PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
81. Membantu


__ADS_3

Sejak tahu jika Erika juga berada di Jerman, Elrich tidak bisa untuk tak berpikiran yang negatif. Sekalipun Abrine mengatakan bahwa kedatangan Erika kesini adalah untuk membantu Wildan yang ingin membuka cabang restoran baru, entah kenapa El sulit untuk percaya begitu saja.


Mungkin Abrine memiliki hati yang lapang. Tapi, El terlalu lelah menghadapi topeng Erika sejak dulu. Sehingga dia merasa ini semua hanyalah alasan Erika saja.


"Jangan terlalu mempercayainya. Dia bisa begitu baik dan lembut, tapi dia juga bisa berubah menjadi kejam dan tidak berhati. Kau mengerti maksudku, kan?"


Abrine hanya mengangguk dalam dekapan suaminya. Setelah Abrine tertidur, barulah El memutuskan untuk menghubungi seseorang.


Sebenarnya El tidak mau melakukan ini, tapi dia harus menjaga keselamatan Abrine dan kandungan sang istri.


"Nenek?" Untuk pertama kalinya El menghubungi Theresia dan memanggilnya dengan sebutan itu. Anggaplah dia sedang memanfaatkan kekuasaan neneknya. Dia memang membutuhkannya sekarang. Jika tak begini, kapan lagi? Pikir El.


"Aku butuh bantuanmu, Nek."


***


Didalam sebuah rapat, Abrine yang merasa mual harus permisi undur diri dari ruangan itu. Dia pun menyerahkan kekuasaannya pada Anne untuk menggantikannya.


Kebetulan pertemuan hari ini adalah dengan perusahaan milik Xena, ibunya Raymond.


Mereka tengah membicarakan tentang mekanisme terakhir kerja sama yang dilakukan, sebab proyek mereka hampir saja selesai dan berada ditahap akhir.


Sebelum memulai proyek yang baru, mereka harus merampungkan yang ini lebih dahulu.


Xena memperhatikan Abrine yang sejak tadi memang tampak berbeda. Akhirnya Abrine meninggalkan rapat karena sepertinya dia muntah-muntah.


"Apa dia hamil?" gumam Xena yang didengar oleh Anne disana.


"Ada apa, Nyonya?" tanya Anne.


"Tidak, aku merasa Abrine agak berbeda. Apa dia hamil?" bisik Xena didekat telinga Anne agar tidak mengganggu yang lainnya yang sedang membahas pekerjaan.


"Oh, soal itu anda bisa menanyakannya langsung pada Miss Abrine." Anne tersenyum simpul, dia tak ingin banyak bicara mengenai hal ini.


"Pasti dia hamil."


"Jika pun begitu ku rasa itu tidak ada salahnya, Nyonya. Miss Abrine memiliki suami yang sah. Dan lagi itu bukan urusan anda."


Xena menatap Anne dengan tatapan jengah. Dia langsung keluar dari ruangan meeting begitu pertemuan itu telah selesai.


"Bos dan sekretarisnya sama saja. Sama-sama menyebalkan," gerutu Xena sambil berdecak lidah.


Xena keluar dari kantor Abrine, dia mendapati Raymond yang duduk di lobby.


"Hei, boy! Mau apa kau kemari?" tanya Xena pada putranya.


"Aku---"


Belum sempat Raymond menyahut, Xena sudah memotong ucapannya. "Jangan bilang kau mau menemui Abrine, Ray. Tidak, tidak, kau ini seperti pria yang tak laku saja. Masih banyak gadis lain diluar sana."


"Ibu!" Raymond menatap ibunya dengan tatapan kesal. "Aku kesini untuk mengantar berkasmu. Bukan untuk bertemu Abrine."


"Alasan! jika memang mau mengantar berkas, kau seharusnya bisa menyuruh Ivan saja."


Raymond tak menjawab lagi, memang dia mau mengantar berkas milik Xena tapi dibalik itu dia pun ada maksud lain, tentunya mau melihat kegiatan Abrine hari ini.


"Ya sudah, untuk apa kau terus disini. Kembalilah bekerja di kantormu sendiri."


