PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
73. Obat penenang


__ADS_3

Sementara itu, Wildan sudah dapat menyimpulkan jika penangkapan Claire ada hubungannya dengan Abrine.


Meski media tidak menyebut inisial wanita yang ingin disakiti Claire, tapi Wildan bisa mengerti situasi apa yang terjadi.


Wildan memutuskan untuk menyambangi Claire di hotel prodeo. Tentu bukan untuk membantu wanita itu, melainkan ingin membuat perhitungan dengannya.


"Aku tidak habis pikir, ternyata selama ini aku sudah berurusan dengan wanita gila sepertimu."


Claire tertawa sinis mendengar ujaran Wildan.


Menurut Wildan, jika Claire memang ingin mendapatkan Elrich, seharusnya dia tidak bertindak sangat gegabah seperti ini. Elrich tidak akan menyukai hal ini. Justru Claire akan membuatnya merasa jijik dan Wildan sangat tahu hal itu.


"Caramu salah besar, Nona! Seharusnya kau mampu mengambil hatinya, bukan berlaku kasar seperti ini. Jika sudah begini, selamanya kak Elrich tak akan pernah menaruh simpati padamu."


"Dengar! Jika kau datang kesini untuk menceramahi ku, maka itu tidak ada gunanya! Kau sendiri bergerak sangat lambat, seharusnya kau sudah bisa mengganggu pikiran Abrine. Nyatanya mereka semakin intens saja."


"Hahaha.... kau meragukanku? Mungkin caraku memang lambat, tapi aku tidak mau mengotori tanganku seperti yang kau lakukan! Lihat, kan? Kau berada dimana sekarang!" tukas Wildan.


"Ya, aku memang disini, tapi ini tak akan lama. Aku akan segera dipindahkan."


"Huh?"


"Hasil tes kejiwaan ku akan keluar. Mungkin aku akan dirawat sebentar lagi. Kau tahu, jika aku dirawat maka kesempatan untuk melarikan diri akan semakin besar ketimbang berada di sel ini."


Wildan terbahak mendengar ujaran Claire, baru sekali ini ada orang yang bangga pada keadaan gilanya. Ya, sudah jelas jika Claire tidak waras.


"Lama-lama aku bisa ikut gila jika bicara denganmu!" Wildan bangkit tapi dia tak langsung pergi begitu saja.


Wildan menatap Claire lekat-lekat. "Jika nanti kau berhasil melarikan diri seperti rencanamu itu, jangan coba-coba untuk melukai Abrine lagi!" pungkasnya.


"Siapa kau, berani mengancam ku?" Claire sama sekali tak takut dengan Wildan.


Mereka memang tak begitu mengenal satu sama lain, tapi Claire dapat tahu jika Wildan tak main-main dengan ucapannya kali ini.


Wildan tersenyum miring. "Jika kau nekat menyakitinya lagi maka urusanmu adalah denganku!" ujarnya tenang namun menekankan.


Disisi lainnya, Elrich masuk ke sebuah cafe dan memesan kopi disana. Dia ingin menenangkan diri terkait ujaran istrinya yang mengatakan baru saja bertemu dengan sang nenek.


Sedikit banyak, tentulah hal itu membuatnya kepikiran.


Kenapa selama ini neneknya tak pernah menjenguknya sekalipun? Kenapa baru sekarang?


Dan lagi, kenapa bukan ibunya yang datang untuk membujuknya serta menyatakan alasan kenapa meninggalkannya selama ini?


Saat El tengah termenung disana memikirkan semua itu. Seseorang datang dan duduk tanpa permisi dihadapannya.


"Ada apa?" tanya El tanpa minat. Dia melihat Raymond duduk bersedekap didepannya.


"Aku mendengar soal pelecehan itu. Ini semua karenamu, kan?"


Rupanya Raymond tak menerima dengan apa yang menimpa Abrine. Dia tahu semua ini karena wanita dari masa lalu Elrich.


"Dia sudah dipenjara."


"Lalu? Kau pikir semua masalahnya selesai? Wanita gila seperti itu, akan punya banyak cara untuk membalas perlakuan mu ini, apalagi kau sudah menjebloskannya ke penjara. Aku hanya tidak mau dia membalasmu dengan menyakiti Abrine lagi," tukas Raymond.


