
Anne baru saja keluar dari sebuah Bank ketika dia berpapasan dengan tiga orang pria yang mengikuti langkahnya.
Sadar sedang diikuti, Anne pun melangkah lebih cepat untuk menghindar.
Hari masih terlalu siang tetapi suasana sekitar jalan tersebut memang tampak senyap.
Saat Anne ingin berteriak tiba-tiba saja mulutnya sudah dibekap oleh salah seorang pria tersebut. Tubuhnya dibenturkan ke tembok yang ada di lorong jalan.
Kini Anne terpojok dikelilingi oleh tiga pria yang sejak tadi mengikutinya.
"Nona Grissham?"
Anne menelan ludah dengan susah payah saat salah satu dari mereka menyebut nama belakang yang dia dapat dari Ayah sambungnya. Dia langsung tahu jika dia memang sudah ditargetkan oleh ketiga orang ini.
"Si-siapa kalian?" Anne masih mencoba bertanya dengan sorot mata yang ketakutan. Tubuh kecilnya tidak bisa bergerak diantara kepungan ketiga pria ini.
"Begini, Nona. Kau tidak akan terluka jika kau bisa diajak kerja sama."
Anne menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Dia merasa tidak pernah membuat urusan dengan salah satu dari mereka bertiga.
"Kakakmu memiliki hutang. Kau bersedia membayarnya dengan uang atau----" Salah satu pria yang berbicara padanya itu menggantung kalimat, dia sengaja menunjukkan seringaian nakal sambil menatap tubuh sin tal Anne. Seolah tatapannya mengartikan jika tubuh Anne adalah opsi kedua sebagai bayaran hutang sang kakak.
"Ti--tidak!" tolak Anne terdengar tegas namun tetap saja dia gugup.
Satu orang pria lainnya ikut andil dan angkat bicara. "Tidak apa? Maksudmu kau tidak menolak jika kami mencicipimu beramai-ramai? Atau kau memang menyukai hal itu?" cibirnya.
Sekali lagi Anne menahan rasa ketakutan yang luar biasa. Tolong, siapa saja singkirkan mereka bertiga dari hadapannya. Senyum mereka terlihat sangat menjijikkan.
"Ba-baiklah, berapa hutang Jerry?"
Mereka bertiga saling menatap satu sama lain seperti tengah memberi isyarat pada masing-masing.
"Kau mau melunasinya?"
"Ya, dengan uang, tentu saja. Tapi setelah itu menyingkir dari hadapanku."
"Baiklah, Nona. Hutang Jerry tidak banyak hanya €100.000.000,- (Seratus juta Euro)"
"A-apa? Seratus juta?" Anne terkejut mendengar itu. Dia memang punya uang itu, tapi tentu itu adalah tabungan untuk masa depannya-- yang dia kumpulkan dari sisa-sisa gajinya selama ini.
Anne tidak rela jika uang itu digunakan untuk melunasi hutang kakak tirinya. Dilain sisi, dia juga tidak punya pilihan lain. Tak mungkin dia menyerahkan diri kepada pria-pria bengis dihadapannya, kan?
"Ya. Itu sudah termasuk bunganya. Jadi itu tidaklah banyak."
Anne menarik nafas dalam. "Baiklah... aku akan mentransfernya."
"Sekarang?"
"Ya, sekarang. Beri nomor rekeningnya dan beri aku waktu sebentar."
"Bagus. Kami menunggunya, Nona."
Salah satu dari ketiganya mulai meraih ponsel Anne dan mengetikkan nomor rekening disana. Anne yang gugup langsung mengirimkan dana yang mereka minta saat itu juga.
"Sudah?"
Anne mengangguk dan menunjukkan bukti bahwa transaksi pengiriman dana itu sudah berhasil.
__ADS_1
"Boleh aku tahu kenapa Jerry berhutang pada kalian?"
Ketiganya hanya menggeleng pelan seolah tidak berniat menjawab pertanyaan gadis itu.