"Iya, Bos." Raymond malas berdebat dengan ibunya, karena jika dia melakukan itu urusannya bisa panjang, sepanjang omelan ibunya.


Saat berbalik ingin menyusul Xena yang lebih dulu keluar dari gedung itu, Raymond tak sengaja menubruk tubuh ramping seseorang. Menyebabkan semua berkas dan file yang dibawa orang itu berhamburan di lantai.

__ADS_1


"Astaga...." gerutu Anne yang tak sengaja ditabrak oleh tubuh Raymond.


Saat melihat Raymond yang menabraknya, Anne tak jadi marah. Dia justru bingung dan salah tingkah, padahal tadinya dia mau melontarkan kata kasar.


"Kenapa kau harus membawa semua file ini," kata Raymond datar.


"Ini pekerjaanku."


"Kau bisa meminta seseorang untuk membawakannya, lalu setelah itu kau bisa mengerjakan semuanya."


"Bukan urusanmu."


Anne dan Raymond sama-sama berjongkok dan memunguti kertas serta dokumen yang berhamburan di lantai tersebut.


"Pasti semua berkasnya bercampur menjadi satu. Hhh.... " Anne bergumam kemudian menarik nafas panjang. Bagaimana dia menyelesaikan tugas dengan cepat jika semua berkasnya sudah berantakan. Dia harus menyusun ulang dan mencocokkan dengan map yang sesuai.


"Maafkan aku, tadi aku tidak melihatmu keluar dari ruangan itu."


Akhirnya Raymond meminta maaf pada Anne, dia tahu jika disini dia yang salah. Bahkan dia kira Anne akan mengumpatnya tadi. Beruntungnya, Anne tak mempermalukannya dengan melakukan itu.


"Ya sudah, mau bagaimana lagi," kata Anne pasrah.


Semua dokumen itu sudah tersusun menjadi satu tumpukan yang cukup tinggi setelah mereka berdua selesai mengumpulkannya.


"Baiklah, aku akan membantumu membawanya," kata Raymond.


Anne speechless. Dia pikir Raymond tak merasa bersalah. Atau justru Raymond akan menertawainya, karena kejadian beberapa hari ini mungkin saja Raymond menaruh dendam padanya-- akibat dia tak memberi izin Raymond bertemu Abrine secara berturut-turut.


"Ti-tidak usah, aku bisa membawanya sendiri." Anne gugup. Benar saja, akibat kejadian di cafe kemarin. Pandangannya pada pria ini jadi berubah. Semuanya karena Abrine dan Elrich yang mencoba menggodanya dengan Raymond.


"Kau membawanya sendiri? Jika nanti ada yang menabrak lagi, bagaimana?"


"Tinggal ku susun lagi." Anne tersenyum tipis.


Disaat Raymond ingin beranjak mengikuti langkah Anne dengan semua tumpukan berkas yang sudah ditangannya. Seseorang kembali memanggil nama pria itu.


"Ray!!!"


Raymond dan Anne sama-sama menoleh ke arah suara tersebut.


Xena menatap Raymond dengan heran. Kenapa putranya mengangkat banyak berkas seperti itu?


"Kau? Sudah jadi asisten pribadi di kantor ini rupanya?" sindir Xena. Rupanya dia cukup lama menunggu Raymond didalam mobil, dan ternyata anak lelakinya itu tidak kunjung keluar dari gedung perkantoran milik Abrine. Dia kira Raymond akan menemui Abrine lagi.


Raymond melirik Anne sekilas, kemudian menatap sang ibu.


"Sebentar, Bu. Ibu kembalilah lebih dulu. Aku bawa mobil sendiri, nanti aku akan menyusul ke kantor."


Xena tak menanggapi ucapan Raymond, pandangannya justru beralih pada gadis disebelah putranya. Anne, gadis itu yang tadi sempat membuatnya kesal di ruangan rapat.


"Jadi sekarang ini alasanmu ke kantor Abrine? Tidak mendapatkan atasannya beralih ke sekretarisnya?"


"Astaga, ibu...." Raymond menahan amarahnya. Bisa-bisanya sang ibu berpikiran seperti itu. Dia hanya mau membantu Anne karena merasa bersalah.