Elrich tersenyum tipis. "Apa urusanmu? Abrine istriku, aku akan melindunginya tanpa perlu kau peringati seperti ini."

__ADS_1


"Aku memang tidak ada urusannya denganmu, tapi Abrine adalah wanita yang ku cintai."


Elrich berdiri dari duduknya. Dia malas meladeni Raymond. Bagaimanapun, emosinya jadi memuncak mendengar pernyataan pria itu.


"Aku belum selesai bicara!" Raymond mengikuti langkah lebar Elrich yang keluar dari area cafe. Dia mencekal pria itu.


Tapi, hal itu El anggap sebagai kesalahan besar. El menghindari Raymond agar tak ada kekerasan fisik disini. Tapi sepertinya, Raymond yang menginginkan itu terjadi.


"Apa? Coba katakan lagi jika kau mencintai istriku!"


"Aku mencintainya, selamanya akan begitu!" Raymond berujar sungguh-sungguh.


Bugh!


Elrich memukul Raymond saat itu juga. Raymond yang tak siap dengan pukulan itu seketika langsung terduduk.


"Beraninya kau mengatakan cinta pada seorang wanita didepan suaminya sendiri! Breng sek! Enyahlah kau!" Elrich menendangi tubuh Raymond. Dia gelap mata karena begitu banyak pikiran ditambah lagi ujaran Raymond yang membuatnya emosi.


Raymond sama sekali tak diberi kesempatan untuk membalas perlakuan El. Setelah puas, El berlalu meninggalkan tubuh lemah pria itu.


El sadar, sedikit banyak ucapan Raymond mengenai Claire adalah benar. Tapi dia juga tak suka jika Raymond masih terus mengkhawatirkan istrinya seolah Abrine adalah pasangan pria itu.


Ayolah, hati suami manapun akan kalap apabila ada seorang pria yang mengaku mencintai istrinya secara terang-terangan didepannya.


Sikap Raymond memang terkesan gentle, tapi tentulah memancing kemarahan El. Apalagi El tahu jika dulu pria itu juga yang sempat istrinya cintai. Entahlah jika sekarang.


Api cemburu telah membakar hati nurani Elrich terhadap Raymond, ditambah lagi segudang pikirannya mengenai hal yang lain.


Maka, jangan salahkan dia memukul pria itu. Raymond yang seolah sengaja memintanya, setidaknya itulah yang tersirat dibenaknya.


El menatap Abrine lama. Membuat istrinya itu sangat keheranan.


"Aku butuh pernyataanmu sekarang."


"Pernyataan apa?" Abrine kebingungan.


"Katakan jika kau cinta aku. Paling tidak, lakukan itu untuk menenangkanku sekarang."


Abrine memeluk El dari samping sambil mengadahkan wajah pada pria itu. "Apa sebuah pernyataan itu penting? Ku pikir dengan keadaanku yang hamil anakmu saat ini sudah membuktikan soal perasaanku, El."


"Baiklah, aku tau kau cinta aku," ujar El pelan. Entah kenapa tetap ada rasa kecewa dihatinya. Dia melerai pelukan sang istri begitu saja dan berlalu dari sana.


Abrine mengerutkan dahi, merasa sikap El tak wajar. Dia menebak ada sesuatu yang terjadi, apalagi saat pulang El justru menuntut pernyataan cinta seperti tadi. Ini pasti tidak ada kaitannya dengan masa lalu El yang sebelumnya tengah mereka bahas.


Abrine masuk ke kamar. Rupanya El sudah menutup tubuh dengan selimut. Matanya tampak terpejam tapi Abrine yakin jika suaminya belum tertidur.


Abrine memiliki sebuah ide. Ide gila sebenarnya, tapi biarlah ini dia lakukan untuk menyenangkan hati suaminya yang sedang kalut. Jika bisa, sekalian dia akan membujuk El untuk bertemu sang nenek nanti.


Abrine pun memasuki walk in closet disudut ruangan. Mengganti pakaiannya dengan sebuah lingerie berwarna merah menyala.