"Tolong katakan padaku."
"Apa kau tidak tahu Jerry kecanduan berjudi. Dia terobsesi untuk menang, sayangnya permainannya begitu payah."
Mendengar hal itu wajah Anne yang pias semakin memucat. Rupanya dia harus kehilangan uang tabungan demi membayar hutang Jerry karena judi, bukan karena bisnis yang kakaknya rintis.
Ketiga pria itupun tersenyum puas setelah berhasil mendapat apa yang mereka mau. Lalu mereka benar-benar meninggalkan Anne di lorong sepi tersebut.
Anne berjalan dengan raut kesal. Dia memutuskan kembali ke rumahnya, sebab hari semakin sore.
Sesampainya di rumah, Anne sangat ingin menjambak rambut Jerry. Sayangnya, kakak tirinya itu tidak ada dirumah.
Hari ini Anne baru menghadapi satu masalah Jerry. Bagaimana jika besok-besok ada lagi orang yang mendatanginya untuk menagih hutang? Tabungannya nyaris habis. Dilain waktu akankah dia mengorbankan diri? Tidak! Jerry terlalu kelewatan.
"Anne, apa kau sudah pulang?" Maria bertanya pada putrinya yang tampak lesu.
"Ya, ibu. Dimana Jerry?" Anne tidak mau ibunya mengetahui permasalahannya dengan Jerry. Dia mau menyelesaikannya dengan pria itu-- empat mata, nanti.
"Jerry ada di kebun. Belakangan hari dia rajin membantu Steward memanen."
Anne memutar bola matanya. Memang ayah tirinya memiliki perkebunan sayur. Tapi jika Jerry membantu seperti ini, itu sudah pasti karena Jerry mau memanfaatkan hasil kebun yang sebentar lagi akan dipanen. Jerry tidak pernah berminat bekerja kotor, dia bahkan memaksa Steward--ayahnya, untuk memodali perusahaan bisnis untuk dikelola, sayangnya bisnis itu sudah kolaps sebelum sempat berkembang.
Anne berani bertaruh jika kedua orangtua mereka tidak mengetahui mengenai masalah ini.
"Aku akan menemuinya disana," putus Anne.
Maria menatap putri kandungnya dengan tatapan heran. "Apa ada masalah? Kau bertengkar dengan kakakmu?"
"Tak biasanya kau mencarinya. Apalagi kau juga baru pulang bekerja."
"Tidak ada, Bu. Aku hanya ingin menanyakannya soal pekerjaan."
Maria mengangguk dan membiarkan Anne pergi menuju kebun sayur yang letaknya tak jauh dari kediaman mereka.
Hanya berkelana beberapa menit, Anne tiba di kebun milik ayah tirinya. Disana dia dapat melihat tubuh tegap Jerry yang sedang memanggul sayur-sayuran.
Anne berjalan ingin menghampiri. Dia akan membuat perhitungan pada pria ini.
Sebelum tiba didepan Jerry, Anne lebih dulu mencari sesuatu di tanah yang sedang dia injak.
"Jerry!" serunya dan kakak tirinya itu langsung mengadah pada sang gadis.
"Apa?" tanya Jerry tanpa minat.
"Kau bekerja di kebun sekarang?"
Jerry tersenyum miring. "Kenapa? Apa maumu?"
"Harusnya aku yang bertanya apa maumu? kenapa kau menggadaikan namaku pada setiap tempat yang kau hutangi?"
"A-apa maksudmu, Anne?" Jerry tampak gugup.
Anne menatapnya tajam. "Kau bahkan berani menjadikanku penebus hutangmu. Kau juga mau menjualku pada Mr. Alison waktu itu, kan?"
__ADS_1
"Hah? Tidak... kau tahu itu hanya bisnis."
"Lalu yang hari ini, apa? Aku di cegat oleh tiga orang pria dan mereka memaksaku untuk membayar hutangmu. Seratus juta!"