Xena menatap Anne dengan tatapan kesal. Disaat yang sama Anne memejamkan mata sejenak, rasanya dia lelah berurusan dengan Xena apalagi diluar hal pekerjaan seperti ini. Wanita paruh baya yang fashionable itu sangat cerewet.


"Sudahlah, ibu tunggu kau di mobil." Xena kembali keluar dengan bersungut-sungut.


Sesampai dimeja kerja milik Anne--yang berada didepan ruangan Abrine, Raymond meletakkan tumpukan berkas disana.


"Maafkan sikap ibuku, dia kadang memang seperti itu. Dia terlalu protektif terhadapku."

__ADS_1


"Ya, tak masalah. Kau tidak perlu meminta maaf soal itu, Tuan Rodriguez."


"Baiklah, semuanya aku letakkan disini."


"Terima kasih...."


"Jika kau kesulitan menyusun semua berkasnya, jangan sungkan menghubungiku. Aku akan membantumu."


"Benarkah?" tanya Anne antusias.


Raymond sampai terheran-heran menatap gadis itu. "Kenapa?" tanyanya.


"Ng--ah, tidak... maksudku, aku pasti bisa menyelesaikannya sendiri, ya--ya begitu," ralat Anne.


Raymond mengangguk samar. Tak lama dia undur diri dari hadapan Anne.


Anne menghela nafas lega. "Hah, kenapa jadi seperti ini? Semoga aku tidak terlibat perasaan dengannya. Ibunya sangat menjengkelkan," gumam Anne sambil memulai menyusun lembaran file yang sudah berantakan.


"Anne?"


Abrine keluar ruangan, dia menatap Anne yang sudah terduduk di kursinya.


"Y-ya, Miss?" Anne yang sedang melamun, terkejut karena tiba-tiba Abrine memanggilnya.


"Ada apa?" tanya Abrine yang melihat semua dokumen berantakan, bahkan kertas-kertas yang harusnya berada dalam map dan jurnal, tampak tak beraturan.


"Ah, tidak, ini tadi aku hanya kurang berhati-hati saat membawanya."


"Kau bisa meminta bantuan office boy untuk membawakannya, Anne."


Anne merasa ucapan Abrine dan Raymond tadi sangat mirip. Ah, mereka memang sepemikiran. Sedangkan Anne sendiri justru berpikiran lain, dia membawa semua sendiri agar tidak merepotkan orang lain.


"Iya, Miss."


"Apa meetingnya tadi lancar?"


"Huum, semuanya lancar, Miss."


"Oh, baguslah...." Abrine hendak kembali masuk ke ruangannya, tapi mendadak dia merasa ada yang aneh.


"Apa tadi Raymond ada kesini?" tanya Abrine lagi.


"Eh?"


Anne menatap Abrine dengan mata membola. Apa atasannya ini mendengar percakapan mereka tadi? Memang tak ada yang aneh dengan pembicaraan mereka, tapi entah kenapa Anne merasa sangat malu jika Abrine mengetahui dia dan Raymond sempat mengalami suatu kejadian kecil tadi. Dia takut Abrine kembali menggodanya dengan Raymond akibat kejadian itu.


"Jadi benar Raymond tadi kesini?"


"I-iya, Miss..." Anne tak bisa mengelak lagi.


Abrine menatap Anne dengan tatapan menyelidik. "Kalian berkencan, ya?" tanyanya sambil menyeringai jahil.


"A-apa?"


"Jika iya juga tak apa, Anne." Abrine menepuk-nepuk pundak Anne dengan akrab, seolah memberi dukungan penuh.


"Ah, tidak."


"Hahaha...." Abrine ingin berlalu tapi Anne kembali bersuara.


"Apa anda mendengar suaranya tadi?"

__ADS_1


"Bukan, aku mencium aroma parfumnya yang masih tertinggal. Maaf, kebetulan aku hafal aromanya." Abrine terkekeh pelan sementara Anne menunduk malu, pasalnya untuk apa Abrine meminta maaf padanya perkara hal semacam ini? Dia juga tidak memiliki hubungan dengan Raymond. Jadi, kenapa Abrine harus mengucapkan maaf hanya karena hafal aroma parfum pria itu.


****


__ADS_2