Astaga, apa aku benar-benar akan mengenakannya?


Ini pertama kalinya bagi dia memakai pakaian seperti ini dihadapan sang suami.


Jangankan didepan Elrich. Melihat tampilan dirinya sendiri dari pantulan cermin saja dia sudah malu.


Tapi, dia harus berani melakukannya.

__ADS_1


"Menggoda suami sendiri tidaklah salah. Justru berpahala." Abrine bermonolog sambil menahan kekehannya sendiri. Dia keluar dari ruangan itu dengan mengendap-endap.


Sebelum benar-benar menampakkan diri didepan Elrich, Abrine lebih dulu mengintip kecil. Rupanya sekarang El malah menyelubungi seluruh tubuh dengan selimut.


Abrine maju perlahan. Dia duduk di pinggiran ranjang dan mengetuk-ngetuk bagian yang dia rasa itu adalah wajah sang suami.


"El?"


El tidak menggubris. Apa dia sudah tidur? Tapi Abrine yakin jika El tak mungkin terlelap secepat itu apalagi ada banyak masalah yang bersarang dikepala sang suami.


"Sayang?" Abrine menggigit bibir, dia selalu saja masih merasa malu jika memanggil El dengan sebutan itu.


"Hmmm?" Akhirnya Elrich menyahut pelan tapi tidak membuka selimut yang menutupi seluruh wajahnya.


Abrine naik ke tempat tidur, sekarang dia duduk di atas perut rata suaminya. Dapat dia rasakan otot-otot liat disana dan Elrich yang juga tersentak dengan aksinya itu.


Seketika itu juga Elrich membuka selimutnya secepat kilat. Dia pikir ada benda yang Abrine letakkan diatas perutnya. Ternyata saat dia melihat lebih jelas adalah istrinya yang berada dihadapannya dan mendudukinya.


"B-brine? A-apa yang kau lakukan?" Tenggorokannya terasa tercekat, apalagi melihat penampilan sang istri sekarang.


Abrine terlalu malu untuk mengakui jika dia tengah menggoda Elrich. Jadi dia membuat sebuah alibi.


"Ehm... aku mengidam. Ingin seperti ini didekatmu."


"What?" Elrich terbelalak kaget, tapi akhirnya dia mengulumm senyum.


"Kau mau menggodaku?" terkanya.


Abrine segera menggeleng dengan cepat. Tangannya dikibas-kibaskan.


"Ti-tidak!!!" ujar wanita itu. "Kan, sudah ku bilang tadi.... aku mengidam."


Elrich melipat kedua tangannya, menjadikan itu sebagai bantal dibawah kepalanya sendiri.


"Oke, aku mau melihat hal apa lagi yang akan kau lakukan sekarang," ujarnya seakan menantang istrinya sendiri.


Pandangannya kini tertuju pada tubuh istrinya yang terbalut dengan lingerie sek si.


"Aku tidak akan melakukan hal apapun, El." Abrine tertunduk, dia malu dan gugup dipandangi El dengan tatapan intens seperti itu.


Elrich akhirnya terkekeh. "Jadi, kau hanya berniat menggodaku tanpa menuntaskannya?"


"Menuntaskan apa?"


"Kau tidak paham maksudku?"


Abrine menggeleng sambil menggigit bibirnya. Sejujurnya dia tahu maksud suaminya ini.


"Baiklah, biar ku buat kau paham." El pun terduduk, dia bersandar pada kepala tempat tidur. Sementara Abrine, kini berada dalam pangkuannya dengan posisi menghadap kearahnya.


El menarik Abrine mendekat, dia mencium Abrine dengan sangat bersemangat. Tangannya sudah menjalar kemana-mana. Dia tidak tahan melihat penampilan istrinya yang membuatnya on fire seketika.


Abrine membalas ciuman El, di ciuman itu, dia bergumam dalam has rat yang sama membaranya dengan sang suami.


"Kau tahu, aku memang sedang membutuhkan ini. Sepertinya tubuhmu adalah obat penenang yang paling mujarab untukku." El sudah menatap kedalam mata istrinya dengan pandangan berkabut.


******

__ADS_1


__ADS_2