"Apa? Dan kau membayarnya?" Jerry tampak menciut.
"Ya. Aku menghabiskan tabunganku untuk membayar hutangmu. Apa kau gi-la, hah? Kenapa kau berjudi, Kepa rat?" umpat Anne dengan wajah merah padam. Dia seperti orang yang kehilangan kesadaran karena amarah yang sangat memuncak pada Jerry.
"Ah, itu kau saja yang bo doh. Kenapa kau harus membayarnya!" jawab Jerry dengan entengnya. Dia tidak takut dengan kemarahan Anne, tapi dia takut jika sang Ayah mendengar masalah ini.
"Breng sek, kau!" Anne melompat dan menjambak rambut Jerry. Pria itu mencoba menepis tangan Anne tapi jambakan Anne tidak terlepas, justru semakin kuat mencengkram dikepalanya.
"Kurang a j a r!" Jerry ingin memukul Anne, tapi secepat kilat Anne melemparkan sesuatu ke arah wajah Jerry. Itu adalah sesuatu yang sempat dia pungut dari tanah sebelum mendekati Jerry, tadi.
Jerry gelagapan karena yang Anne lemparkan kepadanya adalah cacing tanah dan itu ada beberapa ekor. Dia merasa sangat jijik dan geli saat melihatnya.
"Rasakan! Kalau kau melibatkan aku lagi dalam masalahmu. Ku pastikan besok cacing-cacing itu tidur di lubang hidungmu!" kesal Anne membuat Jerry bergidik.
Anne meletakkan cacing terakhir didekat wajah Jerry dan ada yang dia masukkan kedalam kerah baju Jerry, membuat pria itu blingsatan karena semakin merasa geli.
"Dasar adik tidak tahu diri!" katanya kesal.
"Kau yang tidak tahu diri! Bukannya bekerja malah berjudi." Anne mengomel.
"Terserahku! Bukan urusanmu!"
"Kalau begitu, hutangmu juga bukan urusanku!" Anne berlalu dari sana sambil menghentak-hentakkan kakinya, dia kesal sekali pada Jerry.
Saat Anne sudah berjalan kembali ke kediamannya. Rupanya dia melihat sebuah iring-iringan mobil yang memasuki pekarangan rumahnya.
Anne mengintip di sebalik pagar, mencoba menelisik siapa yang berkunjung sore-sore begini.
Alangkah terkejut Anne saat melihat salah satu dari mereka yang datang ke rumahnya adalah Xena--ibu kandung Raymond.
"Hah? Mau apa Nyonya Rodriguez kesini?" batin Anne.
Kedatangan beberapa orang itu disambut oleh Maria didepan pintu. Anne jadi semakin takut, karena dia sempat mendengar jika Jerry juga memiliki hutang pada perusahaan keluarga Raymond.
"Ah, jika mereka datang untuk menagih hutang Jerry, bagaimana? Ibu pasti akan mengetahui permasalahan ini."
Anne menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sia lan, Jerry! ini semua ini gara-gara dia yang tidak tahu diri!" gerutu Anne.
Anne berjalan kembali. Dia memberanikan diri untuk memasuki rumahnya.
"Ah, ini dia, Anne.... Nyonya ini mencarimu," jelas Maria kepada Anne yang masih berdiri diambang pintu dengan penampilan acak-acakan karena baru saja mengerjai dan memarahi Jerry.
"Anne..." sapa Xena.
Entah kenapa, hari ini wanita baya itu terlihat ramah dan hangat? Apa Anne tak salah lihat?
"Ya, Nyonya. Ada perlu apa mencariku?"
Xena tersenyum kecil. "Kedatanganku kesini untuk melamarmu, Anne. Kau dan Raymond akan segera menikah, kan?" tanyanya, membuat mata Anne membulat sempurna.
Ada apa ini?
*****
__ADS_1
Ada apa ya kira-kira?
Ada yang bisa jawab kenapa Xena tiba-tiba datang dan melamar Anne?