" tanya Abrine pada Elrich dengan wajah yang sudah banjir air mata.


"Aku menunggumu, sudah ku katakan kau tanggung jawabku hari ini."


Tangis Abrine kembali pecah seketika. Dia tak menduga Elrich menunggunya.


"Katakan, kenapa kau mau menungguku!" tuntut Abrine. Dia malu saat El melihatnya menangis seperti ini. Padahal selama ini dia tidak pernah menangis didepan orang lain, mungkin Raymond saja yang pernah melihatnya begini.


"Nothing, perasaanku mengatakan jika kau tidak akan lama didalam gedung itu!" kata Elrich acuh tak acuh.


Abrine menatap El lama. Sampai dia tiba pada sebuah keputusan.


"Baiklah, bagaimana kalau kita benar-benar menikah saja, Dokter!" ujarnya terdengar yakin.


*******


Like, Vote, Hadiah 🥰🥰🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2